
Richela sedang menangis sesegukan, dia telah mendengar dari Elios. Richela ingin ikut tetapi tidak diperbolehkan karena tempat itu belum bisa dimasuki oleh anak-anak.
"Tunggu kau sudah cukup dewasa, kami akan membawamu kesana. Jangan menangis lagi." Elios memeluk adik kesayangannya itu, sungguh berat dia harus meninggalkannya.
"Jodie akan menemanimu, dia sangat pandai memasak kau bisa belajar banyak hal padanya." Gantian Neil yang menenangkan gadis kecil itu. Morris sudah mengaturnya, Jodie adalah pelayan yang sangat terampil dalam segala hal termasuk bela diri. Dia menyamar sebagai wanita single yang mempunyai pekerjaan tetap hingga bisa mengadopsi Richela dan menjaganya selama Elios pergi bersama Neil. Sampai usianya 18 tahun barulah Richela akan membatalkan adopsinya.
"Elios akan sulit keluar bertemu denganmu, sebagai gantinya aku akan sering datang, ok?" Rchela mengangguk dan memeluk sekali lagi kakaknya.
.
.
.
Waktu berlalu, tidak terasa sudah beberapa bulan sejak Elios pergi bersama Neil. Tapi mereka berdua sama sekali belum berkunjung hanya mengirim pesan ke ponsel Jodie.
Richela tidak terlalu sedih karena Jodie bersamanya setiap waktu, wanita yang telah berumur 52 tahun itu sangat pandai membuat Richela tidak punya waktu untuk bersedih. Dia mengajari banyak hal, dari memasak, skill sebagai ibu rumah tangga sudah pasti, lalu gerakan dasar membela diri, menyanyi dan menari.
Suara Jodie cukup bagus dan di usianya yang sudah pertengahan abad dia masih lincah menari. Sejak itulah Richela menjadi gadis riang, pintar dan ramah juga bertalenta.
Hingga usianya 17 tahun Neil kembali datang, memang Neil sering menemui Richela setelah 1 tahun Elios pergi bersama Neil, tapi tidak dengan Elios yang sama sekali tidak pernah menemuinya, hanya melalui pesan atau telepon saja.
"Hai gadis kecil calon istriku.." Sapa Neil saat Richela baru saja sampai ke rumah sehabis pulang sekolah.
"El...." Richela sangat senang dan langsung memeluk Neil dengan erat. Dia sudah sangat mencintai Neil.
"Dimana kakak?" Tanya Richela sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah berharap ada Elios disana. Tapi nihil, hanya ada Neil dan Jodie dirumah, selalu begitu.
"Kapan kau libur sekolah?" tanya Neil sambil merangkul gadis cantik itu.
"3 bulan lagi aku ujian kelulusan dan libur sampai hari kelulusan nanti." Jawab Richela dengan raut senang, gadis cantik ini bahkan akan lulus lebih cepat 1 tahun.
"Baiklah.. sekarang aku akan ceritakan kenapa Neil hingga kini bersamaku." Lalu Neil menceritakan semuanya. Bahkan tentang dirinya juga, tidak ada yang dia sembunyikan.
"Maka dari itu, aku ingin meminta tolong padamu untuk berpura-pura tidak mengenal kami nantinya." Pinta Neil pada Richela yang terlihat sedih.
"Baiklah tapi aku boleh bertemu kakak?" Tanya gadis itu hampir menangis.
"Boleh, kami akan mengundurnya lagi demi kamu. 3 bulan lagi aku akan menjemputmu dan kita kesana. Bersiaplah gadis kecil." Neil lalu mencubit hidung mancung Richela. Mereka seharusnya muncul dihadapan public tahun lalu tapi karena ada masalah di keluarga Tierney lainnya mereka mengundur lagi waktunya.
.
.
Tiga bulan terasa 3 tahun bagi Richela sampai dia merasa sangat bosan tapi dia tetap sabar menunggu sampai hari itu tiba. Beberapa kali juga Neil datang menemuinya seperti biasa, mereka sedang kasmaran.
"Kau siap?" Tanya Neil dan Morris juga Jodie membantu membawakan barnag mereka. Jodie akan kembali ke mansion Morris sehingga bawaannya cukup banyak. Tetangga banyak yang memperhatikan mereka tapi mereka hanya megira kalau itu adalah kerabat Jodie dan keponakannya, karena itulah informasi yang sengaja Jodie berikan.
