
Ricardo mengedarkan pandangannya ke ruangan besar itu dan terlihat Elios dan Neil duduk di sofa panjang menunggu Ricardo.
"Tuan Elios dan Tuan..?" Ricardo menyapa tapi tidak tau sebutan apa untk Neil.
"Neil saja Tuan Ricardo." Ujar Neil dan Ricardo mengangguk.
"Terima kasih telah bersedia bertemu dengan saya." Ucap Ricardo merasa canggung menghadapi 2 orang penting dan kaya raya ini.
"Santai saja Tuan, silakan duduk." Kata Elios dan Ricardo duduk di depan mereka.
"Saya kesini, untuk meminta maaf atas perbuatan putri saya. Dia memang bersalah dan saya sebagai orang tuanya lah yang telah gagal mendidik anak. Saya mohon, boleh kah saya bertemu dengan Richela dan Bell."
Elios dan Neil saling pandang, mereka sebenarnya sangat tidak ingin istri-istri mereka bertemu dengan Nicole maupun keluarganya.
Richela yang tidak tau apapun terbangun dari tidurnya dan merasa tubuhnya sangat berat dan ingin sekali mandi agar segar. Dia keluar dan terkejut melihat siapa yang ada di ruangan kantor Elios saat ini.
"Uncle.." Serunya saat melihat Ricardo.
"Avia, kau disini juga? Syukurlah, uncle ingin bertemu denganmu." Kata Ricardo dan dia berdiri dan mendekati Richela yang juga telah berjalan mendekat.
"Uncle ingin minta maaf atas kelakuan Nicole, uncle telah gagal sebagai orang tua." Ujar Ricardo.
Richela merasa iba, dia tau bagaimana baiknya Ricardo dan betapa pria paruh baya ini sangat mencintai keluarganya.
"Uncle, kita duduk dulu." Ajak Richela lalu mereka duduk kembali.
"Apakah anda ingin kami membebaskan Nicole?" Tanya Elios to the point.
"Jika anda berkenan membebaskan Nicole saya sangat berterima kasih, jika tidak itu hak anda Tuan Elios, saya hanya berusaha." Jawab Ricardo dengan wajah sendunya.
Richela yang duduk di sebelah Elios pun tidak bisa berkata apapun, Nicole memang bersalah tapi korban akibat perbuatan Nicole bukan hanya dia ataupun Bell dan Amber, korban yang paling terluka adalah orang tua Nicole.
"Uncle, sekarang kami belum bisa memutuskan. Aku akan menemui Nicole dulu bersama Bell jadi uncle pulang dulu ya." Kata Richela untuk menenangkan Ricardo.
"Baiklah, tolong, jika memang dia bebas uncle akan membawanya jauh. Kami akan pindah ke luar negri dan uncle jamin Nicole tidak akan berulah lagi." Mohon Ricardo sekali lagi.
\= = = = =
Besoknya Richela dan Bell benar-benar menemui Nicole di kantor polisi dan itu diketahui oleh wartawan yang memang selalu berada di sekitar kantor polisi.
Begitu Richela dan Bell turun dari mobil, mereka langsung di kerubungi oleh wartawan yang terkejut akan kedatangan mereka berdua. Untungnya pada bodyguard langsung menghalangi.
"Beca ikut dengan kami." Perintah Richela pada pengawal pribadinya pengganti Xena.
Beca mengikuti dan membiarkan teman-temannya yang menghalangi wartawan itu.
Richela di persilakan untuk menunggu di ruangan kecil dan tertutup. 10 menit kemudian Nicole masuk dari arah pintu berbeda dan di tuntun untuk duduk di hadapan Richela dan Bell.
"Mau apa kalian datang? Untuk menertawakanku?" Tanya Nicole sambil memalingkan wajahnya.
"Aku sangat ingin memukulmu Nicole!" Sentak Bell dengan kesal, tapi Richela menyuruhnya untuk bersabar.
"Uncle Ricardo datang menemuiku." Ujar Richela lalu Nicole langsung menatapnya.
"Ya dia datang ke kantor Elios. Kau tau bagaimana sulitnya bertemu Elios jika tidak ada janji? Ayahmu dia datang dan mengatakan kalau dia adalah ayah dari Nicole, dia tidak malu dan masih menganggap Nicole sebagai anaknya dan dia lah yang bertanggung jawab atas kesalahanmu dan dia yang telah gagal menjadi orang tua." Ucap Richela panjang lebar karena kesal melihat keangkuhan pada diri Nicole.
Keangkuhannya luntur seketika berganti dengan air mata mengalir, Nicole terisak dan tampak sangat menyedihkan saat ini.
"Pikirkan orang tuamu Nicole, Uncle Ricardo.. sejak kita masih muda dan di Monato, kau ingat dia sering datang tanpa memberitaukan kepadamu, dia memantaumu dari jauh dalam diam agar kau baik-baik saja. Tapi balasanmu malah membuatnya kecewa." Lanjut Richela dan Nicole makin mengangis sejadi-jadinya.
"Aku sudah tidak punya orang tua dan selalu iri padamu karena mempunyai keluarga yang lengkap, aku juga ingin dan berharap ayahku dapat berbuat seperti ayahmu tapi tidak akan pernah bisa. Kau iri padaku karena aku lebih dari segalanya? Tidak Nicole, aku lah yang iri padamu karena punya ibu yang baik dan ayah yang sangat perhatian. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa merasakan itu."
Bell juga akhirnya melunak, memang benar Richela tidak akan bisa merasakan kehangatan keluarga yang sempurna bahkan suaminya juga yatim piatu. Sampai kapanpun Richela tidak bisa merasakan pelukan hangat dari orang tua.
"Aku minta maaf, maaf kan aku semuanya aku yang lakukan, aku yang bersalah karena ambisi dan iri pada kalian." Ujar Nicole sambil terisak.
Richela juga menangis karena dia sebenarnya tidak sepenuhnya membenci Nicole, dia tau sekeras apa Nicole berlatih tapi memang dia tidak berbakat untuk menyanyi dan menari. Semua yang dihasilkan Nicole adalah kerja keras dan latihan terus menerus. Bahkan lebih dari 3 bahkan 4 kali leih keras dari apa yang di lakukan semua peserta didik saat itu.
Nicole menceritakan semuanya, semua hal jahat dan licik yang dia lakukan pada Richela sejak dulu.
"Berjanjilah kau akan hidup dengan baik dan jangan buat orang tua mu kecewa, dan adikmu dia selalu membanggakanmu dan jangan kecewakan dia lagi. Kami memang belum sepenuhnya bisa memaafkanmu tapi semua demi uncle Ricardo. Aku tidak bisa melihat seorang ayah memohon untuk anaknya jadi jangan lakukan kesalahan apapun di masa depan dan hiduplah dengan baik." Ucap Richela kemudian dia berdiri.
Nicole hanya menunduk sambil mengucapkan terima kasih dan maaf berkai-kali.
"Tunggu." Ucap Bell lalu Richela berhenti dan berbalik, dia melihat Bell yang kembali menghampiri Nicole.
"Berdirilah Nicole." Ujar Bell dan Nicole hanya mengikuti perkataan Bell dan berdiri di depannya.
Bugh!!
Sebuah tinju di layangkan pada wajah Nicole dan membuatnya tersungkur. Richela dan petugas jaga disana sangat terkejut.
Petugas memapah Nicole dan Richela menahan tangan Bell yang sedang menepuk kedua tangannya dan senyum puas tersungging di bibirnya.
Ada sedikit lebam di wajah Nicole yang belum terlalu terlihat.
"Itu hukuman dariku, dan aku memaafkanmu." Ucap Bell lalu berbalik dan melangkah dengan percaya diri. Nicole dan Richela hanya saling menatap tak percaya.
"Kenapa kau memukulnya?" Tanya Richela sedikit berbisik karena mereka masih di kantor polisi untuk mencabut tuntutan, bersama seorang pengacara dan wali dari Amber.
"Aku pernah bilang kalau memang dia pelakunya aku akan memukulnya, kau ingat?" Richela hanya mengangguk.
"Nah itu dia tadi aku sudah memukulnya." Lanjut Bell lagi yang membuat Richela hanya menggeleng saja melihat kelakuan kakak iparnya yang sedang hamil anak kedua itu.