
Seperti yang dikatan Kana, benar Asha masuk ke dalam kamarnya di samping dapur. Baba pergi keluar dan pelayan 1 lagi sedang membersihkan rumah ini sampai pekarangan. Kana dan Shu berpura-pura seru menonton tv yang ada di ruang tamu lantai 1. Setelah aman mereka dengan santai berjalan ke kamar Baba dan memperhatikan kamar itu dengan seksama.
"Seperti kamar biasa." Gumam Shu tapi tidak dengan Kana, dia berhasil menemukan sesuatu.
"Lihat ini." Kana menunjuk ke lantai dan disana ada ceceran seperti makanan yang dimasak Asha tadi tapi bercak itu menghilang sampai dibawah kasur. Shu mengangkat kasur itu dan ternyata ada handle di lantai yang berubah menjadi papan, bukan keramik.
Shu mengangkat handle itu dan ada tangga dibawahnya, mereka masuk dan menutup kembali pintu itu yang otomatis kasur juga akan menutup.
"Astaga! Apa ini?" Pekik Kana tak percaya. Ruang bawah tanah seperti penjara itu terdapat banyak wanita. Ada sel berukuran 3x3 meter dan hanya ada 1 kasur tipis dan selimut. Para wanita itu bangkit dan menangis meminta tolong. Shu melihat para wanita disana terlihat bersih dan terawat hanya saja berwajah pucat dan lesu, tidak ada sinar matahari hanya lampu yang tidak terlalu terang.
Baju mereka sama, baju terusan panjang semata kaki berwarna coklat muda. Para wanita itu meminta tolong pada Shu dan Kana yang masih memperhatikan. Kana sudah mengirim pesan pada James dan memotret beberapa sel disana.
"Shu.. Kana..." Terdenar seseorang memanggil nama mereka. Shu langsung mencari arah suara dan ternyata Silvia ada disana.
"Silvia.. oh tidak, kau ada disini. Kenapa bisa begini?" Tanya Shu panik dan mendekat ke Silvia. Gadis cantik itu langsung menangis.
"Baron, dia brengsek. Kami diculik dan diperkosa lalu dikurung. Seaktu-waktu dia butuh kami akan diperkosa lagi." Jelasnya singkat sambil menangis.
Silvia memang tidak seperti Shu dan Kana yang mahir bela diri, karena Silvia memang tugasnya hanya mata-mata yang pekerjaannya mudah, menyamar sebagai pelayan atau sejenisnya.
"Maafkan kami, tapi bagaimana cara keluar dari sini?" Tanya Kana bingung.
"Biasanya pria yang antar makanan akan masuk dari sana dan keluar ke arah sana." Tunjuk Silvia dan Shu segera berlari ke arah sebaliknya dari pintu masuk, dia menaiki tangga disana.
"Ya ada pintu dan tidak terkunci." Gumam Shu dan membuka sedikit, ternyata halaman disamping rumah.
"Sial, ternyata Baron kembali." Rutuk Shu dan segera berlari ke Kana.
"Baron kembali." Kata Shu cepat dan Kana terkejut, dia memeriksa ponselnya ternyata memang ada pesan dari James yang tidak sempat dia baca tadi.
"Katakan pada James untuk lapor polisi dan ambil beberapa foto lagi untuk bukti. Ujar Shu dan Kana langsung bertindak.
"Kita berdua jadi akan kita hadapi." Lanjut Shu lagi. Kana sedang memvideokan tempat itu dan ada banyak sel dengan wanita, total ada 16 orang dan 20 sel. Setelah mengirimkan vidoe Kana kembali terkejut saat pintu yang terbubung ke taman terbuka.
"Wah.. ternyata kalian sangat nakal dan sangat ingin tau. Baguslah masih ada 4 sel dan 2 akan kalian tempati." Ujar Baron yang telah berdiri disana. Shu dan Kana terkejut tapi mereka tetap berusaha tenang.
"Kenapa kau pulang?" tanya Kana dengan raut pura-pura takut.
"Jangan pura-pura, aku melihatnya di cctv itu." Tunjuk Baron.
"Sial! Ternyata ada cctv disana." Umpat Kana karena ceroboh. Mereka tidak tau kalau ada cctv tersembunyi di ruang bawah tanah itu.
