My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 99



Melika terkejut melihat Kevin terjengkang. Bukan maksudnya ingin membuat Kevin terjatuh. Dia hanya merasa gemas mendengar ucapan Kevin.


"Maaf, Mas. Aku nggak sengaja," ucap Melika.


"Nggak sengaja bagaimana? Kenapa setelah sadar dari koma, tenagamu kuat sekali?" ucap Kevin sambil mencoba bangun.


Kevin kesal, dia ingin marah tapi tak bisa.


"Maaf, aku benar-benar nggak sengaja," ucap Melika merasa bersalah.


"Jangan diulangi!" ucap Kevin.


"Lagian Mas, sih. Ada-ada saja bilang begitu. Mana mungkin bayi sekecil itu sudah bisa meminta adik," ucap Melika.


"Ya, sudah tahu tak mungkin. Kenapa kamu malah menganggap serius?" ucap Kevin.


Melika terkekeh. Dia meminta Kevin duduk di dekatnya. Kevin menurut. Dia duduk di dekat Melika.


Melika memegang wajah Kevin.


"Apa ada yang sakit?" tanya Melika.


"Iniku sakit." Kevin memegang bokongnya yang terasa sakit. Melika semakin terkekeh. Kasihan sekali suaminya itu.


"Maaf, ya. Sini, aku lihat. Ada yang memar atau nggak?" ucap Melika.


Kevin bangun dari duduknya.


"Nggak usahlah. Ngapain pakai dilihat segala. Yang jelas ini sakit," ucap Kevin.


Tak habis pikir pada Melika. Yang benar saja Melika ingin melihat bokongnya. Malu sekali rasanya. Meski Melika sudah sering melihat tubuh polos Kevin, tetapi tatap saja rasanya akan sangat malu jika dilihat dengan sengaja.


Melika masih terkekeh. Lucu sekali suaminya itu.


"Ya sudah, istirahatlah. Aku akan mandi di atas. Tadi pagi aku nggak sempat mandi," ucap Kevin.


Melika mengangguk. Dia bersandar di kepala tempat tidur sambil terus memperhatikan Kevin hingga keluar dari kamar itu.


"Kami akan pamit, kami tak ingin mengganggu istirahat Melika," ucap mama Melika begitu Kevin akan menuju tangga.


Rumah itu memang memiliki ruangan yang luas dengan ruang tamu dan ruang makan menyatu. Bahkan tangga pun ada di ruangan itu.


"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Kevin.


"Nanti, kami akan ke sini lagi. Lagi pula, di sini ada Suster yang akan merawat bayi kalian," ucap mama Melika.


"Iya baiklah. Kalian hati-hati, ya. Terimakasih sudah menyempatkan untuk datang ke sini," ucap Kevin tersenyum.


Mereka semua pergi dari rumah Kevin. Dan Kevin bergegas mandi. Tak bisa berlama-lama pikirnya, dia takut Melika membutuhkannya. Meski ada Suster, tetap saja Kevin merasa cemas.


Selesai mandi, Kevin memakai pakaiannya dan kembali ke kamar Melika. Kevin mengerutkan dahinya saat melihat Melika memijat area dadanya. Di sana juga ada Suster yang menemani Melika.


"Kamu sedang apa?" tanya Kevin.


"Kata Suster, ini cara agar air Asi-ku keluar, Mas. Kasihan sekali jika anak kita nggak dikasih Asi," ucap Melika.


Kevin mengangguk. Dia mendekati bayinya yang masih terlelap.


"Lakukan ini setiap hari, ya, Bu. Bersihkan selalu," ucap Suster.


Melika mengangguk. Dia akan melakukan apapun agar anaknya dapat meminum Asi dirinya. Meski mungkin sedikit terlambat, tetapi tak ada yang tak mungkin terjadi jika mau berusaha. Dan Melika akan berusaha melakukan apa yang Suster katakan.


"Apa dia belum bangun dari tadi?" tanya Kevin sambil terus menatap wajah bayinya.


"Karena ada Ibunya di sampingnya," ucap Kevin.


Melika mengangguk.


"Aku janji, Mas. Aku akan merawatnya dengan baik. Dia titipan Tuhan yang begitu luar biasa. Aku menyayanginya, aku mencintainya, Mas," ucap Melika.


"Bagaimana denganku? Apa cintamu kini berpaling dariku?" tanya Kevin.


