My Venus

My Venus
BAB 58



Semua peserta sudah hadir dan menunggu aba-aba sesuai waktu yang ditentukan. Enam puluh gadis cantik sedang berkumpul dan berbincang satu sama lain dan berkenalan. Meskipun mereka adalah rival di acara ini tentu harus bersikap baik, karena semua terekam oleh kamera.


Richela berdiri diantara kerumunan dan belum ada yang berani mendekatinya. Siapa dirinya dulu dan apa yang terjadi padanya membuat orang lain merasa.... beberapa ada yang kagum tapi segan, takut, iri dan benci.


Berbeda dengan Nicole yang sudah berbaur dan terlihat ramah mengobrol dengan beberapa gadis cantik disana, dia menjadi pusat perhatian karena menyapa setiap orang yang belum dikenalnya.


"Richela itu ternyata sombong ya.. aku baru tau, sangat berbeda dengan Nicole yang ramah." Bisik salah satu peserta dan diikuti peserta lainnya.


"Tapi waktu di VENUS dia terlihat ramah loh." Timpal yang lain.


"Mungkin kedok, lihat saja disini dia hanya diam tidak berbaur dengan yang lain." Kata yang lainnya lagi.


Padahal bukan hanya Richela yang diam tak mengobrol, banyak peserta juga yang diam karena bingung, mereka sendirian dan tidak mengenal siapapun. Richela juga bukannya tidak mau berbaur atau mengobrol, tapi setiap dia mendekati seseorang pasti orang tersebut merasa canggung dan hanya menjawab seadanya saja. Makanya Richela memilih diam saja.


"Semua... dengarkan!" Teriak salah satu panitia, seorang wanita muda memberi aba-aba.


"Semuanya berbaris dan mengambil nomor antrian, lalu masuk kedalam bus sesuai nomor." Ucapnya menggunakan pengeras suara.


Peserta mengantri dan Richela ternyata mendapat nomor 40 dan di bus nomor 2 dan dia segera menaiki bus tersebut. Tak lama dia juga melihat Nicole yang naik ke bus yang sama dengan nomor urut 51.


Perjalanan ternyata cukup jauh, mereka di dalam bus hampir 1 jam lamanya menuju tempat karantina dan latihan selama mengikuti Be A Star.


Sampai disana, ternyata adalah sebuah hotel dekat pinggiran kota dengan fasilitas sangat lengkap dan terlihat baru.


"Berbaris sesuai urutan lalu ikuti tanda panah menuju aula sebelum pembagian kunci kamar." Teriak panitia wanita tadi, Richela mengintip sebentar pada tanda pengenalnya bertuliskan Valeria.


Valeria mengatur semua gadis itu masuk ke aula untuk memberikan buku yang berisi aturan yang harus mereka patuhi dan beberapa peraturan tidak tertulis lainnya.


"Mohon perhatiannya, saya Valeria dan kalian akan tinggal disini selama beberapa bulan kedepan, buku yang kalian pegang saat ini berisi peraturan yang tidak boleh di langgar. Sekarang saya memberikan waktu 10 menit untuk menghubungi keluarga dan mengirimkan pesan nomor telepon dan email panitia yang tertera di buku. Setelah ini ponsel kalian akan di amankan, setiap hari hanya pada jam istirahat dan malam hari ponsel kalian akan di kembalikan."


Valeria memberi arahan dan peserta langsung mengirimkan pesan pada keluarga masing-masing.


Begitu juga dengan Richela yang hanya mengabari Bell saja biar aman, sebab dia takut jika ponselnya dibuka oleh orang lain yang sebelumnya sudah dia bersihkan.


"Pembagian kamar akan di acak dengan 4 orang per kamar dan sesuai nomor urut. Jika ada keluhan bisa langsung menghubungi kami, ada 6 panitia di asrama ini untuk membantu kalian."


Peserta masuk ke dalam kamar, Richela sekamar dengan 3 gadis lainnya yang belum dia kenal. Mereka akhirnya berkenalan dengan Richela lah yang memulai obrolan.


"Aku di ranjang bawah ya Richela.." Kata Monica yang melihat ranjang bagian bawah sedangkan ranjang 1 nya lagi sudah diisi oleh 2 lainnya.


"Iya, aku dimana saja ok kok." Jawab Richela yang sedang menggeret kopernya.


"Terima kasih." Ucap Monica dengan senyum cantiknya.


"Ayo cepat, kita hanya diberi waktu 15 menit." Ajak Richela pada 3 teman sekamarnya. Mereka menuruti Richela dan mengikutinya sebab mereka pikir Richela yang sudah pernah debut akan lebih paham.


Jam sudah menunjukan pukul 11 siang dan para peserta sudah ada di sebuah ruangan yang cukup besar untuk menampung 60 orang. Disana mereka diberitahukan apa saja aktifitas dan bagaimana perlombaan ajang bakat ini berlangsung.


"Setiap waktu kalian akan di ikuti kamera dan keseharian kalian akan di tayangkan di TVB setiap Senin, Rabu, Kamis dan Jumat. Setiap acara live akan di selenggarakan setiap Sabtu dan Minggu. Sabtu adalah perlombaan kalian dan minggu menjadi hari dimana peserta yang votingnya paling rendah akan di eliminasi sekaligus pemilihan konsep untuk perlombaan berikutnya." Jelas Valeria melalui microphone nya.


Para peserta terlihat sedikit panik di raut wajah mereka, padahal pembagian kelompok belum di mulai tapi rasa tegang sudah menjalar di tubuh mereka.


"Kalian akan di bagi menjadi 6 kelompok membentuk group dengan 10 orang secara acak. Silakan perhatikan layar dan nanti kalian akan mendapatkan seragam." Valeria memberi kode pada salah satu temannya dan muncul lah 10 nama secara acak untuk kelompok A.


Sepuluh nama pertama, termasuk Nicole tertera disana, lalu kelompok B, C dan kelompok D nama Richela muncul sampai kelompok E dan F.


"Kalian akan menari dan menyanyi dengan konsep yang berbeda, penilaian kali ini adalah penonton dan voting dari juri juga 100 penonton yang hadir. Tidak ada akumulasi dalam penilaian jadi setiap minggu hasil kalian akan berbeda."


Setelah memaparkan keseluruhan peraturan dan konsep minggu ini, Valeria mempersilahkan paa peserta untuk makan siang lalu kembali ke aula untuk melanjutkan latihan nantinya.


Richela berjalan ke depan, mereka berbaris dan mengambil seragam kelompok D dengan tanda nama yang lumayan besar yang harus selalu menempel pada bajunya.


Richela melihat ke sekeliling dan memperhatikan siapa saja yang satu kelompok dengannya dan harus menyapa mereka agar tidak canggung.


Setelah makan siang, mereka kembali ke aula yang sudah kosong, seluruh kursi telah di singkirkan dan mereka harus mencari posisi nyamannya sendiri. Aula itu berubah menjadi ruangan kosong yang cocok untuk latihan menari. Mereka cukup bingung karena belum ada pemberitahuan lagu apa yang akan mereka bawakan.


"Perhatian, kelompok A silakan menuju pintu A dan begitu seterusnya. Siang ini akan diadakan wawancara." Teriak salah satu panitia di aula itu. Semua menurut dan berjalan teratur menuju pintu yang sesuai dengan kelompoknya.