My Venus

My Venus
BAB 33



"eeuunngghh..." Avia menggerakkan tubuhnya karena terbangun dalam keadaan pusing dan tubuhnya sangat pegal.


Dia membuka matanya karena sulit bergerak, "Ck.. pantas saja. Terkurung di pelukan pria tampan ini rupanya." Gumamnya yang masih tak bisa bergerak.


"Hei pria tampanku, bangunlah badanku sakit." Avia mencoba melepaskan diri tapi malah dipeluk semakin erat.


"Aku ingin ke toilet, lepaskan aku!" Ujarnya lagi sedikit berteriak.


"Kau mengganggu tidurku nona.." Balasnya dengan suara serak.


"Huh... aku senang kau tak menghindar atau memarahiku." Ucap Avia dengan wajah sendu.


"Siapa bilang tidak marah, kau akan kuhukum."


"CK.. lepaskan, cepat aku sakit perut."


Akhirnya Avia dilepaskan dan dia segera berlari dan membuang hajatnya.


Setelah 20 menit gadis itu keluar dan sudah membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Kenapa sudah mandi?" Tanya pria tampan yang masih berada di tempat tidur hanya dengan boxer nya.


"Iya sekalian ganti baju sebelum kau mulai mesum." Jawab Avia yang melangkah keluar kamar. Sementara pria tampan itu hanya tertawa karena memang niatnya ingin bermain sebentar dengan mainan favoritnya yang sekarang sedang menjadi tontonan banyak orang. Sebenarnya dia sangat marah, tapi melihat gadisnya sudah lebih baik, dia memilih untuk bersabar.


$$$


"Via kemana?" Tanya Bell pada Cleo yang sedang mencari tau sejak tadi.


"Belum dijawab teleponnya dan pesanku juga belum dibaca." Jawab Cleo.


"Aku bingung... harus mencarinya dimana, dia tidak pernah cerita tentang keluarga  atau diamana rumahnya." Lanjut Cleo lagi.


Bell yang juga khawatir berinisiatif menelepon Elios untuk meminta tolong, dia segera ke balkon untuk menelepon kekasih rahasianya itu.


"Elios." Bell berbicara dengan pelan seperti berbisik.


"Aku ingin minta tolong.. bisa kah kau mencari Avia? Dia pergi sejak tadi malam." Pintanya pada kekasihnya itu.


"Oh begitu yah, baiklah. Berarti dia aman. bye.. aku tutup ya." Bell mematikan panggilannya dan berbalik.


"ASTAGA!! Nicole kau membuatku terkejut." Teriak Bell sambil mengusap dadanya.


"Sejak kapan kau disini?" Tanya Bell sambil berjalan kembali ke ruang tamu.


"Baru saja, kenapa kau bersembunyi disana untuk menelepon?" Tanya Nicole penasaran.


"Ck.. mau tau saja!" Ketus Bell yang memang masih kesal dengan Nicole.


'Aku mendengarnya Bell, kau sedang menghubungi Elios, tunggu saja giliranmu.' Batin Nicole.


.


.


.


Disebuah apartemen mewah, Avia yang baru selesai dengan sarapannya tidak mau beranjak dari sofa. Dia merebahkan dirinya di sofa empuk nan mewah itu sambil membaca komentar negatif tentang dirinya.



"Kau gunakan tubuhmu untuk mendapatkan peran itu pasti kan?"


"Aku jijik melihatmu, enyahlah kau selalu buat masalah untuk VENUS."


"Keluarkan dia, Monato harus ambil tindakan kali ini."


"Jangan membelanya lagi, dasar murahan."


"Wow, tapi jujur buah melonnya sangat segar dan aku ingin mencicipinya."


"Bolehkah aku meremasnya?"


"OH ternyata itunya asli karena begitu indah tertutupi dan sekarang terpampang dengan indah, aku ingin menyentuhnya."


"Bagaimana bisa sebagus itu? Bocorkan rahasianya Viaaa.."



"Ck.. jangan membacanya lagi." Sentak pria tampan yang baru saja selesai dengan mandinya.


"Aku tidak akan memaafkan siapapun itu." Bentaknya lagi.


"Maaf, aku begitu ceroboh mempercayai Nicole, awalnya kami hanya latihan.." Ujar Avia dengan pelan, lalu menceritakan semuanya.


"Dasar! ini pelajaran untukmu dan jangan percaya meskipun itu teman dekatmu. Harus hati-hati."


"Iya aku tau."


"Jadi apakah kau menyerah sekarang dan akan pulang?"


"Aku belum tau, tunggu saja keputusan Susan dan Monato. Aku pasrah."


"Baiklah, apa yang bisa aku bantu. Nicole itu, bisa kuhempaskan dengan sekali menjentikkan jariku sayang."


"Tidak, jangan. Aku akan melihat sampai mana dia akan bertindak dan serahkan semua padaku, aku akan membuka kedoknya suatu hari nanti dan kau... segera urus masalahmu sendiri yang begitu pelik itu. Jangan mengurusiku terus."


"Hem.. baiklah, jangan galak-galak, aku percaya kau bisa melewati ini semua."


Avia kini duduk kembali dan mengambil ponselnya lagi yang tadi direbut, tapi pria itu malah menariknya dan akhirnya duduk dipangkuan si pria.


"Lepaskan.. tanganmu jangan nakal." Avia menghempas tangan nakal itu yang terus mengelus dua gundukan berharganya.


"Aku hanya ingin memberi tanda kalau ini milikku meskipun sudah banyak yang melihatnya." Lagi, dia mengelusnya dan kadang meremas dan perlahan tangannya masuk kedalam pakaian Avia untuk lebih bisa merasakannya tanpa penghalang.


"Ck.. jangan mesum." Bentak Avia namun terlambat, tangan itu sudah bermain di sana hingga membuat Avia kesal bukan main.


"ELIOS! Kondisikan tanganmu!"


.


.


.