Baron mendekat dan Kana juga Shu sedikit mundur. Baron langsung menarik lengan Kana dan tidak yang seperti Baron sangka Kana langsung melawan dan memelintir lengan Baron.
Tak lama Baba dan 1 pelayan pria datang dan membantu Baron. Ternyata 2 pelayan itu juga jago berkelahi. Dua gadis ini terlihat sudah kewalahan menghadapi 3 pria berbadan besar.
Kana menendang lagi lalu dengan kakinya dia memelintir leher Baron dengan naik ketas tubuh pria itu, tapi kekuatan Baron lebih besar hingga Kana kembali berada dalam cengkraman Baron yang mempunyai tubuh besar.
"Kau sangat liar, pantas saja aku puas diranjang. Kau tetap akan jadi kesayanganku." ucap baron dengan seringaiannya.
"Dalam mimpimu brengsek!" Kana meninju rahang Baron dengan tangan kecilnya.
"Pukulanmu kuat juga gadis kecil." Baron menyeka luka di bibirnya. "Aku pastikan kau akan meminta ampun di tempat tidur." Baron langsung mendekap dan mengangkat tubuh Kana. Sedangkan Shu yang terlihat lelah tidak mampu membantu Kana lagi.
"Jangan bergerak, kalian sudah di kepung!!" Teriak seseorang dengan seragam polisinya. Shu yang melihat itu langsung bernafas lega.
Lima orang polisi masuk ke ruang bawah tanah itu lalu menangkap 2 pelayan pria yang tadi melawan Shu, Baron yang masih membawa Kana dalam dekapannya langsung di tendang oleh Shu saat akan melarikan diri ke pintu sisi satunya yang terhubung ke kamar, Baron tentu tau bagaimana cara membuka pintu itu.
Baron terjatuh begitu juga Kana, segera 2 polisi meringkusnya dan Baron akhirnya tak berdaya telah tertangkap.
Banyak petugas yang masuk ke dalam ruang bawah tanah itu, dari petugas kepolisian dan medis, mereka akhinya membawa satu per satu wanita disana keluar.
"Terima kasih." Ucap mereka bersahutan pada Shu dan kana.
James masuk dengan tergesa, dia ingin melihat langsung Silvia yang selnya masih dibuka oleh polisi. Silvia sudah menangis, dia berhasil bebas meskipun sudah hancur.
James memeluk Silvia, memang ada perasaan lebih untuk gadis itu, namum Silvia yang cuek, tidak peka dan fokus pada pekerjaan membuat James mundur. Pria 30 tahun itu sadar jika Silvia hanya ingin fokus untuk membahagiakan keluarganya yang masih berusaha bangkit dari kemiskinan.
"Aku hancur James.. aku hancur." Ujar Silvia sambil menangis, James terus memeluknya dengan erat.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Nyonya, Baron ditangkap polisi." Lapor asisten Maria, Juan.
"Apa Juan?" Tanya Maria lagi cukup terkejut.
"Dia ternyata menyekap banyak gadis di rumah pribadinya di daerah kumuh dan polisi yang telah curiga menyamar dan menangkap basah Baron." Jelas Juan lagi dan informasi yang dia dapat sengaja polisi sebarkan agar James dan anggotanya tetap aman, itulah harga yang polisi bayar untuk James.
"Brengsek!! Sialaaaann aku sangat percaya padanya dan dia mengkhianatiku." Umpat Maria penuh emosi.
"Juan kau urus dia, jangan sampai dia menarikku dalam masalahnya." Perintah Maria pada Juan dan segera dia laksanakan.
Tapi terlambat, karena James telah membuat Baron mengakui segala hal dan telah direkam. James mengancam akan kebiri Baron jika tidak menceritakan apa yang dia ketahui.
Besoknya, Baron dinyatakan meninggal di selnya yang tertutup. Dia dinyatakan bunuh diri dengan meminum racun. Polisi tidak menyelidikinya atas permintaan James karena dia tau kalau Baron dibunuh dan polisi akan dapat tangkapan penjahat besar jika bersabar. James memang punya banyak teman di kepolisian.