
Kevin menghentikan mobilnya di salah satu salon yang berada di Daerah Jakarta Pusat.
"Kita ngapain ke sini, Mas?" Melika melihat dengan bingung ke arah pintu salon.
"Kita akan bertemu client, aku ingin kamu terlihat cantik nanti malam," ucap Kevin.
Melika mengerutkan dahinya.
"Apa maksudnya? Apa selama ini aku tidak cantik?" batin Melika.
"Ayo turun, kenapa bengong?" ucap Kevin dan langsung membuyarkan lamunan Melika.
Melika pun mengangguk dan keluar dari dalam mobil.
"Apa Mas sering datang ke sini?" tanya Melika.
"Dulu iya, sekarang tidak lagi," ucap Kevin.
Melika mengangguk dan mengikuti Kevin memasuki salon tersebut.
"Wah, baru datang lagi, Mas Kevin," ucap pemilik salon bernama Natalie.
Kevin mengangguk sambil memasang ekspresi wajah datarnya.
"Dia istrimu?" tanya Natalie sambil melihat ke arah Melika.
"Ya, buat dia semakin cantik. Aku akan dinner dengannya," ucap Kevin sambil tersenyum menatap Melika.
Melika pun membalasnya dengan tersenyum manis.
"Baiklah," ucap Natalie.
Melika mengikuti Natalie untuk memulai ritual salon-menyalon, sementara Kevin menunggunya di sofa yang berada di ruang tunggu.
Kevin melihat sekeliling salon yang masih tampak sama dengan dulu saat dia masih suka mengantar Prischa.
Kevin memang tak mengetahui salon selain tempat yang saat ini dia datangi, itu pun karena tempat itu adalah tempat yang sering Prischa datangi dan Kevin selalu mengantar Prischa.
Kevin adalah pria yang jika sudah menyayangi seorang wanita maka dia akan melakukan apa saja untuk wanitanya. Mengantar dan menunggu wanita yang dia sayangi di salon bukanlah hal yang sulit baginya, dia bahkan bisa tahan menunggu berjam-jam.
Sambil menunggu Melika, Kevin pun memilih memainkan ponselnya. Dia tersenyum saat melihat foto-foto pernikahannya dengan Melika.
Benar-benar konyol pikirnya, dia menikah dengan seorang wanita yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Wanita yang bahkan tak dia kenal sama sekali sebelumnya.
Namun begitulah jika Tuhan sudah berkehendak menjodohkan kita dengan seseorang, kita bahkan tak dapat menyangkalnya.
Merasa cukup puas melihat foto-foto itu, Kevin pun memilih menyandarkan bahunya dan mendengarkan musik menggunakan headset di telinganya.
Perlahan rasa kantuk mulai menyerangnya, dia pun mulai memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya agar terasa lebih nyaman.
Baru saja Kevin memejamkan matanya, dia kembali terbangun saat merasakan guncangan tak terlalu keras di atas sofa.
"Prischa?" Kevin mengerutkan dahinya saat melihat Prischa sudah duduk di sampingnya.
"Hai." Prischa tersenyum menatap Kevin.
Dia tak menyangka akan bertemu Kevin di salon langganannya.
"Kamu ngapain di sini? Sendirian saja?" tanya Prischa.
Kevin melepas headset di telinganya dan menegakkan duduknya.
"Tidak, aku datang bersama istriku," ucap Kevin.
Prischa tersenyum kecut mendengar kata "istriku" yang entah mengapa membuat dadanya terasa nyeri.
"Aku pikir, kita sehati sehingga bertemu di sini," ucap Prischa.
Kevin tersenyum tipis mendengar ucapan Prischa.
"Apa kamu ingat? Kamu selalu tertidur saat menunggu aku di sini," ucap Prischa sambil tersenyum mengingat kenangannya bersama Kevin.
"Tidak, itu sudah lama," ucap Kevin dengan santai.
Prischa menghela napas perlahan.
"Apa ingatanmu menjadi buruk setelah menikah?" tanya Prischa.
"Tidak, ingatanku baik-baik saja," ucap Kevin.
"Benarkah? Tapi kamu melupakan segalanya tentang kita," ucap Prischa dengan memasang wajah sendu.
Tak ada yang mengerti perasaannya, ditinggal menikah oleh seseorang yang masih sangat dia cintai sangatlah menyiksa baginya, terlebih jika lagi-lagi Prischa harus bertemu kembali dengan Kevin, benar-benar semakin membuatnya sulit untuk melupakan Kevin.
