My Venus

My Venus
BAB 97 - END



Hanya 20 menit Neil kembali dan melihat Richela masih duduk namun sudah berganti pakaian dan sepertinya sudah membersihkan dirinya.


"Ini sayang ayo kita tes." Neil memberikan beberapa test pack yang dia beli dan Richela mengambilnya lalu masuk ke kamar mandi diikuti oleh Neil.


"Jangan ikut." Richela mendorong Neil keluar lalu menutup pintu, beberapa menit Richela keluar dan Neil tampak bingung melihat istrinya itu tidak membawa apa-apa di tangannya.


"Di dalam belum ada hasilnya." Ucap Richela dan Neil kemudian masuk menunggu sampai alat itu bekerja dan...


"DUA GARIS!!" Teriak Neil dan Richela juga melihatnya tapi dia masih tidak percaya lalu membuka kembali test pack lain dan menunggu sampai keluar tulisan Pregnant.


"AAHHH AKU AKAN JADI DADDY!" Teriak Neil lalu memeluk Richela yang masih syok tapi dia juga bahagia. Neil memeluk sambil mengangkat Richela berputar putar sampai kembali direbahkan isrinya itu di ranjang lalu mencium wajah cantiknya bertubi-tubi meluapkan rasa bahagianya.


"Aku sangat bahagia." Ucap Neil lagi dan Richela mengangguk dan tersenyum, lalu di kecupnya bibir Neil.


.


.


.


Neil dan Richela yang tidak jadi pergi bulan madu, tepatnya di undur karena mereka akan ke dokter kandungan terlebih dulu untuk cek keadaan janin yang dikandung Richela.


Mereka ditemani oleh Elios dan Bell yang juga akan lakukan pengecekan kedua.


"Selamat Tuan dan Nyonya, memang benar Nyonya Richela sedang mengandung 4 minggu dan keadaan janin sehat." Ucap Dokter membuat Neil semakin senang begitu juga dengan Richela.


Setelah mendengar wejangan dari dokter, mereka akhirnya keluar dan Bell yang sudah selesai juga dengan dokter lain menunggu di depan.


"Bagaimana?" Tanya Elios.


"Iya sudah 4 minggu." Jawab Neil. Richela dan Bell saling berpelukan.


"Berarti cuma selisih sebulan dari Bell. Kita harus siap-siap menghadapi 2 ibu hamil." Bisik Elios dan Neil sudah tau bagaimana Bell hamil dulu, semoga Richela tidak mengalaminya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Richela yang sudah mendekat ke suami dan kakaknya.


"Tidak ada, Elios hanya memberikan tips menjadi suami siaga saja sayang." Jawab Neil.


"Kenapa harus bisik-bisik?" Kini Bell yang bertanya.


"Tidak ada bisik-bisik baby, kami hanya tidak mau terlihat berisik disini. Lihat begitu tenang kan." Bell hanya mengangguk dan Elios bernapas lega karena berhasil mengelak.


Elios menatap Neil dan Neil seakan tau arti dari tatapan itu, 'Jangan sampai salah bicara atau kau akan mati.' Peringatan itu sampai dengan baik ke Neil yang mengangguk samar.


^^^^^^^^^^^^^^


Berbulan-bulan kemudian,


Richela yang sedang hamil besar sedang duduk bersandar di ranjangnya. Dia sudah tak sanggup bergerak lagi karena ternyata dia hamil anak kembar. Bukan 2, tapi 3. Sungguh Richela ingin segera melahirkan tapi dia masih harus menunggu seminggu lagi.


"Sayang.. ada apa?" Tanya Neil yang melihat Richela meringis kesakitan.


"Sakit.." Lirihnya sambil memegang pinggang dan perutnya.


"Eh ini... basah..." Kata Neil lalu dia bergegas memanggil dokter yang sengaja dia tempatkan di apartemen miliknya.


"Siapkan mobil, ketuban sudah pecah." Teriak dokter jaga itu pada pengawal di depan. Dia sudah mengabaikan Neil karena keselamatan Richela dan 3 anaknya menjadi prioritas dan Neil juga tidak mempermasalahkannya.


Dengan cepat mobil sudah disiapkan dan Neil mendorong kursi roda Richela lalu memindahkannya ke mobil. Untungnya rumah sakit dan apartemen tidak terlalu jauh dan ini juga sudah malam.


