
Album ke-empat VENUS dirilis dan seperti biasa, meledak dan laris dipasaran. Meskipun banyak fans Avia yang berpindah ke Nicole, dia tetap dengan percaya diri bernyanyi dan menari ditas panggung bahkan sangat baik.
***
"Avia sangat bagus di lagu baru ini. Aku baru sadar kalau suaranya sangat merdu."
"Gerakannya sempurna, mungkin dia banyak latihan karena lama menganggur."
"Nicole terlihat lelah, bahkan dramanya belum rampung dan dia sudah bekerja keras."
"Kenapa Bell sangat imut? Dia benar-benar membuatku jatuh cinta."
"Oh Fei sangat keren dengan tubuh berototnya tapi dia tetap cantik."
"Cleo mengalihkan duniaku.
"Aku ingin sekeren Cleo!"
"Via, semangat!"
.
.
.
***
"VENUS, kalian sudah bekerja keras!" Teriak Bianca lalu memeluk mereka satu per satu.
"Via, sudah ada yang mencarimu lagi. Kosmetik L ingin kau menjadi brand ambassador mereka." Kata Bianca yang membuat Avia sangat senang.
"Terima kasih Bi, kau yang terbaik." Ucap Avia lalu memeluk Bianca dan wanita itu menepuk-nepuk punggung Avia.
"Iya, kau sudah berusaha." Lanjut Bianca.
"Kau sudah menghubungi Nancy?" Tanya Bianca seteleh melepaskan pelukan mereka.
"Sudah, kami sudah mengobrol banyak dan berterima kasih padanya. Tapi sayang dia sudah pindah ke luar negri." Jawab Avia.
"Ya sudah tidak apa." Balas Bianca.
\= = = = = = = =
Di atap gedung 36 lantai, seseorang tengah menunggu perintah untuk mengeksekusi calon korbannya dibawah terik matahari yang menyengat.
"Ini dia, kau kenal kan? dan lakukan dengan bersih."
"Baik, akan kulakukan seperti biasa."
"Jangan sampai mati, hanya peringatan kecil agar dia tau saja bos masih memantaunya."
"Baik, anda tenang saja saya akan lakukan dengan bersih."
Pria berpakaian serba hitam itu langsung pergi dan memulai aksinya tanpa ada yang mengetahui apa yang dia lakukan.
"Via aku akan ikut denganmu." Teriak Bell dan berlari menghampirinya.
"Tidak jadi syuting?" Tanya Avia dan Bell menggeleng.
"Belum giliranku karena banyak adegannya Nicole yang harus diulang, aku bosan dan pasti lama dan sutradara menyuruhku kambali besok pagi saja." Jelas Bell memberitahukan.
"Oh ya, kau juga hutang penjelasan padaku kenapa bisa berpacaran dengan si Tuan menyebalkan itu." Ujar Avia dan Bell tersenyum saja.
Mereka masuk kedalam mobil, disana sudah ada Lana yang memegang kemudi dan akan pulang ke apartemen.
"Aku akan ceritakan, jadi kami bertemu lagi waktu syuking iklan susu. Nah seperti biasa dia sangat menyebalkan dan menggangguku. Ya sudah kami bertengkar lagi. Lalu dia muncul lagi saat aku syuting iklan seragam sekolah. Entah kenapa aku merasa sial bertemu dengannya. Terus ada kecelakaan pada waktu syuting. Kau lihat kan iklannya aku manjat pohon dan lompat pagar. nah disitu aku jatuh tapi ditangkap olehnya. Jadi ya begitulah..."
"Ya ampun Bell seperti di drama saja." Avia tertawa kencang membayangkan Elios yang ada disana dan Bell, "Oh Tuhan, kalian benar-benar. Yang satu tinggi menjulang dan kau mungkin hanya sebatas ketiaknya Bell. Ah imut sekali."
"Ck jangan menggodaku, dasar!" Bell memukul lengan Avia dengan pelan dan mencebik.
"Ah maaf, tapi rem mobil ini tidak berfungsi." Kata Lana sedikit berteriak sebab sejak tadi dia menginjak pedal rem tapi mobil masih melaju kencang.
"Semuanya tidak berfungsi bagaimana ini?" Teriak Lana lagi.
"Astaga, apa kita akan mati?" Tanya Bell.
"No no! Pakai sabuk pengaman Bell cepat!" Teriak Avia yang sudah menarik sabuk pengamannya dan baru saja selesai mereka memakainya...
BRAAKKK!!
"Via..." Lirih Bell yang kemudian tak sadarkan diri begitu juga Avia.
.
.
.
