My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 26



Kevin memegang dadanya yang masih berdegup kencang, pandangannya tak hentinya mengarah ke pintu kamar mandinya. Dia sungguh terkejut melihat penampilan Melika belum lama tadi. Bukan karena apa-apa, tetapi ini adalah pertama kalinya Kevin melihat tubuh Melika yang hampir terlihat polos. Ya, karena lingerie itu benar-benar transparan dan bahkan menampilkan lekuk tubuh Melika.


Meski Melika memiliki kelebihan berat badan, namun tubuhnya memiliki lekukan yang terlihat jelas sekali. Jika saja tubuhnya tidak sebesar itu, sudah dapat dipastikan tubuhnya tak akan kalah indah dengan bentuk tubuh para model profesional.


Kevin menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, dia melihat sebuah kartu ucapan yang ada di atas tempat tidurnya, dia pun membaca kartu ucapan itu.


Kevin mengerutkan dahi saat membaca isi dari kartu ucapan tersebut, sesaat kemudian dia pun menyunggingkan seringai penuh maksud.


"Mas, masih di sana?" teriak Melika.


Kevin diam saja, dia pura-pura tak mendengar teriakan Melika. Entah mengapa, dia jadi ingin mengerjai Melika. Dia berjalan ke arah pintu dan menutup pintu dengan cukup keras.


Sementara di kamar mandi, Melika mengembuskan napas lega saat mendengar suara pintu tertutup dengan -keras. Dia berpikir, Kevin sudah keluar dari kamar.


Dengan perasaan yakin Melika pun membuka pintu kamar mandi.


"Ya ampun!" pekik Melika syok.


"Aw!" Kevin meringis saat tiba-tiba Melika mendorong wajahnya.


"Kenapa dorong wajah aku?" tanya Kevin.


Melika memegang dadanya dan bersandar lemas di dinding, untuk kedua kalinya dia di buat terkejut oleh Kevin.


"Mas kenapa berdiri di depan pintu, sih? Aku kaget, Mas," ucap Melika.


"Kenapa memangnya? Apa salah aku?" tanya Kevin.


"Ya salah, Mas. Gimana kalau aku jantungan?" tanya Melika.


"Gampang, tinggal ganti dengan yang baru," ucap Kevin.


Melika membulatkan mata dan mencubit perut Kevin dengan cukup keras.


"Aduh, sakit," lagi-lagi Kevin meringis kesakitan.


"Makanya, kalau bicara itu yang benar," ucap Melika seraya melihat kevin sekilas.


"Tunggu!" Kevin menahan tangan Melika saat Melika akan menjauh darinya.


"Kenapa?" tanya Melika.


Kevin memutari tubuh Melika dan berakhir dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Melika.


"Apa kamu sedang mencoba menggodaku?" bisik Kevin.


Kevin melihat dada Melika dan tangannya menurunkan tali lingerie sebelah kanan Melika.


Melika mengikuti arah pandang Kevin dan menelan air liurnya saat dia menyadari hanya memakai lingerie yang begitu transparan.


"Aku--" jantung Melika berdegup kencang, dia benar-benar gugup saat ini.


"Aku apa?" tanya Kevin.


"A-aku," jantung Melika semakin tak dapat di kendalikan saat tiba-tiba Kevin mendekatkan wajahnya ke wajah Melika.


"Aku sakit perut." Melika pun masuk kembali ke dalam kamar mandi. Saking gugupnya, perutnya bahkan terasa mulas.


Kevin terkekeh melihat tingkah Melika.


Entah mengapa, Melika kini tak terlihat seperti saat pertama kali bertemu dengan Kevin yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Melika yang sekarang justru akan sering terlihat gugup.


Kevin melangkah menuju tempat tidur dan duduk bersandar di kepala tempat tidur seraya memainkan ponselnya. Setelah menunggu beberapa menit, Melika pun keluar dari kamar mandi dan menutupi tubuhnya dengan handuk.


Kevin menghela napas dan menyeringai penuh arti.


"Ah, Mas!" teriak Melika.


Melika memekik saat tiba-tiba Kevin menarik handuknya.


"Kenapa teriak?" tanya Kevin.


"Lagian kamu ngapain kayak gitu? Nggak jadi goda aku, nih?" Kevin terkekeh saat melihat Melika membulatkan matanya.


Brugh!


Kevin terkejut saat tiba-tiba Melika melompat ke atas tempat tidur dan segera menutup tubuhnya dengan selimut, dia pun langsung memunggungi Kevin. Beruntunglah tempat tidurnya memiliki kualitas terbaik, sehingga tak sampai patah.


Kevin menarik selimut itu tetapi Melika mencoba menahannya.


"Kamu kenapa, sih? Kenapa seperti orang ketakutan begitu?" tanya Kevin.


"Bukan, aku hanya belum siap," ucap Melika.


"Lalu, apa maksud kamu melakukan semua ini? Maksudnya, apa maksud kamu memakai lingerie seksi itu?" tanya Kevin bingung.


"Aku di kerjain sama Melvin," ucap Melika.


"Jadi, kamu terpaksa memakainya? Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu memakainya?" tanya Kevin.


"Bukan begitu, Mas. Aku benar-benar gugup," ucap Melika.


Kevin menghela napas panjang.


"Baiklah, kita akan melakukannya saat kamu sudah siap," ucap Kevin.


Melika segera merubah posisinya dan menghadap Kevin.


"Mas nggak marah?" tanya Melika.


"Nggak, kok," ucap Kevin.


"Maaf, Mas, aku takut kalau dipaksakan akan seperti kemarin. Aku nggak enak sama Mas, karena aku pingsan," ucap Melika.


Kevin membuka selimut itu dan masuk ke dalamnya. Dia menatap lekat wajah Melika.


Melika memang cantik meski tubuhnya tak sesempurna mantan kekasihnya. Selain itu, Melika memiliki hati yang baik meski terkadang sikapnya membuat kepala Kevin terasa akan pecah.


'Sepertinya, ide untuk berbulan madu bagus juga,' gumam Kevin.


"Apa?" Melika tak begitu mendengar jelas ucapan Kevin.


"Tidak, tidurlah." Kevin memejamkan matanya.


Melika menatap lekat wajah Kevin, wajahnya begitu tampan dan tak ada cacat sedikit pun.


Dia teringat akan kejadian siang hari, di mana dia melihat Kevin bertemu dengan Prischa.


"Mas!" panggil Melika.


"Hem..." Kevin berdehem tanpa membuka matanya.


"Apa Mas masih mencintai Mbak Prischa?" tanya Melika.


Kevin terkejut mendengar pertanyaan Melika dan sontak membuka matanya.


"Kenapa kamu nanya itu?" tanya Kevin.


"Aku hanya ingin tahu," ucap Melika.


Kevin tersenyum kecil.


"Tidak," ucap Kevin.


"Benarkah?"


"Ya," ucap Kevin.


"Apa Mas mencintai aku?" tanya Melika.


Lagi-lagi Kevin terkejut mendengar pertanyaan Melika. Dia pun diam tak menjawab pertanyaan Melika, dia sendiri bingung dengan perasaannya.