My Venus

My Venus
BAB 34



Sekarang, disinilah Avia kembali duduk di meja lonjong yang besar bisa diisi oleh sekitar 20 orang. Dia duduk di tengah sendirian tanpa anggota VENUS lainnya.


"Maaf, sepertinya kami harus mengambil keputusan ini. Avia, kamu akan vakum sementara sampai waktu yang belum ditentukan." Ucap Susan, dia begitu kecewa pada Avia saat ini.


"Ini tidak adil, bagaimana bukti yang aku berikan bahwa bukan aku yang upload video itu. Sudah aku berikan dan Bianca juga sudah cek ke tim IT sewaan kalian, dan terbukti bukan dari ponselku. Bagaimana kalian melindungi artis kalian?" tanya Avia tidak terima.


"Maaf Avia, setelah ini kami akan memberikan pernyataan resmi tapi kamu tidak bisa kembali untuk sementara sampai waktu yang belum ditentukan. Terlalu banyak masalah yang berbuntut panjang terkait dengan dirimu." Jelas Susan lagi. Nada bicaranya biasa saja, tapi wajah dan tatapannya tidak ada rasa iba sama sekali.


"Sudah cukup! Aku akan berhenti." Kata Avia dengan tegas.


"Tapi kontrakmu masih 2 tahun lagi dan Avia jika kontrak dibatalkan sepihak kau kira berapa yang harus kau bayar? belum lagi semua iklan yang juga membatalkan semua kontrakmu. Perusahaan sudah rugi jutaan dollar." Cerca Bianca sambil melempar sebuah map di hadapan Avia.


Avia yang juga emosi segera membuka laporan itu dan melihat angka yang luar biasa banyaknya dan yang pasti tabungannya belum cukup untuk membayar semua itu.


Tapi Avia tetap tenang, dia memfoto halaman depan itu yang tertera nominal yang kira-kira harus dia bayar untuk kerugian untuk pembatalan iklan.


"Lalu kalau aku membatalkan kontrak sepihak dengan Monato, harus bayar berapa?" Tanya Avia nada enteng dengan wajah angkuh.


"Avia!!" Teriak Bianca, dia tau uang Avia tidak akan cukup untuk membayar semuanya.


"Sudah.. hentikan." Hardik Susan yang mulai gerah melihat betapa angkuhnya Avia.


Susan menghubungi seseorang, tak lama ternyata pengacara Monato yang masuk kedalam membawa perhitungan total semua kerugian dan pembayaran pembatalan kontrak dan memberikan ke Susan.


"Ini, lihat sendiri jika kau mampu bayarlah." Sekali lagi sebuah map terlempar di hadapan Avia. Dengan tenang dia membukanya dan memfoto data itu lagi dan mengirimnya melalui pesan.


"Kak, tolong kirim uang itu sekarang juga ke Monato." Ucapnya melalui ponsel dan langsung mematikan panggilannya tanpa sempat dijawab oleh orang diseberang sana.


"Baiklah, tunggu beberapa menit dan kalian akan menerima uang itu. Permisi!" Avia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu masih dengan angkuh dan tetap cantik dan anggun.


Susan dan Bianca hanya bisa ternganga tak percaya, dan benar saja hanya 15 menit staff keuangan menghampirinya dan melaporkan bahwa ada uang dalam jumlah yang sangat besar masuk ke rekening perusahaan atas nama Avia.


Avia kembali ke apartemen miliknya, dia tidak mengambil apapun dari apartemen asramanya, karena dia sudah tidak membutuhkannya lagi.


Di kamarnya, Avia masih bersedih dan dia menangis namun bukan menangis sedih. Dia kecewa, dia merasa dunia sungguh tidak adil padanya. Dia tidak pernah melakukan kesalahan tapi semua orang menyalahkannya, bahkan bukti ketidak bersalahannya tidak mampu membuat orang percaya.


"Sayang.. kau menangis lagi?"


