
"Kau sangat jahat Via!" Bentak Diana pada Avia yang masih panik karena terkejut. Dia hanya diam dengan wajah cemas dan juga terkejut.
"Aku.. ini tidak.." Avia terbata-bata, saat melihat orang-orang disana menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Tidak tidak, ini salah paham." Ujar Avia tapi tidak ada yang percaya.
"Kau jahat, aku lihat sendiri kau mendorong Nicole. Apa kau iri dengan Nicole yang akhirnya dapat pemeran utama?" Tuding Diana dengan sengit. Ya, akhirnya Avia di ganti dengan Nicole dan naskah diubah oleh penulis dan sutradara.
"Tidak Di, bukan.. tadi Nicole.. dia.." Avia tidak dapat berkata-kata lagi, dia sadar kalau dirinya di posisi yang tidak memungkinankan untuk membela diri.
'Aku paham, kalian sengaja menjebakku.' Batin Avia ketika dia sadar kalau Nicole tengah menjebaknya.
Nicole yang berhasil di angkat kembali ke darat sedang terbatuk-batuk dan Diana segera mengambil handuk dan di lingkarkan ke pundaknya.
"Sudah.. tadi aku tak sengaja terpeleset." Ucap Nicole memberitahu.
"Aku melihatnya Nicole, jangan membelanya. Dia tadi mendorong bahu kananmu kan." Sergah Diana dengan sedikit berteriak agar semua orang mendengar.
"Aku hanya menyentuh pundaknya Di.." Balas Avia berteriak tapi akibatnya malah orang-orang sekitar mulai berbisik.
"Ada apa Via?" Tanya Lana yang menghampiri, dia baru saja mengambil pakaian ganti Avia di mobil. Bell juga yang baru datang menghampiri mereka.
"Kau kenapa Nicole?" Tanya Bell yang khawatir pada Nicole yang terlihat basah dan pucat.
"Via mendorongnya ke kolam renang." Jawab Diana dengan kesal.
"Sudah sudah... bawa Nicole kedalam dan Avia kembali ke tempatmu." Akhirnya sutradara yang datang menengahi mereka.
"Ada apa Via?" Tanya BellĀ pada Avia yang beranjak dari sana.
"Kau percaya aku mendorong Nicole?" Avia balik bertanya.
"Tidak, kau tidak mungkin melakukan itu." Jawab Bell dengan yakin.
"Tapi Diana menuduhku Bell dan semua orang percaya." Ujar Avia dengan raut sedih. Dia masih memikirkan perkataan Nicole padanya tadi.
.
.
.
"Kau hebat Di, aktingku juga bagus kan?" Nicole mengulas senyumnya. Diana sedang membantunya mengganti baju dan mengeringkan rambut Nicole.
"Tentu saja, aku juga benci padanya yang seenaknya, yah aku akui dia cantik tapi tidak secantik itu juga." Jawab Diana mencibir.
"Aku ada sesuatu lagi, tapi nanti saja. Kita tunggu reaksi di dunia maya setelah ini tersebar." Ucap Nicole yang tengah menunggu hal ini meledak.
"Yah kita tunggu saja." Timpal Diana.
Hanya 1 jam sejak kejadian, sebuah video diunggah dan sudah tersebar dimana-mana.
"Ah dia lagi yang berulah. VENUS akan tamat jika begini. Baru juga 2 tahun VENUS lahir."
"Oh apa lagi ini Via? Kau iri dengan Nicole atau kau marah di depak dari pemeran utama?"
"Kau memang tidak pantas Via, Nicole lah pemeran utamanya jangan iri."
"Cemburu, akan membuatmu hancur."
"Jangan sentuh dewi kami, Nicole jauh lebih baik dari mu pecundang!"
"Pegilah Via, kurasa tempatmu bukan di dunia hiburan, pensiun dini saja!"
"Nicole lah dewi sebenanrya, lihatnya dia masih membela si jala*ng itu. Kau yang terbaik Nicole."
"Menjauh dari Nicole atau akan ku habisi kau Via!!"
.
.
.
"Mereka jahat sekali, belum tentu yang mereka lihat itu benar." kesal Bell membaca semua komentar jahat untuk Via.
Avia masih diam, memikirkan kata-kata Nicole. Dia merasa tidak ada salah dengan Nicole karena selama ini mereka baik-baik saja.
