
Elios dan Bell akhirnya sampai ke rumah sakit dengan jalur khusus, meskipun rumah sakit ini bukan milik Tierney Group tapi dia juga salah satu penanam modal terbesar. Jadi perlakuan istimewa sudah pasti dia dapatkan.
Bell sudah naik ke atas tempat tidur dan seorang dokter wanita setengah baya segera melakukan pemeriksaan.
"Selamat Tuan dan Nona Bell anda telah hamil 3 minggu." Kata dokter itu dan Bell sungguh terkejut.
"Secepat itu?" Gumamnya dan Elios langsung mengecup kening Bell karena dia sangat senang, akhirnya dia menjadi calon ayah.
Mereka berdua mendengarkan penjelasan dan arahan dokter dengan seksama lalu kembali pulang.
"Kita segera menikah." Ujar Elios saat mereka ada di mobil untuk kembali ke apartemen.
"Tapi orang tua ku?" Tanya Bell dan Elios langsung memutar arah mobilnya, dia memang menyetir sendiri.
"Sudah jam 7 malam, daddy pasti sudah pulang." Ujar Bell karena dia tau Elios sedang menuju ke arah ruamhnya.
"Iya, aku akan meminta restu." Katanya lalu dengan cepat dia menelepon Neil yang juga sedang bersama Morris di apatemennya sendiri untuk segera menyusul setelah menjelaskan secara singkat. Beruntunglah Morris memang sedang berkunjung sudah beberapa hari.
Rumah Bell yang cukup jauh membuat Elios dan Bell sampai lebih malam sekitar jam 8, untungnya bertepatan dengan Neil dan Morris.
"Mom, dad.." Teriak Bell setelah membuka pintu rumah, seluruh keluarga ada di ruang makan karena baru selesai makan malam.
"Bell... kenapa malam-malam kesini, bukannya ada pesta berakhirnya dramamu?" Tanya kakak ipar Bell, Laura.
"Iya kak, aku tidak ikut. Dad.. pacarku datang ingin bicara." Kata Bell yang melihat ayahnya masih duduk dan memakan buah.
"Loh.. kok tiba-tiba?" Tanya Benjamin yang langsung membersihkan tangannya diikuti oleh ibunya serta kakak lelakinya.
"Anda..." Ben terkejut saat melihat siapa yang ada di ruang tamu rumahnya.
"Wow.. pacarmu tidak mungkin yang itu kan?" Tanya kakak Bell yang bernama Bryan.
"Ck.. jangan berisik kak.." Ucap Bell lalu mengajak ayahnya untuk duduk dan memperkenalkan Elios yang sebenarnya sudah di kenal. Siapa yang tidak mengenal Elios?
"Jadi Tuan Elios benar kekasihnya Bell?" Tanya Ben lagi karena sulit untuk percaya. Kenapa pria sempurna ini malah menyukai putrinya yang biasa saja?
"Benar Tuan Ben, saya sangat mencintai Bell." Jawab Elios sedikit gugup, sementara Neil hanya tersenyum karena Elios tidak pernah segugup ini.
"Saya ingin melamar Bell untuk menjadi istri saya, tapi sebelum itu kami ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting dan rahasia." Ucap Elios lagi dan Ben makin tidak paham.
"Tapi kenapa? Anda sangat sempurna dan kenapa mencintai putri ku yang biasa ini?" Tanya Ben yang mengundang tawa Bryan dan Neil namum mereka langsung diam saat Bell melirik mereka dengan kesal.
"Bisakah kita berbicara di tempat yang tertutup dan tenang?" Tanya Morris membuka suara dan tentu, Ben mengajak ke salah satu ruangan yang merupakan peepustakaan keluarganya. Keluarga Bell bukan keluarga kaya raya seperti Elios tapi dia jauh diatas berkecukupan dengan memiliki beberapa toko pakaian anak-anak.
Setelah sampai di ruang perpustakaan, Morris menjelaskan bagaimana keadaan keluarga Tierney pada Ben dan Bryan. Mereka cukup terkejut karena kisah keluarga yang rumit dan bagaimana Bell sekarang sudah hamil karena di jebak dan untunglah pengawal segera menemukan Bell yang tengah pingsan bersama pria tua.
"Aku... " Ben tidak bisa berkata-kata, dia marah tapi juga lega.
