My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 49



Melika memasuki kamarnya untuk membersihkan wajahnya. Wajahnya benar-benar kotor akibat ulah Melvin.


Sambil menggerutu dia mencoba mencuci wajahnya. Adiknya itu benar-benar keterlaluan, pikirnya.


"Untung adik kandung, kalau bukan, sudah aku telan hidup-hidup," gerutu Melika.


Dia mencuci wajahnya, dan mengeringkannya dengan handuk. Selesai mencuci wajahnya dia tak sengaja melihat ke arah ponselnya. Dia teringat pada Kevin, karena belum sempat izin pada Kevin saat akan mengunjungi orangtuanya tadi.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Kevin, terdengar suara nada sambung. Namun Kevin tak menjawab teleponnya.


"Apa dia sibuk?" gumam Melika.


Melika menyimpan ponselnya dan keluar dari kamar. Terlihat Melvin yang baru saja keluar dari kamarnya dan sudah mengganti pakaiannya.


"Kok, Mas Kevin enggak ikut, Mbak?" tanya Melvin.


"Kerja, lah. Enggak kayak kamu," ucap Melika dengan nada kesal.


Dia masih kesal pada Melvin.


"Loh, aku kenapa?" tanya Melvin dengan bingung.


"Pengangguran," ucap Melika dengan santai.


"Lah, lihat saja, nanti. Aku akan jadi orang sukses," ucap Melvin dengan yakin.


"Ya, ya. Iya saja, deh," ucap Melika dengan malas.


"Aamiin, dong, Mbak. Memangnya, Mbak enggak mau melihat aku sukses?" tanya Melvin.


"Mau. Dasar, cerewet," kesal Melika.


"Maklum, belum isi bensin. Jadi, aku cerewet tertular dari cacing-cacing di perutku yang sedang konser," ucap Melvin.


Mendengar ucapan Melvin, Melika teringat pada makanan yang dia bawa tadi.


"Aku bawakan makanan. Makan, sana," ucap Melika.


Melvin tersenyum lebar dan pergi menuju meja makan. Makanan yang Melika bawa tadi ternyata sudah ditata rapi di atas meja oleh sang mama.


"Ini, kamu masak sendiri?" tanya sang mama.


"Bibi, yang masak," ucap Melika.


Sang mama mengangguk, dan duduk di kursi makan.


"Kebetulan, Mama enggak masak," ucap mama sambil tersenyum.


Melika tersenyum, dia senang jika makanan yang dia bawa di makan oleh keluarganya.


"Enak, Mbak. Makanan orang kaya, mah, beda," ucap Melvin sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Sudah, jangan banyak omong. Nanti, tersedak, kamu," ucap Melika.


Melvin pun tersenyum dan makan siang dengan tenang. Melika yang melihat Melvin makan dengan lahap pun menjadi ikut lapar, dia pun duduk di kursi makan dan ikut makan bersama mama dan Melvin.


"Kok, sedikit sekali, makannya?" sang mama melihat bingung ke arah Melika yang mengambil makanan hanya sedikit. Sang mama tahu betul porsi makan Melika lumayan banyak.


"Aku sedang diet," ucap Melika.


Hahaha ...


Melvin tertawa keras dan hampir saja tersedak makanan begitu mendengar ucapan Melika.


Melika menatap Melvin dengan tajam, dia mengerti adiknya itu sedang menertawakannya.


"Senang, ya, melihat Mbak mu, ini, tersiksa?" kesal Melika.


"Iya," ucap Melvin dengan sembarang.


Pletak.


"Dasar ..! Kurang ajar," kesal Melika sambil menggetok kepala Melvin dengan sendok makan.


"Duh, kasihan sekali Mas Kevin," ucap Melvin.


"Apa hubungannya dengan dia?" tanya Melika dengan bingung.


"Iya, kasihan. Jangan-jangan, setiap dia membuat kesalahan, peralatan makan melayang ke kepalanya," ucap Melvin sambil terkekeh.


Melika tersenyum tipis, bisa-bisanya adiknya itu memikirkan hal sejahat itu. Mana mungkin dia berani melayangkan peralatan makan ke kepala suaminya itu.


"Aku hanya akan melayangkan cinta ke hatinya," ucap Melika sambil tersenyum membayangkan saat pertama kali Kevin mengatakan mencintainya.


"Halah, lebay. Ingat umur," ucap Melvin.


"Apaan? Aku masih muda," ucap Melika dengan bangga.


"Ya, muda. Tapi, terlihat tua. Enggak sesuai umur," ucap Melvin.


Melika menatap Melvin dengan tatapan tajam.


"Ya Tuhan, apa Mama ngidam golok saat mengandung Mbak Melika?" tanya Melvin pada sang mama.


Sang mama hanya tersenyum. Anak-anaknya itu masih seperti anak kecil yang masih saja senang bertengkar.


"Sudah, sudah. Kalian makan yang tenang," ucap Mama.


Melika dan Melvin pun hanya diam. Mereka memilih melanjutkan makan siang mereka.


