
Neil bingung bagaimana melakukannya tanpa membuat Richela kesakitan, dia tidak bisa mencumbui tubuh gadis kesayangannya disini.
Neil melihat kearah bawah Richela, 'Untunglah kau memakai rok ini.' Batin Neil yang melihat Richela masih mengenakan gaunnya. Tangan Neil masuk kedalam gaun itu dan menurunkan segitiga pengaman lalu menelusupkan tangannya ke lembah milik Richela.
"Kau sangat bersih." Gumam Neil yang langsung membuat Richela sangat malu tapi tidak bisa berbuat apapun, gadis itu hanya memejamkan matanya sambil merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Neil biasanya hanya bermain di area atas dan baru kali ini dirinya di sentuh dengan sangat intim.
Richela kembali terkaget dan membuka matanya saat kepala Neil di telusupkan kedalam roknya dan merasakan sesuatu yang hangat menerpa bagian inti tubuhnya.
Lidah Neil menjalar dan bermain disana, di tambah dengan jari-jari tangannya yang juga membantu membuka jalan agar gadisnya nanti tidak terlalu kesakitan. Setelah merasa cukup, karena Richela sudah menggelepar 2 kali, Neil bangkit lalu menurunkan zipper celananya, menurunkan dalaman karena dia juga tidak mau miliknya terlihat.
Neil menaikan lutut Richela dan dia mulai menutupi miliknya dengan gaun lalu perlahan miliknya masuk tubuhnya menindih Richela menutupi milik mereka dari kamera atas.
Richela menjerit kecil saat merasakan miliknya seakan terbelah, benda tumpul itu begitu sesak memaksa masuk sampai akhirnya berhasil. Keringat membasahi keduanya, Neil terus menerus membisikkan kata cinta dan maaf lalu mencium wajah Richela agar gads itu lebih tenang.
"Tahan ya.." Ujar Neil lalu bergerak pelan, maju mundur perlahan sampai rasa itu memuncak, Neil yang tidak tahan karena milik Richela yang terasa menjepit membuatnya langsung mengeluarkan jutaan calon anaknya di dalam gadis itu. Beberapa detik saling merasakan getaran hingga akhirnya berhenti meninggalkan deru nafas tertahan dari keduanya.
"Akk.." Teriak kecil terdengar saat Neil mencabut miliknya lalu segera Neil menutupi dirinya lalu Richela.
"Bagaimana?" Tanya Nel berbisik.
"Rasanya luar biasa." Jawab Richela masih memejamkan matanya, sakit tapi juga nikmat, itu yang dia rasakan.
"Tidurlah, kita akan pulang." Neil memeluk Richela dan mengedipkan matanya 3 kali dengan tanda dia mengaktifkan kembali kamera dari matanya. Untung tadi dia sempat mematikan alat itu sebelum melakukannya dengan Richela.
James yang ada di sekitar club kembali lega saat tau kamera itu aktif lagi dan bersiap menerima perintah.
"James, bersiap di parkiran lantai 3 dan antar Richi pulang dengan selamat." Bisik Neil dengan suara yang sangat pelan tapi James dapat mendengarnya dari tempatnya berada.
"Sudah selesai?" Tanya Rey begitu masuk ke dalam kamar itu. Mata Neil menyorot tajam pria itu yang dia tau pasti mereka telah melihatnya dari kamera.
"Tenang tuan, anda bisa kembali siang nanti. Tuan besar pimpinan kami ingin bertemu dengan anda. Dan jangan khawatir tentang Tuan Elios, dia sedang sibuk dengan proyek baru bersama Jose." Neil tidak membalas perkataan Rey, karena sedang menahan emosinya untuk tidak membunuh pria itu.
"Anda bisa lanjutkan di rumah." Bisik Rey sebelum Neil keluar dari kamar itu sambil menggendong Richela.
"Oh wow, ternyata dia masih virgin pantas saja Tuan Neil begitu terpesona." Gumam Rey saat melihat bercak darah di ranjang itu, lalu mematikan kamera.
.
.
.
Neil masih memeluk Richela, mereka saat ini sudah berada dalam mobil dan James yang mengemudi.
"James, penawarnya sudah ada?" Tanya Neil yang masih menahan kemarahannya.
"Sudah Tuan, sudah di siapkan di kamar anda. Tuan bisa menyuntikkan dosis yang tersedia." Jawab James dan Neil kembali diam.
