
Meskipun Neil menolak kartu VIP dari Jose, dia tetap datang ke club itu di jam 9 malam tetapi Neil memilih duduk seperti kemarin dan menikmati wine sambil matanya sesekali melirik ke arah wanita cantik dengan tubuh sempurna seperti model. Wanita bergaun ketat warna hitam itu juga sesekali melirik manja pada Neil.
"Yeah.. saatnya beraksi." Gumam Rey lalu jalan mendekati Neil.
"Selamat malam Tuan Neil." Sapa Rey dengan senyum ramahnya.
"Kau Reymond si aktor itu." Kata Neil dan Rey mengangguk.
"Wah sebuah kehormatan dikenali oleh anda Tuan Neil." Balas Rey lalu dia memberikan kartu seperti yang diberikan oleh Jose sore tadi.
"Tempelkan kartu ini di tombol lift dan tekan angka 1." Bisik Rey lalu dia meninggalkan Neil yang masih tidak mengerti dengan kartu ini. Hanya ada tulisan M&S tanpa ada apapun lagi.
Neil meminum wine nya dan melirik ke arah depan, dia tidak menemukan wanita tadi lagi. 'Apa James menariknya kembali?' Tanya Neil dalam hati tapi dia tidak mau memikirkan itu, dia hanya mau tau dan sangat penasaran pada apa yang diucapkan Rey tadi dan segera ke arah lift.
Dia menempelkan kartu itu diantara tombol lift dan muncul lagi angka di bawah tombol itu seperti layar touch screen, dia menyentuh lantai 1 dan lift itu bukan naik tetapi turun, sekitar 10 detik lift berhenti dan pintu terbuka.
Disana sudah menunggu seorang pelayan yang mengantarkan Neil ke salah satu pintu ruangan yang hanya terbuka dengan kartu pelayan itu. Neil masuk dan didalam sudah menunggu Rey yang sedang menyetel sesuatu.
"Ada apa ini?" Tanya Neil tidak mengerti karena wanita yang dia lihat tadi sudah terbaring lemah di tempat tidur queen size di ruangan itu.
"Selamat datang, karena anda sudah menjadi pelanggan VVIP kami Tuan Neil. Silakan menikmati pelayanan kami." Ucap Rey pada Neil yang masih tidak mengerti.
"Jelaskan padaku." Perintah Neil dengan nada tegas dan rendah membuat Rey sedikit takut padanya tapi dia berusaha tenang.
"Kami bisa menyediakan wanita jenis apapun, anda ingin wanita seperti apa hanya request dan bayar, untuk kali ini kami memberikan gratis dan ini, sebagai kenang-kenangan dan koleksi anda saja." Jelas Rey singkat dan Neil mulai bisa menangkap maksud dari perkataan Rey.
'Jadi inilah yang ada di dalam club ini, aku akan membongkar semua kedok kalian. Tunggu saja.' Batin Neil.
"Jadi maksudmu aku harus merekam kegiatan bercintaku?" Tanya Neil dan Rey mengangguk.
"Hanya untuk berjaga-jaga agar mereka tidak berkicau Tuan." Jawab Rey.
"Aku tidak suka, singkirkan itu dan bawa wanita ini ke hotelku. Aku butuh privacy." Perintah Neil dengan tegas.
"Tenang saja, akan aku bayar, katakan jumlahnya." Lanjut Neil lagi yang langsung membuat Rey tersenyum lebar lalu membisikkan sesuatu pada Neil.
"Ambil ini dan aku ingin..." Neil membisikkan nama wanita yang dia inginkan.
"Bukan disini dan tanpa kamera, jika ada kamera maka aku batalkan semuanya." Ancam Neil dan Rey mengangguk paham.
Wanita tadi sudah dibawa keluar oleh pengawal Rey dan Neil membawanya ke hotel seperti sebelumnya.
"James, aku tidak tau mereka memberikan apa padanya." Kata Neil sedikit khawatir karena wanita tadi sudah sadar tetapi sangat lemah.
"Jangan khawatir Tuan, kami akan memeriksanya dan merawatnya dengan baik." Jawab James lalu wanita itu dibawa untuk di periksa di klinik rahasia mereka.
Neil kemabli ke kamarnya dan membuka kontak lens yang dia pakai, bukan kontak lens biasa, semua yang terjadi sudah terekam dan terkirim otomatis ke kantor pusat AFS (Ace Security Force) dan tentu saja Robb juga akan mendapatkan salinannya.
"Aku akan pulang saja, bosan di hotel terus." Gumam Neil lalu dia segera keluar dan sengaja memilih melewati loby dan di jemput oleh supirnya untuk mengelabui orang yang masih membuntutinya. Seakan-akan dia sedang buru-buru karena suatu hal.
