
Di aula, acara masih berlangsung meskipun hampir selesai. Nicole mulai mendekati Elios, mereka berbincang sejenak.
"Di mana asisten anda Tuan Elios?" Tanya Nicole sambil memperhatikan sekeliling, tidak biasa Elios tanpa asistennya.
"Oh, dia sedang cuti. Sejak bekerja dia belum pernah liburan." Jawab Elios ramah. Neil memang sedang berada di rumah Morris di pegunungan.
"Wah dia seorang pekerja keras." Ucap Nicole, lalu seorang pelayan datang dan memberikan minuman, dengan senang hati Elios mengambilnya dan minum seteguk. Nicole tersenyum simpul.
Beberapa menit kemudian, Elios tampak aneh. Dia sangat pusing dan sedikit kepanasan.
"Permisi, saya akan ke toilet sebentar." Pamit Elios pada Nicole dan beberapa tamu undangannya. Dia segera ke toilet dan mencuci mukanya karena dia tau ada sesuatu yang telah dia minum.
"James, di mana anggotamu, sepertinya aku minum sesuatu yang membuatku panas." Tanya Elios begitu James mengangkat ponselnya. Tak lama pengawal datang dan membawa Elios ke kamar yang telah mereka sediakan. Elios kemudian merebahkan dirinya dan berusaha tidur.
"Tunggu, kalian bawa penawar?" Tanya Elios sebelum 2 pengawal itu keluar.
"Tidak Tuan." Jawab mereka.
"Baiklah, aku akan tanya James nanti." Tapi sialnya ponsel Elios tidak ada dan dia sudah sangat kepanasan. Elios ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya dibawah shower.
Di kamar lain, Bell sedang tiduran di ranjang besar sendirian. Dia masih pulas karena obat bius.
Di mansion Morris,
"James, Tuan Elios tidak ada di toilet." Lapor pangawal yang diutus oleh James.
"Apa? Kalian sudah cari?" Tanya James mulai panik.
"Iya, di aula juga tidak ada." Jawab pengawal itu.
"Cari lagi dan lihat cctv di pusat keamanan." Perintah James. Baru saja James menutup ponselnya dia dihubungi lagi.
"James, Nona Bell menghilang. Kami melihatnya terakhir kali di toilet tapi kami tunggu dia tidak muncul." Lapor seorang pengawal lainnya yang bertugas memantau Bell.
"Ah, kenapa ini? Cari, Tuan Elios juga menghilang setelah meminta bantuanku tadi." Perintah James lalu dia segera ke kamar Neil.
"Tuan Neil." Panggil James setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Ck.. kau menggangguku saja James, ada apa?" Tanya Neil sedikit kesal karena kesenangannya terganggu.
"Tuan Elios dan Nona Bell menghilang di acara Gala Dinner." Lapor James tapi Neil tampak biasa saja.
"Kau ini, paling mereka pacaran." Ujar Neil dengan tanpa beban.
"Tapi Tuan Elios baru menghubungiku untuk menolongnya sepertinya dia minum sesuatu yang dicampur obat." Jelas James lagi dan kai ini Neil baru panik.
"Sebentar." Neil masuk ke kamar lagi dan keluar dengan memakai bajunya karena sejak tadi dia bertelanjang dada.
Mereka turun ke lantai bawah dan masuk ke ruang kerja, Neil membuka akses cctv hotel yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh petugas keamanan. Mereka bersama mencari lokasi terakhir Elios.
"Ini dia, tapi mereka bukan anggotaku." Kata James. Lalu mereka memperhatikan dan terus pindah layar untuk mengetahui di mana Elios dibawa.
"SHITT!! Kamar 712. Cari segera." Teriak Neil dan James segera menghubungi pengawalnya.
.
.
.
"Tuan Elios maaf baru menemukan anda, James meminta kami membawa anda dan ini penawarnya." Ucap salah satu pengawal dan Elios segera mengambil obat itu dan menelannya.
"Ayo.." Ajak Elios, dia masih memakai bathrobe dan sandal hotel, dia sudah tidak mau tau dan ingin segera berendam saja.
"Pinjam ponselmu." Ujar Elios sebelum 2 pengawal itu pergi.
"James, ada apa sebenarnya?" Tanya Elios tapi James malah berkata aneh.
"Hem.. tidak Tuan, sebentar lagi eh itu.. kata Tuan Neil akan memberikan anda hadiah dan anda pasti akan menyukainya jadi tunggu di dalam kamar saja." Ujar James sedikit terbata lalu menutup teleponnya.
Di kamar tempat Bell, dia perlahan membuka matanya dan sangat terkejut melihat seorang pria ada di depannya dan hanya menggunakan celana tanpa pakaian.
"Siapa kau?" teriak Bell, rasa pusing dikepalanya membuat dia tidak bisa bangun segera.
"Halo Bell, ternyata kau secantik ini." Ucap pria itu sambil mengelus pipi Bell dengan lembut.
"Jangan sentuh aku!" Bentak Bell dengan galak.
"Oh aku suka gadis galak dan susah ditaklukan karena biasanya akan sangat liar di ranjang." Kata pria itu lagi,
"AWAS! LEPAS!" Teriak Bell sambil menendang kuat tapi pria itu berhasil menangkap kakinya dan malah membukanya lebar lalu menindih Bell. Dress yang dipakai Bell mempermudah aksi pria itu, dengan sekali tarik dada Bell sudah tidak tertutup apapun.
Bell terus berontak dan akhirnya pria itu tidak sabar lagi langsung mengambil sesuatu di dalam tasnya yang ada diatas meja nakas. Bell mengambil kesempatan dan lari menuju pintu tapi dia berhasil ditarik lagi dan pria itu menyemprotkan obat bius lagi hingga Bell tak sadarkan diri.
Selagi menggendong Bell ke tempat tidur, pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah beberapa pria tegap lalu menghajar pria itu dan membawa Bell.
.
.
.
"James, kami telah membawa Nona Bell, tapi kita membawanya kemana? Karena juga di bius dan pingsan, obatnya cukup keras." Lapor anggotanya pada James.
"Bawa saja ke kamar Elios, katakan padanya itu hadiah dariku dan tunggu saja." Ujar Neil sambil tertawa.
"Bawa ke kamar Tuan Elios dan tidak perlu penawar." Jawab James lalu mematikan ponselnya.
"Pintar kamu James." James tersenyum mengetahui rencana Neil pada Elios.
Sementara Nicole yang berjalan menuju lift untuk ke lantai 7 mendapatkan pesan di ponselnya.
"Elios sudah dibawa kembali oleh pengawalnya, jangan ke kamar itu atau kita akan ketahuan."
"Lalu Bell di mana?"
"Bell dan pria yang membelinya juga tidak ada, mungkin mereka pindah kamar."
Nicole tersenyum, setidaknya Bell akan merasa hancur karena Nicole tau kalau gadis itu masih polos dan yang membelinya adalah pria tua semumuran ayahnya.
Nicole akhirnya pulang menggunakan mobil pribadinya yang telah dibawakan oleh asistennya dan dengan senang dia menyetir sendiri sambil tersenyum penuh kemenangan.