"Tentu saja tidak. Untuknya, cinta dan sayang sebagai orangtua. Untukmu, cinta sebagai pasangan hidup. Aku mencintai kalian berdua, pria-pria yang begitu berarti dalam hidupku," ucap Melika.


Kevin mendekati Melika. Dia memeluk Melika dan dibalas pelukan oleh Melika.


"Aku juga, terimakasih sudah memberikanku hadiah paling berharga dalam hidupku. Kalian juga berarti untukku. Bagaimana pun caranya, sesulit apapun itu, aku akan berusaha menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab untuk kalian," ucap Kevin.


Melika mengangguk. Dia kembali menangis haru.


Waktu berlalu.


Tepat 40 hari usia anak Melika dan Kevin. Kini, di kediaman Kevin tengah diadakan acara aqiqah sang bayi. Melika tengah menyusui bayinya dengan ditemani oleh Kevin, itu adalah pertama kalinya Melika menyusui sang bayi.


Tertulis sebuah nama "Melvino Bramasta" yang berhiaskan bunga-bunga cantik.


Ya, itu nama bayi Kevin dan Melika. Nama itu diberikan oleh Melika, sesuai janji Kevin yang akan menunggu Melika hingga Melika sadar dari komanya.


Di kediaman Kevin tampak berkumpul semua keluarga dan teman-temannya. Ada Prischa juga di sana, dia datang bersama Bryan. Prischa tampak cantik dengan memggunakan dress putih dan terlihat perutnya membuncit. Kini dia tengah mengandung benih hasil pernikahannya dengan Bryan. Keguguran yang dia alami saat itu, tak lantas membuatnya kesulitan untuk hamil lagi. Karena pada dasarnya Prischa wanita yang sehat.


Prischa membawakan bayi itu sebuah kado, entah apa isinya tetapi dia ikut bahagia melihat perayaan aqiqah bayi Melika dan Kevin. Memutuskan menikah dengan Bryan, nyatanya adalah pilihan yang tepat meski awalnya dia tak pernah menginginkan pernikahan itu. Dia mengerti, bahwa sesulit apapun jalannya, jika sudah menjadi takdirnya untuk berjodoh dengan Bryan, maka Tuhan akan tetap membawanya pada pelukan Bryan.


Prischa juga memahami apa yang dia rasakan selama ini pada Kevin bukanlah rasa cinta. Dia mengerti, jika dia mencintai Kevin tentu dia takan mengkhianati Kevin saat itu. Pada kenyataannya, takdir manusia tak pernah ada yang tahu.


Satu persatu rangkaian acara aqiqah di mulai. Dua ekor kambing telah di persiapkan Kevin dan Melika.


Kevin menggendong bayinya, membawanya mengitari para tamu undangan termasuk keluarganya. Melika pun tampak cantik menggunakan dress putih senada dengan pakaian Kevin dan Melvino.


Para tamu mengusap kepala bayi kecil yang terlihat tumbuh lebih besar dari bayi biasanya. Bayi itu terlihat seperti bayi berusia dua bulan. Tubuhnya besar.


Selesai satu persatu acara aqiqah, Kevin pergi mengambil sebuah mic. Dia menyapa para tamu dengan memberikan sebuah cuitan.


"Terimakasih, sebelumnya untuk semua tamu undangan yang hadir pada acara hari ini. Acara ini adalah untuk anak kami, khususnya Saya dan Istri Saya, Melika. Ini adalah pertama kalinya kami mengumumkan nama anak kami, yaitu Melvino Bramasta. Kami menikah, Satu tahun dua bulan yang lalu, kurang lebih. Pernikahan yang awalnya tak pernah terpikirkan bagi Saya, bahkan mungkin bagi Melika. Kami menikah atas permintaan Papa, saat itu. Ya, memang orangtua akan selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kami menikah tanpa cinta saat itu, sampai akhirnya setelah kami hidup bersama membawa kami terbiasa akan saling mengisi satu sama lain sehingga hadirlah perlahan rasa cinta itu. Dalam waktu singkat, karena pada dasarnya, memang kami sudah ditakdirkan untuk bersama, karena itu Tuhan mengisi hati kami dengan rasa cinta dan kasih sayang terhadap satu sama lain. Dan inilah buah cinta kami, Melvino Bramasta." Kevin mengusap lembut kepala sang bayi.


