My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 79



Melika merasakan pundaknya seperti terkena rembesan air. Mungkinkah Jian menangis?


"Anda baik-baik saja?" tanya Melika.


Jian tak menjawab pertanyaannya, dia justru semakin erat memeluk Melika. Tubuh Melika yang besar, tentunya membuatnya merasa sesak. Jian sudah seperti anak kecil yang tengah memeluk boneka beruang saja.


Berkali-kali Melika menghela napas, dia menepuk bahu Jian berharap Jian segera melepaskan pelukannya.


Menyadari napas Melika berhembus kasar, Jian pun melepaskan pelukannya.


"Kamu kenapa?" tanya Jian heran.


"Sesak," ucap Melika sambil mengusap dadanya.


"Apa kamu ada riwayat penyakit asma?" tanya Jian.


"Hah! Yang benar saja. Saya sesak karena Bapak terlalu erat memeluk Saya," kesal Melika.


"Ya ampun, maaf. Saya tidak sadar," ucap Jian.


Melika memperhatikan Jian dengan seksama. Mata Jian memerah, benar dia baru saja menangis.


Melika mengambil tissu yang ada di atas dashboard dan memberikannya pada Jian. Jian mengambil tissu itu dan memalingkan wajahnya kearah lain kemudian mengusap air mata yang tersisa. Dia tampak malu diperhatikan oleh Melika. Turun sudah harga dirinya karena menangis di depan wanita.


"Santai saja, pria pun wajar menangis. Karena Bapak pasti punya hati dan perasaan," ucap Melika tersenyum memncoba menghibur Jian agar tak terlihat malu lagi.


"Maaf, Saya mohon kejadian hari ini jangan diceritakan pada siapapun," ucap Jian.


"Apa Saya terlihat bermulut besar? Saya tidak mungkin menceritakan tentang orang lain," ucap Melika.


"Ya, baguslah. Kita pulang ke hotel?" tanya Jian.


"Terserah," ucap Melika.


"Atau mau ke tempat lain dulu? Saya pikir, Saya perlu hiburan," ucap Jian.


"Hm ... Ini termasuk pekerjaan bukan?" tanya Melika.


"Ya, karena aku atasanmu, dan aku meminta dirimu menemaniku, itu saja. Atau aku akan memberikan bonus untukmu," ucap Jian.


"Yang benar saja, kenapa Saya jadi seperti wanita penghibur?" ucap Melika.


"Tentu tidak, Saya tidak berpikir seperti itu. Saya hanya butuh teman untuk bercerita," ucap Jian.


"Iya baiklah, Saya pun sepertinya butuh hiburan," ucap Melika.


Jian tersenyum dan melajukan mobilnya menuju sebuah tempat. Sebelum sampai di tempat yang dimaksud, Jian membeli minuman juga beberapa camilan. Setelah itu dia pun melanjutkan perjalanan.


*****


Beberapa waktu berlalu, mereka sampai di sebuah tebing, di mana di bawah terlihat hamparan laut yang luas. Meski malam hari, di sana tampak agak terang karena adanya penerangan cahaya.


"Saya baru tahu, anda rupanya suka tempat sederhana. Saya pikir, akan ke restauran mewah," ucap Melika tersenyum.


"Apa kamu lapar?" tanya Jian.


"Sedikit," ucap Melika tersenyum.


Jian tersenyum dan memberikan kantong belanjaan tadi pada Melika.


"Saya beli makanan, kamu bisa memakannya," ucap Jian. Melika pun mengambil kantong belanjaan itu. Mereka turun dari mobil dan berdiri bersampingan sambil melihat ke arah lautan.


"Jadi, siapa wanita tadi?" tanya Melika penasaran. Pasalnya, tak mungkin Jian sesedih itu jika tak ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan wanita itu.


"Dia? Dia wanita yang Saya cintai selama bertahun-tahun. Saya telah mengecewakannya, karena itu dia meninggalkan Saya," ucap Jian.


"Sefatal itukah kesalahan Bapak?" tanya Melika.


"Baginya, mungkin begitu," ucap Jian.


"Jadi, karena itu Bapak memilih tidak ingin menikah?" tanya Melika.


"Banyak sekali wanita yang dekat Bapak, apa tidak ada yang dapat memikat hati Bapak satupun?" tanya Melika.


"Mereka mendekati Saya karena uang Saya. Bukannya Saya pelit, tetapi Saya sudah dapat menebak wanita-wanita seperti itu akan meninggalkan Saya dikala Saya tak memiliki apapun," ucap Jian.


"Artinya, mantan kekasih Bapak orang yang berbeda," ucap Melika tersenyum.


