
"Jadilah penggantiku." Ucap Elios. Elios di depannya langsung ternganga tak percaya.
"Maksudnya?"
"Namaku adalah Elios N. Tierney."
"Apa? Tierney kan orang terkaya tapi tidak ada penerus karena kabarnya keluarga Tierney sudah meninggal karena kecelakaan!" Pekik Elios tak percaya.
"Makanya aku butuh seseorang untuk menggantikanku.. Karena belum ada yang mengenalku. Orang tua ku sudah melarikan diri sejak aku baru lahir 2 bulan karena ada yang mengincar nyawaku." Lanjutnya lagi, dan akhirnya Morris paham apa maksud dari Elios tadi.
"Jadi aku harus menggantikanmu untuk mati? Tidak aku tidak mau." Tolaknya dengan cepat.
"Bukan, bisa dengarkan aku dulu?" Sergah Elios yang mulai kesal.
"Panggil aku Neil, biar tidak bingung." Kata Neil dengan cepat.
"Baiklah Neil." Sahut Elios.
"Jadi, orang tua ku meninggal saat aku 7 tahun. Kami bersama sedang menuju kota untuk membeli bahan pokok, rutinitas setiap bulan seperti biasa, tapi mobil kami ditabrak oleh truk. Aku masih sadar dan bisa mendengar semuanya dan mereka sengaja ingin membunuh kami untuk mengambil seluruh perusahaan ayahku. Aku yang masih kecil tidak begitu paham yang pasti keluarga Tierney lainnya yang melakukannya. Aku punya seorang paman dan bibi, tapi mereka bukan saudara kandung ayahku."
"Aku selamat berkat Morris yang berhasil menarikku sebelum mobil itu meledak di dekat jurang, Morris yang juga luka parah memelukku lalu terjun ke sungai dan untunglah kami selamat."
"Tapi keluarga besar Tierney tidak bisa mengambil alih perusahaan karena wasiat yang tertulis kalau seluruh harta atas nama Tierney adalah milik Elios N. Tierney, tapi jasadku tidak ditemukan. Makanya saat waktunya tiba nanti aku harus muncul di muka umum, aku ingin menggunakan seseorang agar menjadi diriku dan aku akan memantau sebagai orang lain yang tidak punya kepentingan. Untuk mencari tau siapa mereka."
Elios tampak menghela nafasnya. Dia sungguh bingung karena kisah hidup orang kaya ini, sungguh rumit. Jika ia hanya butuh uang untuk hidup, maka orang kaya ini banyak uang tapi bisa mati kapan saja. Sungguh ironis sekali.
"Kak, aku sudah beli bahan makanan. Aku masak ya.." Richela sudah kembali dan membawa banyak kantongan belanja. Tubuh kurusnya ternyata sangat kuat mengangkat belajaan itu.
"Kau beli apa saja?" tanya Elios menghampiri dan mengambil beberapa kantongan itu.
"Ada gandum, telur, sayur-sayuran, susu dan roti. Ada minuman juga untuk kakak tampan itu dan kakek." Jawab Richela lalu membawakan 2 kaleng soda untuk tamu dari kakaknya.
"Terima kasih. kau bisa masak?" tanya Neil.
"Iya kak El." Jawabnya dengan senyum lucu.
"Kak El?" Niel mengulang ucapan Richela.
"Iya kan kak El namanya Elios sama dengan kakak, biar tidak bingung." Jawab Richela lagi.
"Tapi aku bukan kakakmu jadi panggil El saja." Ujar Neil dan Richela menurut.
.
.
.
Elios masih merenung dan memikirkan apa yang dikatakan Neil tadi, dia masih bingung haruskah dia menerimanya atau tidak?
Semalaman Elios sama sekali tidak tidur, dia juga takut kalau Richela akan di ambil oleh dinas sosial dan dibawa ke panti asuhan, dia benar-benar tidak ingin adik tersayangnya tumbuh di panti asuhan.
Paginya Neil datang lagi dan Elios mempersilakannya masuk.
"Apa tak terlalu pagi untuk berkunjung?" Tanya Elios setelah mereka duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Richela tampak juga baru bangun tidur, menyapanya dan langsung ke dapur untuk memasak.
Selang 20 menit, Richela sudah berteriak, "Kakak, El ayo sarapan." Suara nyaring itu terdengar ke seisi rumah.