Pukul 1 malam baru lah Neil sampai ke apartemennya dan langsung di sambut oleh Richela yang juga baru pulang dan selesai mandi.
"Kau sudah mandi?" Tanya Richela.
"Sudah di hotel tadi." Jawab Neil yang langsung merebahkan dirinya.
"Kenapa?" Tanya Richela yang sudah duduk di sebelah Neil.
"Lelah sekali, besok masih harus kesana. Tidak bisakah kita sudahi saja?" Tanya Neil dengan tatapan mengiba.
"Jangan begitu, kita harus bantu mereka El.. kau tidak kasihan? Bagaimana kalau seandainya aku juga korbannya?"
"Tidak akan terjadi, aku akan menjagamu dengan baik sayang."
"Makanya, aku beruntung punya kau dan kakak, mereka? Tidak ada yang membantu. Dan kali ini aku juga tidak akan memaafkan Nicole jika dia terlibat."
Neil menatap pada Richela, "Kenapa? Kau tau sesuatu?" Tanya Neil dan Richela mengangguk.
.
.
.
"Hai Nicole, lama tidak bertemu." Sapa Marcy pada Nicole yang ada di studio 6 gedung T's Ent.
"Wah Marcy, lama tidak bertemu." Nicole balik menyapanya dan memeluk sebentar temannya itu.
"Kau syuting video klip ini kan? Aku sangat senang saat tau kau bintang video nya." Kata Marcy dan Nicole sedikit bingung dengan ucapan Marcy yang seakan dia pemilik lagu ini.
"Jangan bingung, aku yang menciptakan lagu ini tapi tidak bisa menyanyikan karena lebih cocok untuk pria." Jelas Marcy yang akhirnya membuat Nicole mengerti. Setelah berbincang sejenak Marcy pamit undur diri karena Richela sudah menunggunya.
"Kau akan ke mana Marcy dengan Richela?" Tanya Nicole sedikit penasaran.
"Kami mau ke studio sebelah, ada proyek bersama." Jawab Marcy lalu dia pergi.
Richela yang menyusul Marcy tidak sempat untuk menyapa Nicole dan lagian dia sangat malas untuk bertemu Nicole lagi.
Nicole yang sedikit penasaran proyek apa yang dikerjakan mereka diam-diam mengintip berbaur dengan banyak orang disana sampai menyapa.
'Oh ternyata pembuatan video sounstrack film nya Richela.' Batin Nicole lalu dia pergi dari sana karena sudah tau.
Syuting selesai di kedua studio itu, mereka masing-masing sedang istirahat untuk mengerjakan syuting berikutnya.
Richela yang lumayan lelah ingin membasuk wajahnya agar segar, dia berjalan santai menuju toilet yang berada di sisi lain studio karena yang terdekat sangat ramai.
Setelah dekat, sayup-sayup dia mendengar suara seseorang berbicara dan dia mengenali suara itu.
'Nicole?' Pikir Richela malas karena harus bertemu dengannya, tapi dia menjadi geram saat mendengar ucapan Nicole di dalam sana.
"Kenapa? Kau tertarik dengan Marcy? Ohh ayolah, dia hanya cantik, tubuhnya biasa saja. Akan aku carikan yang lebih bagus."
Richela mendengar itu sangat ingin menarik rambut Nicole tapi dia menahan diri dan memilih pergi dari sana untuk mengontrol emosinya.
\= = =
"Kenapa tidak dengar sampai selesai?" Protes Neil yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Richela.
"Aku sudah menahan diri untuk tidak menyeretnya tadi." Ketus Richela.
"Iya iya.. maaf, lebih baik ikuti saja permainannya tapi aku penasaran, dimana dia menyembunyikan semuanya?"
Bukan hanya Neil yang berpikir tapi Richela juga.
"Sepertinya dia punya ponsel lebih dari 1." Kata Richela yang mengingat saat dia tidak sengaja menemukan ponsel di lemari Nicole saat mencari sesuatu.
"Sudah biasa kan." Sahut Neil.
"Tidak, ponsel itu tersimpan dalam box dengan rapi dan dalam keadaan mati. Kalau biasanya kita akan memakai kedua ponsel kan?"
"Benar juga, apa kita bisa mengambil ponsel itu?" Tanya Richela lagi.
"Asistennya pribadi atau dari perusahaan?" Tanya Neil.
"Pribadi, yang perusahaan hanya manager." Jawab Richela dan Neil hanya mengangguk.
"Sudah, pikirkan besok. Kita butuh istirahat sayang."
"Iya, aku juga lelah sekali."
.
.
.