My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 58



Dengan perasaan kesal Kevin meninggalkan Prischa. Dia benar-benar muak dengan Prischa. Wanita itu benar-benar sudah gila.


Apa-apaan, kenapa dulu Aku bisa sampai jatuh cinta pada wanita seperti itu? batin Kevin.


Kevin memasuki mobilnya dan melajukan-nya menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Kevin melihat Melika yang tengah membantu sang papa minum obat. Kevin tersenyum, seketika lelah dan penatnya hilang melihat Melika. Wanita yang begitu sempurna di matanya, meski orang lain menghujatnya.


Kevin mengusap lembut bahu Melika, membuat Melika mengalihkan pandangannya dan melihat Kevin. Melika pun tersenyum.


"Bagaimana hari ini? Semuanya baik-baik saja? Mas terlihat lelah," ucap Melika.


Kevin tersenyum. "Semuanya baik-baik saja. Bagaimana keadaan Papa?" Kevin melihat sang papa yang tengah melihatnya.


"Sudah lebih baik, jika memungkinkan, besok sudah bisa pulang," ucap papa.


"Syukurlah, tinggallah di rumahku, agar Aku bisa mengawasi keadaan Papa," ucap Kevin.


"Tidak, Papa lebih nyaman tinggal di Rumah," ucap papa.


"Benar, Pa. Aku akan merawat Papa," ucap Melika.


Papa Kevin tersenyum dan menggenggam tangan Melika. Menantunya itu sungguh baik hati, dan dia menyayangi Melika.


"Papa baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir," ucap papa.


Melika dan Kevin saling tatap, mereka tak bisa memaksa sang papa. Bagaimana pun, kenyamanan sang papa lebih penting.


"Baiklah, Aku akan meminta dokter memberikan perawat untuk menjaga Papa," ucap Kevin.


"Bibi di rumah sudah cukup," ucap Kevin.


"Ya sudah, terserah Papa saja," ucap Kevin.


"Mel, apa aku bisa minta tolong?" tanya Kevin.


"Apa, Mas?" tanya Melika.


"Aku lapar," ucap Kevin tersenyum sambil memegang perutnya.


"Sudah bertemu Prischa?" tanya papa. Kevin mengangguk dan duduk di sofa. Dia memijat kepalanya, wanita itu benar-benar membuatnya pusing.


"Lalu, bagaimana?" tanya papa.


"Dia bersikeras mengatakan, bahwa dia hamil," ucap Kevin.


Papa Kevin mengerutkan dahinya, dia menghela napas panjang.


"Jujur saja, apa itu anakmu?" tanya papa.


Kevin menghela napas panjang dan bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju jendela dan membuka sedikit gorden jendela. Terlihat langit begitu gelap, tak ada bulan atau pun bintang yang menghiasi langit malam itu.


"Aku tak pernah melakukan hal sebejat itu, Pa. Jika itu anakku, Aku akan bertanggung jawab," ucap Kevin.


"Lalu, bagaimana dia bisa hamil?" tanya papa bingung.


"Entahlah, kami memang pernah menginap di hotel yang sama, dan kamar yang sama. Tapi, kejadian itu sudah lama sekali. Bahkan sudah lebih dari setahun yang lalu," ucap Kevin.


"Papa benar-benar bingung dengan hubungan kalian," ucap papa.


"Sudahlah, Aku akan selesaikan masalah ini secepatnya. Aku terlalu muak melihat wajahnya, karena itu aku langsung pergi. Jika tidak, sudah Aku selesaikan saat itu juga," ucap Kevin.


"Papa mengerti, bicaralah pada Melika, dia harus tahu," ucap papa.


"Apa dia akan percaya?" tanya Kevin.


"Kamu lebih tahu Istrimu," ucap papa.


Kevin mengangguk. Dia teringat kembali ucapan papa Melika saat kemarin malam.


"Aku akan bicara, tapi nanti, saat di rumah," ucap Kevin.


"Ya, Papa setuju," ucap papa.


Kedua ayah dan anak itu masih terus berbincang, tanpa keduanya sadari ada sepasang orang yang mendengar pembicaraan keduanya dari balik pintu.


Tangan orang itu terkepal kuat, dadanya bergemuruh. Dia akan masuk ke dalam ruangan itu, ingin sekali rasanya dia menghajar wajah Kevin. Namun, seorang wanita menahan tangan pria itu, dan menggelengkan kepalanya. Dia berharap, pria itu tak membuat keributan apapun di Rumah Sakit.