"Ya, dia berbeda, apa adanya. Sederhana, pintar, cantik, dia sempurna di mata Saya. Betapa beruntungnya suaminya mendapatkan dia," ucap Jian sambil menyesap minumannya.


Melika mengangguk dan tersenyum.


"Mel!" panggil Jian.


"Ya!" sahut Melika.


"Apa Kevin pernah membuat kesalahan?" tanya Jian.


Melika terdiam, entah dia akan menjawab apa.


"Hm ..."


Jian tersenyum melihat Melika tampak diam. Dia mengerti, menikah pun bukan berarti pasangan tak pernah berbuat kesalahan.


"Jika pernah, atau bahkan sedang melakukannya, maafkanlah dia," ucap Jian.


"Ha?" Melika tampak bingung mendengar ucapan Jian.


"Bagi pria yang sangat mencintai wanitanya, kesalahan sekecil apapun pasti akan coba dia hindari. Hanya saja, pria pun manusia biasa. Ada khilaf, kesalahan yang tanpa sadar dilakukan. Ada pula yang sengaja dilakukan, semua itu demi untuk menjaga perasaan wanitanya. Bukan Saya membela pria karena Saya pria. Tapi, jika kecewanya wanita bisa bertahan sangat lama, bahkan mungkin takkan pernah hilang, maka sama halnya dengan pria. Seumur hidupnya, pria akan menyesal karena sudah menyakiti wanita yang dicintainya. Sungguh, penyesalan itu selalu mengikutinya kemanapun, dan kapanpun. Terlebih, jika wanitanya tak ingin memaafkan dengan alasan apapun," ucap Jian.


Melika terdiam mendengar ucapan Jian. Dia teringat pada Kevin. Kevin mungkin bersalah telah menyembunyikan segalanya yang terjadi, tetapi Kevin sudah menjelaskan bahwa Kevin tak ingin membuatnya cemas, bahkan tak ingin sampai dia terluka.


Lalu, kenapa dia harus marah pada Kevin? Kenapa dia kesal pada Kevin? Kenapa dia tak bisa memaafkan Kevin? Bukankah segala masalah harus di selesaikan bersama? Itu yang selalu Melika tekankan pada Kevin. Lalu, ketika Kevin sudah jujur, mengakui kesalahannya, kenapa Melika justru menyudutkan Kevin, bukannya membantu Kevin keluar dari masalahnya?


Mendengar ucapan Jian, bahwa pria akan menyesali kesalahannya seumur hidupnya, hati Melika terasa sakit. Rasa rindu pada Kevin tiba-tiba hadir di hatinya. Egoiskah dia beberapa hari ini?


"Kamu baik-baik saja, Mel?" tanya Jian memperhatikan Melika dengan seksama.


"Kenapa Bapak mengatakan semua itu pada Saya? Seolah Bapak tahu sesuatu tentang Saya," ucap Melika.


"Saya pria, Saya pernah melihat kesedihan di mata wanita yang kecewa karena sikap Saya. Kurang lebih, seperti kamu saat ini. Jadi, Saya pun paham sedikit banyaknya," ucap Jian tersenyum.


Melika kembali terdiam. Sungguh, dia tak bisa menahan lagi untuk bertemu dengan Kevin. Dia ingin memeluk Kevin dan meminta maaf pada Kevin. Jika saja jarak antara Bali dan Jakarta dekat, Melika akan pulang malam itu juga.


"Makanlah, jangan terlalu banyak berpikir. Besok kita pulang ke Jakarta. Kamu boleh libur dua hari," ucap Jian.


"Benarkah?" tanya Melika antusias.


"Ya, itu bonus untukmu karena sudah mau menemani Saya 2 hari ini," ucap Jian tersenyum.


"Apa Bapak merasa lebih baik?" tanya Melika.


"Ya, jauh lebih baik," ucap Jian tersenyum.


Melika tersenyum dan memanggil Jian. Jian pun melihat Melika.


"Banyak-banyaklah tersenyum, Bapak jauh lebih tampan saat tersenyum," ledek Melika.


Jian terkekeh dan mengajak Melika kembali ke hotel. Dia pun tak enak hati jika membawa Melika keluar lebih lama.


Sesampainya di hotel.


Melika dan Jian pergi bersama menuju kamar masing-masing. Sebelum masuk kamar, Melika pun memanggil Jian.


"Ada apa?" tanya Jian.


"Terimakasih sudah mau menceritakan kisah Bapak, Saya jadi sedikit mengerti tentang pria," ucap Melika tersenyum.


Jian tersenyum dan masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi.