My Venus

My Venus
BAB 99 - Extra (Nicole) 2



"Apa aku menjijikkan? Aku baru menanyakan hal ini padamu karena di sini tidak banyak ornag mengenalku. Jika kenal mereka juga tidak mempermasalahkan."


Edgar melihat ke arah Nicole sebentar lalu kembali fokus menyetir.


"Aku tidak ada hak menghakimi orang lain dan aku bukan orang suci. Setiap manusia pasti berbuat salah begitu juga diriku. Mungkin masa lalu ku lebih kelam darimu." Jawab Edgar dan Nicole tersenyum mendengarnya.


"Senang mendengarnya, manusia bisa berubah bukan? Dan aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah memberikan kesempatan kedua padaku." Lanjut Nicole dan Edgar tersenyum tipis mendengar itu.


"Tapi ternyata kau banyak bicara, dulu kau sangat pendiam." Celetuk Edgar tanpa sadar dia keceplosan.


"Kau mengenalku dulu?" Tanya Nicole tak percaya.


"Tidak, hanya beberapa kali melihatmu di lokasi syuting. Aku sempat menjadi kru film dan pemeran pengganti di drama action." Jawab Edgar dan Nicole mengangguk.


"Dulu.. aku hanya sibuk berlatih dan belajar agar setara dengan artis lain sampai lupa menikmati hidup dan berteman. Sampai aku jatuh pun tidak ada teman di sisiku hanya ada keluarga. Sekarang aku sadar dan ingin menikmati hidupku dan berteman dengan tulus." Jelas Nicole panjang lebar dan Edgar mengerti, dirinya juga sama.


"Jadi kenapa kau pindah kemari?" Tanya Nicole sedikit penasaran.


"Mungkin sama denganmu, berubah dan menikmati hidup." Jawab Edgar dan Nicole mengangguk.


"Sudah sampai." Ujar Edgar dan Nicole segera turun, Edgar juga membantu Nicole membawa barang-barangnya.


"Terima kasih tas tumpangannya, lain kali aku akan mentraktirmu minum kopi." Ucap Nicole dan Edgar hanya tersenyum dan mengangguk.


.


.


Pertemuan pertama Nicole dan Edgar cukup baik hingga sudah sebulan ini mereka semakin dekat. Nicole merasa nyaman dengan Edgar dan begitu sebaliknya.


Namun Nicole belum tau sebab sebenarnya Edgar ada di tempat ini. Dia hanya tau kalau pria 34 tahun itu sebelumnya sedang patah hati dan ingin melupakan cintanya.


"Kau jadi sering ke kebun dan danau, bertemu Edgar?" Tanya Merry saat mereka bertemu ditaman belakang.


"Ya, kami berteman sekarang." Jawab Nicole yang masih sibuk memanen tanamannya.


"Mungkin kalian berjodoh." Celetuk Merry.


"Jangan bercanda auntie, kami hanya teman." Kata Nicole sambil tertawa kecil.


"Tapi aku yakin." Lanjut Merry sok tau lalu kembali ke rumahnya. Nicole hanya menggeleng dan lanjut bekerja sampai suara klakson mobil terdengar.


"Itu Edgar." Nicole berlari keluar dan benar Edgar sedang menunggunya di depan rumah.


"Ada apa Ed?" Tanya Nicole karena mereka tidak punya janji apapun hari ini.


"Bisa minta tolong?" Tanya Edgar dan Nicole mengangguk.


"Temani aku besok untuk ke pernikahan mantan kekasihku." Kata Edgar dan Nicole membulatkan matanya.


"Tidak Ed, aku takut." Kata Nicole tapi Edgar tidak menyerah sampai akhirnya Nicole setuju.


"Tapi jangan salahkan aku jika kau menanggung malu karena membawaku." Kata Nicole memperingatkan.


"Tidak akan, percaya padaku." Jawab Edgar yakin.


"Baiklah.. kapan kita berangkat dan di mana acaranya?" Tanya Nicole dan Edgar memberikan undangan yang di terimanya padi tadi di kotak surat.


"Dia tau alamatmu?" Tanya Nicole sambil mengambil undangan itu.


"Tidak teman baik ku yang mengirimkan, mantan ku titip padanya." Jawab Edgar.


"Gila, kita harus kembali kesana?" Tanya Nicole tak percaya dan Edgar mengangguk.


"Aku kembali ke sana? Apakah aku bisa?" Gumam Nicole dan dia akan percaya pada Edgar kali ini.


Bandara terkedat adalah 4 jam perjalanan jadi Nicole memutuskan untuk berasiap dari sekarang.


\~\~\~\~


Perjalanan berjam-jam lamanya dari berangkat sore akhirnya mereka sampai dan kembali ke tempat kelahiran mereka pada dini hari.


"Istirahat saja, nanti aku bangunkan setelah sampai rumah." Kata Edgar dan Nicole menurut dia memejamkan matanya dan bersandar pada kursi mobil yang dibawa Edgar dari bandara menuju rumahnya.


Tak berselang lama, Nicole kembali membuka matanya karena dia tau kalau mobil telah berhenti.


"Ini dimana Ed?" Tanya Nicole yang pandangannya masih belum jelas.