"Tuan jangan khawatir aku akan menjaga Bell dengan seluruh hidupku." Kata Elios dengan tegas.
"Ya aku tau.. baiklah, keputusan ada di tangan Bell, aku akan mendukung apapun yang dia inginkan." Kata Ben yang membuat Elios lega.
"Jangan cemas Tuan Ben, Elios akan tetap menjadi direktur di Tierney Group, aku jamin hidup Bell akan bahagia dan tidak kekurangan apa pun." Lanjut Neil yang menambahkan rasa percaya pada Ben.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Bryan.
~ ~ ~ ~ ~
Hal pertama yang dilakukan Bell adalah melapor ke Montao meskipun mendapat banyak cercaan dari Susan, Bell tetap pada pendiriannya.
"Jika ingin aku keluar, aku akan keluar dan membayar pinalti. Jika tidak aku akan membuat konferensi pers tentang pernikahanku." Putus Bell yang akhirnya Susan mengalah karena uang yang perusahaan dapatkan dari Bell lumayan besar karena iklan terus berdatangan.
"Lagi pula kontrakku tinggal satu setengah tahun lagi." Timpal Bell.
"Baiklah, kami akan membuat konferensi pers untukmu dan kapan kau menikah?" Tanya Susan yang pasrah.
"Hari Sabtu ini, 5 hari lagi sebelum perutku membuncit dan pernikahan ini rahasia. Calon suamiku tidak ingin diketahui siapa pun termasuk perusahaan." Jawab Bell tenang.
"Besok kita adakan konferensi pers." Kata Bianca dan Bell mengangguk.
Sedangkan Elios harus ke luar negri selama 3 hari karena pekerjaan dan menitipkan Bell pada James untuk menjaganya 24 jam, dan James langsung memerintahkan 4 orang bodyguard untuk menjaga Bell.
Wartawan sedikit bingung dengan kabar pernikahan Bell dan sudah menunggu di lobi gedung Monato untuk bertanya langsung ke Bell.
"Ya benar, saya akan menikah tapi private karena calon suami saya tidak ingin di publikasikan."
"Kenapa begitu cepat Nona Bell, anda sedang naik daun dan karir anda sangat bagus?"
"Yang namanya cinta bisa mengalahkan segala hal, saya tetap akan di dunia hiburan, namum tidak sesering biasanya."
"Apakah anda telah hamil duluan?"
"Ya, saya memang telah hamil dan mohon doa dari semuanya dan saya minta maaf jika ada yang kecewa, tapi saya mencintai calon suami dan calon anak saya. Jadi mohon pengertiannya."
Bell lalu turun dari podium, meskipun banyak yang masih melontarkan pertanyaan, Bell tidak mau menjawabnya lagi karena menurutnya ini sudah cukup.
Tidak ada pemaksaan atau dorong mendorong karena para bodyguard sudah pasang badan dan wartawan akhirnya memilih mundur teratur.
Hari pernikahan pun akhirnya tiba, Bell di temani keluarganya sedang berada di salah satu kamar resort di pulau milih T's Hotel. Resort baru yang akan di buka untuk umum bulan depan menjadi tempat dimana janji suci mereka di adakan.
Bell juga akhirnya bertemu dengan Avia setelah setahun lebih tidak melihatnya, mereka menangis bersama sehari sebelumnya membuat Bell kembali muntah-muntah karena kehamilannya.
Tapi pagi ini dia tampak segar dan secerah sinar matahari.
Pernikahan rahasia itu berlangsung hikmad dan senyum tidak pernah pudar dari wajah kedua mempelai.
"Selamat kakak dan kakak iparku yang mungil ini." Ucap Richela sambil memeluk Elios dan Bell bergantian. Dia sangat senang, setidaknya kakak tersayangnya telah menikah dan memiliki keluarga.
"Kapan giliran kita?" Tanya Neil sambil merengkuh pinggang Richela.
"Nanti, belum saatnya." Jawab Richela lalu dia menghampiri Laura dan menggendong keponakan Laura yang sangat cantik dan bermain dengannya. Neil hanya melihatnya dari jauh sambil mendambakan memiliki anak-anak lucu bersama Richela. Tapi Neil ingin Richela menggapai impian atau apa pun yang dia mau terlebih dulu.
.
.
.
-Flashback end-