My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 67



Kevin terkejut saat melihat bibi tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Bibi terlihat begitu syok melihat ke arah dirinya dan juga Prischa. Sontak Kevin pun mendorong Prischa menjauh dari dirinya.


"Bi, ada apa?" tanya Kevin.


"Hah! Ti-tidak, Pak. Saya hanya ingin memberikan minuman ini untuk tamu Bapak, tetapi--" bibi menghentikan ucapannya sambil melihat ke arah gelas yang terjatuh ke lantai. Gelas itu tampak pecah dan berserakan di lantai.


"Ya sudah, di bersihkan saja," ucap Kevin.


Bibi mengangguk dan bergegas pergi mengambil sapu juga kain pel untuk membersihkan pecahan gelas tersebut. Sedangkan Kevin langsung menarik Prischa menuju keluar kamar. Kevin terus menarik tangan Prischa. Dia benar-benar kesal karena kelakuan Prischa sampai dilihat oleh bibi. Kevin tentu takut bibi berpikir yang tidak-tidak dan yang lebih dia takutkan, bibi akan bicara pada Melika. Entah dia akan menjelaskan apa pada Melika.


Prischa mengaduh saat Kevin menggenggam tangannya begitu kuat, Prischa mencoba melepaskan tangannya dari cengkaram Kevin yang begitu kuat. Bayangkan saja, Kevin mencengkaram dan menyeretnya menuruni anak tangga.


"Sakit, Vin!" bentak Prischa dan melepaskan paksa cengkraman Kevin. Cengkraman Kevin terlepas, akan tetapi Kevin syok saat melihat apa yang terjadi.


"Ya Tuhan!" bibi yang melihat kejadian itupun menjerit saat melihat Prischa terjatuh tergelinding menuju lantai bawah.


Sementara Kevin menelan air liurnya, jantungnya berdegup kencang. Dia syok, dia tak menyangka Prischa akan terjatuh dari tangga.


"Ya Tuhan! Prischa!" Kevin bergegas menghampiri Prischa dan terlihat Prischa sudah tak sadarkan diri.


"A-apa dia sedang hamil?" tanya bibi.


"Katanya begitu," ucap Kevin cemas.


"Ya Tuhan, ada darah," ucap bibi sambil menunjuk ke arah lantai yang mulai dibasahi oleh darah. Darah itu cukup banyak, dan membuat Kevin semakin panik.


Jadi, dia benar-benar hamil? batin Kevin. Kevin mengusap wajah kasar. Jangan sampai apa yang dia pikirkan terjadi.


"Prish, bangun. Aku mohon!" ucap Kevin sambil menepuk pipi Prischa. Namun Prischa tak bergeming, dia tetap tak sadarkan diri.


Kevin semakin cemas dan mengangkat tubuh Prischa, membawanya menuju mobil. Dia bergegas melajukannya menuju Rumah Sakit terdekat.


Sambil mengemudi, pikiran Kevin berkecamuk. Dia takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada Prischa juga bayinya. Jalanan pagi itu cukup lengang, sehingga Kevin cepat sampai di Rumah Sakit. Dengan tergesa-gesa dia membawa Prischa menuju Unit Gawat Darurat tanpa menggunakan Brankar. Seolah dia benar-benar tak ingin kehilangan satu beritapun tentang Prischa. Bagaimana pun juga Prischa terjatuh karena ulahnya.


Sesampainya di Unit Gawat Darurat, Kevin tak di perbolehkan masuk, sehingga dia menunggu di luar. Dia tak bisa diam, ketakutannya begitu besar. Dia tak bisa membayangkan jika Prischa benar-benar kehilangan bayinya.


Tolong, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja, gumam Kevin.


Kevin menyentuh saku celananya, dan ternyata ponselnya tertinggal di rumah. Dia menjadi semakin gelisah, entah pada siapa dia harus menceritakan kegelisahannya, masalah seolah tak membiarkannya hidup dengan tenang.


Cukup lama menunggu, Kevin pun merasa lelah. Bukan fisik, melainkan pikirannya lelah. Dia lelah, masalah satu belum selesai, timbullah masalah lainnya. Dia bahkan semakin takut menghadapi Melika.


Tak lama Dokter keluar dan menghampiri Kevin.


"Anda suaminya?" tanya Dokter.


"Bukan, Saya temannya. Bagaimana keadaannya?" tanya Kevin cemas.


"Pasien harus di dampingi keluarganya, bahkan oleh suaminya. Karena pasien kehilangan bayinya akibat pendarahan hebat," ucap Dokter.


Kevin membulatkan matanya. Matilah dia, apa yang dia takutkan ternyata benar-benar terjadi.


"Apa bayinya tidak bisa di selamatkan?" tanya Kevin.


