My Venus

My Venus
BAB 57



Richela dan Neil sedang menunggu detik-detik pengumuman yang akan maju ke babak berikutnya.


Neil klik refresh dan hasilnya.. nama Richela masih ada di sana berserta 60 nama lainnya.


"Waaahhh aku masuk." Teriak Richela dengan senangnya dan langsung memeluk Neil dengan erat.


"Jadi masa karantinanya berapa lama?" Tanya Neil pada Richela, wajahnya sudah cemberut karena akan berpisah lagi dengan gadis cantik ini.


"Hem.. bukannya kalian pemilik acara ini? kenapa tanya aku?" Jawab Richela tapi Neil terkekeh.


"Hei.. kami punya lebih banyak pekerjaan yang lebih penting, kalau acara stasiun Tv biasanya di serahkan sepenuhnya pada yang bertanggung jawab, kami hanya menerima laporan hasil akhirnya." Jelas Neil barulah Richela mengerti.


"Oh begitu.. kami belum diberitau sampai kapan akan di karantina tapi aku akan segera packing karena besok siang sudah harus kembali kesana. Richela beranjak dan menuju lemari untuk memilah apa saja yang akan dia butuhkan disana. Neil juga membantunya agar cepat selesai.


"Malam ini kamu milikku Richi.. aku akan bermain dengan ini sepuasnya." Neil menyentuh dada Richela yang padat, besar dan empuk yang selama ini menjadi mainan kesukaannyaa. Neil hanya boleh menyentuh bagian atas, tidak peduli apa yang dia lakukan. Hanya bagian atas yang bebas, bagian bawah? Masih tersegel.


"Ck.. dasar mesum!" Tukas Richela yang masih duduk anteng melipat pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper ukuran sedangnya.


"Eh tapi kenapa kau bawa ini?" Protes Neil sambil mengambil sebuah gaun tidur seksi berwarna nude milik Richela.


"Itu kan baju tidur kesukaanku kalau lagi gerah, kembalikan El." Pinta Richela tapi Neil malah melemparnya kembali ke dalam lemari.


"Tidak boleh!" Ucap Neil dengan tegas lalu memeriksa bawaan Richela dan mengeluarkan beberapa baju yang sekiranya terlalu seksi meskipun itu pakaian dalaam.


Neil mengeluarkan 3 pasang pakaian dalam merah yang sedikit menerawang lalu menggantinya dengan yang biasa. Lalu mengambil piyama lengan panjang dan celana panjang untuk gadis itu yang sedang mencebik dan merengut kesal.


"Pakai ini karena aku tidak mau tubuhmu dilihat mereka meskipun sesama wanita." Tukas Neil dengan tegas dan tidak mau dibantah.


'Benar kata Bell, apakah aku harus hamil biar Neil patuh seperti kakak?' Ucap Richela dalam hati karena selama tinggal dengan Neil, pria itu semakin posesif padahal dulu dia membebaskan Richela semaunya.


'Ah tidak, aku kan harus ikut Be A Star jadi, sabar... sabar... Richi...' Richela mengelus dadanya beberapa kali sambil membatin lagi.


"Ya sudah.. selesai, besok tinggal diangkut." Kata Richela yang sudah sedikit tenang. Lalu dia mengambil bantal boneka kesayangannya, hadiah dari Bell untuknya di ulang tahunnya beberapa bulan lalu. Bantal boneka bentuk kepala kucing jepang anime kesukaannya dulu 'Nyanko Sensei' Kucing gempal yang lucu dengan suara om-om.


"Sudah?" Tanya Neil yang tidak sabar lagi.


"Ini... dia sudah berdiri." Tunjuk Neil pada bagian bawahnya yang benar sudah menegang sempurna, entah apa yang dia pikirkan sampai bisa seperti itu.


"Apa? Tidak menggodaku? Lihat wajahmu dan ehmm.. itu.." Tunjuk Neil ke bagian dada Richela yang terbuka. Ternyata tanpa sadar 2 kancing piyama pendeknya terbuka. Richela menjadi malu sendiri karena memang dia tidak memakai dalaman.


"Jadi, malam ini aku akan memakanmu dan puaskan ini, dia sudah marah." Neil lalu menarik Richela yang hanya bisa pasrah. Neil menindihnya lalu ******* habis bibir seksi Richela tanpa ampun.


"Sudah.. aku yang bekerja saja, kau diam saja El." Richela mendorong tubuh Neil lalu berbalik dan kini Richela lah yang berada diatas.


Mereka saling pandang, Richela melihat mata Neil yang menjadi favoritnya sejak dulu, sejak pertama kali melihat mata biru Neil yang selalu dia tutupi, Richela sudah jatuh cinta saat itu, ketiga dirinya baru berusia 12 tahun.


"Aku suka matamu El, matamu ini yang membuatku jatuh cinta pertama kali. Anak kecil 12 tahun yang otaknya langsung tercemar saat melihatmu." Ucap Richela setengah berbisik.


Neil hanya bisa diam dan menikmati sentuhan Richela pada dada bidangnya, sedikit menggelitik, geli, merinding dan panas. Perlahan Richela turun dan menyentuh sesuatu dibawah sana.


"Sepertinya dia memang marah, aku akan membujuknya agar dia kembali jinak." Desah Richela lalu dia posisikan kepala nya dan bermain lidah disana, meng ulumm, dan seperti vacum cleaner dengan ahli ******* habis sampai Neil mengerang karena nikmat. Richela selalu bisa membuatnya tak berdaya hanya dengan sentuhan dan bibirnya.


'Tidak sia-sia aku menggoda dan mengajarinya, sekarang Venus ku sudah ahli.' Batin Neil merasa sangat puas, dia menekan kepala Richela agar semakin dalam sampai akhirnya dia tumpahkan segalanya dalam mulut gadis cantik itu.


"Uhuk uhukk..." Richela terbatuk lalu berlari ke kamar mandi, memuntahkan semuanya karena paksaan nikmat itu membuat kerongkongannya benar-benar tersedak.


"Kau..." Richela kembali ke kamar dengan tatapan marah dia kembali naik ke kasur dan menyentil kesal milik Neil yang sudah mengkerut, namun tetap terlihat besar itu.


"Jangan begitu Richi.. nanti dia marah lagi." Ucap Neil lalu menarik tangan Richela hingga berbaring di sebelahnya.


"Udah kan? Biarkan aku tidur." Tanya Richela sambil memeluk tubuh pria yang sangat dia cintai itu. Dia bahkan tidak takut kalau Neil punya selingkuhan karena dia tau Neil tidak akan bisa lepas darinya sejak dulu.


"El.. sabar ya.. tunggu aku kembali, kali ini berhasil atau tidak aku akan menikah denganmu. Aku janji." Ucapnya.


"Iya.. aku selalu sabar menunggumu My Venus, yang paling cantik di dunia dan seluruh galaksi." Jawab Neil lalu mengecup puncak kepala gadis tercantiknya.


"Jangan selingkuh ya, jangan lirik wanita lain dan...." Bibir Richela langsung dibungkam oleh bibir Neil, dia gemas dengan gadis cantiknya.


"Tidak ada wanita lain, hanya Richela Avia Talis yang akan menjadi satu-satunya wanitaku." Ucap Neil setelah melepaskan pagutannya.


"Aku mencintaimu sayang." Ucap Richela lagi.


"Aku lebih mencintaimu." Balas Neil dan akhirnya mereka tertidur setelah bercumbu lagi.