
"Auuww ..." Kevin memekik saat Melika menggenggam tangan Kevin dengan sekuat tenaganya, Kevin benar-benar merasakan tangannya sudah seperti akan remuk.
Melika tersenyum sambil menatap Kevin dengan tatapan tajam.
"Bagaimana, Mas? Apa Mas tertarik menjadikan Mbak Prischa sebagai istrimu?" tanya Melika.
Kevin tersenyum tipis dan mengusap lembut pipi Melika.
"Memilikimu saja sudah membuatku merasa cukup, aku tak butuh yang lainnya," ucap Kevin.
Melika tersenyum lebar, dia sungguh senang mendengar ucapan suaminya itu.
"Ayolah, kalian terlalu menganggap serius," ucap Prischa dengan santai. Namun tak ada yang tahu saat ini dadanya benar-benar terasa sesak melihat kemesraan Kevin dan Melika.
Tak lama mereka pun memesan makan malam dan di lanjutkan dengan makan malam bersama.
Setelah selesai makan malam, Prischa dan papanya pamit meninggalkan restauran lebih dulu. Sementara Kevin dan Melika masih menikmati udara sejuk pinggir pantai yang kebetulan restauran mereka terletak tak jauh dari pantai.
Kevin menatap Melika yang ekspresinya berubah menjadi muram, entah apa yang Melika pikirkan.
Kevin menghela napas dan bangun sambil menarik tangan Melika agar mengikutinya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Melika.
"Kita bermain pasir," ucap Kevin.
"Apa? Malam-malam begini?" Melika menatap Kevin dengan tatapan bingung.
"Iya, apa kamu keberatan?" tanya Kevin.
"Tidak, baiklah. Ayo kita main pasir," ucap Melika.
Kevin tersenyum sambil menuntun Melika menuju pinggir pantai dan meninggalkan restauran.
Mereka tak jadi bermain pasir melainkan duduk di kursi yang tersusun hingga ke atas. Tak ada siapapun di sana selain sepasang pengantin baru itu.
"Apa Mas sering datang ke sini?" tanya Melika.
"Tidak sering, tapi suasana malam pantai selalu berhasil membuatku rindu dan ingin kembali menikmatinya," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan mengangguk.
"Kamu tahu, Mel? Pantai adalah bagian lainnya yang begitu indah yang telah Tuhan ciptakan, dan aku sangat menyukainya," ucap Kevin.
"Mas benar, aku juga suka," ucap Melika sambil tersenyum.
Kevin menatap Melika dengan seksama, entah apa artinya tetapi dia dapat merasakan kehangatan saat berdekatan dengan Melika.
"Apa aku mulai mencintainya?" batin Kevin.
Rasanya sama seperti saat dia dekat dengan Prischa dulu, selalu nyaman. Dan tentu saja dulu Kevin pun mencintai Prischa. Berbeda dengan saat ini, dia selalu tak nyaman berada di sisi Prischa karena perasaannya pun perlahan mulai hilang.
Baginya tak mudah melupakan Prischa yang pernah cukup lama mengisi relung hatinya, dulu dia begitu memuja Prischa sampai akhirnya dia harus jatuh dan hancur berkeping-keping. Pengkhianatan yang Prischa lakukan masih jelas terasa dan menyayat hatinya, meski kini tak ada perasaan apapun terhadap Prischa, namun rasa sakit karena luka yang Prischa gores kan masih lah terasa di dadanya. Karena itu dia tak mencoba kembali pada Prischa, meski sejujurnya saat itu Kevin masih menyimpan rasa pada Prischa. Hanya satu alasannya, sekali berkhianat, maka akan selalu ada pengkhianatan berikutnya, itu yang ada di pikiran Kevin.
"Apa kamu kedinginan?" tanya Kevin saat merasakan tangan Melika mulai dingin.
"Iya, aku kedinginan," ucap Melika.
