My Venus

My Venus
BAB 53



Elios keluar dari kamar mandi, akhirnya dia berhasil menenangkan adik kecilnya yang tidak kecil itu. Begitu dia melihat kamarnya.


"Bell?" Ucapnya lalu memperhatikan lagi dengan seksama.


"Ah ini gila... kenapa Bell ada disini?" Elios mengguyar rambutnya dengan kasar, adiknya telah bangun lagi melihat Bell begitu seksi dengan gaun tersingkap dan gaun tali spageti itu turun apalagi bell tidur menyamping dan terpampanglah punggung mulus nan indah.


"Oh Bell.. kenapa kau bisa disini, aku tidak bisa menahan diri nantinya." Ucap Elios lagi dengan menahan hasratnya. Tak lama Bell membuka matanya dan dia merasakan perasaan aneh.


"Ah..." Suara Bell terdengar indah di telinga Elios.


"Panas... "Lirih Bell dan akhirnya Elios sadar kalau Bell juga meminum obat.


"Elios.." Panggil Bell begitu matanya menangkap sosok Elios di depannya. Dia langsung bangun dan berlutut diatas ranjang lalu membuka gaunnya dan hanya meninggalkan segitiga pengaman yang begitu mini juga.


"Bell.. jangan begini." Ucap Elios mendekat, ingin menutup tubuh indah itu dengan selimut tapi Bell lebih cepat dan langsung memeluknya lalu menggigit pundak Elios, seketika milik Elios menegang lagi dengan sempurna. Bell kemudian melepaskan pundak itu dan mulai mencium dada bidang Elios terus menerus dan berpindah tempat sampai keperut kotak-kotaknya.


Elios masih mematung, berusaha menekan nafsunya tapi Bell semakin liar, bathrobe Elios sudah dia lempar jauh dan tangannya dengan liar meraba adik Elios yang sudah berdiri sempurna.


"Ada lolipop.." Ucap Bell dengan tertawa kecil lalu tangannya mengelus sesuatu yang dia kira adalah lolipop, perlahanĀ  dia turun dan berjongkok menj%ilati lolipop itu.


"Ssshhh..." Desis Elios setelah Bell berhasil melahap lolipop besar itu dengan mulut mungilnya.


"Jangan salahkan aku Bell, aku akan bertanggung jawab nanti." Elios langsung menarik Bell dan merebahkannya, ditariknya pelindung satu-satunya milik Bell dan melemparkannya ke sembarang arah.


Dia membuka kedua kaki Bell dan melihat sesuatu yang indah, mulus tanpa penghalang alaminya yaitu hutan rimba.


"Aku suka, ini sangat imut." Ucap Elios lalu membenamkan wajahnya disana. Bell meracau dan berteriak, mend$esah hebat saat lidah Elios dengan lihai bermain disana sampai milik Bell menjadi basah dan licin. Dua jarinya juga sudah masuk untuk mempemudah jalannya lolipop.


"Aku mulai baby Bell." Lirih Elios lalu memposisikan miliknya tepat dan perlahan masuk sampai seluruhnya. Tidak terlalu sulit karena Elios telah membuka jalannya sampai benar-benar basah dan licin.


"Ah ah ah..." Des ahan bersahutan, Bell yang awalnya merasa sedikit sakit kini malah paling bersemangat. Mereka bahkan sudah ronde kedua malam ini. Sampai akhirnya Elios kembali menyemburkan benihnya di dalam.


Bell sudah terkulai lemas, dia tidak sanggup membuka mata lagi dan langsung tertidur.


"I love you Bell." Ucap Elios lalu mengecup puncak kepala Bell dengan rasa sayang luar biasa.


.


.


Bell yang terbagun duluan di pagi mejelang siang, begitu terkejut dan merasakan perih di tubuh bawah miliknya. Dia melihat ke tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Perlahan dia mengingat malam tadi dia di culik oleh seorang pria tua.


"Huaaa... huaa hiks hiks..." Bell menangis lirih, lalu melihat kesebelahnya ada seseorang yang tidur telungkup hanya memperlihatkan bahunya karena seluruh tubuhnya ditutupi selimut yang sama dengannya.


"Dasar brengsek, kau menculik dan memperkosaku, aku akan membunuhmu." Bell terus memukul dan mengumpat sampai pria disampingnya bangun karena terkejut.


"Bell.. stop hentikan." Ucap Elios yang membuat Bell berhenti menangis, dia menatap Elios.


"Elios.. hiks.. aku sudah kotor, pria tua itu memperkosaku.." Tangis Bell pecah lagi membuat Elios tambah bingung.


"Ada apa baby.. tidak ada pria tua, aku lah yang bersamamu tadi malam. Lihat ini.." Elios menarik Bell yang terus menutupi dirinya dengan selimut. Bell melirik ke Elios dan benar, tubuh pria itu penuh dengan tanda merah.


"Ini kenapa Elios?" Tanya Bell dengan polosnya.


"Ini ulahmu baby Bell. Lihat sampai disini disini dan disini." Elios menunjuk dadanya, perutnya dan membuka selimut dan menunjuk lolipopnya yang masih mengecil.


Bell melotot terkejut lalu memalingkan wajahnya menghadap tempat lain.


"Ak a aku mana ada melakukan itu." Ucapnya seraya menutup wajahnya, dia benar-benar tidak ingat.


"Lihat ini." Elios menyibakkan selimut lalu terlihat bercak merah tanda keperawanan Bell yang telah hilang lalu menunjuk ke arah lolipopnya lagi yang ada sedikit sisa disana.


"Aku tidak ingat." Lirih Bell.


"Tidak apa-apa, kita bisa mengulangnya biar kamu ingat." Ujar Elios lalu menarik Bell ke dalam pelukannya.


"Kamu menyesal tidak?" Tanya Elios dan Bell menggeleng.


"Baguslah kalau itu kau Elios, aku kira sudah di perkosa oleh pria tua itu." Lirih Bell yang membuat Elios tiba-tiba marah.


"Pria tua siapa? Kemarin aku juga di jebak minum obat dengan dosis tinggi dan ini lah hasilnya dan kau juga sama." Jelas Elios yang mulai sadar mereka dijebak tapi oleh siapa?


"Sekarang kita mandi ya." Elios mau menggendong Bell tapi gadis itu menolaknya.


"Aku bisa sendiri." Tolaknya.


"Ya sudah, coba jalan .." Elios menunggu Bell tapi menggeser duduknya saja dia kesakitan.


"Sakit.." Cicitnya lemah. Elios tersenyum dan langsung membopong Bell dan gadis itu akhirnya pasrah. Elios mendudukkan Bell di dalam bathtub lalu mengisi air hangat, sabun dan aroma therapy agar mereka lebih rileks.


"Aku bantu bersihkan." Ujar Elios lalu ikut masuk kedalam, Bell sejak tadi tidak berani memandang Elios karena pria itu juga sama polosnya dengan dirinya, bahkan lolipopnya tampak mulai menegang.


"Elios duduk dibelakang Bell dan membantu gadis itu membersihkan diri, tangannya menggosok punggung, lalu beralih ke dada dan bermain lama disana.


"Kenapa tidak pindah sih..?" Keluh Bell yang sejak tadi merasa geli tapi dia menahannya.


"Iya ini pindah." Ucap Elios lalu tangannya malah menyentuh bagian bawah dan Bell sontak mengeluarkan suara yang mampu membuat Elios juga menegang sempurna.


"Ah stop.. ini oh El.. Elios.." Bell kembali meracau saat Elios bermain di bawah sana.


"Kita lakukan sekali lagi baby." Ujar Elios lalu mengangkat tubuh Bell dan dia langsung melesak masuk, dibantu oleh licinnya cairan sabun, lebih mudah untuknya.


Dia memompa cepat hingga Bell tidak tahan lagi dan sudah mencapai puncak 2 kali tapi Elios masih dengan gerakan yang sama belum mengeluarkan benihnya.


"Kita pindah." Bisik Elios lalu mengeluarkan lolipopnya, mengangkat Bell pindah ke bawah shower, mereka membilas diri sambil berdiri. Elios mengangkat tubuh Bell yang mungil lalu menyenderkannya ke dinding, kaki Bell mengapit pinggang Elios dan tangannya menggantung di lehernya.


Elios kembali masuk dan memaju mundurkan pinggangnya, terus sampai kembali lagi mereka terbang bersama.


"Aku lelah.." Ucap Bell dengan lirih, bibirnya sudah tampak keriput dan pucat.


"Ah.. maaf baby."


Elios kembali membersihkan tubuh Bell dengan telaten dan kembali membaringkan Bell di atas tempat tidurnya.