My Venus

My Venus
BAB 39



*** Kita menuju kisah Elios ya... disini akan ada flasback, selamat membaca ***


.


.


.


"Niel, sudah sebulan Richi disana, bagaimana kabarnya?" Tanya Elios pada Niel yang masih duduk santai membaca laporan.


"Dia baik-baik saja, Morris selalu memberiku kabarnya dan bahkan gadis itu sudah mahir memancing." Jawab Niel masih tidak mengalihkan pandangannya.


"Kenapa dia hanya memberimu kabar? Bagaimana denganku?" Tanya Elios kesal.


"CK.. kau lupa siapa Morris? Tentu dia lebih mengutamakan aku." Akhirnya Neil mengalihkan pandangannya ke Elios yang masih dalam mode kesal mengingat Morris.


"Ya ya ya, Tuan maafkan aku." Balas Elios lalu menghela nafasnya kasar. Lalu dia mengingat bagaimana kehidupannya dulu, sebelum mengenal Niel dan sesudah mengenal Tuan Muda Tierney itu.


Sepuluh tahun yang lalu,


BUGH BUGH


Tampak seorang remaja laki-laki sedang di pukuli, ditendang bahkan di injak oleh beberapa pria dewasa di pasar. Terlihat juga wanita paruh baya sesekali memukulnya dengan tas yang ada di pegangannya.


"Dasar maling! Beraninya mencuri tasku." Wanita itu berteriak marah-marah.


"Tolong.. bukan aku, aku tidak mencuri tas itu." Ujar remaja itu dengan suara pelan namun masih bisa didengar.


"STOP! Apa yang kalian lakukan?" Teriak seorang pria sekitar umur 50an. Pria tua itu tergopoh-gopoh berlari ke arah remaja yang dipukuli itu.


"Nah itu dia, paman.. nih pencurinya sudah ketemu." Ucap si wanita dan lagi-lagi dia memukul remaja itu dengan tasnya.


"Ya ampun, ini uang anda dan bukan anak itu yang mencurinya tapi yang itu." Bantah si pria tua menunjuk ke arah belakangnya dan tampak seorang remaja juga yang sedang di borgol oleh polisi, bedanya pencuri aslinya malah baik-baik saja.


"Hah? Kok bisa?" Tanya wanita itu lalu dia mendapat cibiran dari warga sekitar yang main hakim snediri.


"Sudah aku bilang, aku bukan pencuri!" Teriak remaja yang babak belur itu.


"Ya.. maaf, habisnya... lihat baju biru muda lusuh dan celana jeans robek, topi hitam dan sepatu hitam. Siapapun akan salah sangka." Ucap wanita itu yang tidak mau disalahkan.


"Baiklah, aku minta maaf dan ini buat ke rumah sakit." Ucap wanita itu lagi sambil menyerahkan beberapa lembar uang padanya. Remaja itu lalu mengambil uangnya dan berbalik pergi dengan kesal.


.


.


.


"Morris.." Kau tadi bersenang-senang?" Tanya remaja lainnya pada si bapak tua yang menolong remaja tadi.


"Ah sedikit saja Elios, sudah lama tidak bergerak bebas." Jawab Morris sambil terkekeh lalu mengangkat tangannya memberi kode pada supir untuk segera jalan.


"Remaja tadi mirip denganmu El, dan dia terlihat tidak baik-baik saja." Lanjut Morris.


"Berhenti!" Teriak Morris sampai si supir terkejut dan memberhentikan mobilnya dengan tiba-tiba.


"Kau ingin mati Morris?" Tanya Elios dengan nada galak, gara-gara Morris kepalanya membentur kursi depan.


"Lihat itu, maaf.. " Morris menunjuk ke belakang dan Elios berbalik. Remaja itu berjalan pelan sambil terkadang meringis menahan sakit, sambil sesekali menendang batu yang menghalangi jalannya dengan kesal.


"Itu remaja tadi, cukup mirip denganmu dari postur tubuhnya." Kata Morris lagi, Elios memperhatikan remaja yang mungkin seumuran dengannya dan tiba-tiba dia tersenyum penuh arti.


"Bawa dia. Aku punya rencana." Kata Elios lalu Morris turun dan menyapa remaja itu.


"Hai nak, kau ingat aku?" Tanya Morris yang sudah ada di depannya.


"Kau bapak tua tadi." Jawabnya.


