My Venus

My Venus
BAB 86



Jam 1 siang, Neil sudah berada di salah satu ruangan khusus First Class di Sun & Moon yang ternyata masih 1 gedung. Jika kemarin dia turun 1 tingkat ke bawah, maka ini 3 tingkat ke bawah untuk bertemu dengan anggota lainnya.


Neil berjalan masuk dengan percaya diri dan tatapan tajam seperti biasanya, meskipun dia sedikit terkejut dengan siapa saja orang yang ada disana.


"Selamat datang Tuan Elios Tierney." Sapa seorang pria tua berambut putih dan Neil tau siapa dia.


"Neil saja." Jawab Neil tanpa basa basi. Disana juga sudah ada Mahesh yang katanya akan bergabung dengan caranya sendiri dan dia berhasil.


"Saya rasa tidak perlu saling berkenalan lagi karena semuanya sudah tau kan?" Tanya Pria tua itu dan yang ada di sana mengangguk serentak sambil tersenyum.


"Tapi saya tetap berterima kasih karena 2 anggota baru kita sudah bergabung. Tuan Mahesh akan bertanggung jawab untuk keaman gedung dan semua data kita karena dia memiliki perusahan di bidang IT yang luar biasa." Jelas pria tua itu lalu menatap Mahesh penuh kagum.


Mahesh hanya mengangguk kecil dengan wajah sombongnya yang sengaja dia lakukan untuk lebih meyakinkan seluruh anggota.


"Lalu ada Tuan Elios Tierney yang sudah menanamkan modal sebanyak 1 juta dollar untuk agency model dan akan membantu Sun & Moon untuk lebih besar lagi. Bagaimana dengan proposal cabang baru kita di negara Z Tuan Neil?" Tanya Pria tua itu dan Neil tampak serius.


"TuanĀ Calvin Oberon, saya sudah memberikan 1 juta dollar dan 5 juta dollar sedang dalam proses. Saya seorang pebisnis dan tidak akan begitu saja memberikan uang dalam jumlah besar. Anda sudah tau syarat dari saya?" Tanya Neil dan Tuan Calvin pun tertawa.


"Hahahaha saya tau Tuan Neil, dan itu bisa di atur. Anda sudah memiliki T's Ent yang begitu besar dan juga T's Hotel yang ada di seluruh belahan dunia. Tidak di ragukan lagi kemampuan anda. Semua bisa diatur, anda sudah bisa mengakses semuanya." Jawab Calvin yang sudah terlena dengan aliran dana besar yang masuk ke rekeningnya.


"Sekarang, saatnya kita bersenang-senang." Ujar Calvin lalu dia menjentikkan jarinya. Hanya beberapa detik sudah tampak beberapa wanita dengan pakaian minim yang masuk ke ruangan itu.


Mereka minum sambil ditemani wanita yang Neil tau siapa semua wanita itu.


Mahesh melirik ke Neil yang masih tidak mau menyentuh wanita yang disiapkan untuknya, kemudian Masesh memberi kode agar Neil berakting lagi.


Dengan terpaksa, Neil merangkul pundak wanita di sebelahnya yang adalah seorang aktris pendatang baru yang sedang naik daun.


"Tuan, saya akan membawa wanita cantik ini." Ujar Mahesh ingin melarikan diri. Neil telat selangkah, Mahesh duluan keluar hingga Neil bertahan lebih lama sampai 2 orang lagi yang pamit dia juga ikut pamit bersama wanita yang masih dia rangkul.


.


.


.


"Tuan Neil, kita mau kemana?" Tanya wanita yang dibawa oleh Neil.


"Nona Abigail, apa kau sudah lama bekerja dengan mereka?" Tanya Neil to the point.


"Tidak Tuan! Maaf tapi aku terpaksa. Kalau tidak video saat mereka menjebakku akan disebarkan." Jawab Abigail dengan jujur.


"Apa kau ingin keluar dari sana?" Tanya Neil lagi.


"Tentu saja, aku sudah muak melayani mereka." Jawab Abigail tanpa banyak berpikir.


"Bagus, kau harus turuti semua perkataanku jika ingin bebas." Neil membawa Abigail ke tempat James dan disana juga sudah ada Mahesh.


