
Satu minggu berlalu, Neil semakin sibuk dengan Sun & Moon karena dia sudah berhasil menjadi jajaran petinggi disana juga agency yang menaungi para model.
"Kalian umur berapa?" Tanya Neil pada beberapa gadis yang sedang duduk di kantin perusahaan.
"Aku 14 tahun, dan mereka masih 12 tahun Tuan Neil." Jawab salah satunya. Mereka adalah calon model yang akan di latih, baru 2 hari mereka mendaftar.
'Gila, mereka masih di bawah umur dan di latih? Aku tidak percaya.' Batin Neil dan dia tampak cemas dengan keadaan remaja ini kedepannya.
'Aku harus cepat.' Ucap Neil lagi lalu menuruh Rey datang ke ruangan khusus dirinya.
"Aku melihat ada beberapa remaja, kau tidak salah melatih remaja yang masih kecil itu?" Tanya Neil pura-pura marah.
"Tenang Tuan Neil, agency ini benar adanya dan kami juga mempekerjakan model yang benar. Remaja disana memang di latih untuk jadi model, tapi setelah mereka cukup umur dan telah terkenal maka VVIP akan memilih sendiri ingin model yang mana." Jelas Rey dan akhirnya Neil mengerti.
"Kalau begitu akan aku bawakan pelatih khusus untuk mereka, aku tidak mau uang yang aku tanamkan disini sia-sia. Bisnis tetaplah bisnis." Tegas Neil dan Rey akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Seperti biasa, anggota First Class akan mengadakan pertemuan lagi tapi kali ini sedikit berbeda karena akan membicarakan pesta yang seminggu lagi diadakan di aula khusus gedung ini.
"Pesta apa?" Tanya Mahesh yang penasaran sebab dia tidak menemukan data apapun tentang pesta ini.
"Pesta lelang dan ini tidak di dokumentasikan, ini hanya kalangan VVIP dan First Class seperti kita dan kamera jenis apapun dilarang." Jelas Calvin dan untungnya Neil selalu memakai kamera tersembunyi dimatanya.
"Lelang apa ini? Barang apa yang akan di perebutkan?" Tanya Neil yang disambut tawa oleh beberapa orang.
"Tahun ini sama dengan tahun lalu, yang di lelang adalah wanita, bisa gadis-gadis muda yang masih segel, masih pe ra wan atau wanita yang belum pernah dijual." Jawab salah seorang disana yang di kenal Neil adalah seorang perwira tinggi di pemerintahan.
"Ya, dan tahun ini panitia lelangnya adalah anda Tuan Neil." Ujar Calvin yang membuat Neil tertegun.
"Anda akan menyediakan 10 gadis perawan dan request untuk tahun ini adalah gadis eksotis." Jantung Neil semakin bergemuruh, dia sangat ingin membenturkan kepala pria tua ini di meja kaca di depannya tapi dia tahan.
"Dan Tuan Mahesh, anda akan bertugas mengirim undangan untuk seluruh tamu VVIP yang akan terpilih, lakukan dengan halus dan tak terdeteksi." Lanjut Calvin dan Mahesh hanya bisa mengangguk.
.
.
.
Setelah pertemuan dengan para First Class, Neil segera menghubungi Robb dan mengadakan pertemuan lagi.
"Ini kesempatan Tuan, jika kita bisa memasukkan anggota kita maka mereka tidak akan kabur. Semua data dan bukti sudah Robb rekap. Kita tinggal menangkap basah mereka dan buat pesta itu viral hingga mereka tidak bisa mengelak." Jelas James pada pertemuan itu.
"Setuju, kami akan bersiap dengan pasukan begitu anda memberi sinyal untuk masuk." Sahut Robb.
"Masalahnya adalah kamera di larang, atau kameraku ini bisa kau gunakan?" Tanya Neil menunjuk ke arah matanya.