Setelah kembali ke apartemen, Neil merebahkan tubuh Richela yang masih lemas, dia membasuh seluruh tubuh gadis itu lalu mengganti pakaiannya. Neil mengambil suntikan obat yang sudah disiapkan dan menyuntikkan obat penawar itu.
Setelah hampir dua jam, Richela akhirnya bangun dan mendapati dirinya yang sudah ada di kamar mereka. Neil masih melingkarkan lengannya di perut Richela. Gadis itu menggeser tubuhnya dan tidur menyamping memandang wajah Neil yang tidur lelap, terlihat guratan lelah di wajah tampan itu.
"Kau sudah bangun... ada yang sakit?" Tanya Neil khawatir tapi Richela menggeleng lalu tersenyum.
"Tidak, tapi aku lapar. Terakhir makan siang tadi." Jawabnya cepat, memang Richela lelah dan lapar karena ini sudah hampir pagi.
"Tunggu disini." Neil beranjak dan keluar kamar menemui James yang masih ada di ruang tamu, tidur di sofa sambil menunggu perintah.
"James.." Panggil Neil yang sontak membuat James yang hampir terlelap langsung bangun dari tidurnya.
"Bisa minta anggotamu belikan makanan, apa saja dan kamu boleh pulang." Ujar Neil dan James melihat ke jam tangannya yang sudah pukul 4 dini hari.
"Baik Tuan." James lalu melangkah pergi. Hanya 15 menit anggota James sudah datang membawa 2 porsi makanan untuk Neil.
"Richi sayang.. makan dulu." Panggil Neil karena Richela kembaliĀ memejamkan matanya yang sebenarnya tidak tidur.
"Iya.." Jawabnya dan berusaha untuk duduk tetapi sangat sulit, ternyata bagian tubuhnya terasa nyeri dan otot tangan dan bahunya juga sakit.
"Sakit ya?" Tanya Neil lalu membopong Richela untuk duduk di sofa dekat jendela. "Maaf." Ujarnya pelan merasa bersalah.
"Jangan begitu El.. ini bukan salahmu." Richela lalu mengecup bibir Neil agar pujaan hatinya itu kembali ceria dan tidak penuh penyesalan.
"Ayo kita makan, aku sangat lapar." Ujar Richela membuat Neil terhenyak dari lamunanya.
"Iya." Neil membuka paper bag berisikan makanan dan ternyata isinya adalah burger dan pasta dari restoran cepat saji. Mereka tidak masalah karena jam 4 dini hari mana ada restoran yang buka selain ini.
Richela makan dengan lahap, apalagi dia sudah lama tidak makan makanan seperti ini.
"Wah, ini enak sekali El.. kalau menagerku tau dia akan marah, berapa kalorinya ini?" Tanya Richela tapi mulutnya tetap mengunyah dengan baik. Neil tersenyum melihat gadis cantik itu yang sudah dia ambil kegadisannya menjadikan gadis itu seorang wanita sekarang.
"Pelan-pelan Richi sayang..." Kata Neil lalu mengusab ujung bibir Richela yang belepotan saus.
"Aku makan burger ini dan kau habiskan pasta ini." Richela lalu mengambil burger kedua hingga 2 burger telah masuk ke perutnya dan Neil menghabiskan pasta itu.
"Aku ingin berendam tapi sebentar lagi, masih kekenyangan." Richela mengusap perutnya yang sedikit begah, Neil yang mengerti pun langsung ke kamar mandi dan mengisip bathtub.
Setelah 20 menit, Richela berjalan perlahan menuju kamar mandi dan melihat bathtub yang sudah penuh dengan busa.
"Ah calon suamiku yang terbaik." Gumamnya lalu masuk ke dalam bermain busa sabun dan menyamankan tubuhnya dengan air hangat itu.
Sementara di luar, Neil sedang mengirimkan pesan untuk Elios karena Elios berhak tau keadaan Richela saat ini. Neil menghargai Elios sebagai kakak Richela juga menyayangi calon kakak iparnya itu sebagai sahabat.
[Elios] Aku percaya padamu Neil, jaga Richela dengan baik, adik iparku.
Neil tersenyum membaca balasan pesan dari Elios dan dia bingung kenapa Elios masih bagun atau belum tidur di jam segini?
'Sepertinya baby El akan punya akan punya adik' Batin Neil sambil tersenyum.
.
.
.