"Hanya roti bakar dan omelet." Jawab Richela sambil menuangkan air putih di gelas untuk mereka semua. Neil semakin menyukai gadis kecil itu, dia sangat bangga pada gadis 12 tahun tetapi sangat mandiri.
"Enak, kau pintar masak." Puji Neil setelah makan sesuap omelet itu.
"Tentu saja, mom selalu mengajariku, kami biasanya masak bersama, aku harus bisa masak kata mom agar suamiku senang nanti." Ucapnya dengan riang.
"Kalau begitu, saat kamu sudah besar jadilah istriku." Kata Neil sambil tersenyum dan memandang wajah cantik Richela yang sedang terbengong melihatnya.
"Hei, adikku masih 12 tahun kau sudah melamarnya!" Sentak Elios tidak suka. Sementara Richela, dia bingung karena tiba-tiba jantungnya terasa berdetak kencang seperti habis maraton.
"Kakak.. Richi sakit, disini dug dug dug, mirip lomba lari disekolah, capek." Lirihnya begitu terlihat menggemaskan.
'Duh gadis kecil ini lucu sekali, aku tak sabar menunggunya dewasa pasti sangat cantik.' Batin Neil sambil terus melihat kearah Richela.
"Gara-gara kau, ck!" Elios berdecak sebal.
"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri. Sudah cepat mandi dan ke sekolah, nanti telat." Ucap Elios lembut pada adik kesayangannya.
"Awas saja kalau adikku dewasa sebelum waktunya." Elios menatap tak suka pada Neil yang masih tersenyum.
'Aku sudah gila, masa jatuh cinta pada anak 12 tahun.' Rutuknya pada diri sendiri, tapi dia serius ingin menikahi Richela jika dia besar nanti.
"Jadi sudah kau pertimbangkan? Waktuku hanya tinggal 4 tahun jadi kalau kau setuju banyak yang harus dipelajari." Tanya Neil pada Elios yang masih bimbang.
"Apa yang kau pikirkan, ragu? atau takut?" Tanya Neil lagi.
"Aku hanya memikirkan Richi, kalau aku pergi dia akan sendirian. Kalau aku tetap disini dan tidak bekerja dia akan dibawa oleh dinas sosial. Mana ada orang yang mau memberi pekerjaan padaku yang putus sekolah." Keluh Elios, wajahnya terlihat sangat sedih.
"Makanya ikut denganku dan aku akan menggajimu sangat tinggi." Tawar Neil lagi membuat Elios semakin bimbang.
"Tapi Richi bagaimana?" Tanya Elios yang sangat mengkhawatirkan adiknya itu.
"Dia kelas berapa?" Tanya Niel.
"Sebentar lagi masuk middle school dan dia sekolah di sekolah yang cukup baik dan sayang jika harus keluar." Jawab Elios.
"Morris akan mengurusnya, dia akan sediakan wali untuk Richi dan kau bisa tenang. Hanya saja kau akan berpisah cukup lama. Apa Richi akan mengerti?" Tanya Neil yang sebenarnya cukup khawatir juga.
"Richi anak pintar dan mandiri, dia pasti mengerti." Jawab Elios.
"Jadi kau akan ikut denganku?" Tanya Neil memastikan dan Elios mengangguk.
"Dengan syarat, kau harus memberikan apapun pada Richi, dia tidak boleh kekurangan dan impiannya apapun itu harus tercapai. Tapi dia akan menggapai itu sendiri agar dia menjadi lebih kuat lagi untuk menghadapi hidupnya kedepan." Elios menatap serius pada Neil.
"Baik, aku berjanji. Lagi pula gajimu sangat tinggi nanti. Kau akan jadi direktur di Tierney Group jadi kau mengerti kan?"
Elios menghela panjang, dia bingung apakah dia bisa?
"Tapi bagaimana aku menjadi dirimu? Warna mata kita berbeda." Tanya Elios masih menatap mata biru Neil.
"Tidak ada yang mengenalku, Morris saja yang tau siapa aku yang lainnya sudah dibantai habis oleh orang-orang itu ketika pertama kali orang tua ku membawaku kabur. Selama di sisimu aku akan menggunakan lensa kontak berwarna coklat sama dengan matamu itu." Jelas neil yang membuat Elios iba melihatnya.
"Kalian orang kaya tapi hidup dalam rasa takut akan kematian, sementara kami yang miskin takut mati karena kelaparan." Lirih Elios lalu dia menyandarkan tubuhnya di sofa.