
"Cleo, ada kabar kalau Avia terlihat di bandara Belanda tadi malam." Ucap Marcy yang baru selesai membaca artikel dari sebuah majalah online.
"Benarkah? Gadis tengik itu benar-benar meninggalkan kita." Tukas Cleo tak percaya.
"Sudah lah.. aku harap dia bisa menjalani hidupnya dengan bahagia kali ini. Dia cukup menderita disini dan sekarang dia harus menjadi dirinya sendiri." Ucap Marcy menenangkan Cleo.
"Kau sudah siap pergi Cleo?" Tanya Fei begitu dia keluar kamar dengan kopernya.
"Belum, aku menunggu Bell, dia masih mengambil barangnya Via." Jawab Cleo sambil melihat ke dalam kamar Avia dan Nicole.
"Sudah selesai?" Tanya Cleo, Bell mengangguk dan mendorong koper besar miliknya dari dalam.
"Kalau begitu kita pergi." Ucap Cleo. Mereka menoleh dan melihat sekeliling apartemen yang menjadi saksi bisu perjalanan karir mereka selama 2 tahun ini.
.
.
.
Nicole telah bangun dari tidur nyenyaknya pagi ini. Kamar mewahnya sungguh membuatnya tidur pulas dan tenang. Apalagi yang dia butuhkan? Semuanya ada.
Pertanyaannya, bagaimana dia bisa memiliki uang sebanyak itu untuk membeli apartemen mewah ini?
Cerita bermula dari 5 tahun yang lalu.
Nicole Vernanda, 16 tahun.
Ayah : Ricardo Vernanda
Ibu : Brianna Sebastian
Adik : Cristy Vernanda
Nicole remaja sedang mendaftar untuk menjadi murid pelatihan di salah satu perusahaan entertainment yang tidak terlalu terkenal. Dia berharap skill nya yang tidak seberapa akan diterima oleh perusahaan yang kurang dikenal, tapi nyatanya dia terus ditolak.
Sampai suatu saat dia bertemu seorang pencari bakat yang memilih secara random melalui fisik saja di salah satu pusat perbelanjaan.
Saat itu Nicole dengan ibunya sedang berbelanja.
"Permisi, maaf nyonya apakah dia putri anda?" Tanya pria berjas navy itu.
"Iya benar, ada apa?" Tanya Brianna yang sering disapa Anna.
"Saya Jose, dari Monato Entertainment." Jawab Jose sambil memberikan kartu namanya.
"Putri anda sangat cantik, apakah berminat menjadi model atau artis?" Tanya Jose sambil merilik Nicole yang menurutnya sangat mempesona.
"Tapi..." Anna tampak berpikir sambil melirik ke Nicole, dia tau impian Nicole adalah menjadi seorang artis, apapun itu. Nicole mengangguk tanda dia mau.
"Baiklah, tapi aku akan bicarakan dengan suamiku dulu, jika dia setuju kami akan hubungi anda lagi." Jawab Anna dan Jose tersenyum senang.
"Baiklah, saya tunggu kabar baiknya." Ucap Jose ramah.
Selang beberapa hari, Nicole sendiri yang menghubungi Jose tentu dengan izin orang tuanya. Ayahnya, Ricardo sudah mengecek sendiri apakah benar Jose adalah karyawan Monato dengan datang ke Monato. Lalu ia menyerahkan segala keputusan pada putrinya.
"Ini sudah ada surat izin dari ayahku, kemarin dia datang ke Monato untuk mengecek." Jawab Nicole lalu memberikan surat izin yang dia dapatkan dari Monato kemarin.
"Wah ayahmu sungguh hebat." Pujinya dan Nicole hanya tersenyum.
"Tapi ini hanya peluang untukmu agar bisa masuk casting terakhir. Selebihnya usahamu sendiri." Ucap Jose memberitahu.