"Tidak tuan, jika itu yang digunakan anda akan ketahuan." Jawab James.
"Kamera serahkan padaku, aku bisa menyusupkan anggotaku. Dia hacker dan paling salah satu tv mu jadi korban." Kata Mahesh.
"Tidak apa, yang penting mereka tertangkap, pakai saja TVC karena Justin pasti akan berada di pesta itu juga." Jawab Neil menyetujui.
"Anggotaku akan bersiap Tuan, mereka masih polos dan bisa menjaga diri. Shu dan Kana akan ikut, lalu 2 dari India, 3 dari Thailand dan sisanya mungkin anggota Robb."
+-+-+-+-+
Neil pulang dalam keadaan lelah, dia sungguh ingin semua cepat selesai karena mengurusi ini lebih lelah daripada mengurus perusahaan.
Neil membuka pintu kamar dan terkejut sudah ada Richela disana.
"Stop sayang.. aku akan mandi dulu." Neil menghentikan Richela yang berlari ingin memeluknya. Richela pun bingung melihat kelakuan Neil tapi hanya membiarkannya sampai 15 menit kemudian Neil keluar hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya.
"Kenapa Richi?" Tanya Neil yang melihat Richela terus intens menatapnya.
"Huh.. jangan berpenampilan begitu, apa tidak malu?" Tanya Richela karena biasanya Neil akan berganti pakaian langsung di kamar mandi atau setidaknya memakai bathrobe.
"Hehehe.. kenapa? Kau harus terbiasa sayang..." Ujar Neil memang sengaja untuk menggoda calon istrinya.
"Kau tertalu tampan untuk kuabaikan El!" Ketus Richela yang sudah memanyunkan bibirnya tapi matanya tetap tak teralihkan, padahal sudah sering dia melihat jauh dari pada itu.
"Aku merindukanmu My Venus." Bisik Neil pada akhirnya menarik handuknya dan melempar handuk itu asal. Richela tentu saja makin kesal karena dia harus menidurkan milik Neil saat ini.
'Aku harus seperti biasa atau dia akan melakukannya lagi?' Batin Richela yang masih takut karena sakit.
"Kita akan melakukannya lagi setelah menikah tapi..." Neil menghentikan ucapannya dan memandang Richela yang masih duduk di tepi ranjang.
Richela paham dan segera melakukan tugasnya seperti biasa, Neil hanya memejamkan matanya sambil menikmati mulut Richela yang dengan telaten melahap milik Neil yang sudah tegak sempurna.
.
.
Neil yang sudah puas kini memeluk Richela, dia mendekap erat pujaan hatinya itu seakan Richela akan pergi jika dia melepaskannya.
"Bisa lepas tidak?" Richela sudah gerah dan ingin melepaskan pelukan Neil sejak tadi.
"Tidak." Jawabnya singkat dan malah makin erat memeluknya.
"Aku gerah El.. kau ini.." Richela yang gemas mencubutnya sampai Neil mengaduh kesakitan.
"Aduh.. sakit Richi." Neil akhirnya melepaskan pelukannya dan Richela mengambil kesempatan lalu berlari masuk ke kamar mandi, dia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin padahal malam ini juga sangat dingin.
"Dasar El.. dia enak bisa pelepasan, aku? Tubuhku panas sekali haduuhh..." Keluh Richela yang sebenarnya juga ingin disentuh oleh Neil tapi pria itu sudah bilang akan melakukannya lagi setelah menikah.
"Mana mungkin aku yang menggodanya kan? Tidak, tidak boleh... sabar Richi, sabar.. tunggu sampai kau resmi jadi istrinya baru boleh genit."
Setengah jam kemudian Richela selesai dengan ritual mandinya dan kembali ke ranjang, dia melihat Neil sudah tidur dengan pulas.
"Good nite El.. love you." Richela mencium pipi Neil lalu juga ikut merebahkan dirinya ikut tidur disamping Neil.
.
.
.