My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 96



Beberapa hari kemudian.


Pagi ini, Kevin masih berada di Rumah Sakit. Rencanana, hari ini dia akan ke Kantor karena akan ada interview calon sekretaris barunya oleh Angga.


Dan beberapa hari sebelumnya, Kevin selalu mendengarkan rekaman audio itu di telinga Melika. Dan kini, dia akan memutar kembali rekaman audio itu. Mungkin, satu kali, dua kali, bahkan tiga kali mendengarkanya ke telinga Melika masih lah belum cukup. Dia meletakan ponsel itu di bantal yang di pakai Melika. Setelah itu, dia masuk ke kamar mandi.


Tak lama, begitu selesai buang air, Kevin keluar dari kamar mandi. Dia melihat Melika yang masih tak membuka matanya. Kevin menatap lekat wajah Melika. Dia menggenggam tangan Melika.


"Ya Tuhan!" Kevin terkejut saat tiba-tiba merasakan adanya pergerakan. Kevin yakin dia merasakan tangan Melika bergerak digenggamannya.


Kevin menekan tombol darurat. Beberapa saat kemudian, masuklah seorang Dokter bersama Suster.


"Apa yang terjadi?" tanya Dokter.


"Saya merasakan adanya pergerakan tangan Istri Saya. Mungkinkah Istri Saya akan segera sadar?" tanya Kevin.


"Silahkan Anda keluar dulu, Saya akan memeriksa keadaan pasien!" ucap Dokter.


Kevin keluar dengan harap-harap cemas. Dia berharap setelah ini akan ada kabar baik tentang perkembangan keadaan Melika.


Beberapa saat kemudian, Dokter keluar bersama Suster.


"Selamat, Pak. Adanya perkembangan baik pada Istri Anda. Kita lihat, dalam beberapa hari ke depan, Saya harap Istri Anda akan siuman," ucap Dokter.


"Ya Tuhan ... Benarkah? Apa Dokter tak salah periksa? Jangan memberikan Saya harapan palsu, Dok," ucap Kevin.


"Kita berdoa saja. Namun, sesuai yang Saya lihat, Istri Anda mulai menunjukan perkembangan positif. Semoga tak lama lagi pasien akan sadar," ucap Dokter.


"Terimakasih, Dok," ucap Kevin.


Dokter tersenyum dan meninggalkan Kevin. Kevin kembali masuk, dia menggenggam tangan Melika.


"Ayo bangun! Jangan lama-lama ya, Mel, bangunnya. Aku merindukanmu," ucap Kevin.


Tak terasa dia meneteskan air matanya. Meski hanya sebuah kabar, tetapi Kevin merasa senang. Setidaknya, Melika akan baik-baik saja.


Kevin menghubungi sang papa dan mertuanya. Dia memberitahukan kabar bahagia itu, dan meminta semua anggota keluarganya membantu doa untuk Melika. Keluarganya juga mengatakan, akan datang menjenguk Melika ke Rumah Sakit dan Kevin mempersilakan.


Mendengar kabar baik tentang Melika, membuat Kevin seolah mendapatkan semangat hidupnya kembali. Dia bersiap untuk ke Kantor. Sebelum pergi, dia mengecup dahi Melika. Membisikan sesuatu di telinga Melika.


"Aku akan ke Kantor, jaga dirimu baik-baik," bisik Kevin.


Kevin meminta Suster yang kebetulan saat itu akan membersihkan tubuh Melika untuk menjaga Melika selama dia ke Kantor. Setelah itu, Kevin pergi menuju Kantor.


Di Kantor.


Kevin sudah berada di ruangannya. Kevin tengah melihat beberapa cv kandidat calon sekretarisnya yang sebelumnya Angga kirim melalui email.


Kevin membaca beberapa cv itu, dia menghela napas. Isi beberapa cv itu menarik untuknya. Dia menjadi bingung sendiri.


Terakhir, Kevin melihat sebuah cv yang lebih menarik perhatiannya. Di mana di sana tertulis sebuah nama, Dita Kusuma. Lulusan terbaik dibidangnya dalam usia yang cukup muda. Mendapatkan beberapa penghargaan sebagai sekretaris dan ada pengalaman kerjanya di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Kevin sampai tak habis pikir, tertulis di biodata gadis itu yang ternyata usianya masih 19 tahun. Bagaimana bisa gadis semuda itu sudah mendapatkan banyak prestasi?


Kevin melihat jam tangannya, di sana waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Artinya, sudah mulai diadakan interview oleh Angga.


Kevin menghubungi Angga, dia meminta Angga untuk menyuruh gadis yang bernama Dita Kusuma itu untuk datang ke ruangannya. Kevin akan menginterview gadis itu sendiri. Dia benar-benar penasaran pada gadis itu. Melika saja, termasuk sekretaris terbaik meski diusia 21 tahun. Namun, ini barulah 19 tahun. Dia sungguh penasaran dengan gadis itu.


Beberapa saat menunggu, Dita yang Kevin maksud datang ke ruangannya.