"Itu sudah cukup, aku bahkan belum bisa masuk casting selama ini, hanya interview ke dua saja sudah gugur." Nicole menghela nafasnya lemah, dia berharap kali ini jalan untuknya akan terbuka.
"Masih ada seminggu lagi dan asah bakatmu apa saja, dari modeling, akting, menyanyi dan menari. Salah satu saja yang menonjol kau akan masuk karena sudah ada tanda prioritas dariku." Jelas Jose serius, Nicole mengangguk lagi.
"Kau cantik Nicole jadi jangan kecewakan aku." Ucap Jose sambil mengelus pipi cantik Nicole.
"Apakah jabatanmu tinggi disini uncle?" Tanya Nicole dengan polosnya.
"Ehm.. lumayan, tapi kontrak kerjaku akan berakhir jadi kau berusaha lah. Aku akan pindah 3 bulan lagi ke tempat lain. Dan kau adalah titipanku yang terakhir disini." Jawab Jose dan Nicole sedikit terkejut.
"Wah.. baiklah, aku akan berusaha." Ucap Nicole dengan semangat membaranya.
"Baiklah, kau isi ini lalu ke lantai 2 serahkan pada meja resepsionis disana. Aku akan pergi." Ucap Jose lalu meninggalkan Nicole disana.
.
.
"Hai cantik ada apa?" Tanya Jose sambil merangkul pinggang seorang gadis cantik di taman samping gedung Monato yang sangat sepi.
Nicole yang juga ada di sana terkejut melihatnya lalu mendekat untuk mencari tau apa yang dilakukan Jose dengan gadis itu.
Nicole mengendap pelan merayap disisi dinding yang tinggi, tidak terlalu dekat, hanya untuk melihat dan mendengar saja. Beruntung disana ada sebuah kotak listrik yang cukup besar untuk dirinya bersembunyi.
"Minggu depan sudah ada pemilihan debut girl group apakah aku akan masuk?" Tanya gadis itu dengan nada manja, tangannya bermain di daerah dada Jose yang kekar itu.
"Akan aku usahakan baby, kau itu cantik dan berbakat. Apalagi di ranjang." Jawab Jose lalu mengecup bibir gadis itu sekilas.
Nicole menutup mulutnya dengan 2 tangannya, dia tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar.
"Oh jangan menggodaku Selly.. atau aku akan melakukannya disini." Ucap Jose saat tangan Selly sudah nakal dan bermain dibawah sana, meremas lembut kadang kuat milik Jose yang perlahan menegang.
"Aku akan melayanimu jadi lakukan apa maumu." Bisik Selly dengan nada menggoda. Tak menunggu lama, Jose menaikkan 1 kaki Selly lalu jarinya menyentuh lembah yang ternyata tidak memakai pelindung apapun dibalik roknya dan sudah basah.
"Wah sudah basah, kau sangat nakal baby." Lirih Jose sambil menurunkan zipper celananya hingga sesuatu itu menyembul kokoh.
Dengan sekali hentakan, seluruhnya masuk dan menimbulkan pekikan kecil tertahan dari Selly, mereka bermain cepat disana hanya 15 menit, berakhir sudah dengan pelepasan yang begitu hebat. Semua masuk kedalam milik Selly, lalu Jose mengeluarkan miliknya yang sudah puas dan kembali mengecil.
"Bersihkan sebelum kau masuk kedalam." Ucap Jose memberikan sapu tangannya.
"Dan, bukan hanya aku. Kau harus berhasil menggoda Jordan juga agar nilaimu sempurna." Jawab Jose sembari membersihkan miliknya sendiri.
"Sudah.. aku baru dari kantornya tadi." Balas Selly terkekeh kecil.
"Kau benar-benar nakal, jadi aku dapat sisa?" Tanya Jose tapi Selly menggeleng pelan.
"Bukan, Jordan adalah pemasanan dan kau adalah inti kepuasanku." Balas Selly mengerlingkan matanya. Lalu meninggalkan Jose disana.