My Venus

My Venus
BAB 32



-Flashback-


"Via, kau sedang apa?" Tanya Nicole yang baru keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Bingung, bagaimana akting menjadi wanita penggoda tapi terllihat elegant?" Tanya Avia yang sedang membaca naskah.


"Ohh sedang belajar ya, coba lakukan di depan cermin atau lihat video dulu." Saran Nicole lalu mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.


"Akan kucoba." Avia turun dari tempat tidurnya padahal dia sudah bersiap untuk tidur tadinya. Dia sudah memakai baju tidur miliknya yang terlihat seksi.


Setelah mencoba didepan cermin wastafel, dia keluar lagi. "Tidak bisa lihat hasilnya ih.. ck, ya sudahlah." Gumamnya lalu naik lagi ke tempat tidurnya dan mengambil tumpukan naskah yang harus dia pelajari.


"Beri aku ponselmu dan berakting lah." Tukas Nicole lalu mengambil sendiri ponsel Avia dan mengarahkan video kamera padanya.


Avia mulai akting, tapi disela dengan canda tawa karena mereka geli sendiri melihat bagaimana hasilnya latihan Avia yang sangat menggoda yang mereka dapatkan.


"Jelek sekali, aku seperti wanita murahan." Ujar Avia lalu menghapus lagi video itu entah sudah yang keberapa kali.


"Baiklah, coba lagi ini yang terakhir." Kata Nicole lalu menghidupkan kamera video itu lagi.


Saat Avia berpose dengan wajah sensual dan sedikit menggigit bibir bawahnya, tangan usil Nicole dengan gemas menarik turun baju Avia hingga menyembul keluarlah dadanya yang polos tanpa tertutupi apapun. Karena memang Avia tidak pernah memakai dalaman jika tidur ataupun di rumah.


"Akkkhh..." Teriaknya dan langsung menutupi dadanya dengan buku naskah yang dia pegang.


Tanpa Avia tau, video itu sudah terkirim juga ke ponsel Nicole sebelum dia sempat menghapusnya.


-Flasback end-


"Begitu ceritanya. Aku sudah hapus semua video itu Bi, setelah 1 video selesai dan melihatnya aku langsung hapus. Coba saja periksa dan akun media sosial itu juga sama sekali tidak ada, aplikasinya sudah aku hapus sejak lama sesuai arahan perusahaan sebelum kami debut." Jelas Avia sambil menangis sesegukan.


Bianca yang pusing tidak bisa berbuat apa-apa, nasi sudah menjadi bubur tak akan bisa kembali lagi. Video itu sudah diunggah dan di sebar secara brutal. Bahkan wartawan sudah mengerumuni lobi tempat dimana mereka berada. Komentar public sudah menyerangnya habis-habisan.


Meskipun seseorang dibalik Avia membantu menghapus video itu tapi dia tidak berhasil, 10 akun di blokir muncul 20 dan begitu seterusnya.


"Bangsat!! Siapa yang berani melakukan ini?" Teriak seorang pria dengan frustasi. Begitu banyak anggotanya dan hacker yang dia sewa untuk menghapus video itu tapi hasilnya tetap saja penyebarannya sangat cepat.


"Aku akan membunuh orang itu, cari sampai dapat!" Bentaknya lagi dan dia terus-terusan menghubungi Avia tapi gadis itu tidak menjawabnya sama sekali.


"Aku akan menyusulnya." Katanya.


"Jangan, ini beresiko aku tidak mau dia kenapa-kenapa." Larang pria yang satunya lagi.


"Benar Tuan, mohon bersabar, nanti nona akan menghubungi anda." Salah satu pengawal juga berpikiran sama.


"Tapi ini sudah keterlaluan, aku tau dia tidak akan seperti itu."


"Aku tau, aku percaya padanya. Dia pasti dijebak lagi dan aku rasa ini akhirnya."


"Aku berharap ini juga akhirnya."


```````````


```````````


Avia akhirnya bisa kembali ke apartemen, dia terus menangis dan matanya kini sudah merah dan membengkak. VENUS di minta untuk berada di apartemen saja sampai semua mereda tapi sampai kapan?