Kevin melihat dengan teliti penampilan gadis itu. Gadis itu bertubuh mungil, memakai kemeja putih dan celana hitam kasual. Rambutnya diikat kuda dan dia memakai sepatu pantofel wanita tak terlalu tinggi. Penampilan yang sederhana untuk seorang sekretaris.


"Silahkan duduk," ucap Kevin.


Dita mengangguk sopan dan duduk berhadapan dengan Kevin.


"Perkenalkan dulu dirimu," ucap Kevin.


Kevin terdiam melihat Dita. Jarang sekali ada calon sekretaris yang bicara seperti itu pada calon atasannya. Bukannya kesal, tetapi Kevin justru semakin penasaran dibuatnya. Gadis itu tampak pintar mengucapkan sebuah ucapan yang cukup halus, tetapi di dalamnya terdapat sebuah sindiran. Dan itu hanya dimiliki oleh orang-orang cerdas.


"Apa yang membuatmu ingin menjadi Sekretaris Saya?" tanya Kevin.


Dita melihat Kevin dengan bingung.


"Saya ke sini, untuk melamar menjadi Sekretaris pemilik perusahaan ini. Saya mendapatkan informasi di situs online, bahwa pemilik perusahaan ini tengah mencari Sekretaris. Apa Bapak pemilik perusahaan ini?" tanya Dita.


"Menurutmu?" tanya Kevin.


Dita menghela napas. Ekspresinya datar, membuat Kevin tak mengerti itu ekspresi macam apa?


"Maafkan Saya, yang Saya tahu sebelumnya, bahwa interview akan dilakukan bersama menejer di perusahaan ini. Tidak dengan pemilik perusahaan ini," ucap Dita.


Kevin tersenyum tipis. Dia memberikan selembar kertas dan bolpoint.


"Tulis salary yang kamu inginkan!" ucap Kevin.


"Maaf, apa ini artinya Bapak menerima lamaran Saya?" tanya Dita.


"Menurutmu?" tanya Kevin.


Dita menghela napas.


"Maaf, Pak. Selama Saya bekerja, dalam dunia pekerjaan ataupun bisnis, tak ada jawaban menurutmu? Tak tahu, ataupun sejenisnya. Jika ya, katakan ya. Jika tidak, katakan tidak. Semua perlu kejelasan. Bukan kebingungan, dan Bapak bicara seperti itu justru membuat Saya bingung," ucap Dita.


Kevin tersenyum. Jawaban Dita benar-benar menakjubkan. Pantas saja dia diberi penghargaan Sekretaris terbaik. Kevin cukup mengerti. Dia melihat Dita sepertinya orang yang tak suka berbasa-basi, sudah pasti dia orang yang konsekuen dan menghargai waktu.


Kevin menyambungkan panggilan pada Angga. Dia mengatakan sudah menemukan sekretasi untuk dirinya.


Dita hanya terdiam melihat Kevin bicara di telepon. Setelah selesai, Kevin melihat Dita kembali.


"Ya, Saya menerima kamu menjadi Sekretaris Saya," ucap Kevin.


Dita tersenyum. Bahagia sudah jelas, dia mendapatkan pekerjaan. Hanya saja, wajahnya tampak biasa saja. Bahkan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Apa kamu tak senang?" tanya Kevin bingung.


"Tentu saja senang, Pak," ucap Dita.


Kevin tersenyum dan mempersilakan Dita untuk menulis salary yang diinginkan. Melihat Dita secara langsung, membuat Kevin yakin bahwa Dita dapat bekerja untuknya dengan baik.


"Maaf, Pak. Bapak belum melihat kinerja Saya. Sementara, Bapak bisa memberikan Saya Salary yang seharunya. Setelah Bapak melihat kinerja Saya, Bapak bisa memutuskannya kembali," ucap Dita tersenyum.


Lagi-lagi Kevin tersenyum. Dia senang sekali mendengar jawaban Dita.


"Baiklah, sudah cukup hari ini. Besok kamu sudah mulai bekerja di Kantor ini. Pelajari kebiasaan datang ke Kantor ini, pastikan kamu datang sebelum Saya ada di ruangan Saya. Besok, Saya akan berikan beberapa berkas perusahaan yang harus kamu pelajari," ucap Kevin.


"Baik, Pak. Terimakasih, Saya permisi!" Dita menjabat tangan Kevin dan keluar dari ruangan Kevin.


Setelah Dita keluar dari ruangan Kevin, masuklah panggilan telepon ke ponsel Kevin.


'Melvin?' gumam Kevin.


Tumben sekali Melvin meneleponnya, pikirnya.


'Iya, Vin,' ucap Kevin.


'Mas, gawat Mas! Mbak Melika, Mas!' ucap Melvin.


Kevin dapat mendengar suara Kevin terdengar terburu-buru.


Seketika jantung Kevin berdegup kencang. Tanpa pikir panjang dia mematikan telepon itu dan beranjak dari duduknya. Dia bergegas keluar dari ruangannya. Dia bahkan berlari menuju lift.