
Kevin menghela napas saat tahu kue itu dihabiskan sendiri oleh Melika. Dia tak habis pikir, karena Melika bisa memakan makanan manis dengan porsi banyak, bahkan dirinya memakan sedikit saja akan merasa kenyang.
"Jangan kebanyakan makan manis saat malam hari, nanti diabet," ucap Kevin dan pergi menuju lemari es. Dia teringat sempat membeli red velpet, dia sudah tak berselera makan malam menu nasi, karena itu akan makan kue saja.
Diambilnya satu potong red velpet dan diletakannya di piring kecil. Kevin menarik kuris makan dan duduk. Dia menyendok sedikit kue dan akan memasukannya ke dalam mulut. Tiba-tiba saja Melika mendekatkan wajahnya dengan mulut terbuka.
"Kenapa?" tanya Kevin bingung.
"Nyobain dong, Mas," ucap Melika tersenyum.
"Kamu sudah makan kue sebanyak itu, dan sekarang masih mau makan kue lagi?" ucap Kevin heran.
"Sedikit saja, aku mau," ucap Melika memelas.
Kevin menghela napas dan menyuapi Melika.
"Enak, ya. Mas ambil lagi, ya. Yang ini buat aku," ucap Melika sambil menarik kue itu. Kevin menahan piring, menandakan dirinya tak mengizinkan Melika memakannya.
"Tidak, kamu sudah terlalu banyak makan manis," ucap Kevin kembali merebut piring itu.
"Mas ..." rengek Melika.
"Tidak, Mel. Aku nggak mau kamu diabet, karena kebanyakan makan manis," ucap Kevin.
"Mas ... Sayangku, cintaku, mau ..." rengek Melika layaknya anak kecil.
Kevin menghela napas panjang dan segera menghabiskan kuenya.
"Mas! Kok nggak bagi aku!" kesal Melika.
Kevin terkekeh dan pergi menuju kamar. Tak mempedulikan gerutuan Melika. Sedangkan Melika beranjak dari duduknya dengan perasaan kesal dan mengambil sepotong red velpet kemudian memakannya. Setelah itu dia pergi ke kamarnya, masuk ke kamar mandi dan membersihkan mulutnya. Kemudian dia menghampiri Kevin yang tengah memainkan ponselnya di tempat tidur.
Melika mendekati Kevin dan memanggilnya.
"Hm ..." dehem Kevin.
"Aku mau," ucap Melika.
"Mel, jangan lagi. Kamu sudah terlalu banyak makan kue," ucap Kevin kesal.
"Isshh ... Bukan kue," ucap Melika.
"Lalu? Mau apa?" tanya Kevin bingung.
Melika tersenyum penuh arti. Kevin pun tersenyum dan menyimpan ponselnya. Dia mengganti lampu kamarnya dengan lampu tidur yang lebih redup.
Tanpa permisi Kevin mencium bibir Melika. Menyalurkan hasratnya yang bahkan cepat sekali naik. Kevin membuka pakaiannya dan juga pakaian Melika, keduanya sudah merasakan gairah yang tak tertahan. Kevin mulai memasuki Melika, menikmatinya dengan gerakan pelan. Melika menghentikan kegiatan Kevin, meminta Kevin berbaring dan Melika lah yang bekerja. Kevin tersenyum, Melika agresif sekali malam itu. Tubuh Melika yang besar pun, lantas membuat Kevin mendadak menjadi pria kuat yang mampu menopang berat badan Melika.
Beberapa menit dalam posisi tersebut, Kevin pun merasa tak tahan karena dikendalikan oleh Melika, dia mengambil alih pergerakan dan melanjutkannya dengan cepat. Tak lama keduanya mengerang cukup keras. Kevin pun ambruk di samping Melika, mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Mel!"
"Ya," sahut Melika di sela mengatur napasnya.
"Kamu agresif sekali malam ini, entah apa yang merasukimu. Tetapi aku menyukainya," ucap Kevin tersenyum.
Seolah tersadar, Melika pun dibuat malu mendengar ucapan Kevin. Benar juga pikirnya, tadi dirinya begitu agresif, dan begitu menikmatinya. Tak seperti biasanya dirinya seperti itu.
Kevin memakai kembali pakaiannya dan beranjak menuju kamar mandi, membersihkan sisa-sisa kegiatan panasnya tadi. Begitu keluar, Melika pun sudah memakai pakaiannya kembali dan gantian masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Karena lelah, keduanya pun akhirnya terlelap.
*****
Satu minggu berlalu.
Kevin semakin bingung dengan keadaan Melika. Melika sering mual di pagi hari, tubuhnya akan lemas dan bahkan sampai tak masuk kerja. Yang membuatnya heran, itu semua terjadi hanya di pagi hari saja hingga sekitar pukul sepuluh pagi. Kevin tentu saja merasa cemas, tetapi Melika selalu menolak pergi ke Dokter. Menurut Melika, dirinya baik-baik saja dan tak sakit.
