My Venus

My Venus
BAB 94



"Jadi istriku sedang cemburu?" Tanya Neil lalu dia menarik Richela untuk duduk di pangkuannya. Tangannya membelit erat ke pinggang Richela dan dia juga mengendus leher Richela yang harum.


"Tentu saja, kau terlihat intim dengannya, dia diatasmu dan kalian terlihat berciuman di dalam mobil itu." Ujar Richela dengan kesal.


"Kami tidak melakukan apapun sayang.. aku yang menyuruhnya naik di atasku karena anak buah Rey memantau kami sampai ke hotel." Ujar Neil yang mampu membuat hati Richela kembali panas.


"Eits.. jangan pikir macam-macam dulu, aku tidur di kamarku dan dia di kamar bawah seperti tamu lain." Lanjut Neil sebelum Richela kembali berucap.


"Bernarkah?" Tanya Richela tidak takin tapi Neil mengangguk.


"Lalu waktu di club itu kau pernah bersama para wanita dan tidur dengan mereka?" Tanya Richela yang sontak membuat Neil menggeleng kuat.


"Tidak pernah, jangan berpikir seperti itu sayang.. aku tidak sembarangan dan kali pertamaku juga denganmu, jika aku menginginkannya juga kau yang membantuku kan.. dengan tangan lentikmu dan bibir manismu ini." Jawab Neil lalu menggenggam tangan Richela lalu mengecup bibir indah istrinya itu.


"Ehm.. iya ya.. aku hanya berpikir kenapa kau seperti tidak ada puasnya dan jika aku tidak sanggup apa kau akan mencari kepuasan lain?"


Neil yang gemas pun mencium bibir Richela, ********** dalam-dalam untuk menghentikan ocehan istrinya itu.


"Aku puas, hanya saja kau terlalu cantik dan seksi untuk diabaikan. Jadi aku ingin dan ingin lagi, kalau bisa aku hanya ingin memelukmu setiap saat seperti in." Jawab Neil lalu mengeratkan pelukannya.


"Dan kau sangat memuaskan." Bisik Neil dengan sedikit *******, membuat Richela memanas seketika.


"Kau mau melakukannya disini?" Tanya Richela dan Neil mengangguk. Richela mengambil ancang-ancang untuk kabur dari dekapan Neil tapi pria itu tidak membiarkan Richela untuk beranjak sedikitpun dari pangkuan dan dekapannya.


"Jangan El.. aku tidak mau, kantormu tidak seperti kantor kakak yang aman dari gangguan." Tolak Richela.


"Memangnya kau tau apa tentang ruangan Elios?" Tanya Neil bingung karena setaunya yang mengerti tentang seluk beluk kantor Elios hanya mereka berdua dan James, Morris juga.


"Bell yang cerita tentang siang panasnya mereka di kantor itu." Jawab Richela dengan jujur.


"Dan kau membayangkan kita melakukannya juga kan?" Tanya Neil sambil terus mengendus rambut dan mengecup ceruk leher Richela untuk membangkitkan gairahnya.


"Eh tidak.. aku tidak mau El.. kalau mau pulang saja, ayo..." Tolak Richela sampai akhirnya Neil menyerah dan mengajak Richela untuk pulang.


"Lena, segera renovasi ruanganku berikan laporannya besok." Perintah Neil pada Lena sekretaris baru Elios.


"Ah dan carikan juga sekretaris untukku." Lanjutnya lagi sebelum benar-benar pergi dari sana. Ruangan Elios dan Neil memang hanya bersebelahan karena Neil adalah asistennya Elios. Tapi dia tidak mau pindah dan malah tetap akan menggunakan ruangan kecil itu yang sebenarnya tidak kecil, hanya saja ruang rahasia di belakang tempat duduk akhirnya akan di bongkar.


"Kita ke ruangan Elios dulu ada sesuatu yang mau dibahas, jadi kau tunggu saja di kamar, ok?" Tanya Neil dan Richela mengangguk karena dia cukup lelah dan ingin tidur sebentar.


.


.


.


Berbeda dengan keadaan Nicole yang sudah beberapa hari berada di penjara salah satu kantor polisi.


"Tenang Nicole, ini hanya sementara." Gumam Nicole dalam sel kecil sorang diri. Nicole memang masih di tempatkan pada sel di kantor polisi karena masih dalam penyelidikan lebih lanjut.


Karena ada 3 orang yang menuntutnya, kesempatan Nicole untuk bebas dengan jaminan memang sedikit sulit apalagi orang yang dia jebak merupakan sesama public figure dan menjadi sorotan public.


"Nicole, ada tamu." Panggil seorang petugas dan Nicole tampak senang karena akhirnya ada juga seseorang yang menemuinya sejak dia ditangkap.


