
Kevin benar-benar terkejut mendengar ucapan Jerry. Gila pikirnya, temannya itu justru menyarankan untuk one night stand. Kevin bukanlah pria yang memiliki kehidupan free sex. Tentu saja dia takan mau melakukan hal gila seperti itu. Dia bahkan memiliki istri yang bisa diajaknya berhubungan dengan halal jika dia menginginkannya.
"Santai, Bro! Kamu terlalu menanggapi serius," ucap Jerry terkekeh.
"Gila, sih. Jangan bilang kamupun melakukannya," ucap Kevin.
"Tentu saja tidak, memangnya aku pria murahan! Aku dan tubuhku hanya milik calon istriku," ucap Jerry.
"Hm ... Aku pikir begitu," ucap Kevin.
"Tidaklah, sudahlah jangan dibahas. Ngomong-ngomong, aku bukannya mau mengusirmu. Tapi aku ada meeting sebentar lagi. Jika kamu ingin menunggu, tunggu saja hingga aku selesai meeting. Setelah itu, kita pergi keluar," ucap Jerry.
"Ah, jadi kamu sibuk. Baiklah, aku pergi saja. Akupun harus bekerja," ucap Kevin.
"Oke deh, kalau begitu."
Kevin beranjak dan meninggalkan ruangan Jerry. Dia pun kembali ke kantornya.
Sesampainya di kantor, Kevin melihat ada seseorang tengah duduk di sofa yang ternyata sang papa.
"Pa!" panggil Kevin.
"Hai, Nak. Dari mana saja? Kata sekretarismu, kamu sudah di kantor lalu pergi," ucap papa.
"Ya, aku ada urusan tadi. Kenapa Papa keluar? Apa sudah sehat betul?" ucap Kevin cemas.
"Papamu hanya sakit ringan, belum sekarat. Tentu saja Papa baik-baik saja. Papa hanya bosan di rumah," ucap papa.
"Ayolah, jangan aneh-aneh. Papa adalah orangtuaku satu-satunya, jangan membuatku cemas, jika terjadi sesuatu dengan papa, aku pasti akan sedih," ucap Kevin.
"Kamu minum?" tanya papa saat tercium aroma alkohol ketika Kevin tengah berbicara.
"Hm ... Sedikit," ucap Kevin.
"Ada apa? Apa ada masalah lagi?" tanya papa.
"Tidak ada, aku bertemu teman. Hanya menemaninya sebentar," ucap Kevin tersenyum.
"Jangan berbohong, Vin. Papa mengenalmu sejak kecil, jadi papa hapal betul ketika kamu jujur ataupun berbohong," ucap papa mencoba mendesak Kevin untuk jujur.
"Hm ... Ada sedikit masalah dengan Melika," ucap Kevin.
"Jadi, kalian belum berbaikan?" tanya papa.
"Belum, dia bahkan sulit diajak bicara," ucap Kevin.
"Kalau begitu, ajak dia makan malam di luar, agar kalian bisa lebih santai bicara," ucap papa.
"Dia sedang ada pekerjaan di Bali, jadi tidak di sini," ucap Kevin.
"Benarkah? Kalau begitu, saat dia kembali nanti ajaklah dia bicara baik-baik, jangan biarkan masalah dalam rumah tangga berlarut-larut. Selesaikan secepatnya, agar tak menjadi boomerang di kemudian hari," ucap papa.
"Iya, Pa. Papa jangan terlalu banyak berpikir, aku akan baik-baik saja," ucap Kevin.
"Ya, papa percaya padamu."
Papa Kevin tetap tinggal di ruangan itu, sementara Kevin izin memeriksa beberapa berkas yang diberikan nikan pagi tadi. Berkas itu membutuhkan tanda tangannya, tetapi diapun perlu memeriksanya terlebih dahulu. Sang papa hanya memperhatikan Kevin yang sibuk bekerja, Kevin adalah anak yang baik, mandiri dan giat bekerja. Beruntunglah dia memiliki anak yang begitu mempedulikannya. Diapun berharap, kelak Kevin tak hanya menjadi pemimpin yang baik, tetapi juga menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.
*****
Waktupun berlalu, di Bali beberapa menit lagi waktu akan menunjukkan pukul empat sore. Jian sudah bersiap dengan setelan formalnya, dasi kupu-kupu bertengger di lehernya membuatnya terlihat tampan. Dia pun keluar dari kamar berniat akan menjemput Melika di kamarnya.
Tak berapa lama, Melika pun keluar dari kamar sehingga mereka berpapasan di depan kamar. Jian memperhatikan Melika dengan seksama, penampilan Melika tak membuat Jian merasa puas. Pasalnya, Melika menggunakan setelan formal kerja.
"Tunggu di sini!" Jian bergegas masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah paper bag. Begitu keluar dari kamar, dia memberikan paper bag itu pada Melika.
"Pakaianmu tidak sesuai dengan tema acara sore ini, pakailah pakaian ini, Saya tunggu lima menit dari sekarang!" ucap Jian.
Melika melongo mendegar ucapan Jian.
"Memangnya acara apa, sih, Pak?" tanya Melika penasaran.
"Sudahlah, ganti saja dulu. Nanti, kamu pun akan tahu," ucap Jian.
Melika pun masuk ke kamar dan membuka paper bag itu. Ternyata isinya sebuah gaun berwarna gold dan juga sebuah heels berwarna senada.
Sejak awal Jian tak memberitahunya ada urusan apa mereka ke Bali, karena itu Melika tak menyiapkan apapun. Melika memperhatikan gaun tersebut. Terlihat besar sekali ukurannya. Dia pun tak yakin gaun akan pas di badannya.