"Kelak, dia akan menjadi penerus keluarga kami. Dia putra pertama kami. Dia anugerah terindah dari Tuhan yang dititipkan pada kami sebagai orangtua yang dipercaya untuk merawat Melvino. Mohon do'anya untuk putera kami, agar kelak dia dapat menjadi manusia yang berguna bagi keluarga dan negaranya. Di sini, Saya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih Saya pada Melika, dia Istri yang luar biasa. Dia melengkapi segala kekurangan Saya sebagai kepala rumah tangga. Dia Istri terbaik yang dipilihkan oleh Papa Saya, dan Saya berterimakasih pada Papa, karena telah memilihkan jodoh terbaik." Kevin melihat sang papa yang tampak matanya memerah karena terharu. Dia bersyukur, karena dirinya memilih wanita yang tepat untuk Kevin.


"Saya yakin, dalam hidup ini segala sesuatunya tak ada yang kebetulan. Segalanya sudah direncanakan oleh Tuhan, hanya saja kita tak pernah tahu kapan rencana itu akan sampai ditangan kita. Banyak yang mengatakan, mengapa mau pada Melika? Melika tak cantik, dia tak sempurna, bahkan ada yang mengatakannya seperti Badak. Saya hanya tersenyum mendengar semua ucapan mereka di luar sana," Kevin melihat Prischa. Dia ingat sekali saat itu Prischa mengatakan Melika seperti seekor Badak.


"Ketahuilah, jika di hati kalian terdapat rasa cinta yang tulus, maka mata kalian akan tertutup terhadap fisik dari orang yang kalian cintai. Mungkin dia tak sesempurna wanita di luaran sana, tetapi Saya yakin dialah jodoh terbaik Saya. Karena fisik akan memudar seiring waktu. Seiring bertambahnya usia. Namun, hati yang tulus, takan pernah lekang sampai kapan pun, dan itulah kelebihan Istri Saya. Saya mencintainya, bagi Saya dia wanita tercantik setelah Mendiang Mama Saya dan juga setelah wanita yang melahirkannya, yaitu Mertua Saya (Kevin melihat Mama Mertuanya, menunjuk Mama Mertuanya) Terimakasih, Ma, sudah melahirkan anak sebaik Melika. Saya berjanji akan bertanggung jawab terhadap dirinya," ucap Kevin.


Kevin memandang satu persatu keluarganya ketika mengatakan semua itu. Semua orang tampak terdiam mendengarkan ucapan Kevin. Mereka merasa bangga pada Kevin karena memiliki istri yang luar biasa seperti Melika. Bahkan Prischa merasa bersalah ketika mendengar Kevin mengatakan, ada yang mengatakan istrinya seperti Badak. Ya, Prischa menyadari pernah mengatakan itu. Dia menyesal, karena tak seharusnya menghina fisik Melika, karena sama saja dengan dia menghina ciptaan Tuhannya. Manusia adalah makhluk sempurna yang Tuhan ciptakan di muka bumi ini, jadi semua sempurna di mata Tuhan, meski terlihat tak sempurna di mata manusia.


Kevin mendekati Melika. Dia menggenggam tangan Melika.


"Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan. Aku berharap, kelak kita akan menua bersama, hingga hanya takdir Tuhan selanjutnya lah yang akan memisahkan kita. Aku mencintaimu, Mel. Aku sangat mencintaimu." Kevin mengecup dahi Melika cukup lama. Melika tak tahan lagi menahan sesak karena rasa haru. Dia meneteskan ari matanya. Dia merasa beruntung karena memiliki suami yang mencintainya begitu besar.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Terimakasih sudah mencintaiku sebesar itu," ucap Melika.


Hari itu, hati Melika begitu bahagia sebagai seorang Istri sekaligus Ibu. Sebagai Ibu, dia akhirnya merasakan benar-benar memberikan Asi-nya pada sang buah hati. Dan sebagai Istri, dia bahagia mendengarkan ungkapan cinta Kevin yang ternyata begitu besar dari apa yang dibayangkannya. Dia beruntung memiliki orang-orang yang menyayanginya. Melika melihat satu persatu anggota keluarganya.


'Aku menyayangi kalian. Terimakasih Tuhan, untuk segalanya,' batin Melika menangis haru.


TAMAT.