"Segalanya tentang kita sudah berakhir, Prischa. Kini yang ada di pikiran, dan kehidupanku hanyalah istriku, hanya masa depanku bersama istriku. Sebaiknya kamu mencari kebahagiaanmu sendiri, jangan terus mengingat masa lalu. Sungguh tidak baik untuk dirimu sendiri," ucap Kevin.
"Tapi, semua itu tidak mudah, Vin. Aku masih sangat mencintaimu," ucap Prischa dengan sungguh-sungguh mencoba meyakinkan Kevin bahwa di hatinya masihlah tersimpan nama Kevin.
"Lagi pula, istrimu itu hanya ada di pikiranmu saja bukan? Belum tentu dia ada di hatimu," ucap Prischa sambil tersenyum sinis.
Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan nya agak kasar.
"Aku hanya memberikan saran, keputusannya ada di tanganmu, karena itu hidupmu sendiri," ucap Kevin dan pergi meninggalkan Prischa yang terdiam tanpa mengatakan apapun lagi.
Kevin bergegas menuju toilet, dia membasuh wajahnya dan menatap dirinya di cermin.
Dia selalu merasa tak nyaman setelah bertemu kembali dengan Prischa, bagaimana pun Prischa adalah wanita yang pernah sangat dia sayangi dan cintai. Tentu dia tak ingin menimbulkan ke salah pahaman untuk Melika.
Selesai menenangkan dirinya, Kevin pun kembali ke ruang tunggu.
Kevin melihat sekeliling, namun tak menemukan Prischa di sana.
Dia menghela napas lega, sepertinya Prischa memang sudah pergi dari salon tersebut.
*******
Waktu pun berlalu dan Melika sudah selesai dengan ritual salonnya.
Dia pun keluar dengan sudah memakai dress tali kecil yang Kevin belikan, dia juga sudah memakai wedges nya.
Pertama kali Kevin melihat ujung kaki Melika, perlahan dia pun melihat tubuh Melika yang terbalut dress hitam panjang itu hingga tatapannya mengarah pada wajah Melika yang terlihat bersemu merah.
Kevin tersenyum melihat Melika yang rambutnya di cepol ke atas.
"Kenapa senyum? Apa aku aneh?" tanya Melika.
Kevin bangun dari duduknya dan menghampiri Melika.
"Ya," ucap Kevin dengan santai.
Melika mengerucutkan bibirnya dan pergi keluar dari salon.
Kevin mengerutkan dahinya saat Natalie memberikan sebuah paper bag.
"Apa ini?" tanya Kevin.
"Itu baju istrinya Mas Kevin," ucap Natalie.
"Kenapa tidak dibawa sekalian, sih? Sudah seperti supir saja," batin Kevin.
Kevin pun mengambil paper bag itu dan pergi menuju mobilnya.
Dia membuka pintu belakang dan menyimpan paper bag itu di kursi penumpang.
Dia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju Ancol.
Waktu pun berlalu, Kevin menghentikan mobilnya di salah satu hotel yang berada tak jauh dari restauran tempat dia dan papanya Prischa akan bertemu nanti.
"Aku sudah chek in hotel untuk malam ini, kita akan menginap di hotel saja," ucap Kevin.
"Kenapa? Apa pertemuan Mas dengan client Mas sampai larut malam?" tanya Melika.
Kevin menghela napas dan menatap Melika.
"Belum tahu, aku akan ganti baju terlebih dulu," ucap Kevin.
Kevin mengambil stelan jasnya yang ada di belakang.
"Lagi pula, aku ingin menikmati udara sejuk pantai," ucap Kevin.
Kevin memang sangat menyukai pantai, apalagi di malam hari. Terkadang dia akan menghabiskan waktu semalaman hanya untuk menikmati udara sejuk pinggir pantai.
Melika tersenyum dan mengangguk.
Dia pun mengikuti Kevin memasuki hotel.
*******
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.40 wib.
Kevin dan Melika turun menuju restauran yang berada tak jauh dari hotel tempat dia chek in, tempat di mana Kevin akan bertemu dengan papanya Prischa.
Melika menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik begitu mereka sampai di meja client yang Kevin maksud. Melika merasa bingung saat melihat ada Prischa juga di sana.
"Nanti aku jelaskan semuanya," ucap Kevin.
Melika pun menganggukkan kepalanya.
"Maaf, anda harus menunggu," ucap Kevin sambil menjabat tangan papa Prischa.
"Tidak masalah, kami baru saja sampai," ucap papa Prischa.
