My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 22



Kevin mendekat ke arah Melika dan terkejut melihat barang-barangnya ada di luar.


"Kamu ngapain?" tanya Kevin sambil mengambil kotak dus di tangan Melika.


"I-itu, aku lagi bersihin kamar, terus nggak sengaja lihat itu." ucap Melika sambil menunjuk ke arah kotak dus milik Kevin.


Sungguh jantungnya sudah akan copot saat itu juga.


Dia sudah seperti pencuri yang sedang tertangkap basah oleh si pemilik.


Dengan cepat Kevin memasukkan sepasang cincin itu ke dalam saku celananya.


"Kamu memang Istri aku, kamu berhak atas rumah ini. Tapi, tidak dengan barang-barang pribadiku. Lain kali, jangan lancang !" ucap Kevin dengan dingin.


Melika menelan air liurnya.


"Mas marah?" tanya Melika.


Kevin tak menjawab pertanyaan Melika, dia hanya melihat Melika sekilas dan membawa barang-barangnya bersamanya.


Dia melangkah menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah berkas yang ada di atas mejanya, sepertinya dia meninggalkan sesuatu di sana hingga dia pun kembali ke rumah saat pekerjaannya belum selesai.


"Mas, mau kemana lagi?" tanya Melika.


"Meeting," sahutnya.


Kevin pun keluar dari kamar meninggalkan Melika sendirian.


Sesampainya di dalam mobil, Kevin mengembuskan napas kasar.


"Kenapa aku marah? Kenapa aku takut mendengar respon Melika tentang semua barang ini?" gumam Kevin sambil melihat kotak dus itu.


Dia merogoh saku celananya dan menatap sepasang cincin di tangannya.


Cincin itu adalah, cincin yang pernah dia dan Prischa pilih saat adanya rencana keduanya untuk bertunangan. Kevin pernah memakaikan cincin itu di tangan Prischa namun belum sempat membuat pesta pertunangan.


Keduanya saling menautkan cincin ke jari masing-masing dengan hanya mereka yang tahu, dan tak ada keluarga yang mengetahuinya.


Sayangnya, sebelum pertunangan mereka di resmikan dan di publikasikan, Kevin justru harus menelan pil pahit saat mendengar kabar dari media, bahwa Prischa justru menjalin hubungan dengan pemilik agensi model tempat Prischa bekerja, dan gaun itu adalah gaun yang di pilihkan Kevin untuk Prischa, gaun itu seharusnya di pakai di acara pertunangan mereka.


Pandangan Kevin tiba-tiba mengarah pada cincin yang ada di jari manisnya, cincin pernikahannya dengan Melika.


Dia menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.


Dia menyimpan cincin pasangan itu di atas dashboard, dan melajukan mobilnya menuju kantor.


Di tengah perjalanan, Kevin menghentikan langkahnya saat tak sengaja melewati sebuah danau.


Dia membuka pintu mobilnya dan mengambil cincin itu, kemudian menghela napas agak kasar.


Dia pun mengambil cincin itu.


"Semuanya sudah berakhir." ucap Kevin.


Dengan perasaan yakin, dia melemparkan cincin itu ke arah danau.


Gaun yang ada di kotak pun dia buang ke dalam tong sampah yang berada tak jauh dari danau tersebut.


Setelah selesai, Kevin kembali masuk ke dalam mobil.


"Huh, semuanya terasa ringan." gumam Kevin.


Kevin tersenyum, dia merasa ternyata semuanya terasa lebih baik setelah dia membuang kenangan bersama Prischa.


Kevin pun melajukan mobilnya menuju lokasi meeting.


Di rumah.


Melika tengah mesearching bagaimana caranya menghibur suami yang tengah marah melalui laptopnya.


Dia merasa, Kevin marah padanya karena dia telah lancang membuka barang-barang pribadinya.


Sebetulnya, dia sedih sekali melihat Kevin bersikap dingin padanya.


Entah mengapa, ternyata pemikirannya tentang kehidupan pengantin baru yang indah kenyataannya tak seindah yang di bayangkan.


Meski begitu, Melika tak bisa mundur, dia tak bisa berhenti hanya karena Kevin belum ingin menyentuhnya. Tentu ada perasaan heran, mengapa sampai sekarang suaminya itu tak ingin menyentuhnya.


Apa karena bentuk tubuhnya? Apa karena itulah Kevin tak ingin menyentuhnya, atau mungkin menjadi tak bergairah? Pikir Melika.


Namun bukan hanya itu, Melika pun tahu sejak awal Kevin hanya menjadikannya alasan darurat di hadapan sang Papa agar dia tak di jodohkan dengan Prischa.