"Bagaimana kau bisa masuk kesana?" Tanya Neil yang penasaran.


"Aku bobol dan sebarkan virus semua sistem keamanan mereka dan aku juga yang memberikan anti virusnya." Jawab Mahesh santai membuat Neil mendengus kesal.


"Lalu kau juga dipaksa melakukan itu?" Mahesh mengangguk.


"Ya tapi saat itu lah anggotaku menyebarlan virus jadi tidak ada yang terjadi padaku, aku tolong mereka dan disini lah aku." Jelas Mahesh lagi.


"Yang penting aku sudah memiliki semua akes mereka, sudah aku kirimkan ke James dan Robb. Dan ini Mikayla, baru 17 tahun dan sudah dari umur 16 tahun di jual oleh mereka dan aku punya seluruh datanya. Mereka bisa dikenakan pasal pelecehan pada anak di bawah umur dan ah aku lupa apa saja yang dikatakan Robb."


"Dia juga mau jadi saksi." Lanjut Mahesh.


"Aku juga mau jadi saksi dan aku yakin beberapa teman sesama aktris juga akan membantu. Mereka sangat keterlaluan." Ujar Abigail mantap.


"Baiklah, kalian ikut James dan mereka akan membawa kalian menemui Robb yang merupakan polisi jujur yang akan membantu." Kata Neil dan 2 wanita itu pun ikut dengan James.


"Kau mengeluarkan uang cukup banyak untuk mereka." Celetuk Mahesh.


"Akan kukeluarkan berapapun demi membalas mereka. Orang-orang brengsek itu akan membusuk di penjara." Geram Neil yang masih sangat marah.


"Demi Richela?" Tanya Mahesh dan Neil hanya mendengus kesal.


"Tenang saja, video kalian sudah aku hapus." Kata Mahesh membuat Neil jadi tenang.


"Terima kasih." Ujar Neil tulus.


"Sepertinya kau akan membuat perubahan besar-besaran pada perusahaanmu itu, apalagi stasiun tv." Lanjut Mahesh dan neil sudah tau hanya saja dia ingin membabat habis dalam sekali tebas.


"Ya aku tau." Jawabnya singkat.



"Viaaaa..." Teriak Bell begitu masuk ke apartemen Neil. Richela yang sedang duduk di sofa ruang tamu langsung terkejut dan melemparkan bukunya.


"Jantungku astaga Bell!"


Bell hanya nyengir lalu duduk di samping Richela yang sudah menutup buku novelnya, dia sedang istirahat karena Neil tidak mengizinkan dia untuk kembali syuting sementara waktu.


"Ada apa Bell?" Tanya Richela yang melihat Bell terus saja tersenyum.


"Mantan perawan." Bisik Bell pelan takut para pelayan yang masih ada siang itu mendengar.


"Ck.. kau ini." Wajah Richela jadi memerah mengingat dirinya bukan perawan lagi.


"Enak kan?" Tanya Bell lalu Richela mencebik.


"Sakit dan tempatnya haduuuhhh.." Richela menepuk kepalanya sediri mengingat betapa takutnya dia saat itu.


"Sudah, biarkan Neil yang mengurusnya yang penting jangan diingat lagi, ingat saja yang enaknya. Aku juga begitu."


"Kau ini.. tapi sakit, ini saja masih."


"Wow.. sebesar apa milik Neil sampai sakitmu hingga sekarang?"


"Tidak tau, kan aku tidak bisa gerak jadi dia sendiri yang bekerja."


"Nah, malam ini coba lagi aku jamin akan enak dan tidak sakit."


Richela menepuk lengan Bell gemas, masih saja memikirkan hal begitu padahal Neil sedang sibuk mengurusi manusia sampah itu.


"Sudah jangan bahas lagi, kami akan menikah setelah semuanya selesai dan akan mengadakan pesta yang meriah." Ujar Richela.


"Siap! Aku akan jadi panitianya dan memilih gaun lalu dekorasi dan lainnya." Ujar Bell semangat tapi Richela malah menghela nafasnya berat. Dia juga ingin Bell mendapatkan pesta yang meriah tapi Bell tidak mau karena baginya saat ini dia sudah sangat bahagia.


.


.


.