"Maaf, aku hanya bingung. Sekotor itukah aku sampai tidak ada yang membelaku bahkan sudah memberikan bukti kalau hal itu terekam tidak sengaja dan bukan aku yang upload."


"Sudah jangan menangis, orang-orangku sudah mencari pelakunya jadi aku mohon jangan menangis.


"Aku tidak ingin menangis tapi air mata ini terus mengalir, bagaimana caraku menghentikannya?"


\= = = = = = = = =


"Neil.. sudah temukan orangnya?" Tanya Elios pada Neil yang sedang mengecek laporan dari pengawalnya.


"Sebentar lagi pasti akan ketemu." Jawab Neil yang masih mengotak atik laptop di depannya, laporan dari pengawalnya sungguh banyak dan dia harus fokus mencari celah untuk mencari pelaku utamanya.


"KETEMU!" Teriak Neil lalu mengetikkan beberapa kata sandi untuk menemukan ip address yang meng-upload video Via.


"Di mana?" Tanya Elios yang menghampirinya.


"Sudah aku kirimkan ke orang kita di kepolisian, biar mereka saja yang urus!" Kata Neil sembari mengecek lagi akun yang dia temukan.


"Sial!! Ternyata dia.." Neil menghembuskan nafasnya kasar, melihat siapa dalangnya.


"Jannet, dia sendiri yang upload, mulai dari kasus pembulian dan video terakhir. Berterimakasih lah pada Bell sudah memberikan link itu." Jelas Neil lagi.


"Tentu saja, gadis kecilku itu memang luar biasa, aku akan berterima kasih nanti. Untuk Nicole, biarkan saja dulu seperti yang Avia inginkan, sebenarnya aku kesal."  Jawab Elios santai dan dia lega karena Neil sudah menemukan pelakunya. Bell juga berjasa karena dia telah memberikan hasil screenshot yang dia temukan di komentar website resmi VENUS beberapa waktu lalu yang berisikan videonya Avia sebelum video itu menyebar dengan liar.


.


.


.


Seminggu berlalu, pihak kepolisian cyber sudah mendapatkan bukti, nama, alamat ip dan juga lokasi pelaku. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Jannet dengan surat penggeledahan dan penangkapan.


"Permisi, apakah Jannet Roland tinggal disini?" Tanya seorang pemuda yang tampak rapi.


"Iya, kenapa dan anda siapa?" Tanya seorang wanita paruh baya yang membuka pintu.


"Apa Jannet ada?" Tanyanya lagi dan wanita itu mengangguk, lalu berteriak memanggil Jannet yang tampak baru selesai bersiap untuk pergi kerja siang itu. Jannet memang bekerja menurut sift dan gilirannya masuk siang.


"Siapa ya?" Tanya Jannet begitu sampai di pintu depan unit apartemennya. Dia melihat seorang pemuda cukup tampan dan gagah dengan kemeja biru seperti pegawai kantoran biasa.


"Kami dari pihak kepolisian cyber, ini surat penggeledahan dan penangkapan anda Jannet Roland, atas pencemaran nama baik dan penyebaran pornografi atas nama Nona Richela Avia." Jawab pemuda itu dan Jannet seketika tampak pucat.


"Geledah." Polisi muda itu memberi perintah. Tiba-tiba masuklah 2 orang polisi lainnya dan satu wanita, wanita itu menggeledah tubuh Jannet yang masih mematung tak bisa bergerak karena Syok, sedangkan wanita paruh baya tadi yang adalah ibunya sudah berteriak histeris.


"Apa yang putriku lakukan? Kalian jangan sembarangan!! Dia anak baik tak pernah membuat masalah." Teriak Nyonya Roland begitu frustasi. Tapi surat penangkapan itu tidak dapat dibantah.


Dari kamarnya, petugas mengambil sebuah laptop dan 2 buah ponsel, lalu di tas ransel Jannet juga ditemukan sebuah laptop dan satu ponsel lagi, lalu Jannet di tarik paksa untuk mengikuti mereka ke kantor polisi.