Nicole keluar dan dibawa ke ruang khusus kecil yang tertutup, disana sudah ada orang tua Nicole yang baru saja kembali dari luar negri untuk mengantar adiknya kuliah.


"Dad, mom." Panggil Nicole lalu dia mendekat dengan takut.


"Kenapa kau lakukan ini Nicole?" Tanya ayahnya yang terlihat sangat kecewa sedangkan ibunya terus menangis. Anak kebanggaan mereka terjerumus dan sulit untuk di tolong lagi.


"Maaf.." Ucap Nicole pelan, mereka akhirnya duduk berhadapan dan Nicole terus menunduk karena tidak sanggup untuk melihat wajah kedua orang tuanya.


"Tidak bisa dad, ini impianku." Ucapnya dengan air mata yang sudah meleleh.


"Impianmu sudah kau hancurkan dengan tanganmu sendiri, sudahi dan kita pindah. Dad akan berusaha semampu dad untuk mengeluarkanmu dari sini." Ucap Ayahnya yang sudah sedikit tegas. Nicole tak mampu untuk menjawab dan masih menunduk.


"Dad.. ada uang dari mana? Lagi pula Richela pasti tidak akan memaafkanku begitu saja dan mencabut tuntutannya."


"Dad akan berusaha dan berjanjilah kau akan minta maaf pada mereka dengan tulus dan ubah hidupmu."


Nicole mengangguk pasrah, dia sebenarnya sangat menyayangi keluarganya. Nicole selalu mengirimkan uang dalam jumlah banyak hasil dari pekerjaannya selama ini dan juga menyuruh adiknya kuliah di luar negri dan menjadi anak yang membanggakan. Adiknya yang memang pintar tidak susah untuk mendapat beasiswa jadi Nicole hanya membeli apartemen yang cukup luas untuk adiknya tinggal beserta orang tuanya jika berkundung dan uang saku tentunya.


.


.


Ayah Nicole, Ricardo Vernanda sedang menatap gedung Tierney Group sore itu. Dia langsung mendatangi tempat itu setelah mencari tau tentang kasus Nicole dan jika dia ingin Nicole bebas maka korban harus mencabut tuntutannya dan membayar uang ganti rugi atas kesalahannya. Untuk kasus portitusi Nicole tidak akan di tuntut apapun karena dia tidak menyebarkan video dirinya sendiri dan portitusi tidak ada undang-undangnya di negara ini.


"Permisi, apakah bisa bertemu dengan Tuan Elios?" Tanya Ricardo pada seorang wanita yang bertugas di meja informasi.


"Apa sudah ada janji sebelumnya?" Tanya wanita itu.


"Belum ada." Jawab Ricardo yang sebenarnya sudah tau kalau tidak akan mudah menemui seorang Elios.


"Kalau belum ada tidak bisa Tuan." Kata petugas informasi tersebut.


"Jika ingin buat janji harus bertemu siapa?" Tanya Ricardo lagi.


"Ehm... siapa nama Tuan dan dari perusahaan apa?" Tanya petugas itu.


"Sayaaa...  Ricardo Vernanda, orang tua dari Nicole." Jawab Ricardo. Dia tidak malu menyebutkan siapa dirinya karena memang benar itulah adanya, apapun yang terjadi Nicole adalah anaknya dan dia bertanggung jawab atas kesalahan anaknya.


Petugas itu sedikit terkejut dan mengerti apa yang diinginkan Ricardo. Petugas itu memandangi raut wajah Ricardo yang terihat sedih dan stress.


"Akan saya tanyakan, sebentar." Ujar petugas itu lalu duduk kembali dan menelepon seseorang.


"Tuan, bisa minta tanda pengenal anda?" Tanya Petugas itu setelah selesai menelepon.


"Ini nona.." Ricardo memberikan ID Card nya lalu di tukar dengan sebuah kartu bertanda Visitor.


"Anda bisa ke lantai 15 dulu dan bertemu dengan Tuan James." Ucap petugas itu dan Ricardo mengerti.


"Terima kasih atas bantuanmu nona." Ucap Ricardo sedikit tersenyum. Petugas itu hanya melihatnya dan merasa kasihan sebab terlihat dari mata Ricardo kalau dia tidak baik-baik saja.


Ricardo naik sesuai arahan petugas tadi dan sampailah dia di lantai 15 yang merupakan tempat dimana James bekerja.


"Tuan Ricardo?" Tanya James begitu melihat Ricardo keluar dari lift.


"Iya saya Ricardo, anda Tuan James?" Jawab Ricardo.


"James saja Tuan. Mari saya antar ke tempat Tuan Elios." Kata James lalu Ricardo mengikutinya lagi masuk ke lift menuju lantai 23.


"Anda bisa masuk, Tuan Elios dan Tuan Neil sudah menunggu." Kata James dan Ricardo mengangguk dan berterima kasih.


.


.


.