One Night With You

One Night With You
Niat Melamar dan Memiliki



Barra memijit pangkal hidungnya,rasa pening di kepalanya tak kunjung reda malah lebih parah saat menerima informasi dari Mateo. Baru saja asistennya itu mengabarkan bahwa Elea dan Adrian tidak memiliki hubungan serius mereka hanya terlibat sebagai dokter dan pasiennya. Jadi kini pencariannya pada Elea menemui titik buntu yang menyebalkan. Entah mengapa dirinya jadi menyesal telah melonggarkan pengintaiannya pada Elea,dan sekarang dirinya kehilangan Elea sepenuhnya.


" Jadi kau tak menemukan dia dimana?" Barra mengulangi kalimatnya,padahal Mateo sudah menjelaskan pencariannya secara terperinci tapi tuannya itu masih mengulang pertanyaan yang sama.


" Sesuai dengan apa yang saya laporkan tuan " jawab Mateo dengan wajah penuh antisipasi kalau-kalau saja Barra mulai marah dan memukulnya atau melakukan apapun untuk melampiaskan emosinya.


" Apa ada yang kau sembunyikan Mateo?" Barra bertanya dengan tatapan menyelidik ke arah Mateo,entah mengapa ia merasakan ada yang berbeda dengan Mateo,seperti ada sesuatu yang enggan diucapkannya.


" Ti..tidak tuan " dengan terbata Mateo menjawab Barra. Hening kembali membentang bahkan Mateo tak berani menatap ke arah tuannya,mungkin dia takut kalau Barra akan menemukan kebohongan yang ia sembunyikan.


" Siapkan penerbangan ke Bali,aku akan menemui Bian " ucap Barra kemudian memakai jasnya.


" Tapi tuan menurut pencarian saya nona Elea tidak sedang berada di Bali,karena namanya tidak terdaftar dalam penerbangan manapun yang menuju ke Bali tuan " Mateo menjelaskan dengan jujur karena dia memang melacak semua penerbangan menuju ke Bali dan nama Elea tidak terdaftar di penerbangan maskapai manapun.


" Aku akan menemui Bian untuk melamar Elea " jawaban Barra sontak membuat Mateo menatap heran padanya,bukankah hubungan mereka sudah berakhir lalu untuk apa tuannya itu repot-repot terbang ke Bali hanya untuk melamar gadis yang sudah ia selingkuhi dan sudah mencampakkannya.


" Tapi tuan bukankah..." Mateo sudah siap menyuarakan sanggahan namun dengan cepat Barra memotong kalimat Mateo yang belum selesai.


" Kau sudah berani melawanku Mateo??" Barra mulai menghujam dengan tatapan dingin kearah Mateo,membuat kalimat Mateo terhenti seketika.


" Baik tuan saya akan segera siapkan " jawab Mateo pasrah kemudian membungkuk hormat pada Barra sebelum meninggalkan ruangan itu.


" Aku akan menjadikanmu milikku selamanya Elea,,hanya milikku " desis Barra dengan tatapan sendu pada foto manis Elea yang menjadi wallpaper layar ponselnya.


Adrian memasuki ruang perawatan Elea dengan senyum yang dipaksakan,bukan karena ia tak mau bertemu dengan wanitanya itu tapi karena ada rasa bersalah yang tiba-tiba melingkupinya saat melihat Elea yang mengalihkan pandangannya saat ia masuk. Seolah wanita itu tak sudi melihat wajahnya sama sekali.


" Aku akan meninggalkan kalian berdua,bicarakan semuanya secara baik-baik dan jangan terbawa emosi,ingat..nona Elea mungkin masih trauma


padamu " jelas Liam panjang lebar dengan suara lirih yang mungkin hanya didengar oleh Adrian.


" Ayo nona Irina kita keluar " ajak Liam kepada Irina yang hanya menjawabnya dengan tatapan mata membulat sempurna.


" Apa..kau ingin meninggalkan Elea dengan Adrian sendirian??bagaimana kalau.."


" Mereka akan baik-baik saja nona Irina,percayalah padaku " Liam segera menggandeng lengan Irina memaksanya keluar ruangan walaupun gadis itu meronta seakan tidak tega meninggalkan sahabatnya bersama Adrian.


Sepeninggalnya dokter Liam dan Irina suasana hening hanya terdengar denting jam dinding disana. Elea masih diam menunduk tanpa berani memandang Adrian yang kini berjalan mendekat kearahnya. Semakin dekat langkah Adrian semakin berdegup kencang jantung Elea,rasa takut dan cemas mulai menjalari dirinya membuat kedua tangan Elea mencengkram erat selimut putih yang menutupi kaki sampai pinggangnya.


Tentu saja Adrian melihat reaksi itu,seketika langkahnya terhenti ia tak mau membuat Elea takut dan histeris kembali.


" Jika kamu masih belum siap aku bisa kembali lagi nanti Elea " ucap Adrian dengan lembut kemudian melangkah hendak menjauh.


" Tunggu dokter Adrian " panggil Elea membuat langkah Adrian berhenti.