Bayangkan saja, berada di pinggir pantai pada malam hari dengan memakai dress bertali kecil yang membuat bahunya terekspos sungguhlah sangat menusuk ke tulang saat dia merasakan hembusan angin malam.
Kevin membuka jasnya dan menyuruh Melika memakainya.
Melika tersentak saat Kevin membuka ikatan rambutnya sehingga kini rambutnya tegerai indah.
"Aku suka saat rambutmu tergerai, indah," ucap Kevin sambil tak hentinya menatap wajah Melika.
Melika tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Kevin, Kevin pun menyambutnya dan merangkul bahu Melika.
"Kenapa Mas melakukan semua ini?" tanya Melika.
"Maksudnya?" Kevin terlihat kebingungan mendengar ucapan Melika.
"Maksudku, kenapa Mas mau melakukan semuanya sampai sejauh ini? Mas mau menikahi ku meski Mas tidak mencintaiku," ucap Melika.
Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.
"Entahlah, saat itu aku mungkin belum mencintaimu. Tapi, seperti yang terjadi, Tuhan memiliki rencana lain untuk setiap hambanya. Yang kita sendiri bahkan tak dapat mengelak nya," ucap Kevin.
"Tapi, Mas bisa menolaknya saat itu," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan terdiam, dia bingung harus mengatakan apa. Apa yang Melika katakan memang benar, dia bisa menolaknya saat itu. Tapi entah mengapa dia justru tak bisa melakukannya, dia menerima begitu saja pernikahan itu.
Perlahan dia pun mulai membuka hatinya untuk menerima Melika, dia bahkan mau merelakan keperjakaannya meski belum mencintai Melika. Pria memang berbeda dengan wanita yang selalu melibatkan hatinya saat bertindak, pria selalu bertindak menggunakan logikanya.
"Oh ya, aku masih punya waktu beberapa hari dari masa cuti ku. Kamu mau bulan madu ke mana?" tanya Kevin.
Melika kembali ke duduknya dan menatap jauh ke arah pantai.
"Ke mana saja, selama itu bersama Mas," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan mengangguk. Dia mulai merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, udara pantai malam itu Benar-benar berbeda dengan apa yang biasa dia rasakan saat berada di pinggir pantai.
"Kita kembali ke hotel?" tanya Kevin.
"Terserah," ucap Melika.
Kevin pun tersenyum dan menuntun Melika untuk turun dari kursi.
Mereka berdua melangkah sambil menikmati angin sepoi-sepoi.
Kruyuk ...
Kevin menatap Melika saat terdengar suara perut keroncongan.
"Kamu lapar lagi?" tanya Kevin.
Melika tersenyum canggung dan memegangi perutnya. Benar-benar memalukan pikirnya.
"Tidak, mereka hanya sedang berpesta, jadilah berisik," ucap Melika.
"Berpesta?" Kevin menatap Melika dengan tatapan bingung, dia sungguh tak mengerti apa maksud ucapan Melika.
"Cacing-cacing di perutku sedang berpesta menerima makan malam yang tadi aku makan, jadilah pada berisik," ucap Melika.
Kevin terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
Istrinya itu benar-benar konyol pikirnya.
"Padahal aku lapar lagi, tadi aku makan hanya sedikit gara-gara ada Mbak Prischa, aku bahkan tak sempat memakan dessert ku. Aku sungguh ingin menjaga image ku sebagai perempuan manis," batin Melika.
Dia sungguh kesal karena kehadiran Prischa membuatnya sampai harus bersikap jaim dengan makan malam hanya sedikit. Dia masih ingat betul saat Prischa mengatainya seperti Badak, tentu saja dia tak ingin Prischa mengatainya lagi karena melihat porsi makannya yang banyak bak seorang kuli bangunan yang merasakan tenaga mereka terkuras.
Sesampainya di hotel, Melika langsung pergi menuju kamar mandi untuk buang air kecil sekaligus mencuci wajahnya.