*******


Di lokasi proyek Kevin.


Kevin tengah melihat-lihat sekitar, pembangunan perumahan sudah setengah berjalan. Dia melihat para pekerja yang juga mulai antusias mengerjakan setiap tanggung jawab mereka.


Selesai melihat-lihat, Kevin kembali ke kantor marketing yang masih terletak tak jauh dari lokasi proyek. Dia ingin beristirahat sejenak, cuaca hari ini cukup terik dan membuat Kevin tak tahan berada lebih lama di luar ruangan.


Tok ,, tok ,, tok ...


Pintu ruangan terketuk, terlihat sekretaris nya memasuki ruangan.


"Ada apa? Kamu tidak makan siang?" tanya Kevin.


"Akan, Pak. Tapi, Pak. Di luar ada Bu Prischa," ucap sekretarisnya.


Kevin mengerutkan dahinya, mau apa lagi Prischa datang ke lokasi proyeknya? Bukankah dia sudah membatalkan kerjasama? Pikir Kevin.


"Saya sibuk," ucap Kevin. Kevin menolak untuk bertemu dengan Prischa, dia sudah sangat membenci Prischa. Dia bahkan tak ingin lagi terikat hubungan apapun dengan Prischa sekalipun itu hanya hubungan pekerjaan.


"Aku tahu, kamu tidak sibuk," ucap Prischa yang tiba-tiba saja memaksa masuk ke dalam ruangan Kevin.


Kevin menghela napas dan memberikan isyarat pada sekretarisnya agar meninggalkannya bersama Prischa.


Sekretaris Kevin pun keluar dan menutup pintu ruangan.


"Ada apa?" tanya Kevin dengan nada datar.


"Aku akan melanjutkan kerjasama kita," ucap Prischa.


Kevin tersenyum tipis. Prischa sungguh labil, pikirnya.


Kevin menghela napas panjang dan mengembuskan nya agak kasar. Dia bangun dari duduknya dan menghampiri Prischa.


"Kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Kevin.


"Karena, aku tak ingin melihat orang yang aku cintai kesulitan. Aku tahu, jika aku membatalkan kerjasama, ini, kamu akan kehilangan perusahaan mu," ucap Prischa.


Kevin terkekeh mendengar ucapan Prischa.


"Sayang sekali, aku tidak tertarik bekerjasama denganmu, lagi," ucap Kevin.


Prischa menatap bingung, dia bingung melihat tingkah Kevin yang terlihat biasa saja, seolah dia tak tertekan dengan masalah perusahaannya.


"Kenapa? Bukankah kamu yang memohon agar aku tidak membatalkan kerjasama, itu?" tanya Prischa dengan bingung.


"Aku? Memohon?" Kevin tertawa keras mendengar ucapan Prischa.


"Kamu benar, aku sempat memohon padamu. Tapi, semua itu demi perusahaan ku dan orang-orang yang ada di dalamnya. Tapi, sekarang aku tak membutuhkan kerjasama dengan orang yang tidak profesional seperti dirimu," ucap Kevin.


Prischa menelan air liurnya. Kevin terlihat serius dengan ucapannya.


"Aku akan melakukan, apapun, agar kerjasama, itu, tetap berjalan," ucap Prischa dengan yakin.


"Terserah, tapi aku sudah memiliki partner bisnis yang baru. Perusahaan ku sudah terselamatkan dari kehancuran," ucap Kevin.


Prischa membulatkan matanya, dia tak menyangka Kevin akan mendapatkan rekan bisnis dalam waktu cepat.


"Kamu bingung, kenapa aku bisa mendapatkan rekan bisnis dalam waktu cepat?" tanya Kevin.


Prischa hanya diam dengan ekspresi penasarannya.


"Melika, Istriku yang menyelamatkan perusahaan ku. Wanita yang pernah kamu bilang badak, itu, telah menyelamatkan perusahaan ku," ucap Kevin.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Prischa dengan bingung.


"Karena, dia pintar. Tidak seperti dirimu," ucap Kevin sambil tersenyum remeh.


"Kamu membandingkan aku dengan wanita, itu?" Prischa menatap Kevin dengan tatapan tajam.


"Istriku. Wanita, itu, Istriku. Dia Melika, wanita yang aku cintai," ucap Kevin.


"Persettan dengan semua, itu. Aku tak suka dengan wanita, itu. Aku akan melakukan apa saja agar dia hancur," ancam Prischa.


"Silahkan saja jika kamu berani. Tapi, sebelum, itu. Kamu yang akan aku hancurkan lebih dulu," ancam Kevin balik.


Prischa tersenyum sinis, dia menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Kevin.


Prischa mengumpat kesal, rencananya gagal untuk membujuk Kevin agar mau kembali bekerjasama dengannya. Perusahaannya terancam rugi besar, karena para investor di perusahaannya marah besar akibat keputusan sepihak nya dalam membatalkan kerjasama, para investor itu bahkan mengancam akan menarik kembali saham yang ada di perusahaan Prischa.