My Venus

My Venus
BAB 79



-Flashback-


Mahesh berjalan malas mengikuti 3 orang temannya yang memaksanya untuk ikut makan siang di Sun & Moon Bar, karena masih siang berarti club belum dibuka.


"Baiklah hanya makan siang." Ucap Mahesh pasrah lalu mereka masuk di salah satu ruangan VIP karena ke 3 temannya itu juga pemimpin perusahaan mereka masing-masing dan tidak ingin di ganggu. Sewaktu masuk dari pintu depan, mata Mahesh sudah menangkap sosok yang dia tau, itu adalah Amber.


Amber yang sering mendapatkan peringkat 1 di ajang pencarian bakat Be A Star sudah pasti di kenal banyak orang salah satunya adalah Mahesh. Meskipun pria ini tidak selalu mengikuti acara itu tapi dia tau. Bahkan perusahaannya sudah membuat proposal untuk menggaet Amber dan Richela menjadi salah brand ambasador salah satu produk elektroniknya.


"Itu Amber? Apakah kalian melihatnya duduk di salah satu meja?" Tanya teman Mahesh yang paling lihai melihat wanita.


"Ya, itu dia. Mereka sedang libur 1 hari sebelum final." Jawab temannya yang lain. Mereka terus membicarakan Amber yang sangat cantik, imut dan lucu, lalu ke Richela yang mempunyai wajah cantik dan tubuh seksi idaman semua pria maupun wanita.


Selang setengah jam, Mahesh mulai bosan dan dia ingin ke toilet, "Aku ke toilet sebentar." Pamitnya lalu keluar dari ruang VIP itu.


Mahesh melihat ke kanan dan kiri, dia belum pernah ke bar  atau club ini sebelumnya jadi sedikit bingung melihat banyak lorong disana dan dia hanya mengikuti nalurinya.


"Huh.. toiletnya dimana?" Gumam Mahesh lalu dia melihat seorang pria keluar dari sebuah ruangan dengan terburu-buru sampai tidak menutup dengan benar pintu itu. Mahesh melirik sejenak dan terkejut melihat sosok yang dia tau.


"Amber.." Gumamnya pelan dan masuk ke ruang itu. Dia sangat terkejut melihat Amber yang sedikit tidak sadar dengan pakaian atas sudah terbuka sempurna tapi bagian bawah masih rapi.


"Bawakan mobil ke depan bar." perintah Mahesh melalui ponselnya lalu dia melihat sekeliling ruangan itu dan tidak menemukan cctv yang menyala, dia juga memeriksa bagian luar lorong sampai ke depan, semua cctv mati seperti di sengaja.


"Malangnya nasibmu gadis cantik." Ujar Mahesh lalu menutupi tubuh Amber dengan jaketnya dan menggendongnya keluar dari tempat itu.


Setelah sampai di hotel terdekat, Mahesh memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa Amber.


"Tidak ada yang serius, dia hanya terekena obat bius dan akan tidur sampai efek obatnya tidak bekerja lagi." Ujar dokter kemudian menyuntikkan vitamin dan obat agar tidak ada efek samping pada Amber.


Setelah itu Mahesh memanggil pelayan wanita untuk menggantikan pakaian Amber dan meminta pelayan itu menjaganya sampai bangun, tentu dengan merahasiakan dirinya serta memberikan tips yang tidak sedikit.


.


.


.


"Ternyata benar, kau dijebak." Ucap Mahesh saat melihat sosial media yang telah tersebar kondisi Amber yang sedang mabuk dan terlihat seperti menikmati hubungan badan dengan pria yang hanya tampak belakang saja, tidak seperti Amber yang terlihat menghentak kuat naik turun diatas pria itu sambil duduk, tubuh bagian atasnya terlihat polos, dadanya yang padat dan membulat dapat dilihat oleh siapapun.


"Apa yang akan kau lakukan gadis malang?" Ucap Mahesh lagi yang mulai mengikuti acara Be A Star hanya untuk melihat Amber.


Seminggu penuh Mahesh terus menonton acara itu dan sampai pada akhirnya Amber tidak menang padahal dia paling sering di peringkat pertama sebelumnya.


Tengah malam setelah acara Be A Star berakhir, Mahesh yang sedang bosan ingin sekedar keluar dan mencari makan malam yang sudah sangat terlambat.


Dia menyetir sendiri menuju salah satu restoran langganannya yang buka 24 jam, tapi dia sangat panik saat mobilnya hampir menabrak seseorang, mungkin...


"Sepertinya memang tertabrak. AAKHH..." Teriak Mahesh frustasi karena pasti akan rumit kedepannya. Dia keluar dari mobilnya dan melihat seorang gadis sedang duduk meringkuk dan menangis.


