My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 65



Melika terkejut saat dengan santainya dia akan masuk ke ruangan Jian. Melika berpikir, waktu masih menunjukan sebelum pukul delapan pagi, karena itu dia berpikir Jian belum sampai di kantor. Namun, dugaannya salah. Jian justru berada di ruangannya bersama dengan seorang wanita. Bahkan yang membuat Melika terkejut, karena Jian tengah bercinta dengan seorang wanita.


Melika yang terkejut pun sontak menutup kembali pintu ruangan Jian, dan mengurungkan niatnya untuk masuk. Sepertinya, dia akan tinggal di luar untuk sementara waktu hingga Jian dan wanita itu selesai dengan kegiatannya.


Apa yang Melika lihat tentang Jian, bukanlah untuk pertama kalinya. Saat dulu bekerja pada Jian, dia pun pernah beberapa kali memeregoki Jian tengah bercinta dengan seorang wanita bahkan hingga membuat Melika merasa tak nyaman bekerja pada Jian, meski Jian adalah atasan yang baik terhadapnya.


Melika mengambil ponselnya saat terasa sebuah getaran dari dalam tasnya. Dia mengerutkan dahinya saat melihat nomor Jian menghubunginya.


"Masuk, Mel," ucap Jian tanpa basa basi.


"Apa? Bapak nggak salah nyuruh Saya masuk?" Melika terkejut mendengar ucapan Jian.


"Tak perlu bertanya apapun, masuklah!" tegas Jian.


Belum sempat Melika mengatakan apapun, Jian langsung mengakhiri telepon tersebut. Melika menghela napas panjang dan mengelus dadanya sebelum membuka pintu ruangan Jian. Lagi-lagi Melika dikejutkan dengan seorang wanita yang sebelumnya dia lihat tengah bercinta dengan Jian. Wanita itu tampak mendengus kesal dan pergi dari ruangan Jian.


Melika melangkah canggung masuk ke ruangan Jian. Dia merasa malu sempat tak sengaja melihat kegiatan Jian. Dulu mungkin berbeda, perasaannya biasa saja. Namun, kini dia sudah menikah, tentu dia pun pernah melakukan apa yang Jian dan wanita itu lakukan😐


"Kenapa melihat Saya seperti itu? Bukankah salahmu sendiri? Main masuk ke ruangan orang sembarangan," kesal Jian.


Melika tersenyum canggung, habislah dia. Hari pertamanya masuk kerja justru membuat kesan yang tak bagus di mata Jian.


"Saya pikir, Bapak belum datang," ucap Melika.


Jian menatap Melika dengan dingin, membuat Melika menjadi semakin merasa canggung.


"Sudahlah, buatkan Saya jus dingin," ucap Jian.


"Sejak kapan?" tanya Melika bingung.


"Apanya?" tanya Jian bingung.


"Sejak kapan Bapak minum dingin di pagi hari?" tanya Melika bingung.


"Masih bertanya? Menurut kamu sejak kapan Saya mau minum dingin di pagi hari?" ucap Jian balik bertanya.


Melika menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja sejak--"


Melika mengerutkan dahinya saat Jian tak melanjutkan ucapannya. Jian menghela napas kasar dan bangun dari duduknya.


"Sudahlah, Saya saja yang buat!" kesal Jian dan keluar dari ruangannya.


Melika semakin bingung melihat tingkah Jian.


Memangnya, apa yang salah dengan pertanyaanku? batin Melika.


"Sudahlah, mungkin dia tak mendapatkan keinginannya, karena itu dia menjadi seperti itu." Melika pun terkekeh. Entah mengapa dia jadi memikirkan Jian tak dapat menuntaskan hasratnya, karena itu Jian bersikap seperti itu. Apalagi saat melihat wanita tadi, ekspresinya terlihat kecewa.


Di sisi lain.


Dengan kesal Jian pergi menuju pantry, dia melihat tak ada siapapun di sana.


"Yang benar saja, kemana orang-orang? Apa aku benar-benar harus membuat minuman dingin sendiri? Ya ampun, kenapa aku menjadi bos tak memiliki harga diri sekali," gerutu Jian.


Jian kesal karena tak dapat menuntaskan hasratnya. Kedatangan Melika tiba-tiba keruangannya, tentu dia pun menyadarinya. Melika benar-benar membuatnya kehilangan muka. Meski bukan untuk yang pertama kalinya, Jian merasa malu pada Melika. Apalagi Melika kini tak sendiri, Melika sudah bersuami.


Seharusnya, aku tak perlu bersikap seperti ini. Tapi, kenapa rasanya malu sekali saat Melika memeregokiku? Keinginan menuntaskan bercinta dengan Kania pun hilang begitu Melika masuk ke ruanganku. Tapi-- Jian memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Kepalaku sakit sekali, ya ampun!" keluh Jian.


Tak membuat jus yang dia minta sebelumnya pada Melika, Jian justru mengambil mineral water. yang ada di lemari es dan meminumnya. Kepalanya terasa sakit akibat hasratnya tak tertuntaskan. Dia pun terpaksa harus meminum minuman dingin agar hasrat untuk bercintanya menghilang.


Author: Rupanya, apa yang Melika pikirkan benar😌😆