My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 68



Melika terkejut melihat sebuah kain putih yang tercemar oleh warna merah darah. Rasa penasarannya membuat dia kembali ke dalam rumah dan menghampiri bibi.


"Bi, di dalam tong sampah ada kain putih dengan bercak darah. Darah siapa itu?" tanya Melika.


Bibi terdiam, dia sendiri bingung harus menjawab apa?


"Anu, Bu. Itu tadi darah--" bibi kembali terdiam. Dia melihat ke arah tangga, berharap Kevin datang membantu menjelaskannya pada Melika.


"Kenapa lihat ke atas? Ada apa sebenarnya?" tanya Melika curiga.


"Maaf, Bu. Nggak ada apa-apa, itu tadi sirup yang tumpah," ucap bibi.


Melika mengerutkan dahinya, dia merasa ada yang tidak benar dengan ucapan bibi. Tentu saja itu bukan sirup, melainkan memang darah karena dia bisa mencium bau amis darah.


"Oh, begitu. Baiklah, Saya akan ke atas dulu. Mungkin, Bapak sudah selesai mandi," ucap Melika dan diangguki oleh bibi.


Melika pergi menuju kamarnya, dan melihat Kevin belum juga selesai mandi. Melika mengetuk pintu kamar mandi tetapi tak ada sahutan dari Kevin.


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Kevin keluar dengan menggunakan bathroobs-nya.


"Ada apa?" tanya Kevin bingung karena Melika berada tepat di pintu kamar.a


"Aku panggil-panggil Mas dari tadi, tapi Mas diam saja," ucap Melika.


"Benarkah? Maaf, aku nggak dengar," ucap Kevin.


"Ya sudah, aku tunggu di bawah, ya," ucap Melika.


Kevin mengangguk dan memakai pakaiannya. Setelah selesai, dia menyusul Melika menuju meja makan. Tak mengatakan apapun, Kevin langsung duduk dan menyantap makanannya dengan malas. Bagaimana mungkin dia bisa makan saat sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Pikirannya di penuhi dengan kecemasan untuk menghadapi Prischa.


Melika tak sengaja melihat raut wajah Kevin, dia merasa bingung dengan Kevin. Kevin hanya diam saja beberapa hari ini.


"Bagaimana pekerjaan di kantor?" tanya Melika.


"Baik," jawab Kevin.


"Syukurlah jika baik-baik saja," ucap Melika.


"Ya," timpal Kevin singkat.


"Aku sudah selesai," ucap Kevin dan bangun dari duduknya. Belum sempat Melika bicara, Kevin justru sudah berlalu meninggalkan meja makan dan pergi ke lantai atas.


Apa aku ada salah? Kenapa sepertinya Mas Kevin mendiamkanku? gumam Melika.


Melika sendiri tak mengerti dengan suaminya itu, kenapa suaminya justru seolah menghindarinya? Hanya saja, Melika cukul hapal satu hal, Kevin diam saat sedang berada dalam masalah.


Selera makan Melika seketika hilang, dia meminta tolong pada bibi dan bergegas pergi menuju ruang cctv. Di penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. Karena tidak mungkin kebetulan, ada darah, dan Kevin mendiamkannya? Tentu ada yang tak beres di rumahnya.


Melika membuka rekaman kejadian siang tadi, dia mulai melihatnya dari pagi hari. Di mana dia mulai pergi ke kantor dan semuanya tampak baik-baik saja. Tak ada yang mencurigakan.


Melika masih terus memperhatikan setiap detiknya waktu berjalan di rekaman itu, beberapa saat kemudian, dia tercengang melihat seorang wanita masuk ke rumahnya.


Prischa, wanita itu tampak terekam oleh kamera cctv, Melika masih terus memperhatikan langkah Prischa dan Melika terkejut saat melihat Prischa masuk ke kamarnya dan juga Kevin.


Melika tampak gelisah, dia pun tak dapat melihat kejadian di dalam kamar karena tak ada cctv di dalam kamar tersebut. Melika masih tetap menunggu, entah mengapa dia menjadi curiga ada hal lain yang justru terjadi antara Kevin dan Prischa. Terlihat bibi dalam rekaman itu yang bahkan sampai menjatuhkan sesuatu.


Jadi, bibi tahu sesuatu, dan diam saja? gumam Melika.


Beberapa saat menunggu, Melika mengerutkan dahinya saat melihat Kevin menyeret Prischa keluar dari dalam kamar. Di dalam rumah itu, di lengkapi dengan cctv kualitas terbaik sehingga setiap detail gambar dapat terlihat jelas meski tanpa terdengar suara, setiap warna dalam rekaman tersebut pun dapat Melika lihat dengan jelas meski dalam jarak yang cukup jauh.


"Ya Tuhan!" Melika terkejut buka main melihat Prischa terjatuh dari tangga dan semua orang yang ada di rumah itu tampak panik.


Melika mengulang kembali kejadian saat Prischa terjatuh dan mem-pause nya.


Tidak, bukan Mas Kevin yang mendorong Prischa. Mas Kevin tidak sengaja, gumam Melika.


Melika menjadi semakin gelisah, tetapi dia tak ingin mengalihkan padangannya dari rekaman cctv tersebut. Dia semakin penasaran apa yang selanjutnya terjadi?


Darah!


Melika terkejut melihat ada darah, dan dia teringat pada tong sampah tadi. Tak tahan lagi menunggu, Melika akan keluar dari ruangan tersebut tetapi dia dikejutkan oleh kehadiran Kevin yang tiba-tiba saja masuk. Tak hanya Melika, Kevin pun ikut terkejut melihat Melika ada di ruangan tersebut.


"Kamu lagi apa di sini?" tanya Kevin curiga.


"Prischa jatuh dari tangga, dan Mas diam saja! Kenapa Mas nggak bilang aku?" tanya Melika marah.


"I-itu, aku--" Kevin tak berani melanjutkan ucapannya, dan entah apa yang harus dia katakan?


Dengan kesal Melika meninggalkan Kevin dan mencari bibi. Dia sungguh kesal saat ini. Kevin pun bergegas mengikuti Melika.


"Ada apa, Bu?" tanya bibi bingung.


"Ada apa? Aku yang harusnya bertanya. Ada apa dengan kalian? Apa kalian tidak menganggap aku ada, sehingga apa yang terjadi di rumah ini pun kalian tidak ingin memberitahuku?" ucap Melika dengan nada marah.


"Tolong, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Kevin mencoba menenangkan Melika.


Melika melihat Kevin bergantian dengan bibi dan pergi menuju kamarnya.


"Bagaimana ini, Pak?" tanya bibi cemas. Dia menjadi takut melihat kemaraha Melika. Baru kali ini dirinya melihat Melika marah seperti itu.


"Saya akan urus," ucap Kevin.


Kevin bergegas menghampiri Melika dan menutup pintu kamarnya.


"Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Kevin.


"Aku akan mendengarkan," ucap Melika mencoba tenang.


Kevin pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Melika. Mulai dari papanya yang masuk Rumah Sakit karena syok mendengar kabar kehamilan Prischa dan kedatangan Prischa ke rumah itu yang sampai membuat Prischa mengalami keguguran.


Tanpa terasa air mata Melika menetes, hatinya sungguh sakit mendengar semua itu.


"Maaf, aku tahu aku bersalah menyembunyikan masalah ini darimu. Tapi, tolong percaya padaku, bukan aku yang menghamili Prischa. Aku berani bersumpah!" ucap Kevin.


Plak!