
Nicole masih termenung duduk di kursi taman, dia merasa tidak akan berhasil melewati casting yang akan dia lakukan.
Jadwal casting dirinya diundur 1 bulan lagi karena bulan depan dia harus ujian semester di sekolahnya.
.
.
Selesai dengan ujiannya, Nicole sedang berlatih modeling dan menyanyi dirumahnya yang memang sering kosong karena ayahnya memiliki 2 mini market jadi ayah dan ibunya membagi tugas di 2 mini market sedangkan adiknya sering menemani ibunya.
"Wah benar, dia orangnya. Ternyata dia beneran debut." Gumam Nicole saat melihat televisi, Selly yang dia lihat bersama Jose akhirnya muncul di televisi tetapi sebagai aktris pendatang baru, bukan girl group. Dia sudah mendapatkan peran yang cukup lumayan untuk drama.
Ada terlintas di pikirannya apakah dia akan melakukan hal yang sama? Apakah akan sebanding dengan apa yang akan dia dapatkan?
.
.
.
Casting telah selesai, Nicole pesimis dengan hasilnya. Dia melihat banyak peserta yang mempunyai talenta luar biasa dengan hanya berjalan saja sudah terlihat aura bintangnya.
'Tidak, aku harus bisa masuk menjadi murid pelatihan disini, impianku menjadi idola dan menjadi terkenal. Aku tidak akan melepaskan kesempatan apapun.' Ucap Nicole dalam hati, dia tidak akan menunggu hasil atas kekalahannya, dia akan melakukan segala cara.
Apa dia harus belajar menggoda? Atau dia akan meminta Jose membantunya saja?
'Ah aku akan menggoda Jose saja. Dia cukup tampan di usianya yang sudah diakhir 30an.' Batin Nicole lagi. Dia lalu menggubungi Jose dan bertemu dengannya di sebuah cafe dekat gedung Monato.
"Hai Nicole, kenapa? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jose ramah dan dia memang ramah kepada siapapun.
"Aku ehm... aku melihatmu dengan Selly di taman belakang gedung waktu itu." Ucap Nicole to the point, Jose sedikit terkejut mendengarnya.
"Terus apa maumu?" Tanya Jose yang belum tau arah pembicaraan Nicole.
"Aku akan melakukan hal yang sama jika uncle bisa pastikan aku lulus kali ini." Jawabny dengan yakin meskipun jantungnya berdegub kencang antara takut dan malu.
Seringaian terlihat di bibir Jose, dia sungguh tidak menyangka gadis remaja ini juga sama dengan yang lain, ambisius.
"Kau yakin? Aku tidak ingin merusakmu. Aku memang pria brengsek tapi aku tidak memaksa atau mengancam, jika ada yang menyerahkan diri aku akan dengan senang hati menangkapnya." Ujar Jose lagi.
"Yang penting aku bisa masuk kesana." Nicole bersikukuh.
"Kenapa tidak langsung jadi bintang saja, bisa di mulai dari iklan." Tawar Jose sedikit memancing Nicole.
"Tidak, bakatku belum terasah, aku ingin melatih diriku juga. Ini kesempatanku melatih diri dengan gratis setelah itu baru mencari uang yang banyak." jawab Nicole masih berharap.
"Kau baru 16 tahun, aku yakin kau masih perawan gadis kecil." Tebak Jose.
"Iya, makanya harusnya uncle tertarik denganku yang masih segel kan?" Tanyanya lagi tanpa malu.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa memutuskan sendiri. Ada seseorang diatasku yang lebih berhak menentukan. Kau akan bersamanya dulu." Jelas Jose membuat Nicole tercekat.
"Si si a pa?"
"Jordan, si tua bangka itu pemilik Monato dan dia yang berhak. Kau masih perawan dan muda dia pasti suka." Jelas Jose sambil melihat keraguan dimata Nicole.
"Tua? Aku tidak mau. Setidaknya saat pertamaku kulakukan dengan pria tampan, uncle cocok. Meskipun sudah sedikit berumur tapi masih tampan." Ujarnya yang membuat Jose tergelak.
"Kau sungguh menggemaskan Nicole. Baiklah tapi saat keduamu nanti jangan beritahu dia kalau kau sudah tidur bersamaku, bilang saja dengan pacarmu."
