My Venus

My Venus
BAB 42



Setelah makan malam, Neil, Elios, Morris dan Richela duduk bersama di ruang keluarga. Mereka banyak mengobrol dan juga ingin tau apa yang ingin dilakukan Richela setelah lulus sekolah.


"Aku mau jadi artis." Celetuk gadis cantik itu.


"Tidak boleh!" Kata Neil dan Elios bersamaan.


"Tapi itu cita-cita ku kak!" Sergah Richela menatap sengit pada 2 pria tampan di depannya.


Setelah lama berargumen, mereka belum mencapai kesepakatan apa pun, sebagai kakak Elios tentu ingin adiknya menggapai impiannya apa pun itu tetapi dia tidak menyangka kalau Richela memilih menjadi artis.


Begitu pun dengan Neil, menjadi artis? Tidak, itu tidak boleh. Neil sangat menjaga Richela bahkan lebih dari Elios kakak kandungnya.


"Dunia hiburan itu jahat baby.. apa kau sanggup? Mereka bahkan ada yang mencapainya dengan melakukan hal-hal diluar batas. Aku tidak ingin kamu ikut terseret arus yang tidak benar." Ujar Neil yang masih sangat tidak setuju.


"Aku bisa jaga diri dan aku akan belajar, dengan kerja kerasku sendiri aku akan menjadi seorang bintang. Aku yakin bisa menjaga diri dan kalian jangan ikut campur." Kata Richela semakin keras kepala.


Pertengkaran semakin sengit antara mereka bertiga sampai Morris membuka suaranya.


"Sudah hentikan!" Tegas Morris.


"Aku tau kekhawatiranmu sebagai kakak Elios, adikmu seorang perempuan dan dia akan sendirian diluar sana. Kamu juga Neil, kau takut Richela akan berpaling darimu kan? Sebab banyak artis laki-laki tampan yang bisa saja menggoyahkan rasa cinta Richela untukmu. Dan kau Richi, jadi artis, bintang, entertainer apalah sebutannya, tidak semudah itu. Jikalau pun kau berhasil, misalnya menjadi seorang aktris apakah kau siap dengan peran apapun, bugil sekalipun?" Ucap Morris bijak, karena dia yang sudah paling berpengalaman di masa tuanya.


"Dengarkan itu Richi, kakak takut karena dunia hiburan itu jahat dan bisa saja suatu saat kau di jebak, untuk apa pun itu." Bujuk Elios lagi.


"Aku tidak bisa jauh darimu baby, setelah ini kami akan ke perusahaan memperkenalkan Elios sebagai pemilik Tierney group dan kami akan jauh darimu." Neil ikut membujuknya.


"Kami sudah melihat begitu banyak artis yang dengan segala cara mencapai tujuannya, di perusahaan Tierney juga begitu. Jangan melihat artis di naungan T's Group yang begitu hebat dan bertalenta, kau tidak tau apa yang mereka lakukan di belakang itu." Jelas Morris ikut-ikutan membujuk gadis itu.


"Tapi.. aku sangat ingin jadi bintang. Kalian tidak tau selama ini aku telah berlatih keras dan.. maaf.. aku tidak memberitau kalian, aku telah diterima di Monato dan setelah lulus aku akan jadi murid pelatihan disana."


Penuturan Richela membuat ketiga orang itu begitu terkejut, kenapa bisa? Apa yang mereka lewatkan saat mereka memantau gadis ini?


Elios mengguyar kasar rambutnya, sedangkan Neil menatap tajam pada Richela. Morris hanya menggeleng lemah.


"Jika kalian tidak izinkan aku akan kabur dan tidak akan mengenal kalian lagi." Ucap Richela dengan nada mengancam.


'Baiklah.. tapi ada syaratnya." Ucap Elios pasrah.


"Apa itu?" Tanya Richela dengan wajah antusia.


"Pertama, jaga dirimu dengan baik. Jangan menggunakan cara kotor seperti yang lain untuk mencapai tujuanmu." Ucap Elios dengan wajah seriusnya.


"Kakak kira aku gadis apaan? Kakak tidak percaya pada adik sendiri?" Teriak Richela tidak terima.


"Percaya, cuma mengingatkan." Balas Elios.


"Kedua, jika tidak berhasil segera pulang." lanjut Elios lagi.


"Pulang kemana? Kalian saja menyuruhku untuk tidak saling kenal." Jawab Richela dengan wajah kesalnya.


