
Avia bersama Nicole sedang berjuang melalui casting drama untuk pemeran utama. Ada 2 pemeran utama di drama ini sehingga mereka sepakat akan mengambil keduanya.
Setelah mereka berdua keluar dari ruang casting, hanya menunggu sebentar sudah ada hasil dari rapat para penulis naskah, tim sutradara dan tim produser.
"Akan ada casting kedua di jam 4 sore, nama yang disebutkan tolong hadir kembali."
"Nicole VENUS, Avia VENUS, Rachel Sunday, Sarah Gee, Paula, Shierra."
Nicole dan Avia saling berpelukan dan mereka pergi ke cafe yang ada di lantai 1 gedung ini untuk bersantai sambil menunggu karena jam 4 sore tinggal 2 jam lagi.
"Via, kalau kita tidak dapat peran itu bagaimana?" Tanya Nicole menatap Avia yang tampak santai.
"Pasti dapat, percayalah.." Ucap Avia yang membuat Nicole terperangah.
"Kenapa kau begitu yakin?" Tanya Nicole curiga.
"Karena kita yang terbaik." Jawabnya asal hingga Nicole yang gemas menjitak kepalanya.
"Jangan kira kalian cantik jadi bisa mendapatkan semuanya." Ketus seseorang yang berada di meja belakang mereka. Avia berbalik dan ternyata disana ada Sarah dan Paula, mereka adalah aktris senior meskipun usia mereka hampir sama.
"Maaf Nona Paula dan Nona Sarah, kami hanya asal bicara untuk menghilangkan gugup." Nicole bangkit dan membungkuk sedikit sedangkan Avia sudah berbalik.
"Maaf, kami hanya ingin menenangkan diri sendiri bukan untuk sombong." Kata Avia dengan sopan.
"Duduklah, nanti orang-orang mengira kami membuli kalian." Ketus Sarah yang merasa jengah. Padahal dia hanya iri dengan popularitas VENUS apalagi saat ini mereka bersaing.
Nicole dan Avia kembali duduk dan mencoba tidak berbicara yang aneh-aneh lagi malah senior mereka yang mulai membicarakan Avia.
"Hei, kau perhatikan itu, dada dan bokongnya apa asli?" Tanya Sarah pada Paula.
"Mungkin implan, mana mungkin bisa sebagus itu seperti dibentuk. Pasti keras kalau implan." Jawab Paula kemudian mencibir.
"Wajahnya? Ya dia cantik sih." Lanjut Sarah lagi lalu dia bercermin.
"Hidungnya mungkin palsu juga, terlalu sempurna bentuknya, kalau mata aku tidak tau bisa saja make up." Timpal Paula lagi.
"Aku mau sulam bibir deh dan filler bagian ini biar mirip dia." Sarah menyentuh bibirnya, padahal bibir itu lumayan tebal tapi berbeda dengan milik Avia yang tebal tapi terlihat mungil sehingga sangat menggemaskan.
"Via ke toilet yuk.." Ajak Nicole dan Avia mengangguk.
"Gila mereka, bisa-bisanya gosipin orang lain di samping orangnya langsung." Ujar Nicole yang tak percaya.
"Biarkan saja, mereka tidak tau usaha kita bentuk tubuh ini. Bukan hanya ke salon dan ubah sana sini, usaha!" Tegas Avia yang sebenarnya sangat kesal.
"Sudahlah kita tunggu ditempat lain saja." Kata Nicole dan Avia setuju dengannya.
Dua jam berlalu dan akhirnya mereka kembali audisi hingga selesai dalam waktu yang sangat singkat sebenarnya hanya menunggunya saja yang lama.
"Kalian boleh langsung kembali, hasilnya paling lambat besok siang sudah kami kirimkan ke nomor kalian masing-masing." ucap sutradara yang duduk di depan mereka.
"Baik, Terima kasih dan permisi." Ucap mereka kemudian keluar dari ruang audisi itu.
.
.
Hasil audisi keluar, Avia bersorak gembira karena menjadi pemeran utama dalam drama ini, begitu pun Bell yang mempunyai waktu audisi berbeda akhirnya mendapat peran juga. Sedangkan Nicole menjadi pemeran wanita ketiga.
"Selamat untuk kalian bertiga dan sekarang kita latihan lagi." Kata Cleo yang sudah memberi aba-aba karena mereka akan tampil di acara seni di salah satu universitas.
Tapi baru saja beberapa menit mereka langsung dihentikan oleh Bianca.
"Avia, kemari!" Teriaknya saat mereka latihan.
"Ada apa Bi." Bukan Avia tapi Cleo yang menjawab.
"Via, kamu kenapa keluar dari toilet bersama Tuan Jose?" Tanya Bianca lalu memberikan sebuah foto yang disana ada Avia yang keluar dari toilet wanita dan di sampingnya ada Jose.
"Tidak Bi, kami memang keluar dari toilet tapi tidak bersama dan aku duluan, dan Tuan Jose keluar dari toilet pria." Jelas Avia tapi di foto itu terlihat Avia dan Jose keluar bersama di toilet wanita.
"Kalau tidak percaya, di depan kami ini ada Lana, dia berdiri di depan kami." Lanjut Avia lagi menunjuk kearah depan yang tidak ada di foto.
"Tapi, foto ini sudah tersebar di semua staff dan tidak menutup kemungkinan akan tersebar keluar." Bianca terlihat memijat pelipisnya, lalu sebuah pesan masuk dan terjadilah.. dunia maya sedang membicarakan foto itu yang sudah tersebar.
