
DUAARRR!!!
Rumah itu meledak dan terbakar.
"AAHHHKKK TIDAK RUMAHKU.. ANAK DAN CUCUKU DI DALAM." Teriak Alea histeris, 2 pengawal memegangnya agar tidak berontak.
"Tenang Alea!" Bentak James dan Alea terdiam dia takut dan dia sangat menyesal.
"Anak dan cucumu aman, sudah kami pindahkan 15 menit lalu. Sudah aku bilang, kami memantau rumahmu.
"Sekarang katakan apa yang kau ketahui tentang Maria?" Tanya James lagi dan Alea masih menangis.
"Lihat layar itu, mereka baik-baik saja." Ujar James lagi dan akhirnya Alea jatuh terduduk, dia lega melihat cucu dan menantunya sedang main di rumah yang dia kenal. Itu rumah besannya yang tak jauh dari rumahnya.
"Aku punya bukti percakapan Maria dengan Juan, mereka merencanakan pembunuhan Tuan dan Nyonya Tierney. Aku juga mengambil surat akta lahir Maria dan sebuah foto. Dia bukanlah Maria yang sebenarnya, dia adalah teman Maria yang telah membunuh Maria dan menggantikannya." Jelas Alea masih menangis, tapi dia menangis karena lega.
James sangat terkejut, inilah yang telah mereka nantikan selama ini. Apakah masalah ini akan berakhir?
"Bisa kau jelaskan lagi dan dimana bukti itu?" Tanya James, dia ketakutan. Takut kalau bukti itu ada dirumah Alea.
"Bukti asli itu ada di makam Tuan dan Nyonya Tierney, aku memasukkan semuanya dalam wadah dan melemparkannya bersama peti saat orang lain lengah, aku adalah pelayan Maria sejak dia masuk ke keluarga Tierney." Jelas Alea.
"Lalu maksud Maria bukan Maria?" Tanya James lagi karena dia sangat penasaran.
"Carilah bukti itu dan kalian akan tau. Maria sudah meninggal lama, Maria yang sekarang adalah wanita serakah yang ingin menjadi nona muda kaya karena iri." Jawab Alea lagi dengan geram.
"Aku tau karena dulu aku pelayan kepercayaannya dan dia sudah beberapa kali melakukan operasi agar mirip Maria, makanya dia selalu berdandan tebal untuk menutupi wajah aslinya yang sedikit aneh karena operasi plastik dulu tidak sebagus sekarang." Jelas Alea lagi, dan James sangat terkejut lalu dia segera keluar dari ruangan itu untuk memberitahukan pada Tuannya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
James masuk ke dalam apartemen Elios dan disana juga ada Neil, mereka baru selesai membahas pekerjaan di ruang kerja dan tiba-tiba James masuk.
"Ada apa James, kau terlihat gelisah?" Tanya Elios yang heran melihat James seperti itu.
"Maaf Tuan, saya mencari Tuan Neil." Jawab James dan Elios menunjuk ke arah sofa dimana Neil sedang merapikan pekerjaanya.
"Tuan saya mau melaporkan sesuatu." Ujar James lalu menceritakan semuanya.
"Jadi bukti itu ada di dalam makam?" Tanya Neil memastikan.
"Iya Tuan, begitulah yang diceritakan Alea." Jawab James dengan tegas.
"Jika harus membongkar makam itu dan mereka akan curiga James." Sahut Elios.
"Tapi kita tidak punya pilihan Tuan." Balas James, sementara Neil masih diam dan berpikir.
"Begini, Elios bisa mengunjungi makam dan melihat-lihat, lalu utarakan keinginanmu untuk renovasi, dan James tempatkan anggotamu untuk mengikuti pekerjaan renovasi sambil mencari bukti itu." Saran Naeil dan Elios setuju.
Benar saja, hari penggalian makam dipantau dari jauh oleh orang tak dikenal yang kemungkinan adalah orang suruhan Rey atau Maria.
"Tenang Tuan, barangnya sudah kami amankan." Lapor James sedikit berbisik dan Neil serta Elios hanya diam saja karena tidak ingin orang yang memantau jadi curiga.
"Kita kembali sebentar lagi, Elios mintalah pada mereka agar membuat taman bunga di sekitar sini, mom sangat suka bunga apa saja." Ujar Neil lalu Elios segera mengerjakan perintah Neil.
"Tuan, ini buktinya." James memberikan sebuah bungkusan didalamnya terdapat wadah plastik yang tertutup rapat, tidak terlalu besar karena setelah dibuka semua yang ada digulung dengan baik.
"Ini akta lahir Maria? Tertera nama Maria Magdalena bukan Adele Maria." Ucap Neil lalu beralih ke gulungan lainnya. Beberapa foto, dua orang wanita masih remaja. Foto itu terlihat mereka seperti memakai seragam sekolah dan warna serta potongan rambut yang sama.
"Mereka terlihat mirip James." Ujar Neil lalu menyerahkan foto itu pada James dan Elios.
"Benar, jika kita tidak tau akan mengira mereka adalah saudara." Elios membenarkan.
"Coba kita buka rekaman itu Tuan." Kata James dengan menunjuk sebuah rekorder kecil di dalamnya. Neil mulai menekan tombol disana dan James dengan kameranya juga merekam rekorder itu.
"Tidak bersuara." Kata Elios lalu James mengambilnya dan dia sudah memperkirakan.
"Ini menggunakan baterai, aku akan menyuruh Shu untuk mencarinya." Ucap James lalu mengirimkan pesan.
"Sekalian panggilah Robb untuk kemari dan kita selesaikan segera." Perintah Neil lagi, dia tidak ingin terlalu lama jika memang benar Maria lah pelakuknya.
Beberapa saat kemudian, Shu datang dan tak lama polisi bernama Robb juga datang dan mereka mendengarkan rekorder itu.
***"Aku tidak mau menunggu lama Juan\, cari mereka dan singkirkan bersama anaknya sekalian. Aku tidak mau Ronan mengacaukan segalanya. Aku sudah bersusah payah menyingkirkan Adele untuk berada di tempatnya Juan!" ***
Terdengar suara Maria yang berteriak dari rekorder itu, hingga Neil dan Elios saling pandang begitu juga James dan Robb. Kamera James juga masih menyala agar terbukti tidak ada kecurangan dalam bukti itu.
***"Baik Nyonya\, saya akan melakukannya dan anda tenang. Semuanya akan selesai \, anda bisa berlibur dan kami yang bekerja." ***
"Robb, apakah bukti ini bisa di gunakan?" Tanya Neil, wajahnya terlihat sangat marah, tangannya mengepal kuat.
"Kami akan melakukan penyelidikan kembali Tuan, mohon anda tunggu hasilnya." Jawab Robb yang belum berani mengiyakan pertanyaan itu.
"Berarti ayahku tau rahasianya, makanya orang tua ku di buru. Aku tidak akan memaafkannya." Ujar Neil dengan geram, dia mengepalkan tangannya dengan erat menyalurkan emosinya.
"Jika tidak bisa, jerat dia dengan hukum, gunakan ini." Neil melempar tumpukan bukti yang sangat banyak di depan Robb, lalu polisi itu membuka dan baru melihat beberapa lembar foto dia sudah menutupnya kembali.
"Ini akan menjadi bukti kuat, kami akan bekerja dengan baik, terima kasih atas kerja sama anda Tuan Elios." Ucap Robb pada Neil dan dia mengangguk.
"Ini akan selesai." Ucap Neil lagi dan Elios menepuk pundaknya sesaat, menguatkannya karena Elios tau betapa terluka dan sedihnya Neil selama ini.
.
.