My Venus

My Venus
BAB 64



Sampai tengah malam, Xena masih mengajari kelompok B dengan gerakan mudah karena dia sejak 2 tahun lalu juga sering mengajari Richela di mansion Morris sambil menghabisakan waktu. Mereka tak menyangka akan terpakai juga keisengan mereka dulu.


"Nah.. sudah bagus, kalian bisa lihat dari reverensi yang aku berikan tadi dan berlatihlah sendiri. Karena ini ballet modern jadi tidak terlalu sulit." ucap Xena pada kelompok B yang masih semangat belajar.


"Jadi ini fix kita serahkan 30 detik itu ke Richela, aku tidak mau mempermalukan diri sendiri hahahha.." Ucap Maisie dan semuanya setuju, Nicole hanya bisa diam karena dia juga tidak akan bisa secepat itu menguasai ballet.


"Masalahnya adalah, lagu klasik. Siapa yang pernah mencoba seriosa?" Tanya Richela dan ada 2 orang yang mengangkat tangan.


"Aku pernah tapi hanya mencobanya saja." Ucap Zola.


"Aku pernah tapi dulu waktu masih kecil mamaku pernah memaksaku masuk ke kelas vocal klasik tapi aku tidak suka dan hanya sebulan aku disana." Cerita Obelia.


"Tidak apa-apa hanya.. mungkin 3 sampai 4 baris saja dan kalian bisa bergantian." Jawab Richela lalu mencorat-coret catatannya. Dia telah mencatat dan menandai baris lagu untuk mereka nyanyikan nanti.


"Terima kasih Xena, aku berhutang padamu." Ucap Richela lalu memeluk Xena dan Xena tentu membalasnya.


"Iya, kami juga. Kapan-kapan aku akan mentraktirmu Xena." Ucap Obelia.


"Tidak apa, aku senang bisa membantu kalian. Sudah ya.. aku mau istirahat dan kalian juga cepat istirahat." ucap Xena berpamitan.


.


.


.


Hari jumat malam, seluruh peserta sangat tegang karena ini kali pertama mereka akan bernyanyi, menari bahkan akting dengan konsep yang mereka ciptakan sendiri. Memang para pelatih membantu, tapi mereka hanya memberi saran.


Seperti dugaan, Richela telah menyiapkan kostumnya yang akan menampilan solo selama 30 detik dan itu waktu yang cukup untuk memberi penilaian lebih untuk dirinya.


"Kostum ini cantik, kau sepeti ballerina asli." Puji Zola sambil menyentuh gaun hitam Richela yang telah dia siapkan.


"Wah ini sepatu ballet asli, gila.. aku tidak akan bisa memakainya." Komentar Obelia melihat sepatu hitam bertali itu.


"Ini juga mirip dengan kostum kalian. Hanya beda sedikit." Jawab Richela lalu dia kembali meletakkan sepatu dalam box untuk di serahkan ke panitia agar di bawa ke tempat acara.


"Ya sih tapi auranya beda." Kata Zola lagi. Nicole hanya diam, di kelompok ini dia tidak banyak bicara karena semua perhatian telah di ambil oleh Richela tanpa cela sedikitpun untuknya.


"Aku istirahat dulu ya, sudah ngantuk." Pamit Nicole dan mereka mengiyakan.


Nicole berjalan sendirian di koridor ruang latihan menuju lift untuk ke kamar. Di perjalanan dia melihat troli kostum ada di lorong samping lift itu, lalu menoleh lagi ke arah kerumunan di ujung koridor dekat pantry.


"Nicole jangan mendekat, banyak serpihan kaca disini." Valeria mendorong Nicole keluar. Disana ada banyak kaca yang pecah, Nicole melihatnya sekilas dan ternyata vas bunga kaca yang besar di sudut ruangan yang pecah.


'Ah.. ternyata keberuntungan berpihak padaku.' Batin Nicole lalu mengambil sebuah potongan kaca kecil dan tipis diam-diam. Dia memasukkan kaca tipis itu kedalam sepatu Richela. Sebelumnya dia melihat sekeliling dan tidak ada cctv yang menyorot area itu dan juga area troli di samping lift menjadi titik buta.


'Ini akan membuatnya kesakitan dan jatuh.' Pikir Nicole lalu dia kembali ke kamarnya.


.


.


.


