
Jam 1 siang, Richela sudah sampai di ruang tunggu dan disana sudah ada seluruh anggota yang berganti.
"Richela, ini pakaianmu dan cepat ganti disana." Ucap Xena dan Richela menurut. Dia mengganti pakaiannya dengan dress selutut berwarna pink pastel, lalu sepatu flat yang nyaman untuknya. Sama dengan kelompoknya semua memakai dress senada dengan model berbeda.
.
.
.
Xena, Richela, Monica masih belum di panggil, sedangkan 3 lainnya di kelompoknya sudah naik ke atas panggung dan mereka lolos. Sampai 5 nama terakhir akhirnya Monica di urutan ke 4, diikuti oleh Xena ke 3, dan Richela pertama.
Semua tampak bahagia karena nilai mereka sangat tinggi, sedangkan Nicole turun ke posisi 5 dan Amber ke 2.
Akhirnya pemilihan kelompok dimulai lagi, Jeff sedang menjelaskan konsep penilaian untuk minggu depan, seluruh peserta yang tinggal 20 orang itu mendengarkan dengan seksama.
"20 orang akan bersaing secara individu di mulai dari minggu depan. Kalian akan mendapatkan waktu di panggung sendirian hanya 2 menit dengan lagu ballad pilihan juri dan kalian tetap akan memilih secara acak."
"Eliminasi akan di lakukan setiap hari Minggu sesuai jadwal seperti biasanya dan 10 orang dengan nilai voting terendah akan gugur."
Seluruh peserta terihat panik, karena biasanya akan mengeliminasi satu persatu jika sudah bersaing secara individu. Tapi sepertinya sistem kali ini berbeda. Apa karna masih menyisahkan 20 orang?
+++++
Malam ini, 20 gadis yang tersisa akhirnya pindah kamar karena sebagian besar kamar hanya di isi 2 orang bahkan kali ini ada yang sendirian sehingga mereka akan sekamar lagi dengan ornag yang berbeda dengan 4 orang per kamar.
Kembali Richela akan sekamar dengan Nicole, 2 lainnya untunglah itu Xena dan Amber sehingga Richela tidak terlalu merasa tak nyaman.
"Richela di kasur bawah saja, aku yang atas." Ucap Xena dan Richela hanya mengangguk.
"Aku dimana?" tanya Amber pada Nicole yang juga baru masuk ke kamar.
"Aku di atas." Kata Nicole karena dia tidak mau melihat wajah Richela yang sangat dia benci.
Malam ini tidak terjadi apapun, mereka berempat membersihkan diri secara bergiliran dan langsung istirahat.
.
.
Seperti biasanya, setiap pagi mereka akan olahraga, membersihkan diri dan sarapan. Setelah itu akan berkumpul sesuai jadwal di aula untuk pembagian lagu.
Tepat pukul 10 Shane sudah ada di aula dan 20 gadis cantik berbaris 4 barisan menunggu aba-aba dari Shane.
"Kita akan berlaku adil, kalian akan bergantian memilih bola disini untuk memilih lagu." Ucap Shane yang berdiri di sebelah kotak kaca berisikan bola-bola dengan catatan kecil didalamnya.
"Dari barisan pertama maju dan ambil bola ini."
Sesuai perintah mereka bergiliran dan mengambil 1 bola lalu kembali ke barisan.
"Silakan buka dan yang mendapatkan 1-5 bisa berdiri di sana dengan sesuai urutan. Dan begitu selanjutnya." Kata Shane menunjuk ke sebelah kirinya, disana sudah ada 1 dinding yang dibuat, seperti ada tulisan yang ditutup plester besar dan membuat mereka penasaran.
Setelah semua selesai mereka berdiri sesuai tempat dan urutan.
"Silakan buka perekat itu dan lihat apa yang kalian dapat." Kata Shane dan mereka serentak membukanya.
"Waaahhh..." Teriak mereka bersamaan. Ternyata itu adalah judul lagu. Mereka berlima akan mendapat lagu yang sama dan membawakan lagu itu sendirian.
Mereka saling melihat judul lagu masing-masing kelompok.
"Nomor 15-20 dapat lagu bagus, mereka beruntung." Ucap Nicole yang melirik kesana. Mereka dapat lagu milik Shane yang sangat popular dari 5 tahun lalu sampai sekarang.
Sedangkan dirinya yang ada di nomor 6-10 mendapatkan lagu ballad dari penyanyi solo pendatang baru yang masih menjalani proses untuk menjadi terkenal. Dia sungguh tidak suka dengan lagu ini. Sementara Xena dan Richela yang ada di nomor 11-15 mendapatkan lagu slow dari salah satu band ternama tampak santai saja.
Setelah mendapatkan lagu masing-masing, mereka langsung berlatih sendiri dengan tablet yang diberikan oleh panitia. Terserah mereka ingin mengubah lagu atau arrangement ulang karena memang hanya 2 menit yang diberikan ke mereka.