Melika memakai gaun tersebut, dan melihatnya di cermin. Melika menghela napas panjang, nyatanya gaun itu pas sekali di badannya. Gaun panjang itu terlihat elegan, dan tak terlalu seksi. Membuat Melika terlihat begitu cantik. Melika mengikat rambut gelombangnya dengan ikatan bawah tak terlalu rapi, membuatnya terlihat semakin cantik.
"Dia insting-nya kuat sekali, gaun ini membuatku terlihat sangat cantik," ucap Melika tersenyum. Tak lama dia pun keluar dari kamar dan menghampiri Jian.
"Hm ..." Jian bergumam melihat penampilan Melika, diapun meninggalkan Melika lebih dulu dan Melika menyusul di belakangnya.
"Apa penampilanku aneh? Kenapa dia bergumam? Hm ... Aku rasa, aku cantik," ucap Melika percaya diri.
Sesampainya di mobil, tak ada supir di sana. Jian mengemudikan mobilnya sendiri. Melika pun duduk di samping Jian. Tak banyak bertanya, sepanjang perjalanan Melika hanya melihat ponselnya, dia tak habis pikir karena tak ada satupun pesan yang masuk dari Kevin. Dia pun mengurungkan niatnya menghubungi Kevin, karena masih kesal pada Kevin.
Tak terasa mereka sampai di sebuah hotel, di mana di sana terdapat beberapa bunga dengan ucapan selamat menempuh hidup baru. Melika terlihat bingung ketika Jian turun dari mobil dan menyodorkan tangannya meminta Melika meletakan tangan di atas tangannya agar Jian bisa menggandengnya.
Melika bersikap itu untuk profesional kerja, mengingat Jian pernah mengatakan akan bertemu teman lamanya dan akan membahas sebuah pekerjaan. Mungkin saja bunga bertulisakan ucapan selamat itu karena memang ada orang lain yang tengah melangsungkan pernikahan di sana.
Jian dan Melika masuk ke dalam hotel dengan bergandengan tangan, Melika menghentikan langkahnya membuat Jian pun menghentikan langkahnya dan melihat Melika.
"Apa kita akan ke acara pernikahan seseorang?" tanya Melika.
"Ya," ucap Jian.
"Kenapa Bapak bilang akan datang untuk urusan pekerjaan?" tanya Melika heran.
"Nanti, akan Saya jelaskan," ucap Jian.
Melika menghela napas dan mengikuti Jian ke dalam ballroom. Di sana tampak ramai para tamu undangan, perhatian Melika mengarah pada pengantin wanita yang begitu terlihat cantik dengan riasan natural. Jian pun tampak terpana melihat pengantin wanita itu.
"Dulu, aku bermimpi akulah yang mendampingi wanita itu," ucap Jian pelan.
"Ha? Apa dia mantan kekasih Bapak?" tanya Melika terkejut.
"Ya, Saya menyukai Bali karena dia. Tetapi hari ini, dia menjadi milik orang lain, Saya merasa menjadi pria tak berguna," ucap Jian.
"Kenapa begitu?" tanya Melika.
Jian menatap Melika, tatapan Jian terlihat tak biasa. Melika terkejut saat tiba-tiba Jian menggenggam tangannya.
"Berjanjilah, apapun yang terjadi setelah Saya menyapanya, kamu akan menemani Saya, akan berada di sisi Saya," ucap Jian memelas.
"Apa?" Melika tampak bingung. Benarkah di hadapannya seorang Jian yang tengah memohon padanya? Kenapa Jian terlihat begitu sedih.
Jian tersenyum dan kembali menggandeng Melika.
"Kita sapa pengantinnya dulu." Jian menuntun Melika mendekati pengantin, Jian pun menyalami pengantin itu. Pengantin wanita itu tampak tersenyum melihat Jian dan Melika. Mereka mengucapkan selama atas pernikahan sepasang pengantin itu.
"Semoga kalian segera menyusul," ucap pengantin wanita itu pada Jian dan Melika. Rupanya dia berpikir Melika adalah kekasih Jian.
"Terimakasih, Aku tak bisa berlama-lama, kebetulan kami ada acara lain setelah ini," ucap Jian tersenyum.
Melika tampak bingung, tetapi juga dia tampak memperhatikan Jian. Jian terlihat ramah sekali pada mantan kekasihnya. Dia tampak lebih hangat meski mungkin perasaan Jian sedang tak baik-baik saja. Jian selalu tersenyum, jarang sekali Melika melihat Jian tersenyum.
"Sayang sekali kalian tidak bisa lebih lama hadir di sini, apapun itu, terimakasih sudah menyempatkan untuk datang," ucap pengantin itu.
"Tak masalah, sekali lagi selamat untukmu dan semoga bahagia," ucap Jian kemudian menarik Melika ikut bersamanya untuk keluar dari ballroom. Mereka kembali ke mobil.
'Aneh, kondangan macam apa seperti ini. Aku bahkan belum menikmati hidangannya. Apa dia tidak berpikir, aku ini haus,' batin Melika kesal.
Melika sendiri justru memikirkan hidangan di acara pernikahan itu, dia merasa haus tetapi Jian justru langsung pergi dari sana.
Melika mengalihkan pandangannya saat Jian hanya terdiam seperti tengah menahan sesuatu, dan tak kunjung melajukan mobilnya.
"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Melika.
Jian melihat Melika dan menarik Melika ke pelukannya. Sontak Melika mencoba melepaskan dirinya tetapi Jian mencoba menahan Melika.
"Tolong Saya, sebentar saja," ucap Jian.
Melika terdiam, dia merasakan gaunnya seperti terkena rembesan air.
'Apa Jian menangis?' batin Melika.