
"Neil, apakah kau akan fokus ke Maria dan Baron?" Tanya Elios yang melihat akhir-akhir ini Neil sibuk dengan Baron. Sedangkan Elios sendiri sibuk dengan urusan perusahaan dan proyek baru dari T's Ent.
"Ya, kita terlalu fokus pada Rey saat tau kalau Maria tidak terlalu memperdulikan perusahaan. Rey yang terobsesi dengan uang dan jabatan tapi ternyata dia sama sekali tidak terlibat. Sekarang waktunya Maria dan Baron." Jawab Neil masih sibuk melihat laporan terbaru yang dikirimkan oleh Kana.
3 Hari yang lalu,
Kana yang sedikit pusing akibat obat perangsang yang diberikan Baron pada winenya berusaha ke toilet dan disana sudah ada rekannya yang lain untuk memberikan 1 dosis lagi obat penawarnya. Setelah baikan Kana kembali bersama Shu, Baron dan satu temen Baron. Dengan pura-pura pusing dan mengantuk.
"Aku antar pulang ya.." Ujar Baron dan dibalas anggukan oleh Kana. Shu masih disana dan dengan cepat dia memasukkan kapsul pada minuman Baron dan sebelum memapah Kana pria itu meneguk habis minumannya. Shu telah tau kebiasaan Baron itu akan meneguk habis minuman sebelum dia pergi.
Setelah masuk kedalam mobil dengan cepat Baron membawa Kana ke sebuah rumah di daerah pinggiran kota yang terlihat kumuh tetapi dia mempunyai rumah yang lumayan bagus dengan halaman luas. Baron tidak akan ke hotel karena Maria pasti akan mengetahuinya dan berbuntut pertengkaran.
"Kita akan bersenang-senang Kana." Bisik Baron setelah membopong Kana masuk ke rumah rahasianya itu. Dia membaringkan Kana yang mulai tergolek lemas akibat obat yang dia berikan. Perlahan Baron juga pusing dan pandangannya mulai berkabut lalu dengan ganas dia merobek pakaian Kana dan menggempurnya habis-habisan dengan liar, Kana juga begitu liar menerima dan saling memberikan kepuasan. Tapi sayangnya itu hanya halusinasinya saja.
Kana segera bangun dan melihat Baron sedang terbaring dengan raut wajah terlihat menjijikkan, dia bahkan berkali-kali terlihat mengeluarkan lidahnya seperti sedang menjilat sesuatu.
Kana memilih menjauh karena perasaan mual karena jijik melihat Baron, lalu mengirimkan pesan 'sukses' pada James. Kana menunggu beberapa jam sampai Baron tertidur pulas seperti mati. Dia membuka seluruh pakaian Baron yang memang hanya tinggal celananya saja sampai polos. Dia juga melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri lalu berbaring di samping Baron.
Paginya, Baron bangun dengan perasaan puas namum kepalanya terasa berat, dia melihat Kana masih tidur lalu memeluk gadis itu.
"Baron.. apa yang kau lakukan?" Tanya Kana dengan raut wajah panik dan marah.
"Kita bersenang-senang sayang...kau sangat liar." Jawab Baron lalu mengecup pundak Kana dan gadis itu menolak. Setelah berbincang dan mengeluarkan isi hati masing-masing Kana bersedia menjadi kekasih Baron dengan syarat jangan menyentuhnya lagi sampai Kana mengizinkan, tentu Baron mengiyakan karena dia telah jatuh pada pesona Kana.
Dari sinilah Kana mulai aksinya menyelidiki baron, dimulai dari rumah ini.
.
.
"Jadi Kana berhasil menguak rahasia Baron dalam 3 hari saja?" Tanya Elios tak percaya.
"Ya, di rumah itu dipekerjakan pelayan yang tuli dan bisu. Mereka hanya bekerja tanpa bicara dan mendengar, semua melakukan tugasnya masing-masing. Ada 3 pelayan, 1 wanita 2 pria, masih pertengahan 30an, seorang remaja juga dipekerjakan sebagai penjaga gerbang, hanya bisu tapi tidak tuli." Jelas Neil setelah membaca laporan itu.
"Lalu, Kana melihat pelayan wanita sering masak dalam jumlah banyak padahal mereka hanya berempat disana, tapi dia masak dengan porsi bisa 10 orang. Jadi pasti ada orang lain karena 3 pelayan itu tidak pernah keluar rumah. Bahan makanan saja dikirimkan setiap hari dengan sebuah mobil." Sambung Neil lagi.
"Ya ini aneh, apa Kana belum tau kenapa itu?" Tanya Elios penasaran.