Kevin melihat ke arah Prischa dan menyodorkan tangannya. Dia menjabat tangan Prischa, begitu pun juga Melika yang menjabat tangan papa Prischa bergantian dengan Prischa.
"Ada apa anda ingin bertemu? Saya bahkan sedang dalam masa cuti," ucap Kevin tanpa basa-basi.
Prischa dan papanya saling tatap dan tersenyum.
"Saya sungguh tidak tahu tentang masa cuti kamu," ucap papa Prischa.
Kevin pun tersenyum tipis, dia ingat betul siang tadi Karin memberitahunya bahwa Karin sudah mengatakan pada papa Prischa saat ini dia sedang dalam masa cuti.
"Jadi, ada masalah apa hingga anda meminta untuk bertemu? Apa ini tentang pekerjaan?" tanya Kevin.
"Tentu saja," ucap papa Prischa.
Kevin pun mengangguk.
"Saya mengajak kamu bertemu, karena ingin memperkenalkan putri saya, Prischa. Tentunya kamu masih ingat betul dengan anak saya ini, wanita yang sudah kamu tolak," ucap papa Prischa.
Kevin mengerutkan dahinya, entah apa maksud pembicaraan papa Prischa. Dia sendiri yang mengatakan akan membicarakan soal pekerjaan, namun nyatanya justru membahas tentang apa yang terjadi sekitar dua bulan yang lalu.
"Saya rasa, itu bukanlah masalah pekerjaan, karena di dalam pekerjaan tak akan pernah membahas urusan pribadi," ucap Kevin.
Prischa dan sang papa terkekeh mendengar ucapan Kevin.
"Ayolah, Vin. Jangan serius begitu, papaku hanya bercanda," ucap Prischa.
Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan, pertemuannya dengan papa Prischa sungguh membosankan.
"Ya, saya rasa, saya belum memberitahumu tentang orang yang mengambil alih mengurus proyek yang saat ini sedang berjalan, Karena itu saya mengajakmu untuk bertemu," ucap papa Prischa.
"Saya sudah tahu, Prischa yang mengambil alih proyek itu," ucap Kevin.
Papa Prischa tersenyum dan mengangguk.
"Ya, setidaknya saya pun harus memberitahu mu, bukan?" ucap papa Prischa.
Kevin pun tersenyum dan mengangguk.
"Oh ya, Vin. Maaf, karena siang tadi aku pergi duluan dari salon, aku ada urusan mendadak," ucap Prischa.
Kevin menatap Prischa dan sesaat kemudian melihat ke arah Melika yang juga tengah melihatnya.
"Aku tidak menyangka, kamu masih ingat dengan salon favorit aku dulu. Bahkan kamu membawa Melika ke sana juga," ucap Prischa sambil tersenyum.
Melika menatap Kevin dengan tatapan tajam, dia tak menyangka ternyata Kevin bertemu dengan Prischa dan tak memberitahunya.
"Oh ya, Mel. Kamu beruntung sekali memiliki suami seperti Kevin, dia adalah pria yang sabar saat menunggu di salon. Dulu, saat kami masih bersama, dia selalu mengantarku ke salon dan sabar menungguku di sana," ucap Prischa sambil tersenyum.
Melika mengepalkan tangannya, dadanya terasa sesak mendengar Prischa terus menceritakan tentang kedekatannya dengan suaminya dulu.
"Ya, aku memang sangat beruntung," ucap Melika sambil menyunggingkan senyum manisnya, namun tak ada yang tahu saat ini dadanya benar-benar terasa panas.
Prischa menatap Melika dan mengerutkan dahinya.
"Selain sabar, Mas Kevin juga orang yang pengertian dan romantis. Setiap hari pasti ada saja kejutan yang dia berikan," ucap Melika sambil menggenggam tangan Kevin.
Kevin mengerutkan dahinya saat genggaman Melika semakin kuat dan itu membuat tangannya terasa sedikit ngilu.
"Benarkah? Jadi, Kevin romantis?" tanya Prischa.
Melika pun tersenyum dan mengangguk.
"Sangat, sangat romantis," ucap Melika.
"Wow, aku jadi penasaran. Seandainya aku yang ada di posisimu, atau paling tidak aku menjadi istri kedua Kevin pun, aku tidak keberatan," ucap Prischa sambil terkekeh.
"Auuww ..." Kevin memekik saat Melika menggenggam tangan Kevin dengan sekuat tenaganya, Kevin benar-benar merasakan tangannya sudah seperti akan remuk.