
Pagi-pagi Bell sudah membuat kehebohan karena dia akan melahirkan. Elios yang memang juga menginap di RS langsung memanggil dokter yang standby untuk Bell.
"Sabar ya baby Bell.. sebentar lagi anak kita lahir." Ucap Elios sambil mengelus kepala dan wajah Bell yang terus menangis kesakitan.
"Mom sudah datang?" Tanya Bell sambil menahan sakitnya.
"Belum, sudah aku telepon dan mereka masih dalam perjalanan dari luar kota." Jawab Elios.
Di luar sudah menunggu asisten Bell, James, Neil dan Richela. Mereka sangat cemas karena sudah 2jam bell mengerang kesakitan. Ini juga seminggu lebih cepat dari HPL.
.
.
.
Elios terlihat bahagia sambil terus mengecup pipi gembul putranya yang baru saja lahir. Bentuk wajahnya mirip dengan Bell yang kecil bulat, mata hidung bibir semua mirip Elios.
"Ck.. aku yang sakit tapi wajahmu semua." Protes Bell yang sudah dibersihkan dan menyusui bayinya.
"Bibit unggul." Jawab Elios sambil tertawa.
"Kapan kita punya bayi sendiri?" Tanya Neil yang juga gemas pada ponakannya itu. Richela yang ada di sebelahnya cuma mencebik dan tidak mau menjawab.
"Keponakan auntie.. duh tampan sekali. Siapa namanya kak?" Tanya Richela pada Elios yang sekarang sedang menyuapi Bell.
"Ellenio Tallis." Jawab Elios.
"Baby El.." Panggil Richela gemas pada keponakannya.
"Kenapa El juga?" Protes Neil pada Richela.
"Kan Ellenio.. jadi panggilannya El." Jawab Richela tapi Neil tetap protes karena nama panggilan baby Ellenio sama dengannya.
"Baby El... auntie akan menciummu.. cup cup.." Richela mencium pipi Ellenio berkali-kali meskipun dia sedang tidur tapi bayi itu tetap terlelap seperti tanpa gangguan.
"Ck.. ayo kita bikin bayi sendiri Richi.." Kata Neil yang sedikit cemburu pada Ellenio.
"Ya ampun El.. nanti saja bikin bayinya setelah menikah." Tolak Richela yang masih asik menganggu keponakannya.
"Sudah, nanti El bangun kalian mengganggu saja, pergilah dan Richi.. jangan banyak gerak kakimu belum sembuh." Ujar Elios mengusir kedua pengganggu itu.
"Iya iya.. aku kembali ke kamar saja." Balas Richela yang sebenarnya masih gemas.
`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,`\,
"Kau gila Nicole! Kau tau itu berbahaya.. dan semua sedang menunggu hasil penyelidikan malam ini dan kau bilang kau yang melakukannya?" Justin sedang marah pada Nicole yang memberitahunya melalui telepon.
Justin mengguyar kasar rambutnya, dia tidak habis pikir Nicole dapat berbuat nekad seperti itu.
Justin menutup telepon kabel di kantornya, lalu berpikir bagaimana cara untuk membuktikan Nicole tidak bersalah? Meskipun tidak ada bukti tapi memang ada kecurigaan kalau hanya dialah yang ada di lokasi saat vas kaca itu pecah.
.
.
.
Nicole semakin tidak tenang, dia lebih banyak berada dalam kamarnya dan tidak berbaur dengan orang lain. Apalagi besok adalah hari dimana posisi dan peringkat di umumkan.
"Aku harus cari cara untuk mengelak semuanya. Sepertinya Justin tidak bisa di harapkan lagi." Gumam Nicole lalu sebuah pesan masuk ke ponselnya.
[Just] Jangan berpikir atau melakukan hal aneh, aku sudah dapat orang yang akan mengaku. Jadi diamlah dan ikuti acara ini hingga selesai.
Nicole membaca pesan itu dan dia tersenyum dengan lega. 'Akhirnya kau berguna juga.' Batin Nicole.
"Aku tidak akan tinggal diam jika Richela masih lebih unggul, dia harus dibawahku. Atau aku buat saja dia seperti Bell? Menarik juga kalau itu tertangkap kamera apalagi tertangkap basah." Gumam Nicole lagi, dengan otak liciknya dia akan menghancurkan Richela lagi kali ini.
.
.
.
Live Be A Star di hari Minggu malam selalu mendebarkan karena 10 orang lagi akan tersingkir. Kali ini Richela tidak bisa hadir karena lukanya masih belum sembuh, baru juga 1 hari dia dirawat.
Setelah pengmuman 10 orang yang tereliminasi, peringkat pun di buka. Penonton merasa kecewa karena Richela turun menjadi peringkat 7 dan Nicole di peringkat pertama, kedua adalah Amber hanya selisih 0,2%.
Lalu di lanjut dengan pemilihan kelompok yang bukan 10 orang lagi karena peserta hanya tinggal 30 orang. Mereka akan di bagi menjadi 5 kelompok dengan anggota 6 orang dengan konsep girl group.
Nicole mendapatkan kelompok A dengan Jenny dan Zola yang masih bertahan, Richela di kelompok D bersama Xena dan Monica.
Richela yang berada di rumah sakit menonton dari televisi disana bersama Elios, Bell dan juga Neil. Dia tidak sedih dan malah semangat untuk mengikuti kembali acara itu.
"Kau yakin Richi mau tetap ikut untuk minggu depan?" Tanya EL denga khawatir.
"Iya, konsep girl group sangat mudah, ini pasti kerjaan mu kan?" Tanya Richela pada Neil yang duduk di sebelahnya.
"Agar kau tidak terlalu banyak gerak sayang.." Jawab Neil sambil mengecup lebih tepatnya mengendus aroma rambut Richela yang wangi.
"Baiklah.. ada Xena disana jadi jangan cemas, dia pasti pilih lagu yang mudah buatku yang sudah aku kuasai." Kata Richela lagi dan itulah yang diinginkan Neil. Gadisnya ini tidak terlalu lelah berlatih agar kakinya cepat sembuh.
.
.
.