"Hei nona.. kau tidak apa-apa? Apa terluka? Aku akan tanggung jawab membawamu ke rumah sakit." Tanya Mahesh tapi gadis bermantel coklat dan celana panjang itu hanya meringkuk dan menangis.


Mahesh yang tidak sabar langsung membopong gadis itu tapi si gadis berontak.


"Amber." ujar Mahesh saat melihat gadis yang hampir dia tabrak adalah Amber.


"Kau mengenalku?" Tanya Amber masih terisak.


"Siapa yang tidak mengenalmu?" Tanya Mahesh menjawab pertanyaan Amber. Gadis itu lalu  menangis lagi dengan kencang. Mahesh yang panik segera membopong Amber memasuki mobilnya dan kembali ke mansionnya.


"Ini rumahku dan aku tidak tau harus membawamu kemana nona Amber." jawab Mahesh tapi Amber tetap menatapnya curiga.


"Aku bukan orang jahat." Lanjut Mahesh lagi.


"Terserah lah, aku juga sudah tidak punya masa depan, bahkan orang tuaku mengusirku karena membuat mereka malu. Jika kau mau membunuhku silakan saja Tuan." Amber kembali menangis dan Mahesh merasa frustasi.


'Kenapa bisa bertemu dia lagi, ini kesialan atau beruntung?' Gumam Mahesh dalam hati.


"Amber, kita masuk dulu karena aku sangat lapar. Kau membuatku batal makan malam di restoran favoritku tadi." Mahesh lalu membuka pintu mobil dan keluar, dia menghampiri pintu mobil satunya lagi dan menunggu Amber turun.


.


.


"Makan lah, pelayan juga sudah siapkan kamar untukmu. Sementara tinggal saja disini." ucap Mahesh lirih, karena gadis malang ini sungguh membuat hatinya tidak tega.


"Kenapa kau baik padaku Tuan? Kita baru saja bertemu." Tanya Amber tapi mulutnya sudah penuh makanan, karena dia juga lapar. Mahesh tersenyum tipis melihat gadis di depannya yang masih bisa makan dengan lahap.


"Sudah kenyang?" Tanya Mahesh dan Amber mengangguk.


"Apa ada yang membencimu atau punya musuh?" Tanya Mahesh dan Amber menggeleng.


"Aku yang membawamu keluar dari ruang club Sun & Moon dan membawamu ke hotel tapi tenang saja, dokter bilang kau masih perawan jadi video itu sengaja dibuat untuk menjebakmu." Jelas Mahesh. Amber yang mendengar itu langsung berterima kasih.


"Terima kasih Tuan, tapi aku benar-benar tidak tau. Bahkan 2 temanku tidak bisa dihubungi." Kata Amber dengan wajahnya kembali murung.


"Panggil aku Mahesh, jangan Tuan." Sergah Mahesh dan Amber mengangguk.


"Pergilah ke kamarmu dan besok kita bicara lagi." Kata Mahesh dan Amber menurut.


Pagi harinya, Amber bangun dalam keadaan sedikit lelah tapi juga lega karena dia berada di tempat aman dan nyaman. Ada beberapa pakaian juga yang sudah disiapkan pelayan untuknya.


Setelah mandi dia turun dan melihat pelayan sudah menyiapkan sarapan lalu tak lama Mahesh juga turun untuk sarapan.


"Jadi apa rencanamu?" Tanya Mahesh pada Amber setelah mereka sarapan.


"Aku tidak tau." Jawab gadis itu sambil menunduk.


"Aku tidak pandai dalam sekolah, tidak pandai dalam hal apapun, kata ibu aku hanya punya wajah yang cantik ini yang bisa menjual jika masuk Tv, suaraku biasa saja, tarianku juga masih kalah diabnding yang lain. Tapi sekarang semua tidak berguna lagi. Bahkan orang tuaku tidak menerimaku."


Mahesh merasa iba lagi dengan keadaan Amber saat ini, memang benar gadis ini cantik, imut dan lucu sangat menggemaskan dan semua orang pasti luluh pada pesonanya, begitu juga Mahesh.


"Apa kau sangat ingin jadi artis?" Tanya Mahesh tapi Amber menggeleng.


"Tidak, aku ikut Be A Star agar aku berguna untuk keluarga besarku. Aku hanya anak adopsi tapi setelah orang tuaku punya anak sendiri aku terasing karena adik-adikku sangat pandai dalam akademis mereka, bahkan sepupuku semuanya sekolah tanpa biaya karena beasiswa. Aku tidak berguna." Jelas Amber dan dia menunduk lagi.


"Intinya kau tidak punya tujuan?" Amber mengangguk.


"Aku punya tawaran untukmu." Amber menaikkan alisnya melihat kearah Mahesh.


"Menikah denganku."


"APA!?"