Nicole mengangguk yakin dan mereka akhirnya pergi keluar cafe dan mencari tempat yang cocok.
.
.
.
Akhirnya saat pertama Nicole diberikan pada Jose. Saat ini Nicole masih terkulai lemas tak berdaya. Jose memang pemain ulung tak kenal kata ampun.
"Istirahat lah dan malam nanti baru pulang agar orang tuamu tidak curiga." Kata Jose sambil memeluk lagi tubuh lelah itu.
"Ehm.." Nicole hanya berdehem lemah dengan mata masih tertutup dan inti tubuhnya masih nyeri.
Sedangkan Jose, dia sungguh puas karena mendapatkan perawan. Dia belum pernah melakukannya dengan perawan dan masih remaja, sungguh tubuh Nicole yang masih dalam pertumbuhan itu sangat menggetarkan hatinya saat ini. Ingin rasanya hanya dia yang memiliki tubuh Nicole, tapi pikirannya itu dia tepis jauh-jauh.
"Kau sama saja dengan gadis-gadis lainnya, rela menyerahkan diri untuk ambisi dan impian." Ucap Jose pelan.
Jose mengirim pesan dengan data Nicole pada Jordan agar pria itu segera memasukkan nama Nicole kedalam daftar yang lulus, sebagai gantinya malam panas akan pria tua itu terima besok.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Aku lulus!" Teriakan Nicole menggema di kamar sampai ruang tamu rumahnya pagi itu. Orang tuanya sangat senang karena impian putrinya selangkah lebih maju.
Tapi malam ini dia harus merelakan tubuhnya di nikmati oleh James yang sudah tua, 57 tahun.
Malamnya Nicole sudah ada di kamar hotel yang telah disewa khusus untuknya. Jam masih menunjukkan pukul 7 malam, sesuai waktu yang telah dijanjikan.
"Wah.. aslinya lebih cantik." Ucap Jordan begitu melihat Nicole yang telah duduk di tepi ranjang menunggu dirinya.
"Bagaimana kalau aku berikan tambahan uang?" Tanya Jordan pada gadis itu.
"Maksudnya Tuan?" Tanya Nicole bingung.
"Sudah lah nanti saja, kita selesaikan urusan kita dulu." Jawab Jordan lalu mendekat ke Nicole dan terjadilah hal itu kembali.
"Kau bersihkan tubuh dulu, baru kita bicara." Perintah Jordan dan Nicole menurut.
Setelahnya Nicole telah terlihat segar, dia tidak begitu lelah karena Jordan bermain hanya sebentar dan ukurannya tidak sebanding dengan Jose, meskipun masih terasa perih sedikit karena ini kali kedua Nicole.
"Aku akan berikan tugas tambahan untukmu dan uangmu akan berlimpah bahkan sebelum kau menjadi bintang." Tawa Jordan dan Nicole sedikit tertarik.
"Apa itu Tuan Jordan?" Tanya Nicole dengan suara lembutnya.
"Apa sek$ itu nikmat?" Tanya Jordan dan dibalas anggukan.
"Bayangkan jika kau menikamti hal ini sekaligus mendapatkan uang, bagaimana?" Tanya Jordan lagi dan Nicole seketika terkejut.
"Aku tidak akan memaksa, hanya menawarkan saja." Lanjutnya lagi.
"Tapi, aku tidak mau jadi budak sek$ seperti di film-film itu." Kata Nicole sedikit takut.
"Hahahah tidak gadis manis, terima saja jika kau suka, jika tidak kau bisa menolaknya." Jelas Jordan lagi.
"Sudah aku undang di group itu, terima jika kau suka, jika tidak abaikan tawaran yang ada disana." Tukas Jordan lalu dia keluar kamar setelah memakai bajunya kembali.
Nicole melihat orang-orang yang terdaftar dalam group itu dan dia sangat terkejut, banyak orang kaya yang terpandang menawarkan uang untuk gadis-gadis. Bermalam 1 malam atau jadi simpanan. terserah kita yang memilih.
"Uang banyak hanya dengan tidur dengan pria-pria ini? Tidak buruk dan aku akan memilih yang tampan saja." Gumam Nicole sedikit tersenyum.
Itulah awal mula Nicole menggapai cita-citanya dalam wajah polos menjadi topeng keliarannya tanpa ada yang mengetahui.