"Usia kehamilan pasien masih sangat muda, di usia seperti ini sangat rawan terjadi keguguran. Beruntunglah, tak ada kerusakan fatal di rahim pasien. Apa pasien mengalami guncangan hebat sehingga menyebabkan pendarahan?" tanya Dokter.


"Iya, dia terjatuh," jawab Kevin.


"Jangankan terjatuh, bahkan kelelahan saja kemungkinan keguguran itu bisa terjadi pada usia kehamilan trimester pertama," ucap Dokter.


"Apa Saya boleh melihatnya?" tanya Kevin.


"Nanti, setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat," ucap Dokter.


*****


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Kevin masih tetap mendampingi Prischa. Dia menatap lekat wajah pucat Prischa. Wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu kini terlihat begitu lemah, membuat perasaan bersalah yang begitu besar bersarang dihatinya. Dia takut, dia cemas melihat reaksi Prischa saat siuman nanti.


Kevin tersentak saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Kevin melihat orang itu.


Plak!


Kevin terkejut saat papa Prischa menampar pipinya, tamparan yang cukup kuat dan membekas membentuk telapak tangan papa Prischa di pipi Kevin yang berkulit putih.


"Kurang ajar! Tega sekali kamu melukai anak dan cucu Saya, yang bahkan dia adalah darah dagingmu sendiri!" bentak papa Prischa.


Kevin bangun dari duduknya dan menatap papa Prischa.


"Anak itu bukan anak Saya!" tegas Kevin.


"Lantas, apa kamu punya hak untuk membunuhnya meski dia bukan anakmu?" ucap papa Prischa.


"Saya benar-benar tidak sengaja, tolong maafkan Saya," ucap Kevin. Tanpa papa Prischa mengerti, Kevin pun merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Prischa, dia pun tak tega pada Prischa. Namun, dia pun tak sengaja melakukan semua itu. Dia tidak sejahat itu hingga akan melukai seseorang, apalagi hingga menghilangkan nyawa bayi tak berdosa.


"Kamu akan tahu akibatnya, jika sesuatu terjadi pada anak Saya!" tegas papa Prischa.


Kevin menghela napas pelan, dia pasrah papa Prischa memakinya.


"Ngapain lagi masih di sini? Pergi dari hadapan Saya, dan jauhi anak Saya!" bentak papa Prischa.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Kevin pun keluar dari ruang rawat Prischa. Dia tak ingin lagi berdebat, dia lelah dan ingin istirahat. Dia ingin menenangkan pikirannya.


Kevin pergi menuju parkiran, dan masuk ke dalam mobil. Ada darah yang tertinggal di jok mobil belakang, membuat dia tak bisa langsung pulang ke rumah. Dia pergi menuju car wash untuk mencuci mobilnya terlebih dahulu. Dia tak ingin Melika mencurigainya dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan jika sampai melihat bercak darah itu.


Selesai mencuci mobil, Kevin kembali ke rumah. Langit sudah semakin gelap, Melika pasti sudah berada di rumah.


Sesampainya di rumah, dengan langkah lelah dia memasuki rumah dan melihat Melika tengah duduk di meja makan. Sepertinya Melika tengah menunggunya untuk makan malam bersama.


"Mas dari mana saja?" tanya Melika cemas. Pasalnya, Kevin tak membawa ponselnya dan Melika tak bisa menghubungi nomor Kevin.


"Ada urusan sedikit, apa Bibi tidak memberitahumu?" tanya Kevin.


"Tidak, katanya Bibi tidak tahu Mas pergi ke mana," ucap Melika.


"Aku ingin mandi," ucap Kevin.


"Mau aku siapkan air?" tanya Melika.


"Tidak perlu, kamu tunggu saja di meja makan, aku akan menyusul," ucap Kevin.


"Ya sudah," sahut Melika.


Kevin akan pergi menuju kamarnya, tetapi langkahnya terhenti saat melihat bibi di dekat tangga.


"Terimakasih, karena tidak memberitahu masalah ini pada Ibu," ucap Kevin.


"Karena, Saya tahu Bapak tidak bersalah. Tetapi, bagaimana keadaan wanita itu?" tanya bibi penasaran.


Kevin menghela napas lelah.


"Sudah lebih baik," ucap Kevin dan pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia lelah, pikirannya lelah dan dia butuh menyegarkan tubuhnya.


Di meja makan, Melika membuka bungkusan makanan yang dia bawakan sehabis pulang kerja. Setelah itu, dia menatanya di piring dan bungkus makanan tersebut dia buang ke tempat sampah yang ada di luar dapur. Sudah kebiasaan Melika, sampah yang dapat menimbulkan bau akan dia buang ke tong sampah yang ada di luar rumah. Namun, Melika dikejutkan saat melihat sesuatu yang ada di dalam tong sampah tersebut.