My Venus

My Venus
BAB 65



Keadaan Richela langsung menjadi topik hangat di portal berita, karena banyak yang mendadak menjadi wartawan pada malam itu. Foto Richela dengan kaki di perban dan mengeluarkan banyak darah tersebar dimana-mana.


"Kami akan ke rumah sakit. Kau disini saja ok.." Elios sejak tadi membujuk Bell untuk di rumah saja, mereka sudah pulang ke rumah karena tidak mau berlama-lama di studio.


"Justru aku yang kesana biar orang tidak curiga." Kata Bell keras kepala.


"Tapi baby.. kau sedang hamil besar dan menunggu persalinan." Cegah Elios lagi.


"Ck.. buka kamar untukku dan aku bisa bebas keluar masuk RS, kau tidak perlu cemas." Ujar Bell lagi sampai akhirnya Elios mengalah.


Kamar yang mereka pesan khusus masih akan di gunakan seminggu lagi karena HPL Bell minggu depan. Tapi karena dia ingin sekali melihat keadaan Richela akhirnya Elios setuju, Bell langsung saja ke RS dan menginap disana. lantai khusus untuk keluarga Tierney. Tentu saja ini rahasia dan dokter yang bertugas juga dokter keluarga yang bisa menjaga rahasia.


"Nona Bell, apakah anda datang ingin mengunjungi Richela?" Tanya wartawan yang mengerubungi Bell yang telah di jaga ketat oleh bodyguard.


"HPL saya sudah dekat dan juga sekalian ingin melihat Richela. jadi tolong beri jalan ya.. saya sedikit sesak." Jawab Bell lalu para bodyguard menghalau wartawan sampai Bell masuk dengan selamat, memang Bell sengaja agar wartawan tau dia ada di RS itu agar leluasa bertemu dengan Richela tanpa sembunyi-sembunyi.


\= = = = =


"Via... huaaa... kenapa bisa begini?" Tanya Bell begitu masuk ke ruang rawat Richela.


"Tidak tau, jangan menangis Bell aku belum mati." Kata Richela sambil membalas pelukan Bell.


"Ck.. siapa bilang kau sudah mati! Aku hanya khawatir." Balas Bell lalu duduk di tepi ranjang.


"Duduk lah di sofa, disini tidak nyaman." Usir Richela, Bell mencebik tapi dia nurut untuk duduk di sofa yang sudah ada asistennya disana.


"Neil sangat marah saat tau dalam sepatumu ada kaca. Tapi kenapa bisa? Bukankah sepatu kalian tersimpan rapi oleh panitia?" Tanya Bell dan Richela mengangguk.


"Tadi sepatuku sempat hilang, kami menemukannya pada detik terakhir. Maisie menemukannya dan menarik kotak sepatu dari dalam tumpukan pakaian ganti kami." Jelas Richela yang juga sudah dia beritahukan pada panitia.


"Aneh.. pasti ada yang sengaja." Timpal Bell.


Di ruang dokter yang menangani Richela tadi, Neil sedang disana untuk mencari tau keadaan gadis yang sangat dia cintai itu.


"Kaca itu melukai jari bagian dalam, itu cukup dalam sampai harus mendapatkan banyak jahitan lalu luka juga ada sampai telapak kaki. Jika di lihat, kaca itu bergeser karena nona Richela memaksakan menari." Jelas dokter.


Neil tampak geram, tapi dia menutupinya karena disana juga ada penanggung jawab acara. Neil hanya sebagai pendengar mewakili Tierney Group yang menjadi pemilik acara ini.


"Kesembuhannya apakah lama?" Tanya Justin.


"Untuk sembuh saja hanya butuh 7-12 hari tapi jangan menari atau melakukan kegiatan yang berat menggunakan kaki tersebut sebab lukanya cukup dalam." Jawab dokter dan Justin menghela berat. Tidak mungkin hanya demi 1 gadis acara ini di tunda.


"Baiklah terima kasih." Ucap Justin lalu dia dan beberapa orang disana pergi.