Meski begitu, dengan bodohnya Melika masih mau menerima Kevin, karena tanpa sadar, Melika pun sudah mulai menyukai Kevin.


Pandangan Melika berhenti saat melihat berbagai menu makanan yang terlihat lezat, dia sangat menyukai makanan lezat. Karena itu, mungkin Kevin akan menyukai jika Melika membuatkan makanan yang lezat untuknya.


"Aku akan masak untuk, Mas Kevin. Mungkin, dia nggak akan marah lagi." ucap Melika.


Dia segera beranjak dari tempat tidur dan turun menuju dapur untuk melihat ada bahan masakan apa saja yang ada di dapur.


Melika menghela napas saat tak ada bahan makanan apapun di dapur.


"Kok, nggak ada bahan makanan, ya, Bi? Apa Bibi belum belanja?" tanya Melika.


"Maaf, Bu, sepertinya Pak Kevin lupa memberi uang belanja bulanan. Saya juga nggak enak mau minta, sepertinya Pak Kevin sedang buru-buru, tadi." ucap Bibi.


Melika menghela napas dan mengangguk.


"Saya yang akan belanja, Bibi di rumah saja." ucap Melika.


Melika pun kembali ke kamar dan mengambil dompetnya.


Setelah itu, dia pun pergi menuju supermarket.


******


Sesampainya di salah satu supermarket, Melika pun memilih beberapa bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.


"Untung aku masih punya tabungan, Mas Kevin juga belum kasih uang ke aku." batin Melika.


Melika memaklumi, Kevin pasti lupa memberikan uang bulanan pada Bibi karena dia sibuk memikirkan pekerjaannya. Di tambah lagi karena Kevin baru saja menikah, tentunya perhatiannya terbagi-bagi.


Selesai memilih bahan makanan, Melika pun segera membayarnya di kasir.


Dia pun segera mendorong troli keluar dari supermarket sambil menunggu taksi yang sudah dia pesan.


Sambil menunggu taksi, pandangannya tak sengaja melihat ke arah sebuah kafe yang berada di sebrang jalanan.


Melika membulatkan matanya melihat Kevin ada di kafe tersebut bersama seorang wanita yang jelas sekali Melika tahu siapa wanita itu.


Wanita itu adalah Prischa, mantan kekasih Kevin.


Tin, tin.


Melika tersentak saat mendengar sebuah klakson mobil dan ada sebuah mobil berhenti di depannya.


"Ibu Melika?" tanya sang supir.


Melika mengangguk, itulah taksi yang dia pesan.


Dengan perasaan kesal dia masuk ke dalam taksi tersebut.


"Meeting bersama mantan kekasih? Sungguh menyebalkan." batin Melika.


Tanpa menunggu lama mobil pun melaju menuju rumah.


*******


Pukul delapan malam.


Dengan langkah lelah Kevin memasuki rumah, seharian ini pekerjaannya benar-benar melelahkan, karena harus pergi ke beberapa tempat.


Dia melihat rumah yang tampak sepi.


Dia pun memilih pergi menuju meja makan, perutnya terasa lapar sekali.


Dia bahkan tak sempat makan malam tepat waktu.


Kevin mengerutkan dahinya saat melihat ke lemari makanan, tak ada makanan apapun di sana.


"Kok, nggak ada makanan?" gumam Kevin.


"Ada yang bisa Bibi bantu, Pak?" tanya Bibi.


Kevin pun melihat ke arah Bibi.


"Kok, nggak masak? Saya pulang kerja, lapar, loh, Bi." ucap Kevin dengan kesal.


Bibi pun menelan air liurnya.


"Aku yang nyuruh." ucap Melika yang tiba-tiba muncul.


"Kenapa?" tanya Kevin sambil mengerutkan. dahinya.


"Kenapa? Pikirkan dulu apa kesalahan Mas. Sebelum Mas tahu kesalahan, Mas, Mas nggak akan dapat jatah makan malam." ucap Melika dan berlalu meninggalkan Kevin.


"Loh, hey ...!" Kevin mencoba memanggil Melika, namun Melika tak menoleh ke arahnya dan justru langsung pergi menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Dia tak mengerti apa maksud Melika.


"Dia kenapa, Bi? Kesalahan apa yang saya buat?" tanya Kevin dengan ekspresi bingungnya.


Dia merasa tak pernah membuat kesalahan apapun.


Bibi pun menggelengkan kepala, dia saja tak tahu kenapa majikan perempuannya itu melarang Bibi masak makan malam.


Padahal majikannya itu sudah membeli banyak bahan makanan.


Dia juga tak mengerti, karena semenjak majikannya itu pulang dari supermarket, wajahnya terlihat kesal.