"Iya, mari ikut untuk mengobati lukamu." Ajak Morris.


"Tidak perlu, aku harus pulang karena adikku menunggu. Lumayan hari ini ada uang dan lukaku akan sembuh sendiri." Jawab remaja itu menolak.


Setelah masuk ke dalam mobil, remaja itu duduk didepan dan Morris pindah ke belakang duduk bersama Elios.


Hanya 10 menit, mereka sampai di sebuah klinik di kota kecil itu. Morris membawanya turun dan di obati lalu segera kembali ke mobil lagi.


"Siapa namu nak? Tadi saat kau isi data aku sedang ke toilet." Tanya Morris. Mobil sudah melaju untuk mengantarkannya ke alamat rumahnya.


"Elios." Jawab remaja itu singkat.


"Apa?" Tanya Elios terkejut dan ingin meyakinkan pendengarannya.


"Namaku Elios Talis." Jawabnya mengulang.


"Namaku juga Elios." Sahut Elios dan kedua Elios itu saling pandang.


"Ehem.. Tuan sudah sampai." Supir itu bersuara.


"Ya ayo turun." Ujar Morris memecah keheningan sesaat itu.


"Kebetulan yang sangat bagus." Gumam Elios yang dapat didengar oleh Morris.


"Aku boleh masuk? Aku sedikit sakit perut kalau tunggu sampai rumah tidak tahan lagi." Tanya Elios pada Elios itu.


"Boleh, tapi apartemen rumah kami sangat sederhana dan kelihatannya kau tuan muda kaya raya." Jawab Elios sambil menunjuk ke gedung apartemen yang tampak lusuh.


"Tidak apa-apa." Jawab Elios sambil melihat ke gedung yang hanya 8 lantai itu. Akhirnya mereka masuk bersama dengan Morris.


Mereka masuk ke apartemen sederhana itu tapi tiba-tiba.


"KAKAK!!" Teriak seorang gadis kecil yang langsung memeluk kakaknya.


"Kenapa wajah kakak jadi begini dan siapa mereka?" Tanya gadis kecil bermata indah itu.


"Wah mata kakak ini biru sangat cantik." Ucapnya lagi. Elios tampak terkejut melihat gadis kecil ini.


"Mereka yang tolong kakak tadi sayang.. kakak di pukul orang." Jawab Elios pada adiknya.


"Dia adikmu?" Tanya Elios bermata biru itu.


"Iya.. namanya Richela masih 12 tahun." Jawab Elios lalu mengelus kepala adiknya yang masih terpesona dengan Elios bermata biru.


"Namaku Elios, halo Richi." Sapa Elios sambil megulurkan tangannya.


"Elios? Sama dengan nama kak Elios?" Tanyanya ragu.


"Iya kami juga terkejut tadi." Morris yang menjawab.


"Halo kakek, kakek namanya siapa?" Tanya Richela dengan suara nyaring.


"Namaku Morris gadis kecil." Jawab Morris dengan ramah membuat Elios terkejut, pasalnya jika ada yang memanggilnya paman saja gigi orang itu akan rontok, dan ini? Kakek?


"Kenapa Elios?" Tanya Morris masih dengan senyumnya.


'Kelihatannya bukan aku saja yang terpesona dengan gadis kecil yang sangat cantik ini, si Morris juga sampai rela di panggil kakek.' Batin Elios yang masih tak percaya.


"Dimana orang tua kalian?" Tanya Morris yang memperhatikan sekeliling.


"Mom and dad sudah meninggal setahun yang lalu." Richela yang menjawab dan ia hampir menangis.


"Jadi kalian tinggal berdua?" tanya Morris tak percaya.


"Bulan lalu ada nenek, tapi sudah meninggal juga jadinya kami berdua. Untungnya umurku sudah 17 tahun dan bersikeras agar Richi tidak di bawa oleh dinas sosial dan aku bekerja keras untuk biaya hidup kami. Tapi mungkin itu hanya bertahan sebentar. Mereka pasti akan datang lagi untuk membawa Richi." Jelas Elios sampai membuat Richela menangis lagi.


"Kalau begitu mau kerja di tempatku?" Tanya Elios.


"kerja?"


"Ya, tapi bisakah kita bicara bertiga?"


"Richi kamu keluar dulu, kakak ada uang kamu beli minuman dan makanan ya ke mini market gedung sebelah." Pinta Elios dan Richela mengangguk lalu mengambil uang itu.