Justin harus turun tangan sebab sudah dapat di pastikan ini adalah kesengajaan karena tidak mungkin ada kaca dalam sepatu yang tertutup rapi di dalam kotaknya. Dia juga harus menjelaskan ke wartawan agar acara tetap dapat berlangsung.


"Persaingan tidak sehat." Gumam Neil yang dapat di dengar oleh Justin.


"Saya akan bereskan ini, tolong sampaikan pada Tuan Elios." Kata Justin dengan pasrah.


"Selidiki ini sampai tuntas dan temukan pelakukanya." Jawab Neil dengan wajah datar dan dingin. Justin menelan salivanya dengan susah payah karena dia tau Neil sama tegasnya dengan Elios bahkan banyak keputusan Elios berasal dari analisa Neil.


.


.


.


"El.. ngapain disini?" Tanya Richela saat tau Neil yang membuka pintu kamar rawatnya.


"Aku merindukanmu dan sangat mengkhawatirkanmu My Venus." Jawab Neil lalu memeluk Richela dengan erat, gadis itu sedang duduk di sofa bermain ponsel karena dia merasa bosan. Bell sudah kembali ke kamar VIP nya diatas karena Elios melarangnya berlama-lama.


"Astaga, kalian.." Ujar Elios yang juga baru membuka pintu kamar melihat Neil dan Richela berpelukan.


"Untung aku yang masuk, coba orang lain." Gerutu Elios lalu juga memeluk adik tersayangnya.


"Kau tidak lihat pengawal di depan, kalau bukan kau tidak ada yang bisa masuk." Protes Neil pada calon kakak iparnya itu.


"James sudah mengecek semua cctv dan Xena juga, mereka curiga pada Nicole tapi tidak punya bukti. Ada vas bunga besar yang jatuh dan dia kebetulan ada disana. Tapi kapan dia memasukkan kaca itu yang tidak tau." Jelas Elios pada Neil dan Richela.


"Aku tidak sabar ingin menghancurkannya." Geram Neil tapi dia langsung mendapatkan cubitan dari Richela.


"Menghancurkan apa? Dia hanya iri padaku jangan sembarangan menghancurkan seseorang." Ujar Richela tapi Neil hanya bisa menggerutu dalam hati.


Richela masih berpikir kalau Nicole hanya sebatas iri dan tidak melakukan hal buruk lainnya. Sementara Neil sejak dulu sudah mengantongi bukti kebusukan Nicole untuk masuk ke dunia hiburan.


"Baiklah aku kembali ke kamar Bell saja. Kalian membuatku iri." Ketus Elios saat melihat Neil sudah bermanja pada Richela.


"Ya sudah sana.." Usir Neil yang mendapat cibiran dari Elios, Neil hanya tertawa kecil.


"Jadi masih mau lanjut?" Tanya Neil dan Richela tau arah pembicaraannya.


"Pasti, aku tetap akan berusaha meskipun tidak menang." Jawab Richela sambil terus menepis tangan Neil yang sudah nakal bermain di dadanya, pria tampan ini memang sangat suka bermain disana.


"Tapi kata dokter biarpun sembuh, kakimu tidak boleh dipakai untuk melakukan hal berat." Sambung Neil yang sudah berhasil menerobos ke dalam baju Richela.


"Iya tapi tetap saja aku akan kembali, tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Dan tanganmu kondiskan El.. aku sedang sakit." Protes Richela tapi Neil seakan tuli.


"Yang sakit itu kakimu bukan dadamu." Jawab Neil dan Richela hanya pasrah.


"Aku begitu rindu padamu sayang.." Bisik Neil lalu mengangkat tubuh Richela dan dibaringkan ke ranjang.


"Aku mau tidur, ngantuk." Ucap Richela beralasan agar Neil berhenti.


"Baiklah.. tidur saja, aku hanya sebentar bermain dengan mochi ini." Kata Neil yang masih asik dengan mainan kenyalnya. Tapi benar saja, Richela biasanya akan terpancing tapi kali ini dia langsung tertidur lelap. Neil yang juga kasihan tidak melanjutkan kenakalannya dan membiarkan gadisnya untuk istirahat.


.


.


.