"Ya, karena cuma 2 menit dan memang lagu ini sangat sulit jadi akan aku ubah saja." Jawab Richela dengan tenang.
"Aku tidak mau, hanya perpendek saja." Kata Xena membuat Richela melihatnya dengan tatapan bingung.
Xena melihat ke sekeliling, tidak ada kamera dan hanya cctv. Kemudian dia berbisik, "Kau tau kan aku kesini karna apa?"
"Ahh iya, aku lupa heheh.." Balas Richela sedikit terkekeh. Xena hanya mengikutinya dan tidak ada niatan untuk masuk ke dunia hiburan yang sebenarnya. Dia hanya suka berkelahi dan menjadi pengawal pribadi.
"Tapi fans mu sudah banyak." Bisik Richela kembali dan Xena hanya menghela dan terlihat lelah, dia benar-benar tidak suka di dunia hiburan dan jadi pusat perhatian. Mungkin setelah ini Xena akan meminta James untuk menugaskan dia ke pulau terpencil atau di kantor saja.
*** *** ***
Di tempat lain, Bell sedang sedih karena portal berita murahan tetap membicarakan dirinya. Padahal Bell sudah lama tidak syuting atau mengambil job apapun karena dia mau fokus ke anaknya yang baru lahir.
Bell kembali menerawang, mengingat kembali kejadian tahun lalu.
-Flashback-
Bell sedang syuting drama dan ini adalah episode terakhir dari drama yang dia bintangi sebagai gadis remaja. Take terakhir dan dia sangat lelah dan terlihat pucat.
"Kau kenapa Bell?" Tanya asistennya, Gaby.
"Aku lelah sekali Gaby.. bawa aku pulang." Ucap Bell tapi Gaby malah kembali ke lokasi untuk berpamitan pada sutradara dan kru, sebenarnya hari ini akan ada pesta untuk mengakhiri syuting tapi Bell yang sakit terpaksa tidak ikut.
Gaby kembali dan memapah Bell yang terlihat sangat lemah dan pucat. Beruntung di mobil sudah ada Elios yang menunggu Bell karena dia tiba-tiba sangat merindukan gadis kecilnya yang galak itu.
"Kenapa Bell?" tanya Elios panik melihat Bell di papah.
"Tuan, Bell sepertinya sakit dan minta pulang." Gaby menjawab karena Bell tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Elios langsung membawa Bell pulang ke apartemen mewahanya dan memanggil dokter kesana.
Seletah sampai Bell di rebahkan ke ranjang besar di kamar Elios, dokter yang sudah lebih dulu datang segera memeriksanya.
"Bagaimana dokter Sam?" Tanya Elios pada dokter pribadinya.
"Nona Bell kelelahan, tapi sepertinya anda harus membawanya ke dokter kandungan. Saya tidak bisa memastikan tapi sepertinya nona Bell sedang hamil." Jelas dokter Sam.
"Apa? Hamil?" Tanya Elios memastikan, lalu dia tersenyum senang. Setelah dokter Sam pergi Elios masih menunggu Bell untuk siuman, dokter Sam tidak berani memberikan obat dan akan langsung membuat janji pada dokter kandungan saja di rumah sakitnya, tentu secara rahasia.
Setelah istirahat hampir 2 jam akhirnya Bell bangun dan sedikit bingung kenapa dia ada di kamar ini?
"Baby Bell.. Kau sudah bangun?" Tanya Elios dari meja kerja di dalam kamarmya itu lalu segera menghampiri Bell.
"Kenapa aku disini? Di mana ini?" Tanya Bell kebingungan, dia memang belum pernah ke apartemen Elios selama ini.
"Ini kamarku, kau terlihat lelah dan setengah sadar saat aku ke lokasi syuting." Jawab Elios lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir Bell.
"Setelah ini kita ke dokter, ayo ganti pakaianmu." Kata Elios lalu Bell menurut dan Elios mengantarnya ke kamar mandi.
"Aku tunggu di kamar." Katanya lagi dan Bell mengangguk.
"Ada apa denganku? Apa aku hamil? Sudah telat 2 minggu." Gumam Bell yang baru sadar kalau dia sudah telat dan mengingat hubungan mereka bulan lalu.
Bell kembali ke kamar setelah dia mandi, karena merasa gerah dan tidak nyaman seharian syuting.
"El.. aku... emm.. ini.." Bell meremas jari-jari tangannya sendiri karena ragu dengan apa yang akan dia katakan.
"Ada apa hem?" Tanya Elios lembut lalu mereka kembali duduk di tepi ranjang.
"Aku telat datang bulan sudah 2 minggu.. apa kau..." Bell tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia takut.
"Aku tau, makanya kita ke rumah sakit ya... tadi dokter sudah memeriksa dan katanya kita harus ke dokter kandungan untuk tau pastinya." Jelas Elios lalu memeluk Bell dengan erat.