"Ini rumahku ayo." Jawab edgar.


"Wah kau kaya raya ternyata." Kata Nicole takjub dengan rumah Edgar yang sangat besar dan mewah.


"Aku tak percaya kau dulu bekerja sebagai kru film." Lanjut Nicole saat sudah memasuki rumah itu.


"Ya setelah aku bertobat aku menjalani pekerjaan biasa." ata Edgar membuat Nicole semakin penasaran.


"Bisa kau ceritakan? Aku bukan wanita bodoh yang diajak ke pernikahan mantan hanya sebagai pajangan kan?"


Edgar tertawa, "Baiklah tapi jangan takut kalau kau tau siapa aku sebenarnya."  Nicole mengangguk.


Mereka duduk bersama di meja dapur karena perut lapar dan Edgar akan memasak apapun yang ada disana. Meskipun tidak ada yang tinggal di rumah itu, tetap ada pelayan yang membersihkan dan tinggal di paviliun belakang jadi tetap ada bahan makanan.


"Dulu aku seorang anak jalanan dan mencuri untuk makan, lalu di tolong oleh seorang lelaki muda dan sejak kecil sudah diajari bela diri. Dia juga anak jalanan sepertiku bedanya dia sudah hampir dewasa saat itu. Aku yang masih 12 tahun mengikutinya kemanapun, kami mencuri, menjambret kadang merampok sampai usiaku dewasa kejahatan kami semakin meningkat. Sampai dia akhirnya mati karena di tembak polisi waktu merampok bank."


Nicole masih mendengarkan, dia tidak takut karena cerita ini masih biasa saja menurutnya. Sambil makan dia mendengarkan Edgar yang sudah selesai di suapan terakhirnya.


"Lalu semua temanku tertangkap dan masuk ke penjara, aku berhasil lolos karena kemampuan beladiriku yang paling hebat diantara mereka. Aku kembali ke jalanan karena markas kami sudah di kepung."


"Beberapa tahun aku bersembunyi, ternyata polisi tidak mengejarku entah kenapa. Lalu aku bekerja pada seorang mafia selama beberapa tahun dan disanalah aku menjadi mesin pembunuh untuk hidup. Selama aku bisa membunuh siapa saja yang di targetkan maka aku akan mendapatkan uang yang banyak. Hanya beberapa tahun juga aku disana sampai aku keluar, ketua mafia itu terbunuh saat aku bertugas dan begitulah aku keluar dari bos mafia."


Nicole mulai terkejut, dia mematung. Edgar yang tau kalau Nicole sedang ketakutan sedikit tertawa.


"Kau takut?" Tanya Edgar dan Nicole mengangguk.


"Aku sudah tobat." Kata Edgar lalu Nicole mengangguk lagi.


"Dengar sampai selesai." Nicole mengangguk lagi.


"Aku keluar dari kelompok mafia tapi beberapa orang yang pernah tau diriku mencariku lagi dan menawarkan pekerjaan, lagi-lagi membunuh. Aku jadi pembunuh bayaran sampai aku bertemu Letty, dia adalah anak seorang pengusaha yang menjadi targetku. Aku menyamar menjadi pengawal dirinya karena sangat susah mendekati ayahnya yang seorang pengusaha ternama di Italy. Singkat cerita aku tidak melaksanakan pembunuhan itu karena cinta. Tapi ayahnya tetap mati di tangan pembunuh bayaran lain. Sejak itu aku berhenti dan ingin fokus pada hubungan kami."


Nicole tampak lebih terkejut lagi, dia sangat takut tapi juga kasihan pada Edgar.


"Tahun lalu, Letty, dia mengetahui semuanya. Dia yang sedang hancur karena ayahnya meninggal lalu perusahaan mereka bangkrut dan tau kalau aku adalah seorang pembunuh bayaran dan dulunya anak jalanan. Dia tidak bisa menerima masa laluku dan meninggalkanku begitu saja. Dia mengusirku seperti sampah menjijikkan dan mencaciku seakan aku makhluk paling hina."


"Yang paling membuatku marah dan sakit hati bukan itu, karena aku sadar hinaan yang dia lontarkan benar adanya. Aku memang seperti sampah menjijikkan."


"Jangan begitu Ed, manusia bisa berubah dan berhak mendapatkan kesempatan. Mungkin ini kesempatanmu dan kau berhasil hidup dengan baik." Ucap Nicole dan sekarang dia tidak takut, sorot mata Edgar berubah yang ada hanya sendu dan kesedihan. Nicole duduk di sebelah Edgar dan mengelus pudak kekar pria itu agar lebih tenang.


"Terima kasih." Ujar Edgar.


"Lalu kau ke desa dan hidup disana untuk melupakannya?" Tanya Nicole yang masih ingin tau.


"Aku sudah melupakan cintaku padanya tapi tidak bisa melupakannya. Dia tega menggugurkan kandungannya. Anak kami, karena dia jijik padaku dia tega melakukan itu." Mata Edgar terlihat memerah dan tangannya mengepal kuat.


Nicole langsung memeluknya untuk memberikannya ketengangan, dia tidak menyangka kalau Edgar mempunyai kisah pilu seperti ini.