My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 75



Jian menjawab pertanyaan Melika dengan begitu santainya. Seolah tak ada beban ataupun merasa salah.


"Kenapa Bapak melakukan semua itu?" tanya Melika.


'"Kenapa? Apa kamu tidak senang?" tanya Jian heran.


Melika terdiam, dia tak menjawab ucapan Jian.


"Lagipula, semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Dia yang sudah memutuskan secara sepihak kerjasama bersama perusahaan Suamimu. Sedangkan, di dalamnya ada uang para Investor. Dia sudah membuat kami para Investor rugi besar karena kesalahannya. Tentu saja kami tak akan tinggal diam." ucap Jian.


"Tapi, Pak. Kenapa harus diwaktu yang tidak tepat? Apa Bapak tahu, Prischa baru saja mengalami kecelakaan," ucap Melika simpati. Memang benar Melika menginginkan Prischa mendapatkan balasan dari apa yang dilakukannya, tetapi Melika pun merasa kasihan pada Prischa karena tahu Prischa baru saja kehilangan anaknya. Tentunya masalah ini akan semakin membuat Prischa menjadi down. Pikir Melika.


"Kamu ini seperti orang bodoh saja, Dunia bisnis tak mengenal waktu dan siapa orangnya. Jika saatnya mengalami bangkrut, ya sudah semestinya. Terima saja, Lagipula, Saya tidak peduli dengan wanita itu. Saya pun sudah menepati janji Saya padamu dan juga Kevin," ucap Jian.


Melika menghela napas, yang Jian katakan memang benar. Dunia bisnis begitu keras dan kejam. Sedikit saja membuat kesalahan, maka akan berdampak besar.


Belum lama tadi, saat Jian memintanya untuk menyalakan televisi. Melika melihat sebuah berita tentang penarikan saham para investor di perusahaan dan pemutusan kerjasama secara sepihak oleh para investor. Sementara Prischa tak bisa melakukan apapun. Atau mereka akan mengkasuskan Prischa menuju jalur hukum atas apa yang Prischa lakukan. Sontak semua itu membuat perusahaan Prischa pun mengalami kerugian yang mengharuskannya menjual perusahaannya. Jian masihlah berbaik hati, karena berhasil mempengaruhi para investor agar tak mengkasuskan Prischa ke jalur hukum. Pengaruh Jian sebagai pemegang saham terbesar kedua pun cukup didengar. Tak hanya itu, tugas Jian hanya memenuhi janjinya pada Melika dan Kevin. Yaitu, memberikan pelajaran untuk Prischa. Pelajaran itupun begitu mengenaskan, bahkan membuat keluarga Prischa harus kehilangan semua aset kekayaannya.


Hancurnya perusahaan Prischa lantas membuka peluang untuk Jian. Jian pun menawarkan kerjasama dengan perusahannya kepada para investor itu. Tak hanya itu, Jian pun menjanjikan sebuah keuntungan yang melebihi apa yang didapatkan dari kerasama bersama perusahaan Prischa dan tentunya tak akan berakhir tragis.


"Jangan menjadi orang bodoh, Melika. Jangan selalu melihat sesuatu dengan hatimu," ucap Jian.


"Saya nggak tahu harus bilang apa. Yang Bapak katakan memang benar tentang dunia bisnis. Saya hanya merasa simpati sebagai sesama wanita. Itu saja, dan Bapak tak perlu mengerti itu," ucap Melika.


"Sudahlah, tidurlah dengan tenang mulai hari ini," ucap Jian.


"Saya permisi. Selamat malam," ucap Melika dan keluar dari kamar Jian.


Yang benar saja, aku justru akan sulit tidur tenang sepertinya, gumam Melika dan masuk ke kamarnya yang terletak bersebelahan dengan Jian.


Sedangkan di kamar Jian. Jian meminum minumannya. Dia pergi kembali menuju balkon dan melihat ke samping tepatnya ke balkon kamar Melika.


Wanita macam apa dia? Simpatik pada musuhnya sendiri, gumam Jian.