"Lihat, aduh.. bagaimana ini?" Bianca sudah pusing lalu keluar dari ruang latihan itu.
"Coba kalian cek laman berita, foto itu sudah tersebar." Kata Bell dengan tangan cepatnya sudah menemukan berita itu.
Semua member langsung membuka berita itu di ponsel masing-masing dan membaca komentar yang sudah sangat banyak.
** ** **
"Tidak mungkin mereka melakukan itu kan?"
"Mau percaya tapi ragu, mau ragu tapi foto berbicara."
"Editan?"
"******! Kau suka pria tua?"
"Pelac*ur, dari penampilannya saja sudah terlihat dia murahan."
"Jangan percaya foto itu, bisa saja ada yang menjebaknya."
"Via, jangan bodoh. Carilah pria tampan dan kaya."
"Berapa tarifmu Via?"
"Jual diri atau memang simpanan?"
.
.
.
** ** **
"Astaga komentarnya..." Lirih Bell dengan mata berkaca-kaca, ia lalu berlari memeluk Avia yang juga sedang menatap nanar pada layar pipih yang dia pegang.
"Sudah jangan baca lagi, mereka tidak tau yang sebenarnya." Timpal Cleo lalu mengambil ponsel Avia dan meletakkan di meja dekat mereka duduk.
"Kita bisa minta Lana bersaksi kan.. jadi jangan cemas ya. Kamu hanya lagi sial bertemu Tuan Jose disana dan pasti ada orang yang sengaja mengambil foto kalian seperti itu untuk menjatuhkanmu. Kau sudah semakin terkenal dan hebat."
"Marcy benar, kau sudah seperti aktris papan atas hingga ada orang yang iri dan ingin membuatmu jatuh."
"Terima kasih teman-teman, aku akan berusaha cari bukti di tempat itu, cctv mungkin?" Avia terlihat sudah tenang, dia memang tidak menangis tapi dia sangat sedih dan khawatir.
"Apalagi akan ada show di universitas aku takut kalau mereka tidak mau menerimaku."
"Kita masih punya waktu beberapa hari jadi tenang , kami akan membantu." Ucap Fei yang memang pintar itu.
"Karena di lorong menuju toilet tidak ada cctv kita bisa melihat yang sisi depan, pasti terlihat siapa saja yang keluar masuk. Nah jika kalian memang bertiga pasti keluarnya bertiga kan.." Tukas Fei dan Avia mengangguk.
"Ya aku jalan dengan Lana lebih dulu baru Tuan Jose beberapa langkah di belakang kami. Tidak ada orang lain lagi." Ucap Avia dan mereka sepakat akan memberitahu ke Bianca.
Avia ditemani oeh Fei bertemu Bianca yang sedang meeting dengan beberapa petinggi perusahaan. Fei mengetuk pelan pintu itu dan Bianca membiarkan mereka masuk, setelah mengutarakan pengakuan Avia dan pendapat mereka, Bianca mulai mencari petugas gedung untuk mencari cctv itu.
Hanya butuh setengah jam setelah Bianca menelepon, telah dikirimkan hasil rekaman cctv yang memperlihatkan siapa saja yang keluar masuk di toilet itu.
Pertama, Jose masuk, lalu seorang wanita di belakangnya yang tidak diketahui siapa karena memakai hoodie hitam dan celana jeans beserta sepatu keds putih. Selang 5 menit Avia masuk dengan memakai dress hijau tua, adalah kostum untuk syuting. Lalu 7 menit kemudian Lana masuk. belum ada yang keluar sampai 4 menit kemudian baru terlihat Lana dan Avia bersama, beberapa langkah di belakang Jose mengikuti. Mereka menunggu dan 10 menit kemudian wanita berhoodie tadi juga keluar dengan memegang ponsel.
"Cari tau siapa wanita itu." perintah Bianca, menurut nya wanita berhoodie itulah pelakunya. Tapi petugas kehilangan wanita itu karena dia masuk ke studio yang sedang syuting drama hingga terlalu banyak orang disana dan bebas cctv.
"Sepertinya itu cukup untuk membungkam media dan public. Kalian kembali lah dan latihan untuk show 2 hari lagi. Nanti aku yang akan klarifikasi di website dan akun sosial resmi VENUS." Ujar Bianca.
Fei dan Avia kembali ke ruang latihan dimana VENUS harus berlatih lagi.
"Bagaimana?" Tanya Cleo yang terlihat berkeringat.
"Sudah beres, cctcv nya ada. Sepertinya memang benar ada yang ingin memfitnah Via tapi kami tidak dapat melihat pelakunya." Jelas Fei dan semuanya bisa bernafas lega.
"Ini, tadi berbunyi sepertinya kakakmu, karena tertulis Kak Elina." Marcy memberikan ponsel Avia dan dia segera menghubungi kembali orang yang meneleponnya.
"Halo kak?"
"Kapan kau bisa menemuiku."
"Ck.. aku masih sibuk, kau sendiri tau jadwalku."
"Pulanglah sekali saja, kami rindu padamu."
"Iya nanti kalau libur kita bertemu saja di suatu tempat."
"Baiklah, semua aman terkendali?"
"Iya sudah aman, jangan cemas. Aku bisa mengatasi sendiri."
"Jika butuh bantuanku katakan."
"iya kakak bawel. Aku tutup."
"Ehm.."
Avia kembali meletakkan ponselnya dan ikut latihan.