"Apa aku ada salah dengan Nicole, Bell?" Tanya Avia memecah keheningan.
"Tidak ada Via." Bukan Bell yang menjawab tapi Lana.
"Hem.. memangnya kenapa?" Tanya bell lagi yang entah sudah berapa kali.
"Kami berbicara, aku bermaksud menanyakan apa salahku karena beberapa hari ini dia seperti menghindar. Tapi akhirnya dia bilang membenciku lalu itu terjadi." Jelas Avia dengan jujur.
"Ah berarti Nicole sengaja menjebakmu agar di fitnah!" Tebak Bell dan Avia mengangguk.
"Apa yah? Sepertinya tidak, beberapa waktu ini kau mendapatkan masalah bertubi-tubi dan Nicole menambahkan. Apa dia iri padamu?" Tebak Bell lagi.
"Tepat sekali. Dia iri pada Via." Potong Lana.
"Sok tau kamu Lana." Ujar Bell menepuk pelan bahu Lana.
"Ahh aku jatuh..." Teriak Lana menjatuhkan diri dan rebahan di sofa.
"Nah ini, ini yang terjadi kan?" Ujar Bell lagi dan Avia mengangguk.
"Hem bisa jadi, sekarang Nicole sudah yang teratas, dia nomor 1 dengan fans terbanyak VENUS dan kau terakhir." Ujar Bell memberitahukan.
"Aku tidak peduli dengan itu, aku hanya ingin menjadi seorang bintang. Aku suka bernyanyi, menari dan menghibur orang banyak di atas panggung. Lalu aku sadar ternyata akting juga sangat menyenangkan. Aku mendapatkan popularitas dengan cepat dan hancur dengan cepat juga." Avia mulai menitikkan air matanya.
"Jangan begitu, kita cari jalan keluar sama-sama ya.." Bell memeluknya dan mengusap lembut punggung Avia yang masih menangis.
"Kali ini Bianca pasti murka lagi, haduh.. kenapa ini terjadi. tapi ya.. aku merasa Nicole ada dibalik semua yang terjadi padamu." Ucap Lana sok tau yang sukses membuat Bell menoleh padanya.
"Ah tidak mungkin, dari mana dia dapat itu semua bahkan foto video dan lainnya, dia saja terus bersama kita." Sanggah Bell.
"Iya juga sih.. kan cuma perasaanku." Imbuh Lana lagi.
"Tapi kalau salahmu pada Nicole coba deh apakah pernah kau berbuat sesuatu yang menyakitinya?" Tanya Bell lagi dan Avia menggeleng.
"Huh.. ya sudah, kita kembali saja yuk, atau kita makan dulu aku belum makan malam nih." Ajak Bell agar suasana hati Avia sedikit membaik.
"Boleh, resto hotel saja sudah sepi kan." Jawab Avia.
"Sudah tutup Via, ini sudah jam 11 malam." Cetus Bell sambil melihat jam tangannya.
"Beli saja terus kalian makan di rooftop. Aku belikan ya.. apa saja, jangan pilih lagi ok?" Tawar Lana.
"Okeh, kami tunggu di rooftop." Ujar mereka berdua.
Avia dan Bell masuk ke dalam lift, tapi mereka tidak sadar kalau ada Nicole yang mengikuti mereka. Nicole memperhatikan angka dimana lift itu berhenti dan mengikuti mereka.
"Bell toilet dulu yuk, ah sudah sepi tidak ada siapa-siapa dan aku tenang deh." Ajak Avia dan mereka masuk ke dalam toilet bersama, setelah selelsai mereka mencuci tangan.
"Ah aku ingat kenapa Nicole berubah." Pekik Avia membuat Bell terkejut.
"kenapa?"
"Tuan Elios, video dan foto kami bersama di hotel."
"Oh my.." Ujar Bell mendengus dan menggeleng.
"Ck.. kalian kan tidak punya hubungan apa-apa." Timpal bell lagi.
Bell dengan santai mengeringkan tangannya yang basah.
"Kau percaya padaku? Bisa saja aku membohongi kalian."
"Aku percaya."
"Kenapa kau sangat yakin?"
"Karena..."
Bell melihat sekelilingnya kemudian.. dia berbisik pada Avia.
.
.