Tak lama Melika keluar dari kamar mandi dan masih memakai dress hitam tali kecilnya.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu," ucap Melika.
"Apa?" tanya Kevin.
"Aku lupa membawa bajuku dari dalam mobil, bajuku masih di mobil, Mas," ucap Melika.
"Ah iya, kita lupa membawanya. Aku akan ambil ke bawah," ucap Kevin.
Melika mengangguk dan membiarkan Kevin mengambil baju gantinya yang masih berada di dalam mobil.
Begitu sampai di basemant, Kevin mengerutkan dahinya saat melihat Prischa tengah berdiri di dekat mobilnya.
"Kamu masih di sini?" tanya Kevin dengan bingung.
"Ya, aku tak menyangka kamu mau datang ke sini setelah aku mengirimkan pesan," ucap Prischa sambil tersenyum manis dan merangkul lengan Kevin.
Kevin mengerutkan dahinya, dia tak merasa mendapatkan pesan apapun dari Prischa. Kevin teringat bahwa ponselnya dia tinggal di kamar hotel.
"Jangan begini, orang-orang bisa salah paham," ucap Kevin dan langsung melepas paksa tangan Prischa.
"Ayolah, jangan munafik," ucap Prischa.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin dengan bingung.
"Aku tahu kamu tak berselera menyentuh istrimu, karena itu aku rela menjadi istri keduamu," ucap Prischa dengan lancang.
Kevin menatap Prischa dengan tatapan tajam, dia tak menyangka pikiran Prischa tentang ingin menjadi istri keduanya memang benar-benar serius.
"Tapi aku tidak tertarik," ucap Kevin.
"Benarkah? Jadi, kamu lebih tertarik dengan tubuh si buntal itu dari pada tubuhku? Ayolah, aku sudah menawarkan diriku sendiri, jangan sampai aku merasa harga diriku terinjak karena kamu menolak ku," ucap Prischa.
Kevin mengerutkan dahinya.
"Siapa si buntal?" tanya Kevin dengan bingung.
"Tentu saja istrimu yang tidak tahu malu itu, sungguh dia tak sadar diri," ucap Prischa.
Prischa begitu yakin bahwa Kevin tak tertarik untuk menyentuh Melika karena tubuh Melika yang sama sekali tak seksi dan tak menggairahkan.
Kevin mengepalkan tangannya, dia mendekati Prischa dan membisikkan sesuatu.
"Apa kamu masih menjaga keperawanan mu itu?" bisik Kevin.
Prischa mengangguk dengan cepat.
"Tentu saja, semua ini hanya milikmu," ucap Prischa sambil tersenyum nakal.
"Benarkah? Kenapa kamu ingin menjadi yang kedua?" tanya Kevin.
Prischa tersenyum lebar karena Kevin terlihat mau membahas tentang tawarannya untuk menjadikannya istri kedua.
"Karena aku mencintaimu, jadi yang pertama atau kedua itu tidak penting bagiku. Yang terpenting aku hanya milikmu, dan kamu milikku," ucap Prischa.
"Kenapa kamu begitu yakin kalau aku tak bergairah melihat tubuh Melika?" tanya Kevin.
Prischa menghela napas panjang, dia memeluk leher Kevin dan menatap Kevin dengan dalam.
"Karena kamu tidak mencintainya, kamu hanya mencintaiku," ucap Prischa dengan yakin.
Kevin terkekeh dan melepaskan tangan Prischa yang ada di lehernya.
Dia mengusap wajah kasar dan memeluk pinggang Prischa, membuat Prischa kesenangan bukan kepalang.
Prischa pun terkekeh melihat tingkah Kevin yang kembali sama seperti saat mereka dekat dulu.
Kevin mendekatkan bibirnya ke telinga Prischa.
"Aku menghormati mu, karena itu aku tak pernah melewati batas saat kita dekat dulu. Tapi, aku tidak menyangka, kamu bahkan rela bersikap murahan. Aku jadi ragu denganmu, aku ragu kamu masih perawan atau tidak," bisik Kevin.