Kevin pun tak habis pikir, sikap Melika beberapa hari ini begitu manja. Seperti saat ini, Kevin tengah meeting di kantornya, tetapi Melika menyuruhnya pulang dan membelikan rujak. Karena tanggung belum selesai meeting, Kevin pun berniat akan memesankan via online saja agar diantar ke rumah. Tetapi belum sempat dia memesan, Melika justru kembali menghubunginya.
"Ada apa, Mel? Aku sedang meeting, aku akan pesankan untukmu dan akan diantar ke rumah," ucap Kevin.
"Mas, Mas pulang, ya. Anterin sendiri rujaknya. Aku mau makan rujak ditemenin Mas," ucap Melika.
"Aku sibuk, Mel. Aku sedang bekerja. Kamu makan sendiri saja, lagi pula aku nggak suka rujak," ucap Kevin.
"Nggak mau, pokoknya Mas pulang, anter kesini rujaknya. Nggak ada jatah kalau Mas nggak pulang anterin sendiri," ancam Melika dan langsung mematikan telepon itu.
Kevin pun menghela napas panjang. Gawat juga ancaman Melika.
****
Tak berapa lama rujak pun datang. Kevin belum selesai meeting dan Melika terus saja mengirimkan pesan, menanyakan rujaknya. Membuat Kevin benar-benar kesal dan mengakhiri meeting tersebut. Dengan perasaan kesal dia membawa rujak itu menuju basemant dan melaiukan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah.
Kevin turun dari mobil, dan melihat Melika tengah berdiri di garasi. Belum sampai masuk, Melika sudah menanyakan rujaknya. Kevin pun memberikannya pada Melika.
"Tolong, Mel. Lain kali, jangan bersikap kekanakan. Aku sibuk, dan kamu tahu itu. Kamu bisa memesannya sendiri, dan makan sendiri. Jangan menggangguku saat bekerja. Aku nggak suka itu, aku risi terus saja dihubungi ketika sedang bekerja, membuatku nggak bisa fokus," kesal Kevin.
"Aku hanya ingin ditemani suami sendiri, apa itu salah?" ucap Melika.
"Salah, karena waktunya nggak tepat. Aku pemimpin di perusahaan, aku harus mencontohkan yang baik pada bawahanku. Sebelumnya, aku nggak pernah meninggalkan ruang meeting ketika belum selesai meeting. Tapi hari ini, aku meninggalkannya hanya karena harus mengantar rujak," kesal Kevin.
"Maaf, aku cuman mau rujak yang Mas bawakan," ucap Melika merasa bersalah.
Hm ...
"Ya sudah makanlah, aku sudah bawakan. Kamu sudah mendapatkannya," ucap Kevin.
Melika menggelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin bingung melihat respon Melika.
Melika duduk di kursi makan, memasang wajah sedih.
"Kenapa nggak dimakan rujaknya? Makan dong," ucap Kevin.
Lagi-lagi Melika menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau, aku sudah nggak berselera karena Mas kesal sama aku," ucap Melika sedih.
Kevin menghela napas, satu lagi yang membuatnya tak habis pikir. Melika benar-benar sensitif sekali beberapa hari ini. Mudah tersinggung.
Kevin menghampiri Melika dan duduk di dekat Melika. Dia membuka rujak itu dan menyendoknya.
"Ayo makan!" ucap Kevin dengan suara lembut.
Melika melihat Kevin dan Kevin tersenyum.
"Aku nggak kesal, hanya saja aku ingin, saat aku bekerja, tolonglah kamu mengerti," ucap Kevin.
Melika memakan rujak yang disuapi oleh Kevin dan tersenyum.
"Enak, ya. Segar," ucap Melika tersenyum. Dia tak lagi sedih melihat Kevin bersikap lembut.
Kevin pun tersenyum. Ya, setidaknya dia tak lagi membuat Melika sedih, meski dalam hatinya masih saja kesal pada Melika. Melika mengambil alih rujak itu, dan memakannya sendiri. Sedangkan Kevin hanya memperhatikan Melika hingga rujak itu benar-benar habis tak tersisa.
"Besok mau lagi?" tanya Kevin.
"Ha?"
"Kalau mau lagi, jangan minta aku antarkan lagi, ya. Aku sibuk besok. Nanti aku pesankan saja dan minta diantar ke rumah," ucap Kevin mewanti-wanti.
"Nggak, kok. Aku nggak mau," ucap Melika tersenyum.
"Ya sudah, aku kembali ke kantor, ya," ucap Kevin. Melika mengangguk dan mengantar Kevin hingga mobilnya. Dia pun masuk kembali ke rumah dan berpapasan dengan bibi.
"Bu!"
"Ya, ada apa, Bi?" sahut Melika.
"Ibu seperti orang mengidam," ucap bibi tersenyum.
"Apa maksudnya?" tanya Melika bingung.
"Ya, bukankah akhir-akhir ini Ibu sering mual di pagi hari? Sering menginginkan makanan tertentu, Ibu bahkan mau makan rujak. Biasanya, orang hamil begitu," ucap bibi.
Deg!
Seketika jantung Melika berdegup kencang, benarkah dirinya hamil?
Melika memegang perutnya, dan tersenyum. Tanpa mengatakan apapun lagi dia pergi menuju kamarnya. Dia tak hentinya tersenyum sepanjang langkahnya menuju kamar.