My Venus

My Venus
BAB 84



"Wow, kerja bagus. Aku sungguh mengaguminya sejak lama." Ujar Jose pada Rey yang berhasil membawa Richela. Jose membelai wajah cantik gadis yang masih tertidur di mobilnya.


"Jangan sentuh, ini khusus untuk Tuan Neil. Hahaha kau tidak lihat tadi wajahnya yang di tegur oleh Tuan Elios saat memandangi Richela, sangat lucu." Rey tertawa, dia mengira kalau Neil menyukai Richela tapi dilarang oleh Elios.


"Ya, gadis ini sudah punya tunangan yang entah siapa itu." Celetuk Jose yang masih saja ingin menjamah Richela.


"Diamlah, aku sedang menelepon Tuan Neil." Tegur Rey saat Jose terus saja ingin mengelus tubuh Richela.


"Halo Tuan Neil, saya telah mendapatkan yang anda mau. Anda harus melakukannya di kamar club, dan rekamannya kami janji tidak akan tersebar. Setelah ini anda bisa masuk pertemuan First Class." Jelas Rey saat Neil mengangkat panggilannya.


"Baik saya tunggu sekarang." Rey menutup ponselnya dan langsung memukul tangan Jose yang sudah bermain di dada Richela yang untungnya masih menggunakan pakaian lengkapnya.


"Jangan ambil kesempatan, kau lupa peraturannya?" Ujar Rey dengan marah.


Jose hanya mendengus kesal, peraturan tetaplah peraturan. Pesanan khusus VVIP tidak boleh mereka sentuh sebelum VVIP itu duluan yang menyentuhnya. Setelah itu mereka bebas jika VVIP tidak menyewa secara ekslusif, tentunya dengan harga mahal.


Neil yang sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa wanita yang mereka bawa langsung menuju ke club. Dia juga menghubungi James untuk bersiap jika di butuhkan.


Neil melaju kencang karena jalanan yang sudah sepi. Setelah sampai dia langsung disambut di parkiran begitu Neil keluar dari mobilnya.


Sementara di dalam kamar, Richela perlahan sadar tetapi tubuhnya sangat lemah dan tidak dapat bergerak. Hanya kepalanya saja yang perlahan bisa dia gerakkan.


"Hai manis, kau sadar ternyata. Sebentar lagi pelanggan pertamamu akan datang." Ucap Jose lalu mengelus wajah cantik Richela.


"Kau.. kenapa ini? Apa maksudmu?" Tanya Richela dengan suara lemah.


"Sabarlah cantik, sebentar lagi kau akan bersenang senang dengan orang itu, selanjutnya dengan kami." Kata Jose lagi dan Richela yang benar-benar lemah tidak sanggup berbicara apalagi berteriak minta tolong.


'Apa ini akhirku? El kau dimana? Tolong aku.. El... aku menjadi target mereka El.. maafkan aku." Batin Richela, air matanya sudah luruh.


"Kau lihat kamera itu.. jadilah gadis manis atau kami akan membuatmu jadi bintang porno dengan upload video mu dengan pelangganmu ke situs xxx." Kata Rey lagi lalu dia keluar dari sana.


"Tuan Neil, akhirnya datang. Dia sudah didalam. Ingat tuan, harus lakukan disini agar bisa menjadi anggota First Class yang pelayanannya tidak akan bisa anda bayangkan. Nikmat surga akan kami berikan." Jelas Rey lalu dia membimbing Neil untuk masuk.


Langkah Neil terhenti saat melihat siapa yang terbaring disana, "Richi?" Panggilnya tanpa sadar lalu dengan emosi dia menarik kerah Rey dan mendorongnya membentur dinding.


"Lakukan saja Tuan Neil, ini juga perintah pimpinan untuk menguji anda apakah layak masuk diantara mereka. Jangan pikirkan perasaan sahabat anda, Elios Talis masih bawahan anda bukan?" Rey menyeringai. Tentu saja semua kegiatan mereka akan dilaporkan ke atas, puncak tertinggi di club ini.


"El.. El.." Neil mendengar suara Richela yang begitu lemah memanggilnya. Neil melepaskan Rey dan mendekati Richela yang terbaring lemah.


"Richi.. maaf." Lirih Neil melihat keadaan Richela.


"Lakukan, jika bisa membawamu ke atas dan tangkap mereka semua. Aku percaya padamu." Ucap Richela berbisik pelan agar Rey tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


"Tapi..." Neil tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Kau bisa, aku rela dan lega karena itu kau El." Ucap Richela lagi membuat Neil merasa bersalah. Dia sangat menginginkan Richela lebih dari apapun, dia juga rela menahan diri demi impian gadis ini. Tapi apakah dia harus melakukannya di saat seperti ini?


"Tidak tidak..."


"Tuan Neil, jika anda tidak mau tidak apa-apa, VVIP lainnya juga bersedia membayar mahal demi seorang Richela." Ucap Rey yang lalu mendapatkan pukulan di wajahnya.


"Pergi dari sini! Aku akan bersamanya dan jangan biarkan tangan kotor lain menyentuhnya atau kau akan kehilangan nyawamu!" Bentak Neil dengan wajah dingin dan tatapan menusuk membuat Rey sedikit gemetar.


"Baik Tuan, saya mengerti. Silakan nikmati malam anda." Ucap Rey setelah dia berdiri, dengan cepat dia menyalakan kamera lalu keluar kamar itu. Kemudian Neil melihat banyak titik merah di sekeliling ruangan membuat Neil sangat marah.


.


.


.


"Bagaimana Rey? Dia mau?" Tanya seorang pria yang rambutnya sudah berubah putih.


"Ya Tuan, dia bahkan sangat marah sewaktu saya ingin tawarkan Richela untuk VVIP lain." Jawab Rey dengan hormat.


"Bagus, kita bisa gunakan Richela itu untuk membuat Group Tierney mendukung bisnis kita. Hahahaha.." Tawa membahana ke seluruh ruangan itu yang masih 1 gedung dengan keberadaan Neil dan Richela saat ini.


"Kalian pantau ruangan itu dan jangan lupa hasil rekamannya simpan dengan baik."


"Baik Tuan."


Rey membungkuk hormat pada pria tua itu yang melangkah sambil merangkul seorang gadis muda belia. Dia keluar dari ruangan itu yang lebih mirip kantor menuju ruangan lain untuk melakukan ritualnya, mencicipi gadis muda yang seperti terlihat terpaksa itu.


.


.


.


"El.. banyak kamera." Ucap Richela lirih dan terdengar sangat ketakutan.


"Kita keluar saja ya?"


"Tidak.. ini kesempatan baik El.."


"Baiklah, akan aku lakukan tanpa membuka bajumu."


"Lakukanlah El, aku percaya padamu."


Neil mengecup kening Richela, dia menahan seluruh amarahnya dan bersumpah akan membuat para bajingan itu membusuk di penjara.


"Ini akan sakit nantinya, maaf." Neil lalu mencium Richela.


"Jangan membalasnya Richi, pasrah saja mereka mengira cintaku bertepuk sebelah tangan." Bisik Neil sangat pelan sambil mencium tengkuk Richela dan gadis itu pun diam dan menikmati apa yang dilakukan Neil padanya.