Jian tak habis pikir pada Melika, Melika masih saja memikirkan orang yang justru telah menyulitkannya dan keluarganya. Jika itu Jian, tentu Jian tak akan merasa simpatik sedikitpun.


Di kediaman Kevin.


Kabar bangkrutnya perusahaan Prischa tentu saja menyebar dengan cepat. Perusahaan itu cukup terkenal dalam dunia bisnis. Sehingga Kevin pun sudah mendengar kabar tersebut. Entah bagaimana keadaan Prischa saat ini. Kevin sebetulnya masih kesal pada Prischa, tetapi ada rasa kasihan terhadap Prischa. Jika saja Prischa tak melakukan hal bodoh, tentu saja Prischa tak akan mengalami semua itu. Sayangnya Prischa terlalu mengikuti egonya. Ingin membalas dendam tetapi berujung menyulitkan semua pihak. Jika sudah begitu, Prischa sendirilah yang rugi. Bahkan tujuannya membuat perusahaan Kevin hancur justru berbalik pada dirinya sendiri.


Sedangkan di rumah sakit. Prischa tampak murka. Dia tampak emosi mendengar kabar tersebut.


Papa Prischa menghela napas panjang. Semua adalah ulah Prischa dan Prischa justru menyalahkan sang papa. Tak ada yang bisa dilakukan selain menjual perusahaan itu. Menjual seluruh aset kekayaan keluarga sekalipun tak akan mampu mengganti semua kerugian para investor. Sejak awal papa Prischa sudah tahu putrinya itu tak akan pernah setuju jika perusahaannya dijual. Karena itu, papa Prischa menjual perusahaan itu tanpa sepengetahuan Prischa.


"Aku tak mau jadi gembel. Papa harus mencari rumah untuk kita, aku tak ingin membelinya dengan uangku!" tegas Prischa. Ya, itulah yang kini Prischa miliki, uang simpanannya dari hasil dirinya menjadi model.


Tak lama masuklah Bryan. Dia membawa sebuah berkas di tangannya.


Prischa semakin geram dibuatnya karena melihat wajah Bryan disaat yang tak tepat. Rasanya dia ingin melampiaskan segala kekesalannya pada Bryan. Sayangnya ada sang papa, karena itu dia tak dapat melakukannya.


Bryan meminta izin pada papa Prischa untuk bicara hanya berdua saja dengan Prischa. Papa Prischa pun meninggalkan mereka berdua. Memberikan waktu keduanya untuk saling bicara.


"Pergilah dari sini, sebelum aku melemparkan sesuatu ke wajahmu!" usir Prischa.


Bryan terkekeh, membuat Prischa semakin muak. Prischa mengambil sebuah bantal dan melemparkannya ke wajah Bryan. Sontak Bryan pun menangkap bantal itu dan meletakannya kembali di atas brankar Prischa.


"Pergilah! Kamu membuatku benar-benar muak!" kesal Prischa.


Bryan tak menghiraukan ucapan Prischa. Dia duduk di samping Prischa.


"Hadiah untukmu," Bryan memberikan berkas yang dia bawa sebelumnya. Prischa melihat berkas itu sekilas dan tampak acuh.


"Yakin, nggak mau?" ucap Bryan.


"Itu hadiah ulang tahunmu dariku," ucap Bryan.


Prischa melihat Bryan dan mencoba mengingat tanggal. Benar, hari ini adalah tepat hari ulang tahunnya.


Mengenaskan, bahkan di hari ulang tahunku, aku hancur, batin Prischa.


Prischa pun mengambil berkas tersebut.


"Apartemen?" ucap Prischa saat membuka berkas tersebut yang isinya adalah surat kepemilikan sebuah apartemen atas nama dirinya.


"Ya, untukmu," ucap Bryan.


Prischa masih tampak bingung. Dia tahu apartemen itu bukanlah apartemen biasa. Bahkan Prischa tahu harga apartemen tersebut.


"Menikahlah denganku, maka tak hanya apartemen itu. Bahkan apapun yang aku miliki, akan menjadi milikmu juga!" ucap Bryan.