'Tidak, jika dia langsung memakainya sekarang pasti akan ketahuan karena tidak nyaman. Aku harus sembunyikan sepatunya.' Ucap Nicole dalam hati.


Richela sudah sejak tadi berkeliling ruangan mencari sepatunya, dia mulai panik dan panitia yang bertugas juga membantunya.


"Aku yakin sudah membawanya kemari dan meletakkan disini." Ujar panitia pria itu yang akhirnya diizinkan masuk ke ruang ganti para gadis itu.


"Kelompok B dua menit lagi." Teriak kru di depan dan mereka semua panik ikut mencarinya.


"Kelompok B satu menit lagi."


"Apa tidak ada sepatu pengganti?" Tanya Zola dan mereka menggeleng.


"Kelompok B Bersiap, 30 detik."


"Ah ini dia!" Teriak Maisie dan Richela tampak lega melihat Maisie menarik kotak sepatu di dalam tumpukan pakaian ganti. Mereka bergegas dan tidak sempat memikirkan bagaimana caraya kotak sepatu itu ada disana.


"Kelompok B, naik!"


Kelompok B naik dan bersiap di panggung, Richela tersenyum melihat siapa yang ada di bagian depan kursi penonton. Elios dan Neil duduk bersama lalu selang beberapa kursi di belakang ada Bell bersama Cleo. Perut Bell tampak lebih besar lagi karena akan segera melahirkan dalam bulan ini.


"RICHELA RICHELA RICHELA."


Suara bell terdengar nyaring, penonton yang tau itu adalah Bell langsung ikut berteriak menyerukan nama Richela.


Musik di mulai, mereka menyanyi dengan menarikan tarian tempo lambat dengan sedikit nuansa ballet. Kostum hitam tetapi hanya Richela yang menggunakan sepatu ballet asli berwarna hitam juga.


Menit ke 2, Richela mulai merasakan tidak nyaman pada sepatunya dan sedikit sakit tapi dia mengabaikan dan terus menari hingga dimana dia menari ballet sendirian, sakit makin terasa. Keringatnya mengucur deras karena menahan sakit. Tiga puluh detik itu terasa sangat lama baginya.


Tidak ada yang tau bagaimana dia menahan rasa sakit di kakinya, hingga Richela jatuh di detik terakhir langkahnya setelah dia melompat tinggi. Dia tidak bisa menahan berat tubuhnya saat mendarat karena rasa sakit yang luar biasa. Namun dia bangkit kembali dan menyelesaikan tariannya.


"Ada apa dengannya? Seperti terlihat menahan sakit." Gumam Bell dan Cleo juga melihat ada kejanggalan. Video latihan mereka sangat bagus dan Richela sudah menguasai semuanya.


"Pasti ada masalah." Balas Cleo.


Begitu juga dengan Elios dan Neil yang melihat tampilan Richela, dia masih tersenyum tapi mereka tau ada yang tidak beres.


"Kamu kenapa Richela?" Tanya Zola yang membopong Richela sebab dia sudah tidak sanggup berjalan. Mereka membawanya ke ruang ganti.


Richela segera membuka sepatunya. "Aahh.. ini sakit sekali." Rintihnya pelan menahan sakit sambil menangis.


"Astaga! Darahnya sangat banyak Richela!" Teriak Meisie lalu dia berlari keluar memanggil panitia untuk segera memanggil ambulance.


"Kenapa bisa begini?" Tanya Xena yang juga menghampiri karena dia juga khawatir melihat Richela yang jatuh dan tidak bisa mendarat dengan baik padahal selama latihan Richela sangat sempurna.


Begitu juga penonton, mereka kecewa karena Richela tidak bisa tampil sempurna sampai akhir bahkan ada yang mengatakan kalau Richela menganggap remeh penampilannya karena selama ini dia terlihat sempurna dan selalu di puji.


"Aku tidak tau,.." Jawab Richela lalu dia mengangkat sepatunya dan menggoyangkannya.


"itu.. kaca." Kata Zola dan mengambilnya tapi...


"Stop.. jangan sentuh itu." Xena melarangnya.


"Ini akan jadi bukti kalau ada yang sengaja mau mencelakai Richela." Lanjut Xena lagi dan Zola langsung menarik tangannya lagi karena takut.


"Dokter datang, ayo bawa Richela." Ucap panitia lalu Richela dibawa dengan ambulance, mereka yang melihat Richela menjadi panik dan mulai berspekulasi.