"Apakah tempatnya jauh?" Tanya Richela setelah mobil itu berjalan sudah 2 jam lamanya.
"Lumayan, tidurlah nanti akan kubangunkan." Jawab Neil lalu Richela menyandarkan kepalanya di bahu Neil yang bidang tempat ternyamannya saat ini.
"Richi.. bangun baby, kita harus pindah." Ucapnya pelan sambil menepuk pelan lengan Richela yang masih merangkulnya.
"Hmm... sudah sampai?" Tanyanya dengan memicingkan matanya melihat sekitar.
"kita pindah ke helikopter." Kata Niel lalu mata Richela terbelalak sempurna.
"Helikopter?" Pekiknya tak percaya tapi dia melihat benar ada helipkopter disana. Dengan hati senang dia mengikuti Neil dan naik ke capung besi itu
"Wah kakek yang jadi pilotnya?" Kata Richela tak percaya, Morris hanya tertawa saja. Richela dengan senang melihat pemandangan di bawahnya, senyum terus terukir di bibirnya.
Hanya 45 menit mereka sampai, setelah melewati gunung, lembah dan sungai bahkan Richela melihat danau yang cukup luas disana.
"Pakai mantel, pengunungan disini cukup dingin." Neil memakaikan mantel yang sudah disiapkan oleh pengawal disana, mereka masih harus menempuh perjalanan dengan mobil selama 1 jam untuk mencapai mansion tersembunyi didalam hutan.
Mata Richela menangkap sebuah gerbang tinggi yang sangat kokoh dan di sekelilingnya ada beberapa orang yang berjaga.
"Ini lebih seperti sebuah penjara mewah." Gumamnya namun Neil dapat mendengarnya dengan jelas.
"Ada penjara yang lebih indah baby." Ujar Neil berbisik.
"Dimana?" Tanya nya polos.
"Penjara cintaku, disini." Jawab Neil menunjuk hatinya, Richela tersipu malu lalu memalingkan wajahnya.
Begitu masuk, gadis cantik itu lebih terkejut lagi karena mansion itu lebih mirip istana. Tapi air matanya langsung luruh saat melihat Elios yang sudah menunggunya di pintu depan. Dia langsung turun dari mobil dan berlari memeluk Elios.
"Kakak kenapa tidak pernah pulang... kakak jahat." Ucapnya lirih sambil menangis.
"Maaf, adik kesayangan kakak sudah besar dan cantik. Apa sudah punya pacar?" Tanya Elios begitu pelukan mereka lepas, ya dia sudah tau siapa pacar adik kesayangannya itu.
"Sudah.. kakak juga semakin tampan, juga semakin tinggi mirip El, tapi pacar Richi jauh lebih tampan." Jawab gadis itu tampak malu-malu.
"Ya sudah masuk dulu, kita ngobrol di dalam." Ajak Morris.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Kakek.. apa ada tempat aman untukku jalan-jalan? Di rumah terus membosankan." Tanya Richela pada Morris yang tampak baru selesai berbicara pada pengawal.
"Kenapa nak?" Tanya Morris yang melihat ada raut kesal di wajah cantik Richela.
"AKu mau keluar jalan-jalan tapi semua pengawal bilang tidak boleh karena bahaya." Jawabnya sambil mencebik.
"Memang karena banyak perangkap tersembunyi di sekeliling mansion. Tapi di mansion luas ini juga ada tempat menyenangkan. Tanyalah pada Neil." Ucap Morris lalu meninggalkan gadis itu yang bingung sendirian.
"El.. kata kakek di mansion ini ada tempat menyenangkan, dimana?" Tanya Richela penasaran.
"Ah ada, nanti kita kesana. Hari ini kami sedikit sibuk jadi besok pagi aku akan membawamu kesana, ok?" Richela mendengus kesal, dia ingin sekali menikmati waktu disini dengan menjelajahi tempat ini.
"Sudah sampai disini, tempat yang dikelilingi gunung tapi tidak bisa kemanapun." Richela terus mengeluh tapi meskipun begitu, dia tetap setia menunggu Neil bekerja dengan duduk manis di sofa ruang kerja itu.