"Belum, ini sudah hari keempat semoga segera ada titik terangnya." Jawab Neil lalu menutup laptopnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Kana yang sudah diberikan izin tinggal di rumah Baron pun terus berkeliling dengan alasan bosan, Kana sudah cek di rumah ini hanya ada 1 cctv yaitu yang menghadap ke gerbang rumah. Tidak tau kenapa Baron hanya memasang cctv disana saja.
Dengan alasan Kana diusir oleh ayahnya yang memang terkenal galak karena tidak pulang semalaman dan air mata palsunya Kana dibiarkan tinggal di rumah ini, Baron sangat percaya pada akting Kana.
"Kana, masih joging?" Tanya baron dari lantai 2 balkon kecil di kamarnya.
"Ya, aku baru mulai jadi masih lama." Teriak Kana masih tetap berlari kecil. Dia melihat Baron yang terus memandangnya dan tersenyum.
Baron keluar dari rumah dan menghampiri Kana yang sudah duduk kelelahan di salah satu kursi kayu panjang yang ada di samping halaman itu.
"Sayang, aku akan pergi 2 hari dan kau jadilah anak baik disini ok?" Ujar Baron sambil mengelus pipi Kana.
"Kau mau kemana? Aku bosan disini." Tanya Kana sambil merengut.
"Ajak lah Shu jadi kau tidak perlu pergi keluar. Aku ada pekerjaan di luar kota." Jawab Baron dan mata Kana berbinar indah, Baron sangat suka melihat wajah polos dan lugu Kana.
"Aku pergi." Baron mengecup sekilas bibir Kana lalu pergi. Wajah dan mata polos Kana berubah marah dan sorot mata tajam seperti pembunuh menatap ke arah Baron, Kana menyeka bibirnya kasar dengan punggung tangannya.
"Menjijikkan." Ucapnya dengan nada menekan.
"Shu, datang ke alamat ini sekarang." Pesan terkirim ke Shu.
"James, Baron bilang akan ke luar kota 2 hari, ikuti dia." Pesan terkirim ke James.
Kana langsung membersihkan dirinya dan berganti dengan pakaian santai, celana panjang yang nyaman dan kaus rumahan, rambutnya kembali di cepol keatas. Dia turun menuju dapur dan disana sudah ada sarapan yang tersedia di meja makan.
Kana mengambil roti dan selai kacang lalu memakannya dan minum segelas susu dengan cepat, lalu menyusul pelayan wanita yang tidak diketahui namanya. Masih sama, pelayan itu memasak dalam jumlah banyak dan biasanya makanan yang berbeda dengan yang dia makan.
Kana terus memperhatikan, tapi dengan memperlihatkan wajah antusias seperti sedang ingin tau karena penasaran, pelayan wanita itu tersenyum melihat gelagat Kana yang menurutnya lucu. Karena Kana memang seperti gadis remaja.
Tiba-tiba pelayan itu menggerakkan tangannya seperti menggunakan bahasa isyarat, "Oh my... ah harusnya aku belajar bahasa isyarat saat James menyuruhku bukan malah bolos." Celetuknya dengan nada menyesal.
Beruntung Shu akhirnya datang, Kana langsung menyuruhnya masuk dengan melambaikan tangannya ke arah gerbang, tanda agar remaja penjaga gerbang membukanya agar Shu bisa masuk.
"Shu, kemari. Pakai bahasa isyarat dan ngobrol dengan pelayan wanita itu." Kana menarik lengan Shu menuju dapur.
Mulailah Shu bertanya banyak hal pada pelayan itu, dari nama, asal dan sudah berapa lama bekerja disini hingga memasak untuk siapa.
"Dia tidak ada nama, tapi sesama mereka memanggilnya Asha. Dia bekerja baru 2 tahun sejak rumah ini dibangun. Dia dari kota ini juga dan bekerja disini karena dia bisa memasak saja, tidak ada keahlian khusus. Semua yang bekerja memang tuli dan bisu. Dia tidak tau dan hanya di suruh memasak dan nanti Baba akan datang mengambilnya. Itu dia orangnya." Tunjuk Shu pada salah 1 pelayan pria yang bekerja disana.
"Berarti hanya Baba itu yang tau. Ayo kita ikuti." Diam-diam mereka melihat Baba membawa makanan yang banyak itu dibawa ke kamarnya.
"Loh itu kamar untuk pelayan. Disana Baba dan 1 lagi tidur." Ucap Kana.
"Berarti ada sesuatu disana, cari kesempatan untuk masuk." Balas Shu dan Kana mengangguk.
"Biasanya Asha akan tidur siang di jam 2, Baba akan pergi keluar sampai sore sekitar jam 5, yang 1 itu akan keluar dan membersihkan halaman." Kata Kana lagi dan mereka sepakat akan beraksi sekitar jam 2an.