'Benar juga.. ' Batin Elios.


"Setelah pulang dari sini, pindah dan tinggal di apartemenku." Kata Neil menjawab pertanyaan Richela karena gadis itu memang akan pindah dari apartemen lamanya.


"Tidak boleh, kalian belum menikah." Sergah Elios tidak suka.


"Hei.. aku akan tinggal bersamamu jika kau lupa rencana kita." Ujar Neil mengingatkan.


"Yang ketiga, kau sudah besar 17 tahun dan beberapa bulan lagi 18 tahun. Menikah dulu dengan Neil baru kakak izinkan kau bebas."


Neil dan Richela sungguh tak percaya, mereka memandang lekat pada Elios.


"Kau.. ya benar, kita menikah dulu baru aku tenang membiarkanmu diluar sana." Neil sangat bahagia, terlihat senyumnya mengembang sempurna.


"Aku tidak mau! Aku akan menikah di umur 25 tahun. itu targetku." Tolaknya tegas.


"Cukup! Jangan memaksanya menikah, dia masih terlalu muda." Sergah Morris yang sedikit jengah mendengar semuanya.


"Benar kakek, aku terlalu muda untuk menikah." Richela membenarkan.


"Bagaimana kalau tunangan dulu, setidaknya tanggungjawab kalian pada Richi setengah-setengah." Saran Morris, kedua pria itu akhirnya setuju.


"Tidak ada cincin, bagaimana aku mengikatnya?" Tanya Neil pada Morris.


"Ada cincin ibumu, aku menyimpannya." Jawab Morris dengan tersenyum.


"Tidak, aku tidak mau memakai cincin, kalian lupa aku akan jadi murid pelatihan?" Tolak Richela lagi.


Neil tampak bingung, sedangkan Elios masih tak percaya kalau adik kecilnya yang manis dan penurut kini berubah jadi keras kepala.


"Baiklah ini saja, kalian saksinya kalau Richela Avia Talis kini adalah tunanganku." Ucap Neil lalu mendekat ke Richela, menariknya agar berdiri menghadap dirinya. Tangan Neil di selipkan di pipi dan lehernya lalu mencium gadis itu, 1 detik 2 detik 3 detik semakin lama semakin dalam.


Richela yang baru pertama kali merasakan ciuman tentu terkejut tapi tidak bisa berontak sama sekali, sampai Neil melepaskan ciumannya.


"Sekarang kau adalah milikku Richela.. Venus ku, kau cantikku dan cintaku." Bisik Neil tepat ditelinga Richela yang sedang malu dan menunduk. Kepalanya dia sandarkan ke dada Neil karena dia tidak sanggup mengangkat kepalanya.


"Nah dia berubah jadi adik kecilku yang manis lagi." Celetuk Elios yang dibalas tawa oleh Morris.


.


.


.


"Kak, aku bukan keras kepala. Hanya saja aku ingin menggapai impianku sendiri, tolong jangan membantuku jika tidak aku minta. Aku akan berusaha, kau kakakku dan sangat mengenalku, aku tetap adik kecilmu yang manis dan penurut." Ujar Richela sebelum dia kembali ke kota. Pengawal akan bersamanya hingga dia sampai di apartemen Neil dengan selamat.


"Baiklah adik kecil ku yang paling manis dan cantik. Kakak percaya padamu." Jawab Elios sambil memeluk adiknya itu.


Malam semakin larut, Richela masih duduk bersama dengan Neil setelah Elios kembali ke kamarnya.


Neil tak henti-hentinya merangkul, mengecup bibir manis yang baru dia rasakan beberapa waktu lalu. Richela juga sangat menikmati moment ini sebelum mereka akan berpisah beberapa tahun.


Gadis cantik ini sungguh membuat Neil tidak tahan, dia terus saja mencium bahkan tangannya kadang nakal menjelajah dibagian atas Richela.


"Tanganmu ih.. El, jangan mesum. Ternyata kau mesum sekali setelah bertunangan." Richela terus menurunkan tangan Neil yang suka bermain di dadanya yang montok.


"Kenapa tidak menikah saja sih.. aku tidak tahan melihatmu apalagi nanti jika sudah jadi artis." Sahut Neil kesal.


"Aku janji akan menjaga diri dengan baik dan kau tetap akan jadi yang pertama untukku nanti." Ucap Richela menenangkan Neil.


"Baiklah aku percaya.." Kata Neil dan mereka kembali saling merangkul.