Prischa membulatkan matanya, dia begitu kesal dan mencoba mendorong tubuh Kevin namun Kevin mengeratkan pelukannya di pinggang Prischa.
"Kenapa? Bukankah barusan kamu menawarkan dirimu sendiri?" tanya Kevin sambil tersenyum mengejek.
Dada Prischa bergemuruh, hatinya tercabik melihat senyuman Kevin yang tidaklah terlihat senyuman hangat melainkan senyuman merendahkan. Apalagi saat Kevin meragukan kegadisannya dan seolah menganggapnya wanita murahan yang rela melemparkan dirinya kepada pria manapun.
Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja dan tak menampakkan kekecewaannya.
"Aku memang menawarkan diriku sendiri, dan aku akan memberikanmu segalanya jika aku sudah menjadi istrimu," ucap Prischa.
Kevin terkekeh dan mendorong tubuh Prischa.
"Aku menghormatimu Prischa, dari dulu saat kita masih dekat, aku tak pernah menyentuhmu melebihi batas. Kamu tahu kenapa? Karena kehormatan wanita sangatlah penting untuk dijaga. Dan lihatlah, sekarang kamu menawarkan dirimu sendiri padaku?" Kevin menatap Prischa dengan tatapan jijik. Dia tak menyangka Prischa akan berubah menjadi wanita murahan yang bahkan sampai menawarkan dirinya untuk menjadi yang kedua.
"Lalu, aku harus bagaimana? Aku mencintaimu, aku bicara baik-baik padamu tapi kamu justru menolak ku, apa salahku? Aku sudah berubah, Vin. Aku sungguh mencintaimu, aku menyesal," lirih Prischa. Dadanya terasa sesak merasakan penyesalan yang teramat. Dia sungguh menyesal telah meninggalkan Kevin, dia bahkan masih sangat mencintai Kevin.
"Aku sudah memaafkan mu. Tapi, luka yang kamu berikan masih jelas terasa, Prischa. Dan, itu yang tak bisa membuatku kembali padamu. Tolonglah mengerti, dan lanjutkan hidupmu. Kamu cantik, kamu pintar dan kamu memiliki segalanya, pasti banyak pria yang menyukaimu," ucap Kevin.
Prischa menggelengkan kepalanya dan memeluk erat tubuh Kevin.
"Aku hanya mencintaimu, aku tidak menginginkan pria manapun selain dirimu," lirih Prischa.
Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.
"Sudahlah, tak berguna bicara baik-baik denganmu," ucap Kevin dan melepaskan pelukan Prischa.
Kevin menekan tombol buka kunci dan membuka pintu belakang mobilnya, dia pun mengambil paper bag yang berisikan bajunya dan baju Melika.
Kevin membalikkan tubuhnya saat sudah berhasil mengambil paper bag itu, namun dia terkejut saat melihat Prischa berada di hadapannya.
"Kamu meragukan keperawanan ku bukan? Kalau begitu, aku akan membuktikannya," ucap Prischa.
Brugh ..!
"Auuww ..." Kevin meringis saat Prischa mendorongnya ke dalam kursi penumpang sehingga dia jatuh terlentang.
Prischa menyeringai nakal menatap Kevin.
Brugh ..!
Belum sempat Prischa menjatuhkan dirinya di atas tubuh Kevin, seseorang menarik tangan Prischa dan mendorongnya hingga menabrak mobil Kevin. Orang itu terlihat murka dengan tangannya yang terkepal kuat.
"Sial ..! beraninya kamu mendorongku ..!" ucap Prischa dan akan menampar orang itu namun orang itu langsung mendorong tubuh langsing Prischa sehingga Kembali menabrak mobil Kevin.
Plak !
Plak !
Tamparan kerasa mendarat di pipi kiri dan pipi kanan Prischa, membuat Prischa benar-benar merasakan perih yang teramat.