Setelah 1 jam, akhirnya 3 anak mereka lahir. Neil sampai mengeluarkan air matanya karena terharu dan bahagia.


"Kau hebat sayang, anak-anak kita sudah lahir." Ucap Neil lalu mengecup kening Richela yang masih lemas.


"Selamat, anak pertama laki-kali, anak kedua laki-laki dan yang ketiga princess." Ucap salah satu suster yang menggendong bayi mereka. Sungguh Neil tak percaya akan langsung di berikan 3 anak sekaligus.


"Mereka sangat tampan dan cantik."


Neil menggendong anak pertamanya dan mengecup pipi bulat bayi lucu itu lalu di serahkan ke Richela, sambil di bantu suster untuk diberikan asi, begitu juga sampai anak terakhir.


"Wah... keponakanku 3 dan mereka lucu sekali." Pekik Bell yang sudah melahirkan bulan lalu, Bell melahirkan anak laki-laki lagi.


"Apakah kakek akan datang?" Tanya Richela dan Neil mengangguk.


"Ya dia akan datang, mungkin pagi akan sampai." Jawab Elios karena waktu resepsi pernikahan Morris tidak datang karena sakit. Morris yang semakin senja usianya sudah tidak bisa banyak beraktivitas.


"Jangan pikirkan Morris dulu, dia baik-baik saja. Sekarang kita berikan nama untuk anak-anak kita." Kata Neil dan Richela mengangguk.


"Anak pertama ini Lennan, yang kedua Lennon, dan Lesha."


.


.


.


5 tahun kemudian.


"Jangan lari Lesha!" Teriak Richela frustasi melihat lincahnya anak perempuan satu-satunya itu.


"Lesha mau tunggu daddy.. hari ini kita pindah rumah yang ada kolam berenangnya mommy." Balas Lesha yang terus berlari menuruni tangga.


Mereka akhirnya akan pindah ke mansion yang baru saja selesai dibangun oleh Neil. Richela yang baru melahirkan anak keempat mereka sudah merasa sesak tinggal di apartemen mewah ini, dia butuh udara segar dan tempat yang cukup luas untuk tempat bermain anak-anaknya.


"Daddy... " Teriak Lesha bagitu Neil membuka pintu apartemennya dan si princess kesayangannya sudah menunggu di balik pintu.


"Cantiknya daddy.. tunggu dad ya?" Tanya Neil lalu menggendong Lesha dan masuk ke ruang keluarga. Disana sudah ada Lennan dan Lennon yang sudah menunggu. Mereka bertiga sangat mirip.


Lennan dan Lennon sangat mirip dengan Neil dan Lesha adalah perpaduan antara Neil dan Richela. Sedangkan baby Leshon juga mirip dengan Richela yang berwajah manis.


"Ayo, kita jalan. Princess mu tidak sabar untuk bermain di kolam renang." Ajak Richela yang membawa baby Leshon digendongannya.


"Tunggu Elios, mereka kan mau pindah juga." Jawab Neil dan Elios sudah ada di depan pintu untuk mengajak mereka.


Neil dan Elios membangun rumah bersebelahan agar tidak jauh dari Richela. Lagi pula agar anak-anak tetap dekat dan mereka menjadi keluarga yang sangat besar. Bell hanya punya 2 anak, tapi belum tau karena Elios berencana membuatnya hamil lagi agar semakin ramai.


Akhirnya perjalanan selama 1 jam penuh itu berakhir di sebuah komplek rumah mewah di atas perbukitan. Memang tempat orang-orang dengan kekayaan berlimpah yang tinggal disana. Neil membeli sebuah bukit dan membangun 2 rumah disana untuk keluarga besarnya.


"Waahhh ini rumah princess." Teriak Lesha begitu senang dan berlari mengelilingi rumput di taman luas depan rumah itu.


"Kau senang sayang?" Tanya Neil pada putri kecilnya.


"Iya daddy. Kamar Lesha cantik juga?" Tanya Lesha.


"Iya, kamar princess Lesha tidak mungkin jelek." Jawab Neil dan keluarga itu masuk ke rumah yang sudah lengkap dengan perabotan dan segala isinya termasuk para pelayan dan penjaga.


\~\~\~END\~\~\~