Tiga ambulance dengan cepat membelah jalan di kota yang sudah mulai macet karena bertepatan dengan jam dimana orang-orang mulai keluar mencari makan malam di hari libur.
Polisi dan wartawan berita mulai bergegas melakukan tugas mereka setelah tim medis membawa ketiga korban kecelakaan. Sedangkan pengemudi mobil yang tidak sengaja juga menabrak mereka tidak mengalami luka sama sekali.
Avia, Bell dan Lana dengan cepat ditangani tim dokter, beruntung mereka tidak mengalami luka serius tetapi jika tidak cepat ditangani maka akan menjadi berbahaya.
Lana hanya syok dan pingsan, karena air bag terbuka sempurna sehingga dia tidak mengalami luka apapun. Sedangkan Avia mengalami cedera leher, Bell yang baru selesai memasang sit belt dan belum duduk dengan sempurna mengalami cedera bahu bagian kiri.
Bianca datang dengan cepat begitu mengetahui tentang kecelakaan itu, Cleo dan Fei menyusul. Lainnya masih ada pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan.
"Sudah hubungi keluarga mereka?" Tanya Cleo pada Bianca.
"Keluarga Bell sudah, ibunya sedang dalam perjalanan kemari." Jawab Bianca yang merasa lega karena tidak ada luka yang cukup serius namun mereka tetap harus istirahat total.
"Kalau kakaknya Via bagaimana?" Tanya Cleo lagi dan Bianca menggeleng.
"Tidak bisa dihubungi." Jawabnya.
Bianca akan menyerahkan kasus kecelakaan ini pada pihak kepolisian sebab mobil mereka adalah mobil yang cukup baru, setahun lalu baru dibeli perusahaan untuk VENUS.
"Via, apa yang kau rasakan?" Tanya Bianca melihat Avia yang mulai sadar.
"Leherku nyeri.." Jawabnya sambil memegang bagian leher yang telah dibalut penyangga leher.
"Jangan gerakkan kepalamu, lehermu cedera." Ucap Bianca yang membantu Avia untuk duduk.
"Dimana Bell, dia baik-baik saja kan?" Tanya Avia.
"Dia cedera bahu, selebihnya baik. Kalau Lana tidak luka hanya syok dan juga sudah sadar, dia sedang di tanyai oleh polisi." Jelas Bianca lagi.
"Bi, Bell sudah bangun dan ibunya juga sudah datang." Lapor Cleo yang sejak tadi menemani Bell sampai ibunya datang.
"Baiklah, temani Via dulu aku akan temui ibunya Bell." Jawab Bianca lalu keluar dari kamar rawat Avia.
"Jadi aku tidak boleh gerakkan kepala? Ahh ini sangat merepotkan." Keluh Avia yang sejak tadi berusaha menggerakkan kepalanya tapi tidak bisa.
"Jangan gerakkan kepalamu, dasar ceroboh!" Kata Cleo sambil memegang kepala Avia agar dia berhenti.
"Kenapa juga mobil itu? Rem nya tidak berfungsi, apa rusak?" Tanya Avia pada Cleo.
"Belum tau, masih di cek." Jawab Cleo yang masih mengotak atik ponselnya.
"Kau lihat apa sih?" Tanya Avia yang penasaran dengan Cleo.
"Aku lagi baca berita kecelakaan ini, ck.. mereka sangat menyebalkan, jangan baca lagi deh." Cleo langsung menutup posel itu dan mencebik kesal.
"Sudah lah.. biarkan saja." Avia mengelus lengan Cleo yang marih kesal karena membaca komentar kebencian untuk Avia.
.
.
.
Tengah malam, seseorang masuk ke dalam kamar rawat Avia, sorot matanya sangat sedih melihat Avia yang sedang tidur. Perlahan dia mendekat dan duduk di kursi samping brankar, mengambil tangan Avia dan mengecupnya berulang kali.
"Si siapa?" Pekik Avia sambil menarik tangannya karena terkejut.
"Ini aku sayang.." Ucap pria itu.
"Ah, kau membuatku terkejut EL."
"Maaf, aku lalai menjagamu, musuhku berhasil menyakitimu."
"Jangan begini, kau tidak salah. Mereka saja yang jahat. Ayo kemari.. peluk.."
Avia merengek, dia sangat merindukan pria ini yang jika diluar tidak akan bisa bertegur sapa selayaknya kekasih. Mereka harus berakting seolah hanya kenal karena pekerjaan.
Pelukan yang nyaman membuat Avia kembali tertidur lelap, sudah lama dia tidak menikmati tidur seperti ini dalam dekapan orang terkasih.
"Tidurlah.. istirahat dan aku pastikan akan membuat mereka membayarnya."