"Aku tak menyangka Nicole bisa seperti itu." Gumam Bell yang ada di kamarnya bersama Marcy.


"Kau percaya pada Via?" Tanya Marcy.


"Kalau benar ini ulah Nicole, dia sudah sangat keterlaluan." Sahut Marcy yang masih tak begitu percaya pada semua yang terjadi.


"Kalau terbukti memang dia pelakunya, aku bersumpah akan memukulnya." Ujar Bell yang masih meninju bantalnya.


"Eh apa itu?" Tanya Marcy yang mendengar suara teriakan dan dentuman keras. Mereka berlari keluar dan terlihat pintu kamar Avia dan Nicole sudah terbuka dan ada Fei dan Cleo yang sedang melerai Avia dan Nicole yang tampak sedang berkelahi.


"Kau pecundang Nicole! Kau pengkhianat!" Teriak Avia yang masih menendang kakinya di udara karena Fei menangkapnya.


Sedangkan Nicole menatap nyalang pada Avia, "Cih kau saja yang murahan malah menuduhku. Kau ingin fans mu kembali dengan cara kotor, menjijikkan." Cibir Nicole tak mau kalah tapi dia juga sedang ditahan Cleo.


"Sudah kalian jangan ribut!" Teriak Marcy yang menghampiri.


"Kalian berdua tidak boleh sekamar lagi, Avia pindah tidur dengan Bell dan Marcy pindah kesini." Perintah Cleo dengan galaknya.


Rambut Avia dan Nicole terlihat acak-acakan, pipi Nicole juga memerah akibat tamparan dari Avia.


Avia berdecih lalu mengambil ponselnya dan tas kecil yang ada di dalam lemari lalu keluar dari apartemen itu.


"Kau mau kemana Via?" Teriak Cleo yang menyusul Avia sampai ke koridor.


"Pulang!" Jawabnya singkat.


Avia menaiki lift menuju gedung parkir lantai paling atas gedung ini, dia mengeluarkan kunci mobil karena mobil pribadinya dia sembunyikan disini tanpa ada yang tau.


Avia mengendarai mobil mewahnya menuju sebuah apartemen super mewah yang berada di pusat kota, dia masuk melalui jalur khusus yang terdapat lift yang terhubung langsung ke unit apartemen itu.


Dengan langkah gontai dia masuk dan melempar kunci tas dan ponselnya ke arah sofa, dia berjalan lagi menuju lemari pendingin dan mengambil air mineral dan meneguknya dengan cepat.


"Aku lelah.. sangat lelah. Lirihnya lalu masuk ke kamar dan naik ke kasur empuk ukuran kingsize yang mewah. Avia menarik nafasnya lalu turun lagi. Membuka seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan mandi di bawah shower dan menangis lama disana.


.


.


.


"Tuan, Nona ada di apartemen." Lapor pengawal berjas hitam setelah mendapat laporan dari anak buahnya.


"Ya memang harus dimana lagi?"


"Maksudnya Nona ada di apartemen Tuan."


"Ha? Baiklah aku pulang."


Pria itu langsung berlari menuju lobi gedung, meskipun hari sudah sangat larut tapi selalu ada pekerja yang standby untuk melayani tuan mereka di gedung ini.


Berkendara hanya 10 menit dia sudah ada di gedung apartemen mewah itu dan berlari masuk untuk menemui pujaan hatinya.


Pria itu melihat Avia yang tidur meringkuk dengan wajah sembab dan matanya membengkak.


"Kau pasti menagis terus." Ucapnya lalu dia melepaskan dasinya membuka kemejanya kemudian membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum memeluk kekasih tercinta.


"Aku sangat merindukanmu My Venus." Ucapnya lalu perlahan merengkuh tubuh gadis cantik itu dan memeluknya erat menemaninya tidur.


"Gadis nakal, kenapa kau keras kepala sekali. Impianmu itu akan aku wujudkan tanpa kau bersusah payah." Bisiknya lalu mengecup puncak kepala Avia berkali-kali.